"Rahmat mengungkapkan, nominal utang pemerintah
pusat kian bertambah dari waktu ke waktu yang disebabkan meningkatnya nominal
defisit dan utang lama yang jatuh tempo. "
Manajeme hutang memerlukan kehati-hatian yang sangat, jelas lebih baik surplus 
daripada hutang. Hutang harusnya merupakan pilihan yang sangat akhir, pilihan 
itupun diambil dengan berhutang kepada pihak yang mendatangkan mudharat yang 
kecil. Hutang yang disertai dengan motif politik dari pihak yang memberikan 
hutang jelas bukan
 merupakan sinyal yang baik.
Tambahan nominal utang berasal dari penerbitan surat berharga negara (SBN) baik 
surat utang negara (SUN) dan sukuk.
"Sedangkan dari pinjaman luar negeri semakin berkurang," ujarnya. 
Hutang yang berasal dari pasar pun juga memiliki risiko. Dengan situasi pasar 
saat ini, atau dengan kondisi pasar normalpun, frame pasar terhadap risiko dan 
outlook ekonomi suatu negara (umumnya melalui lembaga rating atau lainnya) bisa 
menjadi bias. Kesalahan sedikit dari penyusunan asumsi-asumsi atau penyusunan 
anggaran yang tidak memenuhi ekpektasi pasarpun bisa berdampak buruk terhadap 
volatilitas pasar modal suatu negara, yang bisa berdampak terhadap ekonomi 
riil. Contoh kasus ini adalah India (pada tahun 2009, quartal awal, atau 
tengah, saya lupa tepatnya) pada saat mengumumkan rencana anggaran dan 
belanjanya yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, seketika pasar bereaksi 
negatif dan berimbas terhadap pasar modal, dan lebih lanjut volatilitas yang 
terjadi di pasar modal bisa saja berdampak signifikan terhadap ekonomi riil. 
Belum tentu apa yang di drive adalah hal-hal yang baik, dan negara yang 
menginginkan yang terbaik bagi bangsanya belum tentu
 yang terbaik bagi pasar. Dan itulah yang terjadi saat ini, pasar sangat 
berkuasa, sedikit sekali negara yang mampu "menjnakkan pasar". Sayangnya 
Indonesia belum.Harus dipikirkan kembali, bagaimana negara ini akan dibangun, 
ke arah mana, dan dengan "duit" darimana yang "aman", secara barang-barang dan 
peralatan penting bagi pembangunan/pertumbuhan sebagian besar berasal dari luar 
dan berdenominasi dalam USD. Ada saran...?
Sedangkan rasio utang terhadap PDB kian turun tiap
tahunnya. Rahmat menjelaskan penurunan rasio utang ini memperlihatkan
pemanfaatan dana utang yang semakin produktif dalam meningkatkan produktivitas
kegiatan ekonomi nasional. 

Rasio utang RI terhadap PDB per akhir Februari
2010 mencapai 27%, sementara tahun sebelumnya mencapai 28% dan pada 2008
mencapai 33%. (nia/dnl) 
Untuk hal, ini jika tertarik... bisa dilihat berapa nilai penyerapan hutang 
dalam belanja negara dan dengan besaran tersebut, apakah relevan dikaitkan 
proporsi hutang dengan PDB? Apakah memang hutang berperan signifikan terhadap 
pertumbuhan atau pembangunan secara signifikan...?
Tengoklah tetangga kita kita Singapura yang bebas dari hutang dan leluasa 
dengan kebijakannya, dimana pemerintahnya berani mengklaim bahwa kemiskinan di 
negaranya adalah 0%...!!!!  
So independensi dalam pembiayaan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang 
penting. Pajak dan penerimaan bukan pajak (BUMN) masih menjadi andalan. 
Sayangilah bangsa dan negara ini dengan mengubah gaya hidup yang pro barang 
mewah dan barang impor menjadi cinta menggunakan produk dalam negeri dan taat 
bayar pajak... he he he. Atau lebih giat menabung...
Salam hangat.
 Sen, 19/4/10, aziz setiawan <[email protected]> menulis:
Dari: aziz setiawan <[email protected]>
Judul: {FoSSEI} Gelora Bung Karno pun Tak Sanggup Tampung Uang Utang RI
Kepada: "fossei" <[email protected]>, "ekonomi syariah" 
<[email protected]>
Tanggal: Senin, 19 April, 2010, 5:55 PM















 
 



  


    
      
      
      Gelora Bung Karno pun Tak Sanggup Tampung Uang Utang RI

Senin, 19/04/2010 17:15 WIB

Ramdhania El Hida - detikFinance 

Jakarta - Direktur

Jenderal Pengelolan Utang Rahmat Waluyanto mengakui jumlah utang pemerintah

sudah sangat banyak. Bahkan uang total utang tersebut tidak bakal cukup

ditampung di Gelora Bung Karno karena jumlahnya mencapai Rp 1.619,96 triliun.



"Banyak ya, mungkin kalau ditumpuk berapa

gedung, GOR Senayan juga nggak akan cukup," ungkap Rahmat sembari tertawa

kecil dalam jumpa pers di kantonya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin 
(19/4/2010).



Rahmat mengungkapkan, nominal utang pemerintah

pusat kian bertambah dari waktu ke waktu yang disebabkan meningkatnya nominal

defisit dan utang lama yang jatuh tempo. 



Tambahan nominal utang berasal dari penerbitan surat berharga negara (SBN) baik 
surat utang negara (SUN) dan sukuk.

"Sedangkan dari pinjaman luar negeri semakin berkurang," ujarnya. 



Tambahan nominal tersebut ditunjang oleh porsi SBN

valas yang meningkat karena daya serap pasar domestik masih terbatas. "SBN

valas untuk benchmarking dan memperkuat cadangan devisa," ungkapnya.



Sedangkan rasio utang terhadap PDB kian turun tiap

tahunnya. Rahmat menjelaskan penurunan rasio utang ini memperlihatkan

pemanfaatan dana utang yang semakin produktif dalam meningkatkan produktivitas

kegiatan ekonomi nasional. 



Rasio utang RI terhadap PDB per akhir Februari

2010 mencapai 27%, sementara tahun sebelumnya mencapai 28% dan pada 2008

mencapai 33%. (nia/dnl) 

 

 

Utang jatuh tempo 2010 tertinggi

Mayoritas penerbitan obligasi negara dalam rupiah    

    

 JAKARTA: Kendati nominal utang jatuh tempo dan pembayaran bunga utang pada 
tahun ini mencapai total Rp244,97 triliun, paling tinggi dibandingkan dengan 
tahun-tahun sebelumnya, pemerintah menilai hal itu belum mengkhawatirkan. 

Nilai utang jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp129,38 triliun dan pembayaran 
bunga utang sebesar Rp115,59 triliun. 

Data Ditjen Pengelolaan Utang menunjukkan nominal utang jatuh tempo dan 
pembayaran bunga utang dalam 5 tahun terakhir terus meningkat dan mencapai 
puncaknya pada tahun ini. 

Namun, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menilai hal 
tersebut belum mengkhawatirkan jika dilihat dari penurunan risiko tingkat suku 
bunga, nilai tukar, dan membaiknya profil jatuh tempo utang pemerintah. 

"Jumlah utang jatuh tempo itu memang paling tinggi dibandingkan dengan utang 
pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi relatif konstan jika dilihat dari nominal 
PDB dan kapasitas APBN yang meningkat. Jadi tidak terlalu mengkhawatirkan, " 
katanya kemarin. 

Rahmat mengklaim pengelolaan portofolio utang negara saat ini sudah jauh lebih 
baik, dengan melakukan pembayaran, membeli kembali (buy back) obligasi yang 
jatuh tempo, atau menukarnya dengan obligasi dengan tenor yang lebih panjang 
(debt switch). 

Kebijakan lainnya adalah menukar pendanaan utang untuk proyek atau program lain 
(debt swap), serta mengonversi jenis instrumen utang. 

Direktur Evaluasi, Akuntansi, dan Setelmen Widjanarko juga mengakui nilai 
pembayaran bunga tahun ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan 
tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut dia, meskipun tingkat imbal hasil (yield) obligasi negara menurun, 
outstanding utang meningkat karena faktor nilai tukar rupiah. 

Ayu Sukorini Wibowo Tangguh, Direktur Strategi dan Portofolio Utang, 
mengungkapkan salah satu penyebab tingginya nominal pembayaran bunga utang 
negara adalah penguatan nilai tukar yen terhadap dolar AS tidak setinggi 
apresiasi Rupiah. 

Dia menambahkan utang berdenominasi yen paling besar atau mendominasi 
pembiayaan dari valas. 

"Selain itu, beberapa pinjaman untuk alutsista [alat utama sistem persenjataan] 
sifatnya komersial, sehingga membuat nilai bunga utangnya tinggi dibandingkan 
dengan tahun-tahun sebelumnya," katanya. 

Selain itu, lembaga donor internasional menilai Indonesia tidak lagi layak 
memperoleh pinjaman lunak seperti sebelumnya, seiring dengan membaiknya 
perekonomian Tanah Air. 

Alhasil, ada komponen-komponen pembiayaan yang ditambahkan dalam bentuk bunga 
pinjaman yang lebih mahal ketika menariknya. 

Warisan utang 

Rahmat menyebutkan nominal utang negara yang terus bertambah disebabkan oleh 
defisit anggaran negara yang terus meningkat dan tingginya warisan utang jatuh 
tempo dari pemerintahan sebelumnya. 

Dia menuturkan penambahan utang paling besar berasal dari penerbitan beragam 
varian obligasi negara. Sebaliknya, pinjaman luar negeri semakin berkurang 
sejalan dengan dominasi pembiayaan dari melalui surat berharga negara. 

Dia menambahkan pemerintah akan meningkatkan penarikan pembiayaan dari pasar 
hingga 70% dari total target penerbitan obligasi negara yang mencapai Rp174,97 
triliun pada paruh pertama tahun ini, untuk menghindari pembalikan kondisi 
pasar. 

Pemerintah masih akan menerapkan strategi pembiayaan front loading atau 
memfokuskan penarikan dana dari pasar, baik domestik maupun global pada awal 
tahun. 

Rahmat yakin penerbitan obligasi negara pada semester I/2010 akan mencapai 
lebih dari 50% target bruto tahun ini. 

Fokus penerbitan obligasi negara akan lebih banyak berdenominasi rupiah untuk 
pemasaran di dalam negeri. 

Obligasi valas hanya dijadikan pelengkap untuk menghindari persaingan 
pemerintah dan korporasi dalam mencari dana (crowding out) di pasar domestik. 
(agust.supriadi@ bisnis.co.id) 

Oleh Agust Supriadi 

Bisnis Indonesia, 20/4   

 

 

Senin,

19/04/2010 16:09 WIB

Per 15 April 

Pemerintah Terbitkan Surat Utang Rp

73,27 Triliun

Ramdhania El Hida - detikFinance 

Jakarta - Sampai

dengan 15 April 2010, Kementerian Keuangan telah menerbitkan surat berharga

negara (SBN) sebanyak Rp 73,27 triliun atau 41,88% dari target penerbitan SBN

bruto di 2010 yang sebesar Rp 175,6 triliun. Sudah ada 5 jenis surat utang yang 
diterbitkan.



Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Rahmat Waluyanto

mengatakan, 5 jenis surat utang tersebut antara lain adalah Surat Utang Negara

(SUN) reguler sebesar Rp 26,5 triliun, sukuk ritel sebesar Rp 8,03 triliun, zero

coupon bondsebesar Rp 13,35 triliun,

sukuk domestik Rp 6,83 triliun, dan Obligasi internasional sebesar Rp 18,55

triliun.



Penerbitan SBN tersebut, digunakan untuk membiayai

pelunasan dan pembelian kembali SBN yang telah diterbitkan oleh pemerintah

senilai Rp 38,33 triliun. 



"Jadi secara netto, realisasi penerbitan SBN

kita sebesar Rp 34,94 triliun," ujarnya dalam jumpa pers di Kantornya,

Jalan Lapangan Banteng, Jakarta,

Senin (19/4/2010).



Penerbitan surat utang ini juga diperlukan untuk

penghapusan utang (amortisasi utang) sebesar Rp 129,47 triliun yang terdiri

dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 58,843 triliun dan penghapusan SBN sebesar

Rp 70,632 triliun di tahun 2010. 



"Dan juga ditambah penerusan pinjaman sebesar

Rp 8,643 triliun. Jadi, total kebutuhan pembiayaan adalah Rp 236,129

triliun," ujarnya.



Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, lanjut Rahmat,

pemerintah masih akan menerbitkan SBN hingga akhir tahun nanti.



Dia menyebutkan, salah satu yang akan diterbitkan

adalah Samurai bond yang masih akan diterbitkan atas penjaminan Japan Bank for

International Cooperation (JBIC) yang masih menyisakan penjaminan sebesar US$

1,15 miliar.



(nia/dnl) 





    
     

    
    


 



  










Kirim email ke