Tugas Ekonom Rabbani: Mewujudkan Indonesia Tanpa Riba

Oleh Bhima Yudhistira
Ketua SEF UGM

Indonesia kini tengah menghadapi masalah serius dalam sistem ekonomi 
yang diterapkan oleh hampir seluruh rakyatnya. Sistem ekonomi warisan 
belanda yang masih menggunakan bunga dalam setiap transaksi jual beli 
maupun hutang-piutang memberikan suatu konsekuensi jangka panjang yang 
sangat merusak sistem ekonomi secara keseluruhan. Perputaran uang yang 
menggunakan bunga (riba) dapat menimbulkan inflasi, ketidakstabilan 
ekonomi, dan peningkatan utang luar negeri diluar batas rasional. Bahkan akibat 
riba, hutang pemerintah Indonesia kini mencapai 180,7 milliar 
dollar, karena setiap tahun tingkat bunga yang harus dibayar semakin 
meningkat. Bukankah bunga yang berlipat ganda dilarang oleh Islam? Apa 
yang harus dilakukan oleh seorang ekonom rabbani ketika situasi ini 
semakin tak dapat dihindarkan?

Tugas seorang ekonom rabbani adalah berpikir dan bertindak sesuai dengan 
situasi yang dihadapi pada zamannya, ketika keadaan ekonomi tidak 
sesuai dengan idealisme-nya. Yaitu bertindak berlandaskan dasar yang 
kuat terhadap teori ekonomi dan ilmu agama agar ekonomi tidak masuk 
lebih dalam ke jurang ribawi. Ekonom rabbani mulai dari Ibn Khaldun 
sampai dengan Umer Chapra telah membuktikan bahwa seorang ekonom yang 
tidak memiliki idealisme dalam menjalankan teori-teori ekonominya 
bukanlah seorang ekonom patut dicontoh, karena mereka hanya berdasar 
pada asumsi tanpa dasar yang kuat yaitu dasar Agama. Bahkan seorang 
intelektual dari Norwegia, Hans Majestet Christian, dalam dialog dengan 
ketua SEF UGM berkata, Ekonomi global sekarang tengah dilanda krisis 
yang mungkin akan terulang dua tahun lagi, tidak heran apabila Vatikan 
bahkan menganjurkan bankir-bankir di Eropa menggunakan Prinsip Keuangan 
Syariah karena prinsip syariah dapat menyelamatkan krisis. 

Lalu, Apakah mungkin ekonomi dapat berjalan tanpa bunga? Jawabannya 
sangat mungkin. Menurut J.M Keynes, dengan teori tabungan=investasi, 
pada sisi tabungan (saving) suku bunga bukanlah acuan utama, keinginan 
untuk menabung bukan didasarkan pada rate of return (bunga), berbeda 
dengan investasi yang berdasarkan pada rate of return. Penabung menabung 
uangnya untuk alasan lain, seperti menjaga nilai uang dari inflasi, 
keamanan, kebutuhan tak terduga dan lain sebagainya. Jadi yang harus 
pemerintah lakukan untuk mengatur sistem perekonomian adalah dengan 
memperbaiki sisi investasi. Penciptaan iklim investasi yang mendukung, 
reformasi dan birokrasi, dan lain-lain. Teori Keyness ini merupakan 
bukti secara rasional bahwa perekonomian Indonesia pun dapat berdiri 
tanpa riba. Yang dibutuhkan hanyalah semangat dan dedikasi untuk 
membumikan teori ekonomi Islam ke dalam praktik. 

Dalam ulang tahun ke-10 Fossei, sebuah lembaga yang tergerak oleh 
semangat para ekonom Robbani se-Indonesia. Harapan akan masa depan 
Ekonomi yang lebih baik berada di tangan orang-orang yang memiliki 
dedikasi penuh terhadap perjuangan membersihkan perekonomian Indonesia 
dari riba. Fossei tidak dilahirkan tanpa tujuan, Fossei dilahirkan 
dengan visi yang jelas, membumikan Ekonomi Islam di tanah air, walaupun 
harus berhadapan dengan budaya masyarakat yang masih men-dewa-kan riba, 
pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung maupun api semangat mahasiswa yang 
terkadang padam. Semoga diawali dari milad 10 tahun Fossei ini, 
semangat membumikan ekonomi Islam dapat terus bergerak progresif 
keseluruh Indonesia. Harapan ini adalah harapan seluruh Ekonom Rabbani.


      

Kirim email ke