Ass.
Saya malah tidak tau kalau ada dinamika seperti itu. Saya mungkin tidak 
memiliki perjuangan yang luar biasa thdp perkembangan perbankan syariah. Tapi 
saya tetap kekeuh mengambil perbankan syariah sebagai materi skripsi, sebuah 
bidang yang menurut teman teman saya sulit dari segi materi, literatur, 
informasi, dll. Saya merasa pengalaman saya tersebut cukup untuk menumbuhkan 
rasa cinta thdp perbankan syariah. 

Kemudian, saya ingin sekali 'menghidupkan' aktivitas perbankan syariah di 
medan, kota asal saya. Dengan melihat kantor MES berdiri tegak d ring road 
setia budi, saya pun semangat menghubungi teman aktivis kampus. Sayang seribu 
sayang, belum sempat saya galang, saya dan teman tsb sudah pindah.

Masalahnya, saya jg pernah tidak diterima bekerja d perbankan syariah. Padahal 
saya fokus menetapkan tujuan saya di perbankan pada waktu itu. Saya memang 
kecewa. Tapi saya tidak mau larut dalam kekecewaan tersebut.

Kalau menurut saya, perbankan itu seperti muara ekonomi. Jadi saya berpendapat 
bahwa kita tetap bisa berjuang membangun ekonomi islam dari berbagai arah.
Semoga semangat itu tidak luntur teman.
Sent from BlackBerry® on 3

-----Original Message-----
From: abi ajadeh <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 17 May 2010 08:02:48 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: {FoSSEI} dr gw dikit

Salam,

Ngeliat posting dr ijul yg tentang lowongan kerja, gw jadi teringat sesuatu, 
so.. gw mao komen dikit nih.. klo ada yg ga berkenan, silakan di delete aja, 
gda paksaan kok buat ngebaca nya

Gw suka bgt sama design posternya, terutama makna nya. Sekilas yg gw tangkep, 
maknanya menggambarkan mahasiswa idealis yg berjuang buat ekonomi islam, 
seminar sana-sini smp ngadain aksi sekaligus mempromosikan perbankan syariah, 
tapi setelah lulus, ternyata banyak dari mereka yg ga lulus kualifikasi untuk 
bisa kerja di bank syariah, sebuah perusahaan yg notabene nya "pernah 
diperjuangkan" oleh para mahasiswa ini.

Setau gw, banyak mahasiswa aktifis yang kecewa dgn keadaan ini, istilahnya 
"cape2 dlu gw perjuangin, eh malah gw ditolak". ini gw denger sendiri, bukan 
dari kata si anu atau kata si itu.

Dari komen2 tadi, sedikit agak terlintas. Oh jadi ternyata ini motif sebagian 
org berkiprah di organisasi ekonomi islam tingkat mahasiswa, ternyata ada motif 
"materialis" nya, dengan kata laen "supaya gw bisa kerja di Bank Syariah" or at 
least di institusi2 ekonomi syariah trus dpt link/channel ke orang2 atas kaya 
"MES, PKES" dll.. dll.."WOW.. Ujung2nya duit juga nih ternyata.."
 
Dan kayaknya motif ini jauh berbeda sama yg mereka teriakin & jadikan alasan 
utk aktif di organisasi ekonomi islam tingkat mahasiswa dlu. Klo ujung2 nya 
duit, mungkin ini yg dinamakan komersialisasi agama kali yak, yang artinya 
idealisme ga lebih dari sekedar materi.

Saya juga dlu sempet aktif di fossei, walaupun cuma jd tukang suruh doank. Saya 
juga dulu belajar ekonomi islam, tapi jujur dgn segala kerendahan hati, saya ga 
pernah sekalipun berharap supaya suatu saat nanti bisa bekerja di Bank Syariah 
dengan modal pengetahuan ekonomi islam yg saya punya.
Sayapun dulu dan sampai sekarang bukan tipe org yg terlalu idealis, artinya 
biasa2 aja. dipikir2 dari pada tereak2 sekarang, tapi ujung2nya cuma menerapkan 
ayat "kaburo maktan 'indallahi an taquuluu maa laa ta'lamuun".
Dan setelah lulus dan sampai sekarangpun, memang saya tidak pernah ditakdirkan 
untuk bekerja di LKS manapun, dan saya ga pernah kecewa sama sekali.

Saya pribadi ga tau, sampai saat ini sejauh apa idealisme temen2 di fossei yang 
sekarang ini semangat sekali, dan sampai sejauh mana sisi materialisme itu ada 
di dalam diri kita? cuma kita masing2 dan Allah yang tau jawabannya, sama kaya 
bajaj lah, klo dia mw belok cuma tu abang bajaj & tuhan yang tau cz bajaj ga 
punya lampu sen.

Mendapat imbalan berupa kesempatan bekerja ataupun kenalan dekat orang2 atas, 
memang bukan suatu kesalahan, tapi entah bagaimana hukumnya klo itu di jadikan 
alasan pertama dan utama. Saya bukan ahli ushul fiqh yg mahir menentukan hukum, 
jadi ga berani bilang status hukumnya apa. 

Apalagi klo udah masuk ke ranah dosa/pahala, wah maaf sekali, saya bukan Tuhan 
yg berhak memberikan dosa/pahala kpd makhluknya, dan saya juga ga mw 
meng-overlap hak dan tugasnya Tuhan, karena saya cuma salah seorang ciptanNya 
yg gda apa2nya sama sekali.

Sekian aja,
semoga bisa jadi renungan bersama

Wassalam

abi ajadeh
Currently as frictional unemployment
Build better with critics than flattery 


Kirim email ke