Kita telah sering sekali merasainya.
Ketika kekuatan ruhiyah dan penjagaan aktivitas ruhiyah yang
mengantarkan kita kepada kelapangan jiwa. Hanya saja kita, terlebih
saya, di tengah-tengah kesibukan yang bertumpuk terlena dan terlalai.
Malah biasanya, kesibukan itulah yang menjadi permakluman untuk sedikit
mengendurkan aktivitas ruhiyah. Inilah yang sering terkata, little
things mean a lot. Hal kecil yang berdampak besar.




Inilah yang sekali lagi diingatkan oleh Ust. Ali Sakti kepada kami,
ketika bersilaturahim beberapa waktu yang lalu. Inilah yang beliau
tekankan; ruhiyah. Lebih baik kita tidak perlu banyak program, kalau
pada akhirnya program dan aktivitas ruhiyah menjadi dikorbankan. Tidak
akan berkah jika kita susah payah berkampanye dan bersyiar, sementara
ruhiyah tergadaikan. Seolah kita begitu angkuh menjalani hidup ini saat
Allah tidak lagi menaunginya. Bukankah dalam dakwah ini, Allah yang
menjadi tujuan kita dan Rasulullah teladan kita? Lalu mengapa kita
sampai tega-teganya meninggalkan Allah dan keteladanan Rasulullah dalam
menjalani dakwah ini?



Allah dekat membersamai, saat kita mendekatinya, yaitu dengan dakwah
yang bertolak dan beriring ruhiyah yang kokoh dan terjaga. Juga tidak
sedikitpun mengambil celah untuk melewatkan keteladanan Rasulullah.
Selayaknya kita malu, Rasulullah saja yang sudah mendapat jaminan
Allah, masih berusaha menjaga ruhiyahnya sepanjang hidup. Semoga kita
dapat senantiasa meneladaninya, juga dalam dakwahnya.




Untuk saudaraku sekalian di jalan perjuangan, terkhusus di FoSSEI.
Juga terutama untukku yang begitu sering terlalai. Allah telah begitu
banyak memberikan kita kenikmatan, kemudahan, dan bayangan kemenangan
dalam perjuangan kita. Terkadang kita tak perlu lama-lama menanti
kemenangan, Allah telah mendekatkannya dalam hati kita. Terkadang kita
tak perlu banyak bersusah-susah, Allah telah memudahkannya dalam
perjalanan kita. Untuk menyemangati, untuk bersyukur, dan bisa jadi
untuk menguji. Mudah-mudahan itu semua tidak menjadikan kita terlena
dan terlalai dalam euforia.




Ingatan kita sejenak mengeja fragmen sejarah sepulang Badar, setelah
kemenangan, Rasulullah mengingatkan seluruh pejuang untuk mengobarkan
semangat untuk berperang (Q.S. 8:6). Iya, kita diingatkan bahwa setelah
kemenangan telah menanti perang yang lebih besar lagi. Maka jangan
sampai bayangan kemenangan di awal ini membuat kita mengendur.




Mari kita kembali kobarkan semangat itu dengan ruhiyah yang mantap.
Mari kita terus latih kepekaan kita kepada Allah, yang terejawantah
dalam ketaqwaan dan kebersegeraan kita memenuhi panggilan dan memohon
ampunanNya (Q.S. 3:133). Ruhiyah yang mantap dan terjaga itu merupakan
muara dari ketaqwaan dan kebersegeraan menyambutNya. Sementara kita
ingat, bahwa ketaqwaan dan kebersegeraan itu bermula dari kepekaan kita
kepada Allah. Saat seluruh aktivitas dan niat kita tiada yang terlewat
dari pandangan Allah (Q.S. 4:2) dengan perhitungan yang
sebenar-benarnya sesuai dengan apa yang kita kerjakan (Q.S. 99:7-8).
Semoga kepekaan inilah, kepekaan kepada Alah yang menjadi tujuan kita,
kepekaan pada apa-apa yang Allah ridha dan tidak ridha, juga kepekaan
terhadap apa-apa yang lebih mulai dalam pandangan Allah, yang akan
menjadi penggerak dan menjaga aktivitas dan kekuatan ruhiyah kita. Jika
sesekali kita merasa berat sendiri, maka dapat kita ciptakan kepekaan
jama’i, dengan saling menasihati dalam iman. Sesungguhnya, dalam
nasihat kita sedang menjaga diri kita sendiri dan saudara kita.




Saudaraku sekalian, akhirnya menjadi keniscayaan sebelum kemenangan,
kekuatan ruhiyah dan terjaganya aktivitas ruhiyah, baik dalam suasana
pribadi maupun jama’i. Itulah yang senantiasa kita yakini. Guru
peradaban itu terlahir dari diri yang kokoh dan terjaga dalam ruhiyah
lalu mengejawantah dalam amal-amal shalihah, yang segera membenahi saat
sesekali terlalai. Maka, yang pertama kita jaga dan koreksi adalah
ruhiyah kita, sebelum yang lainnya. Yuk, kita tingkatkan kekuatan
ruhiyah kita bersama-sama, kita jaga aktivitas ruhiyah kita, mulai dari
yang wajib sampai yang sunnah, dalam keadaan bagaimanapun, dan kita
berdo’a kepada Allah agar tetap isstiqamah di jalan dakwah.
Jazakumullah khairan katsiran, kepada Ust. Ali Sakti atas pencerahannya
dan semangatnya, juga kepada saudara yang membersamai. []








Minomartani, 16 Mei 2010, 21:35
Merencanakan jejak-jejak berikutnya, Meniti jalan Ekonom Rabbani



http: www.aditya-yoga.co.cc





“Dan biarlah Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin yang menilai kerja-kerja 
kita. Semoga Allah beri kemudahan. Jazakumullah atas ketulusan membersamai amal 
kita di FoSSEI. Semoga ukhuwah ini abadi.”
_________________________________
ADITYA RANGGA YOGATAMA :)
Presidium Nasional FoSSEI
+62 813 2888 5856
[email protected]
UNIVERSITAS GADJAH MADA



      

Kirim email ke