“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh [71] : 13)
 
 
Seorang ibu yang mengaku bernama Dessy datang menghampiri saya usai sebuah 
pertemuan. “Boleh berbicara sebentar, Pak?!” tanyanya. “Silakan bu…!” jawab 
saya. 
Saat itu saya baru saja berbicara di hadapan sekelompok kaum ibu mengenai 
kebesaran Allah Swt dan bagaimana Dia Swt menjawab setiap doa hambaNya. Acara 
sudah usai dan saya tengah istirahat sejenak sambil menikmati hidangan yang 
disajikan tuan rumah.
Bu Dessy menyampaikan pengalamannya saat saya masih terus mengunyah. Begitu 
antusias ia menuturkan hingga saya pun mulai pasang telinga.
 
Ia mengabarkan bahwa ia bersyukur memiliki seorang suami yang amat shalih. 
Keshalihan suami itulah yang membuat Dessy mengambil keputusan menikah 
dengannya, meskipun awalnya Dessy adalah seorang non-muslimah. Setelah beberapa 
tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, Dessy mendapati bahwa ia merasa 
tidak cocok dengan agama Islam, bahkan belakangan ia  kembali kepada agama 
semula.
“Saya terus mencoba untuk membuat anak-anak ikut ke agama saya namun rupanya 
mereka lebih sayang kepada ayah mereka…” tutur Dessy.
Ia melanjutkan bahkan saking kuatnya pengaruh ketaatan beragama suaminya, 
anak-anak tumbuh menjadi keturunan yang shalih dan kuat berakidah.
Hingga Dessy menuturkan pengalaman dialognya dengan seorang anaknya yang 
berumur 4 tahun saat itu dan membuat jalan hidup Dessy kembali berubah.
“Kami saat itu sedang asyik bermain ayunan di taman…. Kami tertawa riang dan 
bercanda….. Saat kami kelelahan bermain dan beristirahat sambil duduk di taman 
aku berkata kepada anakku, ‘Nak…, enak sekali ya bermain di taman seperti ini!’ 
Sang anak pun menjawab, ‘Ya Ma, asyik sekali… Tapi sayang ya kita cuma bisa 
bermain bersama di sini, tidak di surga.’jawab sang anak.”
“Memangnya mengapa kita tidak bisa main seperti ini di surga nanti?!” tanya 
Dessy keheranan. Anaknya yang tersayang itu menjawab, “Kita kan semua muslim, 
sementara mama bukan hamba Allah yang muslimah. Sedang surga hanya Allah 
berikan kepada hamba yang taat kepadaNya….”
DEGGG….! Hati Dessy tersentak. Ia tidak menyangka bahwa anaknya mampu berpikir 
sedemikian jauh. Hati Dessy menjadi galau. Matanya kini berkaca-kaca 
membayangkan bahwa ia tidak bisa berjumpa lagi dengan anaknya di surga nanti. 
Namun sejurus kemudian ia malah berpikiran buruk terhadap suaminya. “Ini pasti 
ulah suamiku!” batin Dessy. Ia menyangka bahwa suaminya pasti telah mendoktrin 
anaknya sedemikian rupa.
 
Sore itu sepulang suaminya dari tempat bekerja Dessy menyerangnya 
habis-habisan. Anehnya meski Dessy berteriak-teriak dengan suara melengking, 
sang suami malah terlihat begitu tenang dan selalu tersenyum. Begitu Dessy 
mereda sang suami memberinya penjelasan dan menyadarkan Dessy untuk kembali ke 
jalan Allah Swt. Alhamdulillah hati Dessy meluluh. Hidayah Allah Swt kembali 
lagi menyapanya. Dessy berniat untuk kembali menjadi muslimah dengan satu 
syarat bahwa sang suami harus mencarikan seorang guru yang tepat untuk Dessy 
agar ia yakin dan mantap memeluk agama Islam.
Suami Dessy menerima syarat itu lalu ia mengajak Dessy untuk melakukan shalat 
Isya berjamaah. Maka Dessy kembali menyembah Allah Swt setelah sekian lama ia 
meninggalkanNya.
 
Shalat Isya di malam itu begitu sejuk terasa dalam batin Dessy dan suaminya. 
Sang suami bersyukur kepada Allah Swt sambil menitikkan air mata bahagia, 
sedang Dessy menengadahkan wajah dan kedua tangannya sambil memanjatkan doa 
dengan suara yang terpendam dalam dada. Dessy sampaikan kepada Allah, Tuhannya:
“Ya Allah…., hingga kini aku belum merasakan keagungan dan kehebatanMu…
 Andai betul Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Kuasa…, mohon kiranya Engkau 
membuat rumah ini laku terjual!”
 
Demikianlah doa yang dipanjatkan Dessy malam itu kepada Tuhannya. Sebuah doa 
dari hamba yang lemah yang ingin menguji kekuasaan dan keperkasaan Allah Swt.
 
***
Saya terperanjat mendengar tutur doa yang pernah Dessy panjatkan. Saya bertanya 
kepada Dessy apakah rumah itu kemudian laku terjual? Maka Dessy pun melanjutkan 
kisahnya………
 
Sudah 7 bulan yang lalu rumah yang ia diami saat itu pernah diiklankan untuk 
dijual. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih dari itu Dessy dan suaminya 
memasarkan rumah mereka di berbagai media. Namun sayang tidak ada satu pun 
respon positif dari iklan yang dipasang. “Jangankan melihat lokasi, telefon 
masuk pun yang menanyakan rumah tidak ada” jelas Dessy singkat.
“Kami pun menyadari bahwa memang rumah kami sulit untuk dijual. Sebab lokasi 
rumah itu di lingkungan warga keturunan yang masih begitu percaya hoki dan feng 
shui. Ditambah lagi bentuk tanah rumah kami miring. Apalagi nomor rumah kami 
adalah 4 (empat) yang berarti mati dan membawa sial. Kami sudah putus asa 
menjual rumah itu, hingga kami berhenti beriklan” jelas Dessy.
 
Saat suami Dessy meyakinkannya untuk kembali memeluk Islam dan bercerita akan 
keagungan Allah. Maka Dessy pun ingin menguji kebenaran dari kuasa Allah Swt 
itu. Sebab itu Dessy berdoa dengan redaksi di atas. Sebuah doa yang menantang 
kekuasaan Allah Ta’ala.
 
***
“Terus bagaimana kelanjutan kisahnya, bu….?” tanya saya tak sabar. Maka Dessy 
pun melanjutkan kisahnya:
 
Seperti rutinitas harian yang Dessy kerjakan maka pagi itu ia berangkat ke toko 
miliknya. Sepanjang hari Dessy menanti ijabah dari Allah Swt atas doa yang ia 
panjatkan. Namun hingga sore hari masih belum ada pertanda akan datangnya 
ijabah doa itu.
Ba’da Ashar suami Dessy datang menjemput. Saat baru saja tiba Dessy langsung 
bertanya penuh harap kepadanya, “Apakah ada orang yang datang menanyakan rumah, 
Pa?!” Sang suami malah balik bertanya, “Memangnya apakah kamu pasang iklan 
kemarin?!” Dessy menjawab, “Tidak!” “Ngawur kamu, Ma…. Masak tidak pasang iklan 
terus berharap ada orang yang datang menanyakan rumah!!!” Dessy tidak  membalas 
kalimat terakhir dari mulut suaminya, namun ia membatin, “Ya Allah, rupanya 
Engkau tidak berkuasa seperti yang aku harapkan!”
Tak lama setelah itu Dessy dan suaminya kembali pulang ke rumah. 
 
Saat itu kira-kira pukul setengah lima sore. Dessy dan suaminya baru tiba di 
rumah. Mereka tengah berada di kamar dan baru saja berganti pakaian. Mereka 
saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka lalui hari itu. Dalam 
perbincangan mereka di kamar saat itu, tiba-tiba mereka berdua mendengar ada 
suara seorang perempuan asing mengucapkan salam di luar rumah. Dessy mengintip 
lewat jendela. Di sana ada seorang wanita berjilbab panjang dengan warna muram. 
Sekilas Dessy menyangka bahwa perempuan itu pasti datang untuk meminta 
sumbangan. Dessy keluar dari kamar dan ia berpesan kepada pembantunya untuk 
memberi infak bila perempuan di luar sana meminta sumbangan. Usai berpesan 
Dessy pun kembali ke dalam kamar.
 
Pintu kamar kemudian diketuk oleh sang pembantu dan Dessy pun keluar. “Bu…, 
perempuan di luar tadi katanya datang mau melihat rumah” jelas sang pembantu. 
Deggg….! sontak Dessy terperanjat. Tak percaya akan berita yang didengarnya, 
maka Dessy bergegas untuk membukakan pintu bagi tamunya. “Wajah tamu itu begitu 
sumringah….” papar Dessy.  “Setiap kali ditunjukkan sebuah bagian ruang dari 
rumah kami, ia selalu bertasbih menyebut nama Allah dan kegirangan” imbuhnya 
lagi. Ia menyatakan tertarik dengan rumah Dessy dan menanyakan berapa harga 
yang diminta. Di luar dugaan Dessy sang tamu tidak hanya setuju dengan harga 
yang disebutkan, bahkan wanita itu mengajaknya untuk pergi ke notaris keesokan 
paginya untuk transaksi jual-beli rumah. SUBHANALLAH….!
 
Dessy kegirangan sore itu dan malam harinya ia bermunajat kepada Allah untuk 
menyampaikan rasa syukurnya atas ijabah doa yang Allah Swt berikan.
 
Esok paginya ia datang ke notaris bersama suami dan ibu calon pembeli rumah. 
Akte jual-beli rumah sudah diselesaikan dan proses akad tersebut begitu mudah 
dan cepat. Wajah Dessy begitu sumringah, dan dalam obrolan di kantor notaris 
itu Dessy sempat bertanya kepada ibu yang membeli rumahnya, “Bu…, apa yang 
membuat ibu tertarik dengan rumah kami dan darimana ibu mencari infonya?” 
Sang ibu pembeli rumah menjawab, “Saya memang sudah lama mencari rumah di 
daerah Kelapa Gading, Jakarta. Namun belum ketemu jodohnya barangkali. 2 malam 
yang lalu sehabis shalat Isya saya merasa kegerahan di dalam rumah. Sambil 
ngobrol dengan suami di teras rumah, maka saya ambil setumpuk koran lama di 
meja yang ada di teras untuk kipasan. Lagi asyik ngobrol eh… tiba-tiba saya 
melihat ada sebuah iklan baris yang menjual rumah di daerah Kelapa Gading. 
Melihat ukuran rumah dan harganya kok sepertinya cocok betul dengan rumah yang 
saya cari. Maka keesokan harinya saya baru datang ke rumah bapak-ibu.”
 
Mendapati penjelasan sang ibu pembeli, Dessy menjadi terkesima dan melongo. Ia 
seolah tak percaya akan apa yang didengarnya. Sekali lagi Dessy menegaskan, 
“Dua malam yang lalu ibu membaca iklan baris itu?! Koran itu terbitan tanggal 
berapa dan pukul berapa ibu berada di teras rumah sambil kipas-kipasan?!”
 
“Gak tahu ya bu tanggal berapa koran tersebut tapi rasanya mungkin 7 bulan lalu 
itu koran. Sementara kalau waktu saya ngobrol dengan suami di beranda rumah 
saat itu mungkin kira-kira pukul 7 malam mungkin ya…” jawab sang ibu pembeli 
ringan.
 
“ALLAHU AKBAR….!” Dessy memekik. Ia terdiam sejenak dan tak sanggup berkata 
apa-apa. Beberapa bulir air mata kini menitik di pipinya. Sang suami dan ibu 
pembeli rumah bertanya apa gerangan yang terjadi. Lama Dessy terdiam. Tak 
sanggup ia mengangkat wajah. Setelah agak tenang Dessy menjelaskan bahwa 2 
malam yang lalu ia shalat Isya bersama suami setelah sekian lama ia murtaddah. 
Ia ceritakan kepada semua yang hadir di ruangan notaris itu bahwa malam itu ia 
berdoa dengan redaksi menantang kekuasaan Allah Swt. Sungguh diluar jangkauan 
pikiran Dessy bahwa kalimat-kalimat doa itu rupanya naik menghadap Allah Swt, 
dan pada saat yang sama Allah Swt menjawab doanya dengan memberikan pantulan 
sinar pada tumpukan koran lama yang ada di beranda rumah ibu pembeli. Ibu 
pembeli rumah lalu merasa kegerahan dan Allah Swt menggerakkan tangannya untuk 
mengambil koran lama untuk dibuat kipas. Maka iklan rumah yang berbulan-bulan 
itu akhirnya menemui calon pembelinya.
 SUBHANALLAH!
 
Dalam ruangan notaris itu Dessy berikrar bahwa kini ia tidak ragu lagi terhadap 
Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh, keagungan Allah Swt amat menakjubkan. 
Apakah Anda merasakannya?!
 
Cahaya Langit,
Bobby Herwibowo
0817200456


      

Kirim email ke