Anak Yatim dan Fakir Miskin... dan Iman Kita Stephanus Iqbal
JUMAT WAGE, 21 MEI 2010 Pernahkah anda mendengar mengenai berapa banyak anak 
yatim yang ada di Indonesia sekarang ini? Mungkin tidak. Tahukah anda mengapa 
ada sedemikian banyak anak yatim di Indonesia? Mungkin juga tidak. Data yang 
dikumpulkan oleh organisasi kemanusiaan Save the Children, bekerja sama dengan 
UNICEF, menunjukkan sekitar 6% dari 500 ribu anak yang berada dalam pengasuhan 
rumah yatim piatu, benar-benar yatim piatu. Bagaimana dengan sisa 94% yang 
lainnya? Penelitian ini dilakukan pada akhir tahun 2009 yang lalu.Tentu angka 
500.000 anak yang diasuh di yatim piatu tersebut belumlah jumlah total dari 
keseluruhan anak yatim di Indonesia. Data tersebut merupakan data yang 
dikumpulkan menggunakan metode statistik modern untuk mengambil sebuah 
kesimpulan umum. Dan angka 6% dari 500.000 anak asuhan yatim piatu tersebut 
yang merupakan benar-benar anak yatim, mungkin masih belum akurat. Namun angka 
tersebut seharusnya sudah dapat menjadi acuan kita
 untuk mengambil sebuah kesimpulan, dan mencari tahu alasan mengapa 94% anak 
asuhan yatim piatu di Indonesia tidak berada bersama dengan orang tua 
mereka.Menurut hasil penelitian Save the Children tersebut, 94% dari anak 
asuhan yatim piatu di Indonesia "menjadi" yatim piatu karena alasan kemiskinan. 
Orang tua mereka tidak mampu untuk menafkahi mereka dengan layak, sehingga 
mereka "menitipkan" anak-anak mereka di rumah-rumah pengasuhan yatim piatu. 
Kemiskinan rakyat Indonesia tenyata berdampak sangat besar terhadap jumlah anak 
asuhan yatim piatu.Berdasarkan data yang diberikan oleh BPS, jumlah populasi 
Indonesia adalah 206,3 juta jiwa. BPS memberikan data jumlah penduduk miskin di 
Indonesia sebesar 32,5 juta jiwa yang tersebar di seluruh propinsi di 
Indonesia. Standar kemiskinan yang diterapkan adalah penghasilan rata-rata 
dibawah Rp 200.000 per bulannya.Berdasarkan data yang diperoleh dari tabloid 
The Economist pada tahun 2006, jumlah penduduk yang hidup
 dengan dengan daya beli dibawah US$ 1 perhari adalah sebanyak 10 juta jiwa. 
Dan jumlah penduduk yang hidup dengan daya beli dibawah US$ 2 perhari adalah 
100 juta jiwa. Artinya, pada tahun 2006 yang lalu sebanyak lebih dari 50% 
penduduk Indonesia hidup dengan daya beli dibawah kurang lebih Rp 20.000 
perhari. Dan dengan membandingkan dengan jumlah populasi Indonesia pada tahun 
2006 dan data yang yang disediakan oleh BPS pada tahun 2009, artinya angka 
kemiskinan di Indonesia meningkat lebih dari 300% sejak tahun 2006.Lalu 
bagaimana sikap yang diambil oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim 
dan berpegang kepada Al Quran?"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang 
miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian." (QS. 
51:19)"Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: "Mengurus 
urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka 
mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang
 membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jika Allah menghendaki, 
niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha 
Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 2:220)"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan 
agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi 
makan orang miskin." (QS. 107:1-3)Melihat kondisi masyarakat Indonesia dengan 
tingginya tingkat kemiskinan dan banyaknya anak yatim, perlukah kita 
mempertanyakan keimanan kita? Wallahu a’lam bish-shawab.


Kirim email ke