Sombong karena Ilmu: Juhala’ Mengaku Fuqaha’
Rabu, 01/09/2010 09:27 WIB

Di dalam kitab-kitab salaf, terutama dalam studi hadits dan  akhlaq, bab yang 
pertama kali diulas adalah bab ilmu. Ini  mengindikasikan urgensi (fadhilah) 
ilmu dalam Islam.  Islam dan segala  aspeknya dibangun atas dasar ilmu. Oleh 
sebab itu, para penganutnya  didorong untuk selalu belajar dan mengambil 
pelajaran. Allah sendiri  menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang 
mengetahui  dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang  
berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Membangun pribadi dalam Islam adalah membangun semangat keilmuan.  Namun 
seorang 
penuntut ilmu wajib mempelajari adab dan akhlak telebih  dahulu. Tujuannya agar 
jiwanya ditanamkan etika kepantasan dan batinnya  terjaga dari penyakit hati. 
Bila penuntut ilmu langsung terjun  menggeluti halal-haram misalnya tanpa 
mendalami akhlak, perangainya  cenderung keras tak beretika. Itulah sebabnya 
kenapa para salaf  menganjurkan belajar adab dan akhlak sebelum menuntut ilmu 
tertentu.  Begitulah seharusnya. Isilah hati dengan adab, baru mengisi otak 
dengan  ilmu.

Orang yang berilmu rentan dihinggapi penyakit sombong apalagi dengki.  Dia 
sombong memandang rendah kemampuan orang lain. Yang bertitel Doktor  meremehkan 
lulusan S2 dan S1. Pejabat Rektor menganggap para dekan dan  dosen berkualitas 
di bawahnya. Bila sudah sombong sudah pasti dengki.  Setiap orang pintar 
dianggap saingan. Bila salah satu rekan mengeluarkan  buku baru, dia kaget 
bagai 
tersengat listrik. Tak lama kemudian bukunya  pun terbit. Alasannya supaya 
dianggap tidak kalah produktif menulis.

Kini prilaku sombong tidak saja menjangkiti para dosen atau guru  besar, tetapi 
juga para mahasiswa. Termasuk sebagian mahasiswa studi  Islam. Akibat salah 
ajaran dan salah baca, mereka jadi sok pinter.  Mereka yang ilmunya masih 
sedikit sudah besar kepala. Membaca Arab  gundul saja belum becus sudah merasa 
master dalam bahasa Arab. Hobbi  mereka berdebat tanpa ilmu. Semua hal 
diperdebatkan dan dikritisi. Masih  juhala’ mengaku sudah fuqaha’. Masih payah 
berlagak ’allamah.  Sungguh  sayang bila ilmu tidak diimbangi dengan 
pembersihan 
jiwa. Ilmu malah  jadi benalu, alat kesombongan. Jangan heran, bila mahasiswa 
sekarang  dengan fasih mengeritik Imam Syafi’i atau Imam Al-Ghazali. Tepat 
sekali  apa yang disampaikan Oleh Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya,

Aduh sayang,
Pemuda sekarang berlenggak lenggok
Berasa diri gagah dan elok
Ulama Aulia diolok-olok
”Belum bertaji sudah berkokok”

Para mahasiswa itu tidak takut mengucap kata-kata kasar terhadap para  ulama 
salaf. Para sahabat pun tidak jarang dilecehkan kehormatannya.  Contoh kasus, 
mereka mengekor para Orientalis yang meragukan  orisionalitas Al-Qur’an dan 
Al-Hadits. Oleh karena itu mereka sangat  mendukung ide ”Dekonstruksi 
Al-Qur’an” 
atau ide pembacaan dan penafsiran  ulang kitab-kitab klasik. Mereka membeo para 
orientalis yang menentang  segala hal yang absolut. Betapa sangat lucu, mereka 
mengapresiai kaum  Kuffar dengan menghina ulama-ulama Islam. Padahal kaum 
orientalis itu  berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa 
al-Quran  adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang 
 
suci, yang bebas dari kesalahan.

Aduh sayang,
Baru saja mendapat ijazah
Menyangka diri sudah ’allamah
Tidak menghirau guru dan ayah
”Mencabik mudah menjahit susah”

DR. Adian Husaini, MA  merasa miris melihat fenomena ini.  ”Semestinya, sebagai 
orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran  itu menjadi pegangan hidup 
dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran  adalah landasan utama keimanan 
seorang 
Muslim. Jika tidak mau mengakui  kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! 
Konsistensi berpikir  semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan 
kerancuan dan  ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya 
Injil,  tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau  
seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku  percaya 
kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.” rilisnya   dalam sebuah 
artikel beliau di Hidayatullah.com

Ilmu itu menurut Wahb bin Munabbih bagai air hujan. Ia turun dari  langit manis 
dan suci. Lalu ia dihisap oleh akar-akar banyak pohon  hingga berubah sesuai 
dengan rasa buahnya. Bila pahit, maka akan  bertambah pahit. Bila manis, akan 
semakin manis. Demikian juga ilmu,  tergantung motivasi dan perangai orang yang 
menuntutnya. Orang yang  sombong bertambah sombong. Yang tawadhu’ semakin 
tawadhu’. Ini karena  orang yang dulunya bodoh lalu termotivasi oleh 
kesombongan, ketika  memperoleh ilmu, dan ternyata dapat diandalkan sebagai 
prestisenya,  semakin sombonglah ia. Adapun yang berhati-hati dengan ilmunya, 
ketika  ilmunya bertambah dan ia sadar hajatnya pada ilmu telah terpenuhi, ia  
makin berhati-hati. Mau’izhatul Mukminin 175

Ilmu yang hakiki adalah ilmu yang sejauh mana ia diraih, semakin  mendekatkan 
kepada Allah, bukan malah menjauh. Semakin dalam diteliti,  makin dalam pula 
cintanya pada-Nya. Semakin berhasil mengidentifikasi  hal-hal yang baru, 
semakin 
besar kekaguman pada-Nya. Goresan tangannya  mengajak mengenal Allah. Uraian 
kata-katanya menggambarkan ketawadhuan.Ilmu yang hakiki merupakan kendaraan 
pribadi menuju taqwa. Ia seolah  payung pelindung dari derasnya godaan dunia 
yang fana. Ia melahirkan  keberanian terhadap kebatilan penguasa namun 
melahirkan ketakutan kepada  Sang penguasa sejati. ” Sesungguhnya yang takut 
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fatir: 28

http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/habib-ziadi-mahasiswa-ma-had-aly-an-nu-aimy-jakarta-sombong-karena-ilmu-juhala-mengaku-fuqaha.htm


Kirim email ke