MENUMBUHKAN JIWA NASIONALISME DENGAN PERILAKU KONSUMSI SEHARI-HARI KITA MELALUI 
PROSES PEMBINAAN  DI RAMADHAN

Hmmm, nasionalisme dengan perilaku konsumsi kita? Hubungannya apa ya?
Sebagian kita pasti bertanya demikian  hubungannya apa ya…antara nasionalisme, 
perilaku konsumsi dan puasa….
Nah begini kawan kawan kita coba melihat fenomena yuuk. Di bulan ramadhan ini 
pasti kita melihat pasar-pasar, mall-mall ramai oleh pengunjung untuk membeli 
barang-barang kebutuhan lebaran, sah-sah aja sih ketika kita mau beli 
barang-barang untuk membeli barang-barang kebutuhan lebaran namun fenomena yang 
terjadi adalah momentum lebaran seakan-akan menjadi momentum menuju kemerdekaan 
hakiki yang patut untuk dirayakan sehingga masyarakat sering membeli barang 
yang 
berlebih-lebihan contoh pakaian yang sebenarnya kalau kita lihat di almari kita 
masih banyak sekali pakaian-pakaian yang layak pakai dan bagus-bagus ya maklum 
sih kan kita akan ketemu banyak orang maka harus ganti dengan yang baru tapi 
apakah itu parameter kemenangan kita dihadapan Allah, belum lagi pada kue-kue 
yang selalu disediakan di rumah-rumah kita selalu penuh satu meja bahkan tidak 
hanya satu meja, ya mungkin ini untuk menjamu tamu tapi…. Haruskah seperti ini 
karena dinegara lainpun tidak semegah seperti  Negara Indonesia tercinta ini, 
lupakah kita masih banyak warga miskin yang kekurangan pada saat lebaran 
walaupun mereka sudah diberi zakat fitrah tapi itu tak cukup ya itu semua tak 
cukup. Sahabat Rasul Umar bin khattab memberikan contoh kesederhanaan dalam 
kehidupan kita termasuk perayaan kemenangan, beliau tidak membiarkan rakyatnya 
kelaparan pada saat hari raya bahkan hari-hari biasapun Beliau rela hidup 
sederhana demi kesejahteraan rakyatnya, sedangkan kita?...duuuh mungkin dah 
banyak uang yang beredar di masyarakat sehingga memudahkan masyarakat untuk 
mengkonsumsi menjelang lebaran, ya THR yang diberikan menjadi berkah 
tersendirti 
juga bias menjadi penyumbang inflasi di Indonesia…
Lho mengapa jadi penyumbang inflasi juga dengan peredaran uang? Sekarang begini 
uang yang beredar di masyarakat semakin banyak maka nilai mata uang itu sendiri 
lebih rendah, banyaknya uang beredar yang kurang diimbangi dengan peredaran 
bahan pokok maka akan menyebabkan kekurangan bahan dan kelebihan uang yang 
beredar di masyarakat sehingga harga-harga barang cenderung naik, coba 
perhatikan kawan menjelang hari raya pasti barang-barang mengalami kenaikan 
harga yang cukup tinggi yah al itu wajar karena kebutuhan semakin meningkat, 
peredaran uang semakin banyak dan barang-barang yang ada di masyarakat tidak 
sein=mbang dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.. nah kalau kita 
perhatikan secara seksama maka sebenarnya penyebab inflasi itu adalah dari 
individu-individu kita sendiri, semakin kita boros dan mudah sekali 
mengkonsumsi 
maka kita juga sebagai penyumbang untuk inflasi Negara tercinta ini selain dari 
oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pendistribusian barang, inilah 
kawan kalau kita berani melihat fenomena Indonesia menjelang lebaran kita akan 
sangat dimanfaatkan oleh warga asing untuk menyedot kekayaan yang 
sebesar-besarnya dari budaya komsumeristik bangsa Indonesia ini, kita lihat 
saja 
barang-barang elektronik dari luar negeri saja sangat laku keras di Indonesia 
seperti produk-produk cina karena Indonesialah sasaran empuk untuk pasar mereka.
Semangat nasionalisme itu bias kita pupuk dari perilaku konsumsi kita, jikalau 
kita tidak memboros-boroskan dalam mengkonsumsi maka kita akan bias mengurangi 
tingkat inflasi bangsa ini jika dalam suatu Negara mempunyai prinsip-prinsip 
ekonomi syariah yang salah satunya adalah mengkonsumsi bukan berdasar pada 
keinginan tetapi kebiutuhan yang benar-benar dibutuhkan maka Negara ini tidak 
akan mudah di tipu daya oleh produk-produk asing yang hanya menipu pandangan 
mata bukan sebagai kebutuhan yang sangat urgent
dalam surat al isra 16 disebutkan:
"Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada 
orang-orang yang hidup mewah di negeri itu(supaya m...enaati Allah), tapi 
mereka 
melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, mk sudah sepantasnya berlaku perkataan, 
kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya". Maukah kita menjadi 
negeri yang akan dibinasakan Allah karena kemewahan kita?

Begitu mulianya islam dalam mengatur setiap kehidupan kita bahkan pada setiap 
transaksi ekonomi sudah diatur dalam islam agar kita tidak tersesat dan menuju 
keseimbangan di dunia ini.
Ramadhan adalah momentum untuk melatih diri agar mengurangi nafsu-nafsu kita 
termasuk mengkonsumsi karena selama ini sering sekali kita mengkonsumsi bukan 
berdasar pada kebutuhan yang sangat penting tapi sering kepada 
keinginan-keinginan semata, apakah itu tujuan mengkonsumsi kita, mengkonsumsi 
juga mempunyai tujuan untuk mencapai falah(kemenangan)bisa dikatakan juga 
kesejahteraan bukan kemewahan. Apakah ramadahan ini mampu membawa kita kepada 
falah(kemenangan) dari perbudakan nafsu keinginan yang senatiasa merong-rong 
jiwa dalam setiap transaksi kita? Akhir ramadhan bukan hanya untuk kemenangan 
atas ketakwaan kita tapi konsumsi kita perlu kita pertanyakan sudah menangkah 
apa belum? Sudah merdeka atau belum?
Sungguh indah islam mengajarkan kepada kita, tinggal kita mau melaksanakan atau 
tidak, kalau kita mencintai islam, Negara ini maka salah satu bentuk konkret 
dalam setiap transaksi kita adalah jangan berlebih-lebihan karena Allah tidak 
menyukai sikap berlebih-lebihan..


Wallahu a’alam bi showaf


      

Kirim email ke