===========================
F R I E N D S H I P
===========================
Original Sender  : "M Fahmi Aulia" <[EMAIL PROTECTED]>
----------------------------------------------------------------


> -----Original Message-----
> From: Sepriyany Linta [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, July 21, 2003 3:23 PM
>
>
> Rekan2...
> ini adalah kejadian true story (not hoax).
> en please jangan sampe ada teman2 kita yg tertimpa seperti ini lagi
> (so just fyi, soale ada tips penting dibawahnya)
> thanks yah udah baca
>
> ***************************************************
>
> Untuk mereka yang memiliki kartu ATM harus lebih waspada.
>
> Subject: Ketika sebuah bank telah kehilangan kepercayaannya.
>
> Rasa aman, hanya itulah yang diminta.
> Apakah 1 hal itu terlalu sulit untuk diberikan?
> Accessories berupa hadiah hanya menyilaukan akal sehat
> untuk memilih, namun kepercayaan tidak dapat dibeli dengan uang.
> Berkantor di gedung mewah di karawaci juga bukan jaminan.
> Kepercayaan dari nasabah lah yang mampu membuat
> sebuah bank mampu berdiri dan menjadi besar.
>
> Saya menjadi nasabah di sebuah bank swasta besar,
> yang sempat terkenal heboh dan menjadi the best retail bank in
> Indonesia.
>
> Saat menerima laporan bulanan atas tabungan saya,
> saya melihat adanya penarikan tunai dalam jumlah yang lumayan
> atas tabungan saya melalui ATM.
>
> Dengan fasilitas phone banking, saya mendapat detil atas transaksi
> tersebut.
> Saya tegaskan jika saya tidak melakukan transaksi tersebut,
> tidak ada anggota keluarga saya yang bisa melakukan transaksi
> tersebut,
> kartu ATM saya tidak pernah hilang,
> saya tegaskan bahwa saya sebagai nasabah pemegang kartu ATM tidak
> melakukan
> transaksi tersebut.
>
> Kemudian pihak bank mengatakan, bahwa sistem mereka tidak mungkin
> salah,
> mesin ATM saat itu dalam keadaan baik, semua berjalan lancar, berarti
> transaksi
> tersebut benar - benar dilakukan oleh saya.
>
> "Nah bagaimana mungkin?" tanya saya. Pihak bank meminta saya untuk
> mengingat ingat kembali.
> Sungguh saya bingung, namun seiring dengan kesibukan saya sehari - hari,
> saya tidak ada waktu untuk memperdulikannya lagi.
>
> Beberapa minggu kemudian, saya menanyakan apakah ada transaksi lain
> lagi, dan
> "Ada", jawabnya diujung telepon sana, "HAH?" terkejut pasti yang  pertama.
> "Kali ini apalagi?", dengan gemetar saya menanyakannya.
>
> "Penarikan sebanyak 1 juta rupiah sebanyak xx kali"
> Luar biasa shock saya, kali ini terulang lagi!
> "TIDAK MUNGKIN!!!", tegur saya dengan marah.
>
> Segera saat itu juga saya melaju ke cabang saya,
> kemudian langsung menuju customer service dengan pucat.
>
> Beraninya, sekali lagi mereka bilang, sistem mereka tidak mungkin
> salah.
> Transaksi itu benar - benar dilakukan oleh saya.
>
> Lho... Apa-apaan ini ketus saya,
> saya tunjukkan kalau kartu ATM saya yang utuh bersama kartu lain dan
> uang tunai dalam dompet saya.
>
> Dompet saya berisi uang tunai dalam jumlah yang selalu besar,
> kartu ATM dan kartu kredit dari berbagai bank, semua ada.
> Dompet saya selalu bersama saya, bahkan saat di tempat kerja atau di
> WC sekalipun.
> Saat tidur dirumah, saya menaruh dompet kedalam lemari besi
> bersama barang berharga lain yang jauh lebih berharga daripada kartu
> ATM.
>
> Berani - beraninya seorang customer service menyudutkan saya terus
> menerus.
> Mereka lupa akan peran mereka untuk memberikan service dengan
> mengatasi
> keluhan customer-nya dengan baik - baik.
> Bukan memojokkan dan membuat jantung saya berdebar semakin cepat!!!
>
> Di akhir pembicaraan mereka sama sekali tidak menerima adanya
> kemungkinan kesalahan sistem ataupun kebobolan dalam bank, tapi semua
> kesalahan  kembali
> dilempar kepada saya, benar - benar hanya menambah kekalutan dan
> mempersalahkan saya berulang - ulang.
>
> Kemudian turunlah salah seorang "petinggi" dari cabang tersebut,
> dia minta saya mengajukan complain, maka pihak bank akan menelusuri
> kejadian ini.
> Beberapa hari berselang, saya diminta menemui pihak tertinggi kali  ini.
>
> Vina (nama samaran), dengan ramah dia mengundang saya memasukki ruang
> kerjanya.
> Sebagai nasabah akhirnya saya boleh didengarkan dengan perhatian.
> Saya menceritakan semua permasalahan dengan baik dan tenang,
> didengarkan dengan baik, dan ditanggapi dengan hangat.
> Dia langsung menyarankan tindakan lanjut, yang langsung saya turuti.
>
> Bayangkan hanya seorang pemimpin muda dan cantik lebih mampu
> mendengarkan dan berpikir lebih cepat
> dari pada seluruh pegawai manis di customer service
> (yang ngakunya digaji untuk tersenyum untuk nasabah).
>
> Vina sbg pimpinan meminta waktu untuk mengusut kejadian ini,
> selama waktu tersebut sayapun berpikir keras tentang kejadian aneh
> yang terjadi belakangan ini.
>
> Selama waktu tersebut benar - benar saya tidak bisa tenang, selalu
> mengingat, berpikir, menganalisa, melacak, mencoba segala kemungkinan yang
> ternegatif.
>
> Hingga saatnya pertemuan kami lagi.
> Vina menemui kami, dan mengatakan segala cara telah ditelusuri,
> ternyata nomor kartu yang dimasukkan ke mesin ATM valid milik saya,
> dengan PIN yang benar, saat itu mesin ATM pun sedang berjalan baik,
> namun sayang dimesin tersebut tidak memiliki kamera pengawas.
>
> Sehingga tidak ada bukti kesalahan dari pihak bank, oleh karena itu
> kali ini transaksi benar - benar dilakukan oleh saya.
> Bank tidak dapat melakukan apa - apa lagi.
>
> Tidak dapat dipercaya,
> mana mungkin saya lupa jika menyangkut uang dalam jumlah besar,
> saya benar - benar tidak melakukan penarikan tunai tersebut,
> kartu ATM masih utuh di tempat saya, saya tidak pernah kehilangan,
> selalu diletakkan bersama kartu ATM dan kartu kredit lainnya,
> di dalam dompet bersama uang kontan dengan jumlah yang lebih besar.
>
> Saya tanyakan kepada Vina, bagaimana jika kamu berada di posisi saya
> sekarang?
> Tiba - tiba ada pihak lain yang membantu menghabiskan simpanan saya.
> Uang memang bisa dicari, namun seberapa pun jumlahnya, itu adalah
> hasil kerja, hasil simpanan sedikit demi sedikit.
>
> Vina mengatakan, "Kami pihak bank memohon maaf sebesar - besarnya,
> kami pun tak tahu lagi apalagi yang harus kami lakukan".
>
> Ternyata punya ATM pun tidak aman, yang teraman itu hanya mereka yang
> tidak punya uang, sehingga mereka tidak harus mengalami kehilangan.
>
> Dari kejadian ini ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik:
> 1. Jangan pernah menyimpan uang dalam akumulasi besar dalam sebuah
> bank,
>    sama seperti kartu kredit dengan limit besar pasti lebih menggoda.
> 2. Lakukan perubahan PIN secara berkala,
> 3. Jika ada kejadian sekecil apapun jangan anggap remeh.
>    Jika saja, saya memblokir tabungan saya lebih awal
>    dari pertama, maka tidak mungkin ada yang berikutnya.
> 4. Lakukan penarikan di mesin ATM yang Anda yakin aman.
> 5. Waspadalah selalu,
> 6. Jangan pernah menganggap remeh kejadian kecil yang menimpa saya
> kali ini!
>    Semoga dapat cepat dicegah agar tidak menimpa Anda ataupun teman
> Anda.
>    Jangan ada lagi yang seperti saya!!!
> 7. Rajin - rajinlah berdoa, agar terhindar dari urusan buang sial
> seperti ini.
>
> Saya tidak mengerti berapa canggih teknologi sekarang,
> saya hanya tahu saya telah kehilangan uang, bukan dirampok,
> bukan dicopet, bukan ditodong, dan bukan uang tunai.
> Tapi simpanan saya dibank berkurang 1 digit begitu saja.
>
> Saya tidak ingin membuat kalian khawatir, ataupun menjelekkan bank
> manapun.
> Mungkin ada diantara rekan - rekan yang pernah mengalami?
> Apalagi yang harus saya lakukan?

----------------------------------------------------------------
Friendship MailingList is provided by PT Centrin Online Tbk
Maintained by   : [EMAIL PROTECTED]
To Post a msg   : Mail to [EMAIL PROTECTED]
To Unsubscribe  : Mail to [EMAIL PROTECTED]
.                 BODY : unsubscribe <Mailing List Name>
For more information, send mail to [EMAIL PROTECTED]
with "HELP" in the BODY of your mail (without quote).
----------------------------------------------------------------

Kirim email ke