Jimmy

 

  _____  

From: d_mulyajaya [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, November 30, 2006 11:09 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Fwd: PELECEHAN PSIKOLOGIS

 

Dari mailing list tetangga

=========
PELECEHAN PSIKOLOGIS
Eileen Rachman & Sylvina Savitri 

Organization Development

Pernahkah Anda menghadap otoritas, misalnya saja orang tua Anda 
sendiri,
atasan, dosen, atau ketua tim dengan rasa enggan dan tertekan? 
Terkadang
keengganan diwarnai juga rasa takut, rasa bersalah, merasa tidak 
berarti,
tidak berharga, sampai-sampai tubuh seakan kehilangan energi untuk 
bicara
dan tak punya ambisi untuk berprestasi. Hati-hati, mungkin tanpa 
disadari,
Anda adalah korban pelecehan psikologis.

Saya pernah punya atasan, yang di dalam rapat kerap 'membuktikan' 
bahwa anak
buahnya 'lagi-lagi' tidak berprestasi, dan ia sebagai atasan-lah yang
'lagi-lagi' harus turun tangan menyelesaikan semua masalah. Lucunya 
atasan
seperti ini sering sekali mengeluh dan heran karena bawahannya tidak 
bisa
mengembangkan diri. Ia tidak sadar bahwa sikapnya mempermalukan 
bawahan di
dalam rapat tanpa memikirkan 'muka' bawahan, menyudutkan bawahan 
tentang
kesalahannya, tidak memberi kesempatan bawahan membela diri dan 
bersikap
seolah-olah kesalahan tersebut selalu dilakukan bawahan, adalah 
bentuk
pelecehan yang sering menyebabkan karyawan tidak bisa mengembangkan 
diri,
lalu jadi cuek dan akhirnya apatis.

Rekan kerja saya, pernah bekerja dibawah seorang atasan yang dari 
luar
terlihat baik dan ramah. Dengan bertambahnya pengalaman, ia tidak 
jadi
semakin pede atau bertambah asertif. Wajahnya kerap tertekan dan 
seringkali
saya melihat matanya berkaca-kaca tanpa alasan bila membicarakan 
sesuatu
yang serius. Ia tidak berani mengungkapkan opininya secara gamblang 
dan
selalu memohon maaf bila berpendapat. Yang mengherankan, setelah 
tidak
bekerja untuk atasan yang lama, teman saya ini kemudian berbicara 
lebih
lantang, lebih tegas dan lebih gembira. Ia mengakui bahwa ketika itu 
ia
merasa tidak berharga dan sangat takut berbuat salah. Ia tidak sadar 
bahwa
situasi ini sebenarnya adalah pelecehan psikologis. 

Pelecehan psikologis menjadikan suasana tidak kondusif. Dan, semua 
orang
setuju bahwa suasana tidak kondusif adalah kontra produktif. Selain 
karyawan
merasa tidak happy dan jadi tidak optimal dalam berkinerja, gejala 
ini
merupakan bahaya laten bagi organisasi, karena karyawan cemerlang 
yang tidak
suka dengan suasana kerja yang tidak manusiawi akan pindah kerja.
Sebaliknya, mereka yang butuh pekerjaan, rela untuk tinggal di 
perusahaan
dan mengorbankan kesejahteraan mental dan perasaannya demi gaji 
bulanan. 

Jangan Ulang Kesalahan 

Ada individu yang terus-menerus jadi bulan-bulanan sekedar karena ia 
kurang
gesit dalam berjalan. Ada juga atasan yang langsung 'mencecer' 
individu yang
pernah ketahuan bermain game di jam kerja. Kita lihat bahwa asal 
pelecehan
psikologis tidak selamanya karena kurangnya kinerja. Berbuat salah 
itu
wajar, tetapi membuat kesalahan berulang kali adalah tindakan yang 
ceroboh
karena membuat Anda jadi 'terlihat' dan berpotensi menjadi bulan-
bulanan
empuk. Sebagai individu, kita perlu berhati-hati dalam berkinerja. 
Jaga
kesigapan, ketrampilan, pengetahuan, sikap dan nilai kerja anda kuat-
kuat.
Berpeganglah pada standar profesi yang dianut perusahaan tempat anda
bekerja. Kita pun perlu memikirkan berbagai elemen pekerjaan lain 
selain
pencapaian target, dan kepatuhan pada sistem dan prosedur. 

Jangan Ragu Perjuangkan Hak

Bila sudah terkena pelecehan, pindah kerja memang bisa jadi jalan 
keluar
singkat. Tapi, rasa dendam dan hubungan yang tidak baik, mau tidak 
mau bisa
mencemari spirit kita untuk berkarir di kemudian hari. Bisa jadi 
tumbuh rasa
penghargaan diri yang rendah dan tampil dalam bentuk 
ketidakpercayaan diri.
Inilah sebabnya kita dianjurkan untuk senantiasa menjaga 'muka' 
sendiri,
walaupun posisi kita berada di hirarki paling bawah sekalipun. Selain
berbuat dan berprestasi baik, kita selalu harus yakin bahwa kita 
mempunyai
hak hidup, hak bicara dan hak di respek sama seperti mereka yang 
menduduki
jabatan yang paling tinggi sekalipun. 

Kita juga perlu bersikap optimis. Sekali bersikap pesimis, maka kita
memberi peluang bagi orang lain untuk menginjak hak kita lebih jauh. 
Kita
perlu belajar mengemukakan pendapat dengan cara positif. Apa 
kenyataan,
pendapat, perasaan dan harapan Anda, perlu bisa kita sampaikan dengan
gamblang. Tidak mampunya kita mengeluarkan isi pikiran dan hati kita 
inilah
yang jadi peluang bagi orang lain untuk melihat kesalahan kita. 

Ingatkan Atasan Tentang Emosi

Seorang teman berkata bahwa bila dalam rapat ada orang lain yang 
dilecehkan,
ia merasa seperti ada di dalam rumah yang sedang cekcok. Suasana 
jadi muram,
gundah tidak bersemangat. Hal ini bisa kita jadikan argumentasi saat
mengingatkan atasan untuk tidak melakukan pelecehan psikologis. 
Suasana
kondusif itu mahal harganya. Sekali suasana rusak, sulit untuk 
membangunnya
kembali. Atasan juga bisa diingatkan bahwa fairness perlu dijaga, 
bukan saja
dalam hal finansial, kesempatan, tetapi juga secara emosional. 
Atasan-atasan
seperti ini perlu diingatkan kembali tentang apa yang kita pelajari 
sejak
kecil, yaitu ada hal-hal yang menimbulkan rasa kecut, takut, sedih, 
kecewa
dan tidak berharga. 

Pada dasarnya semua orang tidak ingin berbuat jahat. Besar 
kemungkinan bila
kita menggunakan bahasa emosi seperti ini atasan baru bisa menyadari 
bahwa
dia sudah menyentuh area yang sebenarnya tidak ingin ia sentuh juga. 

__._,_._ 

Kirim email ke