anjar anastasia <[EMAIL PROTECTED]> wrote

“Inilah pernikahan yang sesungguhnya: menolong satu sama lain untuk 
bertumbuh sepenuhnya menjadi seseorang yang bertanggungjawab dan tidak 
melarikan diri dari kehidupan.”

Sebut saja namanya Ina. Seorang perempuan cantik, lulusan sebuah Sekolah 
Tinggi Ekonomi. Ina adalah perempuan yang mencintai keluarganya, pintar 
memasak & menjahit serta sayang kepada adik-adiknya. Ketika dia masih 
sekolah dan kuliah, tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya. Ada 
satu dua orang yang berhasil mencuri perhatian Ina walaupun tidak lama. 
Meski hubungan berakhir, hubungan baik tetap terjaga. Nggak heran, kalau 
Lebaran tiba, rumah Ina penuh oleh teman-temannya. Ina memang adalah 
pribadi yang menyenangkan.
Diantara laki-laki yang dekat dengannya adalah Nada, arjuna teman 
sekolahnya yang berhasil mengambil hati Ina sepenuhnya. Bahkan dengan Nada 
ini, Ina berani melangkah untuk menata kepada hubungan yang lebih serius 
ke depan. Ina sangat mencintai Nada.

Dalam hubungannya dengan orangtua, Ina memang lebih dekat dengan Ayahnya. 
Maka nggak heran kalau Ina selalu menceritakan semua kepada Ayahnya. Restu 
untuk menikah dengan Nada, ia dapat pertama kali dari Ayahnya. Sementara 
sang Ibu lebih banyak ingin ada pertimbangan serta pengenalan lebih dalam 
lagi sebelum ke jenjang pernikahan. Karena sudah merasa saling mencintai, 
tentu saja usul Ibunya itu tidak bisa ia terima meski Ina tahu, usul 
Ibunya demi kebaikan juga.

Hingga akhirnya pernikahan itu tiba juga. Pesta besar digelar dihadiri 
banyak saudara. Semua orang mengagumi kecantikan sang putri serta 
kegagahan sang pangeran. Apalagi nggak lama setelah itu psangan baru itu 
bisa mendapat kesempatan bekerja ke luar negri dan di sana lahir anak-anak 
mereka yang cantik-cantik.

Setelah cukup lama tinggal di luar negri, keluarga kecil itu kembali lagi 
ke Bandung dengan membawa banyak harapan baru untuk kehidupan yang lebih 
baik. Tapi, siapa sangka ternyata ini semua awal bencana Ina. Ia yang 
seorang Sarjana Ekonomi, tidak boleh lagi bekerja lagi untuk membatu 
ekonomi keluarga. Sang suami hanya memperbolehkan Ina untuk mengurus rumah 
tangga anak-anak saja. Sementara itu, pekerjaan suaminya mengalami kondisi 
surut. Hutang mulai menumpuk, pekerjaan terbengkalai dan yang lebih 
menyakitkan Ina, mulai sering mendapati suaminya mabuk-mabukkan dan pulang 
pagi. Anak-anak terbengkalai.
Biar begitu, Ina masih tetap bertahan. Demi anak-anak, dia berusaha 
melakukan yang terbaik dan menerima kondisi dengan lapang dada. Apalagi 
ada Ayahnya yang selalu menyemangati serta menerima segala macam curhat 
dikala kesesakan itu nyaris melemahkan semangat Ina.

Tapi, hidup manusia memang sudah ada yang menentukan. Suka duka yang 
dialami oleh masing-masing ciptaan terbaik dari Sang Maha Pencipta itu 
silih berganti dan tidak ada yang bisa memilih. Ayahanda Ina yang ia 
sayangi dan cintai, dipanggil yang kuasa tahun 2004 lalu. Saat itu Ina 
sedang hamil tua anaknya yang ketiga. Cucu yang diinginkan sang ayah sebab 
dua cucu sebelumnya berjenis kelamin perempuan. Meski sedang hamil tua, 
Ina mencoba tegar dan kuat. Dengan perut buncitnya, ia mengantarkan 
jenazah ayah tercinta sampai ke liang lahat. 

Dari sini, masalah tidaklah berkurang malah bertambah. Mungkin karena 
sudah tidak ada lagi yang bisa membela Ina, Nada, suaminya berani 
melakukan banyak tindakan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Sifat 
kerasnya makin menjadi. Memukul, mencekik, bentak-bentak, membanting 
perkakas, mengumpat, jarang memberi nafkah kepada keluarga bahkan yang 
sangat menyakiti hati, Nada mempunya wanita idaman lain. 

Pertahanan Ina nyaris luluh. 
Kandungannya melahirkan anak lagi yang memang menjadi keinginan banyak 
orang sebab berjenis kelamin laki-laki. Tapi, itu tidak bisa meredam 
kekasaran yang kian diperlihatkan suami yang masih ia cintai. Hari-hari 
Ina mulai terisi dengan ketakutan jika suaminya marah dan mabuk-mabukkan. 
Belum lagi tidak pulang ke rumah dengan banyak alasan padahal ia selingkuh 
dengan perempuan lain.

Yang lebih menyakitkan hati lagi, semua hutang yang dilakukan suaminya, 
dibebankan ke dia, baik cara menolak/menghadapi para debt collector yang 
meminta atau meminjam lagi ke orang lain buat sedikit menyicil hutang. 
Telepon, rumah serta pergaulan Ina mulai diperketat sebab banyak yang 
mencari. Saya melihat sendiri gimana dia harus menolak banyak debt 
collector dengan segala alasannya. Sementara sang suami, dengan alasan 
bekerja jadi kian sering tidak pulang ke rumah. Malah kebutuhan keluarga 
untuk makan dan lain-lain sudah tidak dipedulikan Nada. Semua kebutuhan 
keluarga Ina itu kadangkala adalah hasil belas kasih saudara dan teman. 
Belakangan Ina tahu, semua hutang dan alasan kerja suaminya hanya demi 
perempuan lain itu. Usahanya melabrak perempuan itu cuma berhasil sebentar 
karena akhirnya suaminya kembali lagi ke perempuan itu. Niat bercerai yang 
sempat terkilas, tidak ia teruskan sebab ia ingat anak-anaknya yang masih 
kecil.

Puncak dari segala masalah itu ketika Ina sekeluarga harus 
berpindah-pindah rumah tinggal demi menghindari debt collector. Keluarga 
yang semula tidak tahu, mulai mengetahui. Ketika mereka pindah sebentar ke 
rumah orang tua Ina, sang Ibu yang sebenernya sangat mencintai Ina, jadi 
salah satu korban lain dari masalah suami Ina. Tapi, Ibu Ina menerima itu 
dengan iklas. Dia malah menangis untuk nasib anak perempuan kesayangannya. 
Terlebih kemudian, Ina harus pindah tempat tinggal lagi entah dimana. 
Sampai-sampai Ibu dan saudaranya yang lain tidak bisa mengetahui 
keberadaannya sama sekali. Bahkan di hari bahagia seperti hari Lebaran. 
Komunikasi hanya bisa lewat sms saja atau dari Ina yang menelpon dari 
wartel. Akses Ina menuju kemana pun sangat dibatasi suaminya. Keluarga 
tidak pernah tahu lagi apa yang terjadi dalam keluarga tersebut. 
Hutang-hutang yang menumpuk pun entah bagaimana nasibnya lagi.

Hingga beberapa hari lalu, dalam kesenyapan malam dan dinginnya udara, Ina 
dikembalikan lagi ke rumah orang tuanya. Bukan sebagai Ina yang ceria, 
cerewet atau tangkas mengerjakan pekerjaan rumah tanga. Bukan juga 
dihantar oleh suaminya. Tetapi, Ina dihantar oleh ambulan rumah sakit 
dengan tubuh kaku dan tidak bernyawa lagi. Dalam laporan resmi pihak rumah 
sakit serta kakak dari suaminya yang turut mengantarkan, dikatakan Ina 
mengalami kejang-kejang lalu meninggal dunia. Kejang-kejang karena apa, 
tidak ada penjelasannya.

Namun, seiring tingginya mentari serta banyak orang-orang datang untuk 
melayat, banyak yang tahu ada kejanggalan dalam tubuh perempuan berkulit 
putih bersih itu. Saya sendiri nggak tega untuk membuka lebih banyak dari 
kain kafan yang menutupinya. Saya hanya bisa melihat sedikit wajah dan 
memegang kakinya seraya meminta maaf sebab sebenarnya selama beberapa 
bulan terakhir ini saya bersama Rini adiknya sedang berusaha untuk 
mencarikan jalan terbaik untuk keutuhan dan penyelesaian terbaik masalah 
keluarga Ina. Sebuah LSM yang terdiri dari teman-teman baik saya, sudah 
bersedia membantu. Tinggal mencari waktu saja untuk bertemu dengan Ina 
yang memang juga sudah bersedia didampingi dan dibantu.

Kenyataan lain dari rencana. Ina sudah lebih dahulu pergi meninggalkan 4 
anak yang masih kecil-kecil. Pergi dengan cara yang tidak jelas dan penuh 
tanda tanya. Ia pergi sendiri tanpa ada yang mengetahui yang sebenarnya 
terjadi. Suami pun tidak berani mengatakan yang sebanarnya kepada 
keluarganya. Bahkan ketika jenazah disholatkan tidak terlihat Nada, 
keranda diangkat justru yang mengangkat kakak Ina dan saudara yang lain, 
saat mayat diturunkan ke liang lahat Nada masih jalan santai menuju 
pekuburan. Wajah sedih itu tidak diyakini sebagai wajah kesedihan mendalam 
seorang suami yang ditinggal istrinya.
Kondisi ini tentu saja menjadi bahan perbincangan semua yang hadir. 
Orang-orang tidak buta. Semua yang terjadi jelas bisa terlihat mata. Meski 
keluarga Ina memberi kebijakan untuk tidak melakukan otopsi, tapi tak ada 
yang bisa ditutupi. Kesabaran Ina selama ini menghadapi semua cobaan, akan 
menjadi seperti pintu yang terbuka lebar satu-satu sepeninggalnya. 

Secara pribadi, saya berharap kejadian ini memberi pelajaran berharga buat 
semua manusia. Tidak sebagai istri saja, tetapi juga sebagai suami. 
Cukuplah seorang Ina menjadi korban. Jangan ada Ina-ina lain lagi. Sebab 
bukankah membentuk keluarga adalah membentuk sebentuk kebahagiaan terkecil 
dalam dunia luas ini? Pengertian, saling berbagi, hormat menghormati serta 
mendukung satu sama lain adalah pondasi kuat mencapai itu semua?

Seperti kata Aristoteles : Cinta terdiri atas sepenggal jiwa yang dihuni 
dua tubuh. Maka jika cinta menjadi penyatu dua orang berlawanan jenis 
dalam hubungan pernikahan, mari kita jaga jiwa yang telah dihuni dua tubuh 
itu agar abadi selamanya. Tidak ada hal lain yang mengganggu.
Selama jalan Ina. Tempat terbaik yang jauh dari segala kekerasan serta 
kesedihan telah disediakan Sang Maha Kasih di sana. 
(bandung 12 Desember 2006)

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"
^-^ salam beraja, -anj- ^-^


Kirim email ke