Dua orang Bos 'berlomba' menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian
memanggil sopirnya, "Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan
uang Rp 100 ribu ini". "Baik Tuan". Dengan cepat Sono berlalu.
Bos A dengan senyum kemenangan, "Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya
sopir saya". "Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku",
sahut Bos B. "Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat
ini". "Segera Tuan" sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa
keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang
dalam 'pertandingan kebodohan' ini.
Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, "Ampun deh Bosku
itu sangat tolol". "Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol
dibanding Bosmu", respon Sunu.
Tidak mau kalah Sono menyambung, "Bayangkan Bosku memberi uang Rp 100
ribu untuk membeli BMW seri terbaru. Mana mungkin itu ???". "Masa Bos
tidak tahu kalau hari ini hari Minggu. Mana ada show room yang buka
sehingga aku bisa membeli mobil BMW seri terbaru ?".
"Iya.. ya benar juga. Tapi dengar dulu ceritaku sebelum kamu berpikir
bahwa Bosmulah yang paling bodoh". "Masa Bosku minta tolong aku untuk
mengecek apakah dia yang saat ini bersama Bosmu di sini, ada di rumah
saat ini ?. Aneh sekali". "Kan Bosku punya HP, kenapa dia tidak langsung
telpon ke rumah untuk menanyakan apakah dia ada di rumah atau tidak saat
ini?".
Mungkin kita akan tersenyum lebar membaca cerita di atas sambil berpikir
apakah benar ada orang sebodoh Sono dan Sunu, kedua sopir tersebut.
Dalam dunia nyata, kita sangat dekat dengan orang-orang 'bodoh' yang
teriak 'bodoh' seperti kedua sopir yang mengatakan kedua Bos mereka
bodoh tanpa mereka mengerti bahwa sebenarnya mereka 'lebih bodoh'.
Bahkan, tanpa bertendensi apapun, jangan-jangan kitapun termasuk
kelompok 'bodoh teriak bodoh' ini.
Banyak orang yang terbiasa mencela orang lain terutama karena kesalahan
dan kekurangan orang lain tersebut. Tidak jarang celaan itu muncul dari
pikiran iri, dengki, takut kalah, dan lain-lain penyakit pikiran yang
banyak menghinggapi orang jaman sekarang. Padahal setiap orang memiliki
kelebihan dan kekurangan. Ada keterbatasan dalam diri setiap orang.
Tidak ada yang sempurna segala-galanya. Apakah kita memiliki hak untuk
mengatakan orang lain bodoh, selalu salah, jelek, dan lain-lain yang
tidak baik ? Bukankah kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan dan
'kebodohan' sewaktu kita belum 'sepintar' saat ini ?
Bos A dan B juga termasuk kelompok 'bodoh teriak bodoh' karena
mempertandingkan kebodohan sopirnya. Mereka tidak sadar bahwa merekapun
dikatakan bodoh oleh kedua sopir yang dibodoh-bodohi oleh mereka
walaupun pemberian 'cap bodoh' oleh kedua sopir kepada kedua Bos dalam
konteks yang berbeda.
Kita perlu sering 'berkaca' dan mengevaluasi diri untuk terus melakukan
perbaikan terhadap diri sendiri baik dalam tataran pemahaman maupun
perbuatan langsung melalui pikiran, ucapan dan perbuatan.
Jangan habiskan waktu kita untuk mencari-cari kesalahan dan kekurangan
orang lain. Manfaatkan waktu tersebut untuk mengolah diri menjadi lebih
baik dari waktu ke waktu, untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kita menjadi orang-orang yang punya daya saing tinggi untuk
berkompetisi dalam dunia bisnis atau profesional, dan sosial
kemasyarakatan.
Pada akhirnya kita tidak akan terperosok ke dalam kelompok 'bodoh teriak
bodoh' dan bisa menjadi orang-orang yang 'pintar', yang tidak mudah
memberikan klaim atau label (terutama 'bodoh') kepada orang lain.
Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :
http://beranigagal.blogspot.com
Salam Sukses,
M. Rian Rahardi
http://www.beranibisnis.com
This email is confidential. If you are not the addressee tell the sender
immediately and destroy this email
without using, sending or storing it. Emails are not secure and may suffer
errors, viruses, delay,
interception and amendment. Standard Chartered PLC and subsidiaries ("SCGroup")
do not accept liability for
damage caused by this email and may monitor email traffic.