Alhamdulillaah ...
Uraian yang sedemikian panjang, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.
Terlepas dari kelemahan qiyas yang ana lontarkan, insya Allah hikmahnya bisa
kita petik bersama.

Hanya, Ana berfikir bahwa hendaklah semua kita berusaha menjadi semen. Berusaha
menyatukan, bukan memecah belah. Baik itu disengaja, maupun tidak karena
kelemahan kita dalam mengajak orang ke jalan kebaikan. Semua yang berusaha untuk
izzu al-Islam wal-muslimin dengan bersungguh-sungguh berpegang pada Qur-an dan
Sunnah, adalah saudara kita. Saudara seperjuangan.

Jika sebagian Ikhwan mempunyai kekurangan, nasihatilah dengan cara yang baik.
Dan bukan menghakiminya atau bahkan menyisihkannya.
Jika ada perbedaan cara, selama tempat rujukannya adalah Qur-an dan Sunnah,
berittiba pada Rasulullah dan generasi-generasi awal yang utama, janganlah
saling menyalahkan. Sesungguhnya para ulama yang telah mendahului, kita telah
mendapatkan pengalaman yang banyak dan berbeda-beda. Sehingga meskipun berittiba
pada Rasulullah saw dan tiga generasi pertama, tetaplah ketika mereka
menafsirkan apa yang Rasulullah hingga tabiit tabiin lakukan, mengandung
perbedaan. Merekalah yang sebenarnya berhak menyandang salafiyyin, namun mereka
tidak pernah mengikrarkannya.

Silahkan pelajari ilmu-ilmu alat, bukan hanya sekedar pendapat. Dari sana,
ikhwan sekalian saudaraku yang mulia, akan bisa melihat dengan lebih lapang
hati. Melihat pendapat ulama dari cara mereka melahirkannya. Bukan hanya
hasilnya, bahkan dalam cara mengeluarkan hukum dari suatu masalah pun (istinbath
al-hukm) generasi-generasi pertama setelah tabiit-tabiin pun bisa berbeda
pendapat. Apalagi hasil hukumnya (yang kita namakan sekarang Fiqh).

Oleh karena itu, perbedaan mendasar antara Ikhwan yang menisbatkan diri sekarang
dengan Salafiyyin, menolak adanya tanzhim dalam penegakan agama (iqamat
ad-diin), dengan Ikhwan yang lain yang meyakini adanya marhalah-marhalah dakwah
yang melahirkan penyesuaian sikap berdakwah dalam setiap tahapan, akan mudah
difahami. Tidak menjadikan keengganan untuk saling tolong menolong, dan saling
menanggung (taawwun wa takaaful). Saling bekerja sama dalam izzul-islam
wal-muslimin. Tidak ada lagi sikap sesama muslim saling menganggap bahwa
merekalah sebagaimana Rasulullah dan para shahabat, sementara yang lain bagai
kafirin dan musyrikin Quraisy, yang padahal jelas saudara seiman dan seislam.
Dan kita pun tidak akan meraba-raba mana perbedaan yang masih bisa ditolerir
(karena hanya berbeda istinbath-nya saja), mana yang tidak.

Marilah kita bekerja sama dalam kebaikan dan takwa,
Hayya 'ala nata'awanu 'alal-birri wal-taqwa

Allaahumma allif baina quluubina wa quluubil-muslimiin
(harus diakui bahwa : 1. saat ini belum ada jamaah al-muslimin, yang ada baru
jamaah min al-muslimin, maka hendaknya setiap jamaah tidak menafikan jamaah yang
lain; dan 2. hanya Allah-lah yang bisa menyatukan hati-hati kaum muslimin,
sementara kita hanya bisa mengusahakannya)

Akhukum fillaah,

Abu Karimna

Catatan :
Ilmu-ilmu alat adalah ilmu-ilmu yang lahir dan dirumuskan oleh para ulama
terdahulu sehingga hukum dan maksud syariat bisa diketahui. Diantaranya adalah
Ulumul Lughah (ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab), Ulumul Qur'an
(seperti asbabun nuzul, tafsir, gharibil-Qur'an dll), Ulumul Hadits (Riwayatan
dan Dirayatan, termasuk di antara Ilmu sanad, Jarh wa Ta'dil, asbabul wurud
dll), Ushul Fiqh (dan cabang-cabangnya), Sirah Rasulullah.
Maka, jika kita telah terjun pada ilmu-ilmu ini, sungguh malu-lah kita telah
melakukan jidal (perdebatan yang bukan dalam rangka taushiyyah) dengan sekedar
mem-forward pendapat-pendapat ulama yang satu untuk dipertentangkan dengan ulama
yang lain (padahal mereka sendiri tidak bertentangan dengan keluasan ilmu dan
kefahaman mereka), dengan ilmu kita yang sangat sedikit dibandingkan ulama yang
kita tentang. Na'udzu billaah min dzaalik.






Sudi Sophan <[EMAIL PROTECTED]> on 06/20/2006 01:16:00 PM

Please respond to Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
      <[EMAIL PROTECTED]>

To:   "'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'"
      <[EMAIL PROTECTED]>
cc:    (bcc: budi arjanto/tddj)

Subject:  Re: [ FUPM-EJIP ] Da'wah salafiyah Dan Persatuan



Assalaamu'alaikum  warohmatullah.
Alhamdulillah. Wassholatu wassalamu 'ala Rasulullah SAW.

Anna ada pertanyaan nih akhi sekalian.

Ulangan:
Untuk menyatukan berbagai bahan hingga menjadi sebuah bangunan yang indah
dibutuhkan semen yang mampu mengikat semuanya, dengan bantuan air, sehingga
menjadi kokoh. Tidaklah mungkin / lazim orang membuat bangunan dari semen
saja,
batu saja, pasir saja dst. Mudah-mudahan ini menjadi ibrah bagi kita, agar
kita
dapat menjadi semen yang mampu mengikat semua bahan tadi dalam bangunan
Islam.


Memang tidak lazim jika orang membuat bangunan dari semen saja, batu saja,
pasir saja dst.
Boleh juga kan kalau kita bilang bikin suatu bangunan harus terdiri dari
semen, batu, pasir, batu bata, besi, dll.
Atau juga suatu rumah harus terdiri dari tiang pondasi, atap, lantai,
dinding yang mana dari bahan bangunan tersebut diatas.
Ana rasa semua orang sepakat ini.
Lalu,..
Timbul pertanyaan dari dalam hati ana untuk mengetuk hati antum semua.
Bagaimana kalau bangunan yang kita dirikan itu terdiri dari:
semen yang kualitasnya paling buruk? batunya batu apung? pasirnya pasir
lumpur? batu batanya dibakar asalan? besinya besi karatan?
Apakah akan didapatkan bangunan yang kokoh?
Tentu antum semua akan menjawab tidak.
Kita semua akan mengatakan semennya harus kualitas yang bagus, batunya harus
batu koral, pasirnya harus diambil dari bukit pasir asli, batu batanya
haruslah di bakar dengan matang dan dari tanah lempung, besinya pun bila
perlu besi baja. Nah barulah bangunannya bisa kokoh.
Akan tetapi dalam bangunan tersebut yang tidak kokoh tadi, bila si semen
berkata bahwa dirinya sudah bagus kok, kan bisa buat bikin bangunan, tapi si
batu, si pasir, si besi bilang bahwa si semen kurang layak dipakai. Begitu
pula si batu mengatakan dirinya sudah cukup bagus, ringan pula, kan bisa
buat bikin tiang pondasi bangunan? tapi si semen bilang kalau si batu bakal
cepat hancur, bisa cepat goyang nanti demikian pula kata si si pasir, si
besi dan lainnya.
Tidak kalah saingan si batu bata pun bilang dirinya sudah bisa nanti buat
bikin tembok atau dinding dan sebagai support bangunan, tapi si batu bilang
bahwa si batu bata kan asalnya dari lempung yang dibakar kurang masak jadi
otomatis nanti tidak baik jadi batu batanya, demikian pula kata si pasir dan
lainnya.
Begitu pula dengan si pasir menganggap dirinya sudah cukup standard walaupun
diambil dari saringan lumpur, kan udah disaring, sampai dapat jadi pasir,
yang pentingkan pasir dah sesuai hingga bisa bikin adukan semen. Tapi bagi
si semen bahwa si pasir tadi tidak layak untuk bikin bangunan, bagaimana
mungkin mau bikin adonan semen kalau dari lumpur, yang bener saja. Begitu
pula kata si batu dan lainnya.
Dan seterusnya, terjadilah pertentangan antara semen, pasir, batu, batu
bata, besi karena masing2 punya standard kelayakan sendiri2.
Hingga untuk mendirikan suatu bangunan yang kokoh katanya, masing2 punya
standard sendiri2 walaupun masing2 yang lain pula menentang standard pihak
yang mensupport bangunan itu. Padahal dalam kenyataannya setelah terjadi
bangunan ternyata bangunannya rapuh, tidak berapa lama juga hancur ditelan
masa, apalagi di terpa oleh orang2 yang tidak menyukai bangunan tersebut
tentulah bangunan tersebut semakin cepat hancurnya dengan seizin Allah.

Oleh karena itu tidak sepantasnya kita mempunyai standard kelayakan
sendiri2. Standard ini haruslah sama dan tidak boleh berbeda. Salah satu
saja ada yang membuat beda standarnya tentulah nanti tidak akan dicapai
suatu bangunan yang kokoh, dan bisa jadi terjadi kerusakan dalam bangunan
tersebut.
Ana fikir antum semua sepakat dalam hal ini.
Selanjutnya timbul pertanyaan kembali, yang manakah standard kelayakan yang
benar bisa untuk membuat bangunan yang kokoh tersebut?
Standard yang bukan persepsi si semen sendiri terhadap kualiatas semennya,
standard yang bukan persepsi si batu sendiri terhadap kualitas batunya,
standard yang bukan persepsi si pasir sendiri terhadap kualitas pasirnya,
dan standard yang bukan persepsi si dan lain2 terhadap kualitas masing2 yang
lain itu.
Yang manakah itu?
Jika ada standard kelayakan yang telah ditetapkan berdasarkan suatu
keputusan si Arsitek bangunan tersebut yakni bahwa semen harus kualitas
no.1, pasir harus diambil dari tambang pasir yang murni, batu harus termasuk
galian golongan C di kali-kali, batu bata harus dari lempung yang bermutu
dan dibakar matang, besinya haruslah kuat konstruksinya dan terbuat dari
baja, ditambang lagi susunan bangunan harus saling menopang dan membantu,
barulah akan tercipta suatu bangunan no.1 dengan seizin Allah.
Pertanyaan lagi, Arsitek yang mana yang harus kita sewa untuk ini? dan
tukang2nya mana yang harus mengerjakan ini?
Muncul lagi pula untuk mencari standard akan arsitek, standard para tukang
yang handal, dan seterus-seterusnya tidak habis2nya untuk mencari standard
yang semestinya.

Lalu apakah standard yang semestinya yang benar tersebut, yang telah
diajarkan kepada Umat manusia, yang telah diridhoi Allah Subhana wa Ta'Ala.
Yang standard tersebut jadi pedoman segala hal.
Antum pasti menjawab pula dengan Al Quran dan As Sunnah.
Bagaimana kalau standard Al Quran dan As Sunnah tersebut kembali sesuai
dengan persepsi masing2 si semen, si batu, si pasir, si batu bata, si yang
lain?
Apa jadinya? apakah nanti terdapat suatu kesimpulan perbedaan pemahaman
standard tersebut menjadi sebuah rahmat? ataukah persatuan persepsi yang
hanya ada satu saja persepsi yang menjadikan sebuat rahmat? atau juga
perbedaan pemahaman standard antara si batu dengan si semen menjadi sebuah
rahmat? jika iya, maka bolehlah si batu berbicara bahwa dirinya memahami
standard dirinya sebagai batu yang baik walau dari batu apung sekalipun,
yang penting kan batu, titik. Tentu saja si semen tidak akan terima, maka
kacaulah jadinya, bisa2 batu dan semen jalan sendiri2 dan bahkan suatu waktu
peranglah antara si batu dan si semen, belum lagi bahan lainnya yang ribut,
belum pula serangan dari luar bangunan. Apakah masih ada kita bilang
perbedaan suatu rahmat dari Allah? Iya lah, tentu saja kalau perbedaan itu
seperti misalnya antum pake jam tangan buatan seiko japan, ana pake jam
tangan buatan swiss, tentu tidak masalah, karena tidak ada aturannya.
Bagaimana kalau sudah diatur, sudah ada standardnya, masih mau bikin aturan
sendiri, bikin standard sendiri sesuai persepsi sendiri pula, apakah bisa
jadi rahmat?
Ataukah sudah ada standard sesuai persepsi yang kayak begini lho tapi ada
pula yang mengartikan tidak kayak gini lho apakah jadi rahmat? bisa-bisa
muter lagi jawabannya. Terus saja muter dan jelimet, tidak ada habisnya
perkara ini.

Nah para akhi sekalian, ternyata mencari standard dengan satu persepsi
adalah hal yang paling memungkinkan untuk mendapatkan bangunan yang kokoh.
Dengan kata lain dengan banyak persepsi standard tentulah memungkinkan
terjadinya friksi, tuding menuding, gampang dihembus angin hasutan, cepat
lapuk dan sebagainya.
Untuk itulah para akhi sekalian, kenapa diri kita tidak mau menerima satu
persepsi saja dalam memahami standard yang ada. Bukalah hati ini, mintalah
kepada Allah untuk membukakan hati kita ini dari menerima yang benar untuk
menyamakan persepsi kita dalam memahami AlQuran dan As sunnah.
Seperti apakah persepsi yang benar ini sih?
Tentu saja yang diridhoi oleh Allah SWT sebagaimana kita memohon kepada
Allah untuk menunjuki jalan yang lurus [tidak berbelok].
Yang manakah jalan yang lurus yang diridhoi oleh Allah itu?

Mari kita lihat At Taubah Ayat 100:

100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya
selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Tidakkah kita ingin kekal di dalam surga? tidakkah kita ingin kemenangan
yang besar?
Maka ikutilah jalan orang2 yang pertama-tama dari golongan muhajirin dan
anshor tersebut agar kita termasuk golongan orang2 yang mengikuti mereka
dengan baik.
Inilah paham yang benar dan persepsi yang benar. Segala persepsi dan
pemahaman yang berpaling kepada ayat diatas maka itulah yang benar, karena
Allah SWT sendiri telah membenarkannya, bukankah antum bilang bahwa Allah
yang maha benar. Jika Allah telah menunjuki kita dengan jalan yang benar
tersebut apakah masih ada persepsi lain lagi yang menganggap dirinya benar
selain dari pada apa yang ditunjuki oleh Allah?
Inilah standard yang kita cari ikhwan sekalian.

Dimana ada yang mengacu kepada standard tersebut maka itulah yang benar,
selain dari itu maka hanya membuat diantara kita menjadi bahan yang tidak
kokoh dan tidak berkualitas untuk membuat suatu bangunan peradaban.

Sekian dulu dari anna, mohon maaf atas segala kekurangan. Astaghfirullah.
Bukan bermaksud untuk menggurui antum semua, tapi ana ingin mengajak berbagi
pikiran supaya diantara kita meninggalkan perselisihan pemahaman, mengikuti
apa yang telah digariskan oleh pendahulu sahabat Rasulillah SAW.

Alhamdulillah.

Wassalaamu'alaikum warohmatullah.





********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke