Amal kita diterima oleh Allah atau tidak itu urusan Allah.
Baris perkataan ini membuat anna yang orang awam akan bingung dan bertanya2.
Pertanyaannya adalah:
Bagaimana Anda tahu bahwa amal Anda bakal diterima oleh Allah atau tidak?
Apakah Anda bercakap-cakap dulu dengan Allah supaya jadi tahu bahwa amal Anda sudah diterima?
Kalau jawabannya tentu tidak, lalu timbul lagi pertanyaan:
Kalau Anda sendiri tidak tahu amal Anda diterima atau tidak oleh Allah, lalu bagaimana Anda menentukan bahwa amal ini atau itu kayaknya diterima oleh Allah? atau berharap amal kayak gini atau kayak gitu mudah2an diterima oleh Allah?
Apa suka-suka saya menentukan amal kayak gini atau kayak gitu yang bisa diterima oleh Allah?
lalu apa gunanya Utusan Allah yang datang turun ke bumi mengajarkan kepada khalayak umat manusia mengajarkan apa2 yang bakal diterima atau ditolak oleh Allah?
Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah menyampaikannya dengan terang kepada kita semua?
Kalau kitanya yang belum terang tentulah kitanya yang harus diperbaiki.
 
Lalu menjudge ini benar dan ini salah hanya milik Allah dan RasulNya.
Kita tidak bisa bercakap2 dengan Allah saat ini, dan tidak pula bisa bercakap2 dengan Rasulullah SAW saat ini.
Apakah kita jadi buta akan yang mana benar dan yang mana salah?
Apakah setiap amal yang kelihatan baik itu adalah benar?
Yang kelihatan baik belum tentu benar.
Sedangkan yang Benar pastilah itu baik.
Mengapa kita tidak mencari yang benar dari pada mengamalkan sesuatu yang baik tapi belum tentu benar?
Sedangkan jika kita mengamalkan yang benar maka itu pasti baik buat kita nantinya.
Dan jika yang kita amalkan itu salah, maka cepatlah kita berlindung kepada Allah dari kesalahan tersebut agar tidak berlarut2. Apakah tepat jika yang kita amalkan itu ternyata salah lalu kita memohon kepada Allah agar diterima amalan salah tersebut? anna fikir semua orang berpendapat tentu kurang tepat.
 
Oleh karena itu, alangkah baiknya bagi kita untuk terus belajar dan belajar mendalami ilmu addien ini.
 

"Abdullah bin Mas'ud ra, berkata: Telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah swt, telah membagi diantara kamu sekalian ahklak kamu sebagaimana Dia telah membagi diantara kamu sekalian rezeki kamu dan sesungguhnya Allah memberi Dunia kepada siapa yang disukai dan kepada siapa yang tidak dicintai, Sedang dia tidak memberi Addien (Ilmu Agama) kecuali kepada siapa yang Dia cintai, maka barangsiapa yang Allah telah beri kepadanya Addien maka berarti Dia mencintainya. Demi yang jiwa Muhammad ditanganNya, tidaklah seorang hamba itu selamat sehingga selamat hati dan lisannya"(HR Ahmad)

 
Mudah2an kita bisa mengambil intisari dari hadits diatas dan mengamalkannya.
InsyaAllah. Anna berharap termasuk orang yang Dia cintai.
 
 
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Rahmat Hidayat
Sent: Thursday, August 31, 2006 10:04 AM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Mohon penjelasnya

teriamakasih pak, mudaha-mudahan amal kita diterma oleh Allah, saya setuju yang berhak diterima atau tidak itu urusan Allah'
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Muhtadin
Sent: Wednesday, August 30, 2006 7:21 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Mohon penjelasnya

Assalaamu'alaikum,
 
Dikatakan Bid'ah atau Bukan itu kan menurut pendapat 'Ulama yang kita ikuti dan masing-masing 'Ulama yang kita ikuti itu juga punya landasannya masing2 yang Juga bersumber dari Al-Quran dan Assunnah, sehingga buat kita memang haruslah tetap berhati-hati dan senantiasa berdo'a Mudah2an Allah Swt memberikan Hidayah dan Ma'unahNYA kepada kita dan juga saudara2 kita, karena kita sendiri juga tidak mengetahui apakah amalan-amalan kita sudah pasti diterima Allah SWT, Hanya Allah lah yang mengetahuinya dan hanya Allah SWT dan RosulNYA sajalah yang Berhak Menjudge atau Berhak mengatakan bahwa INI BENAR dan INI SALAH, ini Bid'ah atau Bukan karena 'ulama-'ulamanya juga punya alasan masing-masing sehingga melaksanakan 'amal tersebut.
Perbuatan Bid'ah atau Bukan kita serahkan saja amalan kita masing2 kepada Allah SWT, mudah2an Allah SWT menerima semua 'amal sholih kita Amiin, apabila kita melihat saudara kita yang sedang berbuat kebajikan maka kita tak pantas untuk mengatakan bahwa amalannya ditolak padahal urusan diterima atau ditolak adalah hak Allah semata, kita sepatutnya berdo'a saja mudah2an 'amal baiknya diterima oleh Allah SWT begitu juga dengan 'amal2 baik kita serta mudah2an Allah mengampuni segala dosa2 kita.
 
Wallahu a'lam bishshowab.
 
Wassalam,
Mht.
 
 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, August 30, 2006 5:26 PM
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Mohon penjelasnya

Assalamu alaikum
Alhamdulillah, terimakasih penjelsannya ini lebih masuk dihati.
Apa yang diinformasikan oleh soudara cucun beberapa ada yang benar bila ada acuan dalilnya. tetapi untuk hal "sahun, sahur" sebagai orang awam saya juga merasa kurang pas kalau itu disebut Bid'ah, 
mengajak untuk bersahur sama dengan mengajak untuk melakukan sunah rosul (yaitu sahur). dan saya merasa terbantu kalau tetangga saya, istri saya, anak saya, atau teman-temansaya mengajak sahur karena masih tertidur.
Memang ini tidak ada sunah rosulnya, tetapi tidak ada hadis nya yang melarang  (kalau memang ada, saya minta penjelsannya).
Pada soudarku kalau ada kebiasaan baik dan itu tidak ada contoh rosul (tidak ada perintah ataupun larangan) dan sifatnya muamalah apakah harus itu dibilang bidah.
Contoh :
ada pengajian lewat radio (sedangkan pengajian sifatnya ibadah) dan radio belum ada zaman rosul. Apakah itu Bid'ah.
 
 
 
Terima kasih.
wasalam
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Rudy Swardani
Sent: Wednesday, August 30, 2006 4:38 PM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Mohon penjelasnya

ASAL TIAP-TIAP SESUATU ADALAH MUBAH (MEMBOLEHKAN)
Sumber : Halal Haram
oleh Syaikh Dr. Yusuf Qardawi
 
DASAR pertama yang ditetapkan Islam, ialah: bahawa asal sesuatu yang dicipta Allah adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali kerana ada nas yang sah dan tegas dari syari' (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, iaitu Allah dan Rasul) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nas yang sah --misalnya kerana ada sebahagian Hadis lemah-- atau tidak ada nas yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, iaitu mubah.
 
 Ulama-ulama Islam mendasarkan ketetapannya, bahawa segala sesuatu asalnya mubah, seperti tersebut di atas, dengan dalil ayat-ayat al-Quran yang antara lain:
 
 “Dialah Zat yang menjadikan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya.” (al-Baqarah: 29)
 
 “(Allah) telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya daripadaNya.” (al-Jatsiyah: 13)
 
 “Belum tahukah kamu, bahawa sesungguhnya Allah telah memudahkan untuk kamu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi; dan Ia telah sempurnakan buat kamu nikmat-nikmatNya yang nampak mahupun yang tidak nampak.” (Luqman: 20)
 
 Allah tidak akan membuat segala-galanya ini yang diserahkan kepada manusia dan dikurniakannya, kemudian Dia sendiri mengharamkannya. Kalau tidak begitu, buat apa Ia jadikan, Dia serahkan kepada manusia dan Dia kurniakannya?
 
 Beberapa hal yang Allah haramkan itu, justeru kerana ada sebab dan hikmat, yang --insya Allah-- akan kita sebutkan nanti.
 
 Dengan demikian arena haram dalam syariat Islam itu sebenarnya sangat sempit sekali; dan arena halal malah justeru sangat luas. Hal ini adalah justeru nas-nas yang sahih dan tegas dalam hal-haram, jumlahnya sangat minim sekali. Sedang sesuatu yang tidak ada keterangan halal-haramnya, adalah kembali kepada hukum asal iaitu halal dan termasuk dalam kategori yang dima'fukan Allah.
 
 Untuk soal ini ada satu Hadis yang menyatakan sebagai berikut: "Apa saja yang Allah halalkan dalam kitabNya, maka dia adalah halal, dan apa saja yang Ia haramkan, maka dia itu adalah haram; sedang apa yang Ia diamkannya, maka dia itu dibolehkan (ma'fu). Oleh kerana itu terimalah dari Allah kemaafannya itu, sebab sesungguhnya Allah tidak bakal lupa sedikitpun." Kemudian Rasulullah membaca ayat: dan Tuhanmu tidak lupa [2]. (Riwayat Hakim dan Bazzar)
 
 "Rasulullah s.aw. pernah ditanya tentang hukumnya samin, keju dan keledai hutan, maka jawab beliau: Apa yang disebut halal ialah: sesuatu yang Allah halalkan dalam kitabNya; dan yang disebut haram ialah: sesuatu yang Allah haramkan dalam kitabNya; sedang apa yang Ia diamkan, maka dia itu salah satu yang Allah maafkan buat kamu." (Riwayat Tarmizi dan lbnu Majah)
 
 Rasulullah tidak ingin memberikan jawaban kepada si penanya dengan menerangkan satu persatunya, tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu mereka dapat diharamkan Allah, sedang lainnya halal dan baik.
 
 Dan sabda beliau juga, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia." (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)
 
 Di sini ingin pula saya jelaskan, bahawa kaidah asal segala sesuatu adalah halal ini tidak hanya terbatas dalam masalah benda, tetapi meliputi masalah perbuatan dan pekerjaan yang tidak termasuk daripada urusan ibadah, iaitu yang biasa kita istilahkan dengan Adat atau Mu'amalat. Dasar dalam masalah ini tidak haram dan tidak terikat, kecuali sesuatu yang memang oleh syari' sendiri telah diharamkan dan dikonkritkannya sesuai dengan firman Allah:
 
 “Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu yang Ia telah haramkan atas kamu.” (al-An'am: 119)
 
 Ayat ini umum, meliputi soal-coal makanan, perbuatan dan lain-lain.
 
 Berbeda sekali dengan urusan ibadah. Dia itu semata-mata urusan agama yang tidak ditetapkan, melainkan dari jalan wahyu. Untuk itulah, maka terdapat dalam suatu Hadis Nabi yang mengatakan:
 
 "Barangsiapa membuat cara baru dalam urusan kami, dengan sesuatu yang tidak ada contohnya, maka dia itu tertolak." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
 
 Ini, adalah kerana hakikat AGAMA --atau katakanlah IBADAH-- itu tercermin dalam dua hal, iaitu:
 
  1. Hanya Allah lah yang disembah.
  2. Untuk menyembah Allah, hanya dapat dilakukan menurut apa yang disyariatkannya.
 
 Oleh kerana itu, barangsiapa mengada-ada suatu cara ibadah yang timbul dari dirinya sendiri --apapun macamnya-- adalah suatu kesesatan yang harus ditolak. Sebab hanya syari'lah yang berhak menentukan cara ibadah yang dapat dipakai untuk bertaqarrub kepadaNya.
 
 Adapun masalah Adat atau Mu'amalat, sumbernya bukan dari syari', tetapi manusia itu sendiri yang menimbulkan dan mengadakan. Syari' dalam hal ini tugasnya adalah untuk membetulkan, meluruskan, mendidik dan mengakui, kecuali dalam beberapa hal yang memang akan membawa kerusakan dan mudharat.
 
 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: "Sesungguhnya sikap manusia, baik yang berbentuk omongan ataupun perbuatan ada dua macam: ibadah untuk kemaslahatan agamanya, dan kedua adat (kebiasaan) yang sangat mereka perlukan demi kemaslahatan dunia mereka Maka dengan terperincinya dasar-dasar syariat, kita dapat mengakui, bahawa seluruh ibadah yang telah dibenarkannya, hanya dapat ditetapkan dengan ketentuan syara' itu sendiri."
 
 Adapun masalah Adat iaitu yang biasa dipakai ummat manusia demi kemaslahatan dunia mereka sesuai dengan apa yang mereka perlukan, semula tidak terlarang. Semuanya boleh, kecuali hal-hal yang oleh Allah dilarangnya Demikian itu adalah kerana perintah dan larangan, kedua-duanya disyariatkan Allah. Sedang ibadah adalah termasuk yang mesti diperintah. Oleh kerana itu sesuatu, yang tidak diperintah, bagaimana mungkin dihukumi terlarang.
 
 Imam Ahmad dan beberapa ahli fiqih lainnya berpendapat: asas dalam urusan ibadah adalah tauqif (bersumber pada ketetapan Allah dan Rasul). Oleh kerana itu ibadah tersebut tidak boleh dikerjakan, kecuali kalau ternyata telah disyariatkan oleh Allah. Kalau tidak demikian, berarti kita akan termasuk dalam apa yang disebutkan Allah:
 
 “Apakah mereka itu mempunyai sekutu yang mengadakan agama untuk mereka, sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?” (as-Syura: 21)
 
 Sedang dalam persoalan Adat prinsipnya boleh. Tidak satupun yang terlarang, kecuali yang memang telah diharamkan. Kalau tidak demikian, maka kita akan termasuk dalam apa yang dikatakan Allah:
 
 “Katakanlah! Apakah kamu sudah mengetahui sesuatu yang diturunkan Allah untuk kamu daripada rezeki, kemudian kamu jadikan daripadanya itu haram dan halal? Katakanlah! Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, ataukah kamu memang berdusta atas (nama) Allah?” (Yunus: 59)
 
 Ini adalah suatu kaidah yang besar sekali manfaatnya. Dengan dasar itu pula kami berpendapat: bahawa jual-bell, hibah, sewa-menyewa dan lain-lain adat yang selalu diperlukan manusia untuk mengatur kehidupan mereka seperti makan, minum dan pakaian. Agama membawakan beberapa etika yang sangat baik sekali, iaitu mana yang sekiranya membawa bahaya, diharamkan; sedang yang mesti, diwajibkannya. Yang tidak layak, dimakruhkan; sedang yang jelas membawa maslahah, disunnatkan.
 
 Dengan dasar itulah maka manusia dapat melakukan jual-beli dan sewa-menyewa sesuka hatinya, selama dia itu tidak diharamkan oleh syara'. Begitu juga mereka boleh makan dan minum sesukanya, selama dia itu tidak diharamkan oleh syara', sekalipun sebahagiannya ada yang oleh syara' kadangkadang disunnatkan dan ada kalanya dimakruhkan. Sesuatu yang oleh syara' tidak diberinya pembatasan, mereka dapat menetapkan menurut kemutlakan hukum asal [3].
 
 Prinsip di atas, sesuai dengan apa yang disebut dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: "Kami pemah melakukan 'azl' [4], sedang waktu itu al-Quran masih turun; kalau hal tersebut dilarang, niscaya al-Quran akan melarangnya."
 
 Ini menunjukkan, bahawa apa saja yang didiamkan oleh wahyu, bukanlah terlarang. Mereka bebas untuk mengerjakannya, sehingga ada nas yang melarang dan mencegahnya.
 
 Demikianlah salah satu daripada kesempurnaan kecerdasan para sahabat. Dan dengan ini pula, ditetapkan suatu kaidah: "Soal ibadah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan syariat yang ditetapkan Allah; dan suatu hukum adat tidak boleh diharamkan, kecuali dengan ketentuan yang diharamkan oleh Allah."
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]On Behalf Of Andriansyah Zaininoer
Sent: 30 Agustus 2006 15:59
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: [ FUPM-EJIP ] Mohon penjelasnya

Assalamu 'alaikum
 
saudara  apakah antum punya materi penjelasan tentang
 
> Yang pertama (kesepakatan ulama) kira kira katanya adalah seperti ini
 
1. Semua perbuatan yang berhubungan mua'amalat di perbolehkan selama tidak ada dalil yang melarang
2. Semua perbuatan yang berhubungan Ibadah dilarang,  selama ada dalil yang memperbolehkan 
 
 
> Yang ke dua
 
ibadah mahdoh dan ibadah ghoiru madoh (semoga tidak salah ketik)
 
 
terima kasih
 
wasalam


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke