|
Page 1 of
4
Fadli Zon : munculnya buku karya Perkins ini menunjukkan bahwa teori
konspirasi yang selama ini dianggap isapan jempol, khususnya di Indonesia,
menjadi suatu kenyataan.
Buah karya dari negeri Paman Sam itu, ternyata ludes, bak kacang
goreng. Dua ratus eksemplar yang dimasukkan Trisera dari AS, setelah
dibagi keempat toko buku yang masih satu grup dengan Gramedia, habis hanya
dalam waktu satu hari. Padahal, harganya tergolong wah bagi kebanyakan
orang Indonesia, yakni dua ratus tujuh puluh tujuh ribu lima ratus rupiah
per buku.
Buku ini sempat menghebohkan dunia, terutama di AS. Isinya, pengakuan
Perkins tentang sepak terjangnya saat menghancurkan negara-negara dunia.
Teori konspirasi bukan lagi isapan jempol, tapi suatu kenyataan.
Buku yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat dunia itu tak lain
adalah Confessions of an Economic Hit Man buah pena John Perkins.
Berrett-Koehler Publisher Inc, sebuah penerbit buku-buku ternama yang
menerbitkan buku ini mengaku tidak memiliki sangkut paut apapun dengan
korporasi besar dan pemerintah AS saat menerbitkannya.
Sekarang sudah habis. Tapi kalau mau beli, tunggu sebulan lagi. Kalau
tidak ada hambatan, buku itu baru ada lagi bulan September. Bahkan
kemungkinan besar pada bulan itu sudah ada buku terjemahannya, kata salah
seorang karyawan Trisera, saat ditelepon SABILI. Beruntung SABILI
mendapatkan buku tersebut dari seseorang yang membelinya di salah satu
toko buku di Singapura beberapa waktu lalu.
Tak ada yang membantah bahwa buku adalah salah satu referensi utama
dalam menulis, tak terkecuali bagi SABILI. Untuk kebutuhan referensi
itulah, pekan lalu, SABILI mengontak toko buku Trisera, salah satu anak
perusahaan Gramedia Grup. Dengan menelepon langsung toko buku yang menjual
buku terbitan Berrett-Koehler Publishers Inc, San Fransisco, Amerika
Serikat (AS) yang jadi best seller itu, SABILI berharap bisa
memperolehnya.
Independensi ini menyebabkan Berrett-Koehler tidak terafiliasi dengan
pihak-pihak yang bisa menekan kami untuk keep quiet, kata Senior Managing
Editor Berrett-Koehler, Jeevan Sivasubramaniam, menjawab pertanyaan
melalui e-mail sebuah harian yang terbit di Jakarta.
Buku yang membuat heboh dunia ini terbilang unik. Jika kebanyakan buku
ditulis oleh para pengamat atau orang ketiga, namun buku ini langsung
ditulis oleh seorang pelaku atau pemain nya sendiri. Isinya pun
terbilang luar biasa: mengungkap pengakuan tentang sepak terjang Perkins
sebagai economic hit man (EHM) yang berusaha menghancurkan negara-negara
lain selama lima belas tahun.
Pada 1971, Perkins direkrut Chas T Main, sebuah firma konsultan asal
Boston. Di firma itu, jebolan fakultas ekonomi ini, diangkat sebagai
kepala ekonomi yang memimpin 50 orang staf. Chas T Main sendiri memiliki
sekitar dua ribu orang pegawai.
Perkins dan sejumlah temannya memiliki sebutan sebagai economic hit man
atau pembunuh ekonomi. Mereka bertugas di bawah Pengawasan Dewan Keamanan
Nasional atau National Security Agency (NSA), salah satu lembaga keamanan
dan intelijen terkemuka di AS.
Ia seorang konsultan istimewa. Posisinya tidak hanya sekadar
mengegolkan kesepakatan bisnis negara-negara berkembang atau dunia ketiga
dengan AS, tapi juga membangun kerajaan imperium AS di dunia. Perkins
berusaha menciptakan situasi, dimana semakin banyak sumber penghasilan
mengalir ke AS atau ke perusahaan-perusahaan milik AS.
Buku ini juga menceritakan, imperium itu dibangun bukan melalui
persaingan yang sehat dan jujur, tapi dengan cara-cara yang kotor. Mereka
melakukannya melalui manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, seks,
merayu orang untuk mengikuti cara hidup Amerika dan lainnya.
Tugas utama Perkins adalah membuat kesepakatan untuk memberi pinjaman
ke negara lain, jauh lebih besar dari yang negara itu sanggup bayar. Ia
mengaku pernah menjalankan kebijakan ini di sejumlah negara dunia, seperti
Indonesia dan Ekuador.
Dalam kesepakatan antarnegara itu, ia berusaha menekan negara-negara
lain agar memberikan 90 persen dari pinjamannya kepada
perusahaan-perusahaan AS, seperti Halliburton atau Bechtel. Kemudian
perusahaan-perusahaan AS tersebut akan masuk membangun sistem listrik,
pelabuhan, jalan tol dan lainnya di negara-negara berkembang.
Masih dalam buku itu, setelah mendapatkan utang, AS akan memeras negara
tersebut sampai tak bisa membayarnya. Dengan alasan itu, barulah AS akan
mendesak negara-negara lain untuk menyerahkan sumber kekayaan alamnya,
seperti minyak, gas, kayu, tembaga dan lainnya ke AS. Bagaimana jika
negara-negara itu menolak? Perkins menyatakan, mereka bisa saja dibunuh.
Ini bukan isapan jempol. Dua tokoh dunia, yakni Presiden Panama Omar
Torijos dan Presiden Ekuador Jaime Rojos dibantai karena menolak kerja
sama dengan AS.
Perkins meyakini, jatuhnya pesawat yang ditumpangi Torijos tahun 1981,
dilakukan Jackals, satuan dari dinas intelijen CIA, disebabkan Torijos
menolak proposal proyek pembangunan Terusan Panama dari Bechtel. Untuk
proyek tersebut, Torijos ternyata lebih memilih kontraktor asal Jepang
ketimbang Bechtel.
Terbitnya buku Confession of an Economic Hit Man karya Perkins ini
sontak mengundang komentar kritis dari para pengamat politik dan ekonomi
Indonesia. Satu di antaranya datang dari pakar ekonomi asal Universitas
Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Revrisond Baswir.
Pengamat ekonomi yang berada di garda terdepan dalam mendorong ekonomi
kerakyatan itu menganggap, buku ini semakin mempertegas tesisnya selama
ini bahwa utang (pinjaman) luar negeri hanyalah alat negara-negara besar,
seperti AS untuk menjajah negara-negara lain. Sebelum membaca buku ini,
saya sudah banyak menulis makalah, baik di seminar atau surat kabar bahwa
utang luar negeri dipakai negara-negara pemberi utang untuk menjalankan
politik imperialisme kepada negara lain, tuturnya.
Pinjaman luar negeri di mata Revrisond tidak lain sebagai akal bulus
negara-negara besar kepada negara lain. Nawaitu memberikan utang kepada
negara lain, menurutnya, bukan untuk membantu pembangunan, tapi untuk
mengeruk kekayaan alam negara-negara lain, seperti Indonesia. Tak ada
ceritanya utang luar negeri untuk membantu pembangunan negara. Hal ini tak
lain merupakan proses pembohongan publik, ujarnya, prihatin dengan sikap
pemerintah yang terus menerus mengandalkan utang asing untuk pembangunan
infrastruktur negara.
Bahkan, jika dilihat cara-caranya, politik imperialisme negara-negara
besar, terutama AS, menurut Revrisond mirip dan sebangun dengan politik
imperialisme yang dibangun kolonial Belanda saat menjajah Indonesia dulu.
Spirit dan tujuannya sama, namun komoditasnya saja yang berbeda. Dulu
Belanda mau berdagang rempah-rempah, tapi ia mencoba menguras Indonesia
dengan mengambil keuntungan dari bisnis rempah-rempah, seperti gula dan
perkebunan. Tapi AS, sejak tahun 1960-an lebih berorientasi ke sumber daya
alam, katanya.
Meski merasa gerah dengan politik kotor negara-negara besar, seperti
AS, kepada negara-negara lain, namun ia meminta seluruh masyarakat jangan
lengah terhadap orang-orang yang cenderung menjadi kaki tangan
negara-negara besar yang beroperasi di Indonesia.
Ia berpendapat, negara-negara besar tidak akan berhasil menjajah
Indonesia jika tidak ada orang-orang yang mendukungnya di Indonesia.
Karena kerja sama itu dilakukan dengan berbagai cara, jadi
pejabat-pejabat yang terlibat dalam pembuatan utang luar negeri perlu
diwaspadai, ujarnya keras mengritik para pengamat ekonomi yang menjadi
kaki tangan asing di Indonesia.
Pandangan Direktur Eksekutif Institut for Policy Studies (IPS) Fadli
Zon nampaknya layak disimak. Menurutnya, munculnya buku karya Perkins ini
menunjukkan bahwa teori konspirasi yang selama ini dianggap isapan jempol,
khususnya di Indonesia, menjadi suatu kenyataan.
Ini bukan isapan jempol, tapi menjadi pembenaran terhadap teori
konspirasi tersebut, tegasnya, sambil menyatakan percaya bahwa peristiwa
politik yang terjadi selama ini, khususnya di Indonesia tidak lepas dari
peran serta negara-negara besar, seperti AS dalam rangka melanggengkan
hegemoninya.
Sebagai pengamat politik yang terus mencermati tren politik global,
terbitnya buku karya John Perkins ini tentu saja menggembirakan, sekaligus
membenarkan asumsinya selama ini. Berdasarkan pengamatannya selama ini,
setiap proses perkembangan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia, banyak sekali jebakannya, terutama jebakan utang hingga
Indonesia tidak mampu membayar pinjaman. Itu membuat mereka mengambil
proyek-proyek strategis. Ini adalah traps (jebakan) yang mereka buat,
ujarnya.
Meski Perkins menceritakan adanya tahapan pembunuhan bagi pemimpin yang
tidak menaati kesepakatan dengan negara-negara besar, namun Fadli Zon
berpendapat, di Indonesia policy mereka belum sampai ke tahap pembunuhan,
apalagi invasi militer.
Keengganan mereka melakukan pembunuhan dan invasi militer, menurut
Fadli Zon, karena pemimpin Indonesia sangat kooperatif. Mereka tidak
menjalankan politik konfrontatif dengan negara-negara besar. Bahkan dalam
koridor internasional, sering kali Indonesia mengekor policy mereka.
Yang terjadi di Indonesia baru economic hit man. Negara-negara besar
belum perlu menjalankan policy pembunuhan atau invasi militer. Namun hanya
dengan tahap pertama itu, mereka sudah bisa mengeliminir peran para
pemimpin Indonesia untuk tunduk pada kebijakan mereka, katanya, prihatin
dengan sikap para pemimpin Indonesia yang lembek dan menurut saja pada
kemauan negara-negara besar dunia.
Buah karya Perkins ini sebenarnya merupakan komplementer dari buku-buku
karya penulis dunia lain, seperti Josep Stiglitz. Dalam berbagai bukunya,
ekonom dunia ini acap kali menghantam kebijakan lembaga-lembaga keuangan
dunia, seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank yang
dianggap tidak jujur saat melakukan kesepakatan dengan negara berkembang
atau negara dunia ketiga.
Dalam bukunya yang telah tersebar ke berbagai penjuru dunia tersebut,
Stiglitz menilai bahwa kebijakan-kebijakan imperialisme negara-negara
besar terhadap negara lain tidak lepas dari kebijakan IMF, World Bank dan
lembaga keuangan dunia lainnya. Bahkan ia pun mengritik kebijakan AS yang
menurutnya sering ikut campur kepentingan negara-negara lain.
Sampai tulisan ini selesai dibuat, SABILI belum mendapatkan konfirmasi
dari pihak Kedutaan Besar AS perihal buku ini. Saat SABILI mengajukan
permohonan wawancara kepada Dubes AS B Lynn Pascoe, Atase Pers Kedubes AS
Max Kwak mengirim surat yang isinya permohonan maaf bahwa Pascoe belum
dapat memenuhi permohonan SABILI.
Jika dicermati secara teliti, apa yang ditulis Perkins dalam bukunya
tersebut, banyak kemiripannya dengan kasus yang terjadi di Indonesia. Tak
cukup mengendalikan politik, AS juga merampas kekayaan Indonesia. Jika
konspirasi itu yang sedang terjadi, maka bukan tidak mungkin saat ini
Indonesia sedang berada di ambang kehancuran.
Siapa pun dia, tentu saja tidak akan rela jika negaranya dijajah bangsa
lain. Agar terlepas dari cengkeraman itu, bangsa Indonesia harus berani
menolak utang negara-negara besar yang bertujuan menghancurkan Indonesia.
Selain itu, masyarakat juga harus berani membersihkan orang-orang yang
menjadi kaki-tangan asing di Indonesia. Rivai
Hutapea |