Republika, Selasa, 05 September 2006  8:32:00
Sejumlah Negara Tolak Pesawat Israel Bawa Alat Perang Mendarat

Telaviv-RoL-- Sejumlah negara Eropa menolak mengijinkan pesawat Israel membawa peralatan tentara singgah di bandar udaranya, kata harian Israel "Ha'aretz" hari Senin.

Kapten Etai Regev, ketua persatuan pilot perusahaan penerbangan Israel El Al, menyatakan penolakan itu datang dari negara, seperti, Inggris, Jerman, dan Italia, yang dinilai bersahabat dengan negara Yahudi itu, kata suratkabar tersebut.
Menurut Regev, pesawat sarat muatan dari pangkalan Amerika Serikat tidak diijinkan negara Eropa mendarat singkat untuk mengisi bahan bakar, dengan alasan politik.

"Akibatnya, pesawat barang berangkat dari Amerika Serikat dengan muatan jauh lebih ringan dan sampai Israel dengan jumlah keperluan tentara jauh lebih sedikit daripada yang diperlukan," katanya kepada koran itu merujuk pada Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Presiden Amerika Serikat George W Bush akhir Juli meminta maaf kepada Perdana Menteri Inggris Tony Blair setelah Inggris mengeluh Washington tidak menaati aturan dalam mengirim bom ke Israel melalui bandar udara di Inggris, kata pejabat Inggris.

Kepada rombongan wartawan, yang mengikuti kunjungan Blair ke Amerika Serikat, jurubicara perdana menteri Inggris menyatakan Bush secara singkat membahas masalah tersebut pada awal pertemuannya dengan Blair di Gedung Putih.
"Presiden Bush minta maaf atas kenyataan bahwa aturan tidak diikuti," kata jurubicara itu.

"Presiden Bush dalam sambutan pengantarnya mengatakan, 'saya minta maaf telah terjadi masalah'," kata jurubicara itu kepada wartawan di pesawat, yang membawa Blair.
Pemerintah Inggris secara resmi mengeluh kepada Amerika Serikat atas penggunaan bandar udara di Skotlandia sebagai tempat persinggahan bagi pesawat negara adidaya itu, yang membawa bom menuju Israel.

Media Inggris melaporkan bahwa pesawat mengangkut bom "perusak bunker" dari Amerika Serikat ke Israel melakukan pengisian bahan bakar di bandar udara Prestwick di Skotlandia akhir pekan sebelumnya.

Pesawat itu disebut sebagai penerbangan sipil dan Amerika Serikat tidak memberitahu kepada pihak berwenang Inggris tentang muatannya, yang menurut berita suratkabar termasuk bom berkekuatan tinggi, yang dapat menghancurkan bunker.
Menteri Luar Negeri Inggris Margaret Beckett menyatakan kepada umum akan ketidaksenangannya saat itu.

Percekcokan diplomatik itu, katanya, lebih terpusat pada masalah aturan bukan hakikat dan dengan mengutip keterangan pejabat tinggi pemerintah, surat kabar "The Times" melaporkan bahwa penerbangan melalui Prestwick "akan diperkenankan untuk dilanjutkan".

Beberapa hari kemudian, dua pesawat barang Amerika Serikat membawa senjata untuk Israel singgah di bandar udara Skotlandia dengan ijin pemerintah Inggris, kata pihak berwenang bandar udara itu.

Dua pesawat Boeing 747 itu membawa "barang berbahaya" dari Teksas menuju Telaviv dan telah diberi ijin untuk mendarat, kata Badan Penerbangan Sipil (CAA).
"Pesawat itu membawa barang berbahaya. Barang yang dibawanya berbahaya," kata seorang jurubicara.

"Pesawat itu mendarat di Prestwick (dekat Glasgow) untuk mengisi bahan bakar dan memerlukan izin untuk dapat mendarat di Inggris. Ini telah diberikan pekan lalu," katanya.
Prestwick dalam beberapa bulan belakangan menjadi inti tudingan bahwa Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menggunakannya untuk yang disebut penerbangan "tidak biasa" untuk mengangkut tersangka pelanggar keamanan ke negara ketiga, tempat penyiksaan mungkin digunakan. dpa/ant/fif

 

Qatar Kirim Pasukan ke Lebanon

DOHA -- Qatar menjadi negara Arab pertama yang mengirimkan tentaranya ke Lebanon. Kesediaan ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Sheikh Hamad bin Jassem bin Jabr al-Thani saat menjamu Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Kofi Annan, Senin (4/9).

''Kami telah memutuskan bahwa Qatar akan berpartisipasi dalam UNIFIL (misi PBB di Lebanon selatan-red) dengan mengirimkan 200 hingga 300 personel militer, dan kami yakin UNIFIL harus mempunyai tugas khusus di lapangan,'' kata Sheikh Hamad.

Selain itu, maskapai penerbangan Qatar, Qatar Airways, juga akan terbang langsung ke Beirut meski blokade Israel belum dicabut. Sehari sebelumnya, maskapai ini mengatakan pesawat dengan nomor penerbangan QR 422 dijadwalkan mendarat di Beirut, Senin (4/9), pada pukul 15.30 waktu setempat atau 19.30 WIB.

Tak lama setelah invasi, Israel memblokade wilayah udara dan laut Lebanon. Israel hanya mengizinkan pesawat Lebanon dan Yordania masuk ke Beirut melalui Amman (Yordania) untuk pemeriksaan keamanan. Militer Israel hingga Ahad (3/9) mengatakan blokade itu tetap berlaku meski mereka mengatakan tidak menentang rencana Qatar untuk mendaratkan pesawat sipilnya di Beirut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Mark Regev, mengatakan Israel menyambut baik kesediaan Qatar. Selama ini, Qatar, yang dikenal sebagai salah satu negara Arab konservatif, memelihara hubungan diplomatik dengan Israel. Pada saat yang sama Qatar juga menjadi salah satu basis militer Amerika Serikat (AS). ''Qatar mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel dan oleh karena itu Israel tidak keberatan dengan partisipasi Qatar dalam misi PBB,'' kata Regev.

Sementara itu, di Beirut, sejumlah anggota parlemen secara bergiliran melanjutkan aksi mogok memprotes blokade Israel. Sepanjang Ahad, giliran Ketua Parlemen, Nabih Berri, bersama dua anggota kabinet dan sembilan anggota parlemen melakukan aksinya. Menteri Luar Negeri Fawzi Sallukh mengatakan pemerintah terus mengambil langkah agar blokade Israel dicabut karena merupakan pelanggaran atas resolusi PBB nomor 1701. Aksi mogok yang dilakukan parlemen, tegas Sallukh, merupakan langkah maju untuk membantu usaha pemerintah mencabut blokade. ap/afp/lan

( )

 

 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke