Hindu Pun Tolak Pluralisme Agama
Minggu, 03 September 2006 - 11:21:51 WIB
Penganut agama Hindu ternyata juga menolak paham 'Pluralisme Agama'. Paham 
ini, katanya, sebagai 'Universalisme Radikal'. Baca Catatan Akhir Pekan 
[CAP] Adian Husaini ke-160

Oleh: Adian Husaini



Beberapa hari lalu saya menerima kiriman sebuah buku menarik dari seorang 
teman di Bali berjudul "Semua Agama Tidak Sama", terbitan Media Hindu tahun 
2006.  Buku yang berisi kumpulan tulisan sejumlah tokoh dan cendekiawan 
Hindu ini secara tajam mengupas dan mengritisi paham Pluralisme Agama yang 
biasanya dengan sederhana diungkapkan dengan ungkapan ''semua agama adalah 
sama''.  Buku ini diberi pengantar oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia 
(PHDI), yang merupakan induk umat Hindu di Indonesia.

Memang, kaum Pluralis Agama dari berbagai penganut agama sering mengutip 
ucapan sebagian tokoh agama Hindu untuk mendukung pendapat mereka. Sukidi, 
misalnya, seorang propagandis Pluralisme Agama yang sedang kuliah di 
Harvard, menulis dalam satu artikel di media massa, bahwa "Mahatma Gandhi 
pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama - entah Hinduisme, 
Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya- adalah benar. 
Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. 
Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon 
yang memiliki banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the One).

Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.''  (Jawa 
Pos, 11 Januari 2004).  Dalam paparannya tentang Hinduism dari bukunya, The 
World's Religions (New York: Harper CollinsPubliser, 1991), Prof. Huston 
Smith juga menulis satu sub-bab berjudul "Many Paths to the Same Summit" 
(Banyak jalan menuju puncak yang sama). Huston Smith menulis, bahwa Sejak 
dulu, kitab-kitab Veda menyatakan pandangan Hindu klasik, bahwa agama-agama 
yang berbeda hanyalah merupakan bahasa yang berbeda-beda yang digunakan 
Tuhan untuk berbicara kepada hati manusia. Kebenaran memang satu; 
orang-orang bijak menyebutnya dengan nama ang berbeda-beda).

Untuk memperkuat penjelasannya tentang sikap 'Pluralistik' agama Hindu, 
Huston Smith juga mengutip ungkapan 'orang suci Hindu' abad ke-19, yaitu 
Ramakrishna, yang mencari Tuhan melalui berbagai agama: Kristen, Islam, dan 
Hindu. Hasilnya, menurut Ramakrishna, adalah sama saja. Maka ia menyatakan: 
"Tuhan telah membuat agama-agama yang berbeda-beda untuk memenuhi berbagai 
aspirasi, waktu, dan negara. Semua doktrin hanyalah merupakan banyak jalan; 
tetapi satu jalan tidak berarti Tuhan itu sendiri. Sesungguhnya, seseorang 
dapat mencapai Tuhan jika ia mengikuti jalan mana saja dengan sepenuh hati).

Penjelasan-penjelasan tentang agama Hindu yang dilakukan oleh berbagai 
kalangan Pluralis Agama, tampaknya membuat kaum Hindu merasa 'gerah' dan 
tidak tenang. Maka, mereka pun melakukan perlawanan, dengan membantah 
pendapat-pendapat kaum Pluralis Agama.

Salah satu buku yang secara keras membantah paham Pluralisme Agama, adalah 
buku Semua Agama Tidak Sama, terbitan Media Hindu tahun 2006. Dalam buku ini 
paham Pluralisme Agama disebut sebagai paham 'Universalisme Radikal' yang 
intinya menyatakan, bahwa "semua agama adalah sama". Buku ini diberi kata 
pengantar oleh Parisada Hindu Dharma, induk umat Hindu di Indonesia.

Editor buku ini, Ngakan Made Madrasuta menulis kata pengantarnya dengan 
judul "Mengapa Takut Perbedaan?"  Ngakan mengkritik pandangan yang 
menyamakan semua agama, termasuk yang dipromosikan oleh sebagian orang Hindu 
Pluralis yang suka mengutip Bagawad Gita IV:11:

"Jalan mana pun yang ditempuh manusia ke arah-Ku, semuanya Aku terima."

Padahal, jelas Ngakan: "Yang disebut "Jalan" dalam Gita adalah empat yoga 
yaitu Karma Yoga, Jnana Yoga, Bhakti Yoga, dan Raja Yoga. Semua yoga ini ada 
dalam agama Hindu, dan tidak ada dalam agama lain. Agama Hindu menyediakan 
banyak jalan, bukan hanya satu - bagi pemeluknya, sesuai dengan kemampuan 
dan kecenderungannya."

Bagian pertama buku ini memuat tulisan Giridhar Mamidi yang diberi judul 
"Semua Agama Sederajat? Semuanya Mengajarkan Hal Yang Sama?". Di sini, 
penulis berusaha membuktikan bahwa semua agama tidaklah sama. Hanyalah 
orang-orang Hindu yang suka menyatakan, bahwa semua agama adalah mengajarkan 
hal-hal yang sama.

Bahkan, Bharat Ratna Bhagavandas menulis satu buku berjudul "The Essential 
Unity of Religions" (Kesatuan Esensial dari Semua Agama). Mahatma Gandhi pun 
mendukung gagasan ini.

Dr. Frank Gaetano Morales, seorang cendekiawan Hindu, mengecam keras 
orang-orang Hindu yang menyama-nyamakan agamanya dengan agama lain. Biasanya 
kaum Hindu Pluralis menggunakan "metafora gunung" (mountain metaphor), yang 
menyatakan: "Kebenaran (atau Tuhan atau Brahman) berada di puncak dari 
sebuah gunung yang sangat tinggi. Ada berbagai jalan untuk mencapai puncak 
gunung, dan dengan itu mencapai tujuan tertinggi. Beberapa jalan lebih 
pendek, yang lain lebih panjang. Jalan itu sendiri bagaimana pun tidak 
penting. Satu-satunya yang sungguh penting, adalah para pencari semua 
mencapai puncak gunung itu."

Morales menjelaskan, bahwa tidak setiap agama  membagi tujuan yang sama, 
konsepsi yang sama mengenai 'Yang Absolut', atau alat yang sama untuk 
mencapai tujuan mereka masing-masing. Tapi, ada banyak 'gunung' filosofis 
yang berbeda-beda, masing-masing dengan klaim mereka yang sangat unik untuk 
menjadi tujuan tertinggi upaya spiritual seluruh manusia.

Universalisme Radikal - yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama - 
adalah doktrin yang sama sekali tidak dikenal dalam agama Hindu tradisional.

Menurut Morales, gagasan persamaan agama dalam Hindu menjadi populer saat 
disebarkan oleh sejumlah tokoh Hindu sendiri. Ia menyebut nama Ram Mohan Roy 
(1772-1833) yang dikenal dengan ajaran-ajarannya yang sinkretik. Roy yang 
juga pendiri Brahmo Samaj, dipengaruhi ajaran-ajaran Gereja Unitarian, 
sebuah sekte atau denominasi agama Kristen heterodoks.

Sebagai tambahan mempelajari agama Kristen, Islam, dan Sansekerta, dia 
belajar bahasa Ibrani dan Yunani dengan impian untuk menerjemahkan Bibel 
dalam bahasa Bengali. Ia mengaku sebagai 'pembaru Hindu' dan memandang agama 
Hindu melalui kaca mata kolonial Kristen yang telah dibengkokkan. Lebih jauh 
Morales menulis:

"Kaum misionaris Kristen memberi tahu Roy bahwa agama Hindu tradisional 
adalah satu agama barbar yang telah menimbulkan penindasan, ketahyulan, dan 
kebodohan kepada rakyat India. Dia mempercayai mereka. Dalam semangat 
misionaris untuk mengkristenkan agama Hindu, kaum 'pembaru' Hindu ini bahkan 
menulis satu traktat anti-Hindu dikenal sebagai The Precepts of Jesus: The 
Guide to Peace and Happiness (Ajaran-ajaran Yesus: Penuntun kepada Kedamaian 
dan Kebahagiaan). Dari kaum misionaris Kristen ini secara langsung Roy 
mendapat bagian terbesar dari ide-idenya, termasuk ide anti-Hindu mengenai 
kesamaan radikal dari semua agama."

Pengganti Roy berikutnya adalah Debendranath Tagore dan Kashub Chandra Sen, 
yang mencoba menggabungkan lebih banyak lagi ide-ide Kristen ke dalam 
neo-Hinduisme. Sen bahkan lebih jauh lagi meramu kitab suci Brahmo Samaj 
yang berisi ayat-ayat dari berbagai tradisi agama yang berbeda, termasuk 
Yahudi, Kristen, Islam, Hindu dan Budhis. "Dengan kejatuhan Sen ke dalam 
kemurtadan anti-Hindu dan megalomania, gerakan ini menurun secara drastis 
dalam pengaruh pengikutnya," tulis Morales.  Pada abad ke-19, muncul dua 
tokoh Universalis Radikal dari Hindu, yaitu Ramakrisna (1836-1886) dan 
Vivekananda (1863-1902).

Disamping dipengaruhi oleh akar-akar tradisi Hindu, Ramakrishna juga meramu 
ide dan praktik ritualnya dari agama-agama non-Vedic, seperti Islam dan 
Kristen Liberal. Sekalipun tetap melihat dirinya sebagai seorang Hindu, 
Ramakrishna juga sembahyang di masjid-masjid dan gereja-gereja dan percaya 
bahwa semua agama ditujukan pada tujuan tertinggi yang sama.

Gagasan Ramakrishna dilanjutkan oleh muridnya yang sangat terkenal, yaitu 
Swami Vivekananda. Tokoh ini dikenal besar sekali jasanya dalam 
mengkampanyekan agama Hindu di dunia internasional. Tetapi, untuk 
menyesuaikan dengan unsur-unsur modernitas, Vivekananda juga melakukan usaha 
yang melemahkan agama Hindu otentik dari leluhur mereka dan mengadopsi 
ide-ide asing seperti Universalisme Radikal, dengan harapan memperoleh 
persetujuan dari tuan-tuan Eropa yang memerintah mereka ketika itu.

Vivekananda mengadopsi gagasan semacam Universalisme Radikal yang bersifat 
hirarkis yang mendukung kesederajatan semua agama, sementara pada saat yang 
bersamaan mengklaim bahwa semua agama sesungguhnya sedang berkembang dari 
gagasan religiositas yang lebih rendah menuju satu mode puncak tertinggi, 
yang bagi Vivekananda ditempati oleh Hindu. Morales mencatat : ''Sekalipun 
Vivekananda memberi kontribusi besar untuk membantu orang Eropa dan Amerika 
nin-Hindu untuk memahami kebesaran agama Hindu, Universalisme Radikal dan 
ketidakakuratan neo-Hindu yang ia kembangkan juga telah mengakibatkan 
kerusakan besar.''

Pada akhirnya Morales menyimpulkan, bahwa gagasan Universalisme Radikal yang 
dikembangkan oleh sementara kalangan Hindu adalah sangat merugikan agama 
Hindu itu sendiri. Ia menulis :  "Ketika kita membuat klaim yang secara 
sentimental menenangkan, namun tanpa pemikiran bahwa "semua agama adalah 
sama", kita sedang tanpa sadar mengkhianati kemuliaan dan integritas dari 
warisan kuno ini, dan membantu memperlemah matrix filosofis/kultural agama 
Hindu sampai pada intinya yang paling dalam. Setiap kali orang Hindu 
mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa 
"semua agama adalah sama", dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama 
Hindu yang dia katakan dia cintai."

Dengan terbitnya buku ''Semua Agama Tidak Sama'' dari kalangan Hindu ini, 
maka kita melihat, sudah empat agama yang secara tegas menolak paham 
Pluralisme Agama, yaitu Katolik, Protestan, Hindu, dan Islam.

Tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II sudah menolak paham Pluralisme Agama 
dengan mengeluarkan Dekrit 'Dominus Jesus'. Dari kalangan Protestan di 
Indonesia juga muncul penolakan keras terhadap paham ini, dengan keluarnya 
buku Dr. Stevri Indra Lumintang berjudul ''Theologia Abu-Abu: Tantangan dan 
Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum 
Mas, 2004).

Dari umat Islam, Majelis Ulama Indonesia, melalui fatwanya tanggal 29 Juli 
2005 juga telah menyatakan bahwa paham Pluralisme Agama bertentangan dengan 
Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. MUI mendefinisikan Pluralisme 
Agama sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan 
karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap 
pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar 
sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua 
pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Dr. Anis Malik 
Thoha, pakar Pluralisme Agama, yang juga Rois Syuriah NU Cabang Istimewa 
Malaysia, mendukung fatwa MUI tersebut dan menyimpulkan bahwa Pluralisme 
Agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap Islam dan 
agama-agama lain.

Dengan keluarnya buku ''Semua Agama Tidak Sama'' dari kalangan Hindu, maka 
sudah semakin jelas, bahwa paham Pluralisme Agama memang merupakan racun, 
virus, atau parasit  bagi agama-agama yang ada. Sebab, paham ini memang 
tidak mengakui kebebaran mutlak satu agama.

Kaum Pluralis ingin menciptakan satu teologi global atau universal (global 
theologi), menggantikan keyakinan khas dari masing-masing pemeluk agama. 
Jadi, Pluralisme Agama adalah musuh bersama agama-agama. Maka, aneh, jika 
ada orang yang mengaku sebagai pemeluk agama tertentu, tetapi pada saat yang 
sama dia mengaku pluralis agama. Jika ada yang mengaku seperti itu, maka ada 
dua kemungkinan, pertama : tidak tahu atau tertipu, dan yang kedua : 
sengaja ingin merusak agama. Wallahu a'lam. (Jakarta, 1 September 
2006/www.hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta 
107 FM dan  ww.hidayatullah.com 


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke