"Harakah Islam"
Rabu, 01 Maret 2006 - 13:54:10 WIB
Harakah-harakah dakwah akan lebih produktif untuk saling memuji, saling 
menolong, saling tersenyum, dan saling menutupi kekurangan yang lain 
dibanding saling 'menyesatkan'


Rabu, 1 Maret 2006



Oleh: Dzikrullah *)

Air muka Dumyati yang tadinya ramah tiba-tiba berubah menjadi keras, begitu 
saya menceritakan ayah saya yang sedang khuruj (keluar) berdakwah dari 
masjid ke masjid selama 4 bulan.
Dumyati, begitu nama pria yang sedang kuliah Syari'ah di sebuah perguruan 
tinggi di Damaskus, Suriah, langsung memotong saya dengan sebuah cerita.
Menurut cerita ayahnya, di kampungnya, di dekat Palembang, "orang-orang yang 
suka melakukan khuruj" tadi, sering bikin masalah. Dia gemar 
menyalah-nyalahkan orang.

Katanya, mereka gemar meninggalkan anak dan istri selama berbulan-bulan 
hanya untuk khuruj tanpa meninggalkan bekal ma'isyah. Selain itu, ilmunya 
sedikit, sebab, dari waktu ke waktu, yang dibaca, tak ada lagi, hanyalah 
satu kitab saja, judulnya Fadha-il-`Amal. Dia, dianggap memecah-belah 
penduduk kampung.

Kepada Dumyati, saya bertanya dengan perasaan sebagai seorang saudara 
Muslim. Apakah ia pernah menemui langsung "orang-orang yang diceritakan di 
kampungnya tadi?"

Kepadanya, saya juga bertanya, apakah pernah menyarankan dan memberitahu 
"orang orang" tersebut tentang pentingnya membaca kitab-kitab selain 
Fadha-il-`Amal?

Apakah ia pernah menasihati mereka tentang pentingnya mempersiapkan anak dan 
istri sebaik mungkin, sebelum ditinggal khuruj?

Dan yang tak kalah penting, pernahkah ia mendoakan "orang-orang" yang 
dianggapnya meresahkan di kampungnya agar Allah Subhanahu wa Ta'ala 
menghindarkan mereka dari hal-hal yang justru berakibat buruk bagi 
masyarakat, dalam kegiatan mereka?

Dumyati hanya menggeleng.

Kepada Dumyati, saya hanya menyampaikan beberapa hal. Saya katakan, setahu 
saya, menyalah-nyalahkan orang lain bukan karakter mereka. Saya tidak aktif 
bersama mereka, tapi sedikit banyak saya faham denyut nadi mereka.

Saat SMP saya pernah berkumpul dengan mereka. Ketika di Australia saya juga 
bersama sama mereka. Di Inggris pun, saya shalat di masjid yang mereka 
kelola.

Adik saya pernah sampai ke India, Pakistan, Bangladesh. Tapi tak pernah 
terdengar mereka suka menyalah-nyalahkan orang lain, di luar mereka. Mereka 
punya tertibnya sendiri ketika khuruj, di antaranya tidak berbicara masalah 
politik, atau masalah khilafiyah, dan bisnis.

Jika datang ke suatu masjid, mereka dahulukan silaturrahim dengan ulama dan 
tokoh masyarakat setempat untuk meminta izin. Mereka tidak mau azan di 
masjid yang ditempatinya i'tikaf sampai disuruh.

Walaupun rajin berceramah, mereka menolak mati-matian jika diminta khutbah 
Jumat, selama masih ada orang tempatan yang mampu. Mereka juga memfokuskan 
pembicaraan hanya tentang iman kepada Allah, malaikat, kitab-Nya, nabi-nabi 
dan rasul-Nya, hari akhirat, dan taqdir, para shahabat serta amal shalih. 
Itupun 70% pembicaraan tentang amal shalih mereka konsentrasikan untuk 
mengajak orang aktif beramar ma'ruf nahi munkar, berda'wah. Sekitar 30% 
sisanya baru membicarakan bagaimana membangun tradisi sunnah -mencontoh 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya-dalam semua 
bidang kehidupan terutama yang sehari-hari.

Jika diajak jidal (debat kusir), biasanya mereka memilih diam dan 
mendengarkan orang lain berbicara. Setiap baru sampai di suatu tempat, dan 
beberapa saat sebelum meninggalkan suatu kampung, mereka duduk atau berdiri 
membentuk lingkaran. Lalu mereka berdoa.

Begini bunyi doanya, "Wahai Allah, janganlah Kau jadikan kebodohan kami 
sebagai sebab timbulnya hal-hal yang mudharat bagi kampung ini dan 
penduduknya. Jadikanlah kami sebagai sebab turunnya hidayah-Mu bagi tempat 
ini. Bukalah hati mereka dalam menerima hidayah-Mu. Lembutkanlah hati mereka 
menerima risalah Nabi-Mu. Jika tidak Kau turunkan hidayah di tempat ini, 
kasihan ya Allah, bagaimana nasib anak cucu mereka nantinya..."

Satu dua orang dari mereka akan meneteskan air mata. Mereka bahkan sering 
tak mengenal satu orang pun di kampung itu, tapi mendoakan orang kampung itu 
seperti mendoakan orang tuanya sendiri.

Saya katakan lagi kepada Dumyati, mereka dikenal dengan sebutan jama'ah 
tabligh, sebuah gerakan ijtihad da'wah, berjalan menuju mendekati 
kesempurnaan, sebagaimana harakah lainnya.

Tentu saja, kekurangannya segudang, sama halnya seperti harakah lain. 
Ke-syumul-an dan kemuliaan Islam memang terlalu hebat untuk hanya diwakili 
oleh satu harakah saja. Sama seperti kehebatan Nabi Muhammad, hanya bisa 
diwakili oleh para sahabat bersama-sama.

Oleh karena itu, harakah-harakah dakwah akan lebih produktif untuk saling 
memuji,
saling membela, saling menolong, saling tersenyum, dan saling menutupi 
kekurangan yang lain.

Sayangnya, sejauh ini, lidah kita lebih gampang dan lebih mengasyikkan untuk 
menilai, mengkritik, dan menjelek-jelekkan kelakuan anggota sebuah harakah 
dakwah lain, daripada menyayangi mereka sebagai saudara sendiri. Apalagi 
mendekati mereka, membantunya memperbaiki diri, atau bahkan mendoakan 
kebaikan atas mereka.

Namun itu bukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Apalagi kepada aktivis 
dakwah seperti Dumyati, yang makin hari semakin banyak ilmunya dan makin 
sabar dalam menyayangi saudaranya.*

*) Penulis adalah seorang wartawan da guru madrasah

Sumber: www.hidayatullah.com 


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke