Setiap bulan Ramadhan menjelang, kita bisa membagi kaum muslimin
dalam beberapa kategori dan model, yaitu :
- Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena
sadar akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di
bulan itu.
- Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan
bulan suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka
tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.
- Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya
karena mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.
- Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan
Ramadhan.
Terus terang, klasifikasi ini baru saja saya dapatkan dan
tiba-tiba saja muncul dari benak saya, ketika saya membaca beberapa buku dan
melihat fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Saya pun tidak tahu,
apakah klasifikasi itu benar atau malah salah dan mungkin mengada-ada. Namun
sekali lagi, saya katakan bahwa fenomena itu ada, minimal yang penulis tangkap
dari gejala sosial yang ada.
Golongan pertama
Golongan
pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai yang ada dalam
Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini hadir di hadapannya,
mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi perjalanan rohani yang demikian
mengasyikkan.
Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu
telah mereka persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya. Mereka
menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan itu bukan
perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik dan rohani yang
mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan dilalui dengan baik.
Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukannya.
Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Syaban, atau mungkin bahkan sudah
dilakukan pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini betul-betul siap menghadapi
perjalanan rohani selama bulan Ramadhan.
Mereka mengerti benar peta
perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya. Akibatnya, secara mental mereka
tidak terkejut dan bahkan merasakan hentakan kenikmatan, kala akan memasuki
bulan suci ini. Penulis kira, golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah
umat dewasa ini. Mereka adalah para pemburu takwa.
Golongan kedua
Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut
kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang
meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini. Kehadiran
Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan spiritualnya, tidak
menggairahkan urat-urat kepekaan nuraninya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang
bergeser. Jiwanya demikian dingin, walaupun suasana bulan suci telah memercikkan
kehangatan-kehangatan. Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang
tamu agung ini.
Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam
ini banyak jumlahnya. Bahkan, bisa menjadi bagian paling besar dari lapisan umat
ini. Namun, saya berharap dan berdoa, semoga tidak. Untuk mereka, bonus-bonus
Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak mendapatkannya.
Golongan ketiga
Kelompok ketiga adalah kelompok yang
gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan, karena mereka merasa bahwa
kedatangannya dianggap akan membuat mereka menangguk keuntungan besar. Siapa
mereka? Mereka adalah sosok-sosok pencari nafkah dengan kehadiran bulan suci.
Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan
dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam benaknya
adalah honor-honor jutaan atau amplop-amplop dalam sekali tampil di publik, di
media radio dan televisi, atau di mana saja yang dianggap mendatangkan uang.
Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan imaan dan ihtisaab di bulan
Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak penghasilan yang
akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini. Baginya tak perlu apakah
bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan ampunan, yang penting aliran uang
mengalir deras ke kantong atau rekening.
Tak ada dalam kamusnya, bahwa
malam-malamnya harus diisi dengan salat tarawih dengan khusyu dan penuh makna.
Malamnya-malamnya malah dia sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil
tertawa bekakan, seakan Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.
Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara
dia sendiri tengah membakar dirinya dengan ucapan-ucapan yang sebenarnya dia
sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat melakukannya. Mulut
berbusa-busa mengajak orang mentadabburi Al-Quran, namun dia sendiri untuk
menyentuh, ya untuh menyentuh saja, demikian enggan.
Sosok ini bisa
menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan selebritis, bisa seorang kiyai,
bisa seorang ustadz ternama, bisa seorang qari-qariah, bisa seorang dai
kondang, bisa seorang presenter, bisa seorang pengelola televisi, radio,
pengelola pengajian, pengelola transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang
sebagai target utama pada saat Ramadhan datang menjelang.
Saya yakin,
kelompok ini ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan kalkulasi sejauh mana
Ramadhan kali ini dia bisa eksploitasi sebaik-baiknya. Dia memang puasa, namun
puasanya kosong dari makna dan spirit Ramadhan yang sebenarnya. Mereka memang
puasa, namun puasa yang tidak memiliki bobot apa-apa. Hampa!!
Golongan keempat
Kategori terakhir adalah sosok manusia
yang demikian ketakutan dengan kehadiran Ramadhan. Kelompok ini saya anggap
sebagai kelompok yang sangat parah dibandingkan dengan kelompok kedua dan
ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu
menghantui dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil
karena akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan
dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus malu
jika kepergok sedang makan-makan.
Bahkan bukan itu saja, ada diantara
mereka yang merasa terancam roda hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini.
Mereka merasa bahwa Ramadhan telah menyumbat rizkinya.
Mereka bisa saja
terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola night-night club yang
diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan. Mereka bisa saja adalah para
pelacur kelas kakap yang setiap harinya menjual kehormatan kepada para si hidung
belang. Bisa saja mereka adalah para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan,
yang seakan hidup menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka
bisa saja pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan
bukan bulan penyucian diri dan jiwa.
Saya tidak berani berkomentar sosok
macam apakah mereka. Yang jelas, mereka bukan pemburu takwa, bukan pula manusia
yang mengharap ridha Tuhannya. Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan
mulia ini.
Kalau mungkin saya tambahkan, maka kelompok terakhir adalah
kelompok pongah yang dengan terangan-terangan tampil di depan orang menampilkan
keberaniannya, bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk yang
terakhir ini, hanya Allah yang bisa memasukkan ke dalam neraka.
Kita
berdoa, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang semangat
menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk nilai-nilai dan
semangat pula memaknainya.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi
Hamba Rabbani - IKADI ; www.pks-kab-bekasi.org