|
RAMADHAN:
MOMENTUM Alhamdulillah,
segala pujian hanya milik Allah. Dia masih memberikan perpanjangan usia kepada
kita sehingga kita masih bisa merasakan indahnya Ramadhan serta nikmatnya
berpuasa dan menjalankan ketaatan kepada-Nya. Perpanjangan usia yang diberikan
oleh Allah ini harus kita maknai sebagai tambahan kesempatan bagi kita untuk
melakukan pertobatan dari kemaksiatan yang selama ini kita lakukan, sebagai
kesempatan untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan menambah bekal untuk
menghadapi perjumpaan dengan-Nya kelak di akhirat. Selama
ini, bulan Ramadhan yang lalu-lalu sering dijalani lebih banyak bersifat
seremonial tanpa ruh. Ramadhan yang lalu-lalu sering hanya menjadi ritual
tahunan yang berlalu tanpa meninggalkan pengaruh berarti. Media massa terutama
TV berlomba menampilkan acara religi dan pengajian. Para artis pun ramai-ramai
berbusana islami. Majelis-majelis zikir dan pengajian semarak di mana-mana.
Pengajian lepas zuhur pun dilakukan di kantor-kantor. Nuansa religius merambah
ke mana-mana; di masjid, di rumah, di kantor-kantor pemerintah maupun swasta,
dan di tempat-tempat lainnya. Namun, saat Ramadhan berlalu, semua itu pun ikut
berlalu, persis seperti bekas tapak kaki di padang pasir yang segera lenyap
tersapu angin semilir. Ramadhan
selama ini seakan hanya menjadi masa cuti dari kemaksiatan. Berbagai bentuk
kemaksiatan dihentikan selama Ramadhan dengan alasan menghormati kecusian bulan
Ramadhan. Namun, begitu Ramadhan berlalu, banyak orang beramai-ramai memulai
kembali kemaksiatan yang dia lakukan sebelum Ramadhan. Bar, kafe, diskotek, dan
tempat-tempat hiburan yang berbau erotis dan porno buka kembali. Busana islami
yang dikenakan selama Ramadhan dimuseumkan. Aurat kembali diumbar. Jika saat
Ramadhan ramai-ramai menyucikan harta dengan mengeluarkan zakat, infak dan
sedekah. Pasca Ramadhan, praktik riba, korupsi, penipuan dan transaksi haram
ramai-ramai kembali dijalankan. Akankah
Ramadhan kali ini sama saja dengan yang lalu-lalu sebagai seremonial yang kosong
dari ruh, ritual tanpa bekas, dan hanya menjadi masa cuti dari kemaksiatan?
Sudah enam hari kita menjalani puasa. Karena itu, kita harus melakukan
instrospeksi. Apakah puasa dan aktivitas Ramadhan yang kita lakukan masih sama
saja dengan sebelumnya? Apakah Ramadhan telah kita jalani secara lebih bermakna,
berpengaruh dan membekas? Apakah keimanan kita, ketakutan kita akan azab-Nya,
kerinduan kita akan keridhaan-Nya, dan ketaatan kita kepada syariah-Nya
meningkat? Kita
patut merenungkan kembali firman Allah SWT: ]يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[ Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian
bertakwa.
(QS al-Baqarah [2]: 183). Dari
ayat ini, tanpa melalui pengkajian mendalam kita memahami bahwa target akhir
dari pelaksanaan kewajiban shaum adalah takwa. Artinya, shaum merupakan satu
jalan untuk meraih takwa, sebagai momentum untuk mewujudkan diri dan masyarakat
yang bertakwa. Ayat
tersebut diserukan kepada orang-orang yang beriman. Ini mengisyaratkan bahwa
puasa akan mengantarkan untuk meraih takwa jika dilakukan oleh orang yang
beriman karena dorongan keimanannya. Secara lebih luas dapat kita pahami bahwa
amal-amal Ramadhan akan bermakna, berarti dan berpengaruh jika didasari oleh
keimanan. Sayangnya, justru di sinilah yang menjadi kelemahan selama ini, yakni
prosesi, ritual dan aktivitas Ramadhan tidak didasari oleh iman. Puasa
dijalankan bisa jadi karena sudah menjadi tradisi, bukan karena keimanan dan
harapan akan ridha-Nya. Ramainya majelis zikir dan pengajian bisa jadi lebih
karena terbawa suasana religius Ramadhan, bukan didasari oleh keyakinan bahwa
semua itu adalah bagian dari kewajiban mengkaji Islam, dakwah, amar makruf dan
nahi munkar. Program-program religi mungkin diadakan lebih karena alasan bisnis,
bukan karena keyakinan sebagai bagian dari kewajiban mewujudkan kehidupan yang
islami. Penutupan tempat-tempat maksiat dan penghentian kemaksiatan pun
dilakukan untuk menghormati kesucian Ramadhan karena toleransi, bukan didasari
oleh keyakinan bahwa segala bentuk kemaksiatan besar ataupun kecil akan
mendapatkan azab kelak di akhirat. Bisa
juga Ramadhan selama ini menjadi kurang bermakna dan lemah pengaruhnya karena
realitas takwa yang menjadi hikmah puasa itu sendiri belum tergambar jelas dan
belum dihayati. Hikmah adalah sesuatu yang harus senantiasa diperhatikan dan
diupayakan secara maksimal agar terealisasi saat menjalankan suatu aktivitas
ibadah tertentu. Ketakwaan adalah hikmah dari puasa. Artinya, mereka yang
berpuasa harus senantiasa memperhatikan dan mengupayakan secara maksimal agar
ketakwaan terwujud dalam dirinya. Hakikat
Takwa Takwa
berasal dari kata waqâ wa tawaqqâ wa ittaqâ yang meliputi makna menjaga,
menjauhi, takut dan berhati-hati. Takwa kepada Allah maknanya menjaga diri dari
sesuatu yang ditakuti datang dari Allah berupa kemurkaan dan azab-Nya. Takwa
juga mencakup sikap berhati-hati dengan meninggalkan hal-hal yang halal karena
takut akan tergelincir pada hal-hal yang mendatangkan murka dan azab Allah.
Takwa juga meliputi aktivitas mendekatkan diri kepada Allah karena takut akan
dijauhi dan tidak dicintai oleh Allah. Walhasil, dalam takwa itu rasa takut dan
cinta kepada-Nya menyatu; berjalan seiring dan saling
berkelindan. Al-Hasan,
cucu Baginda Nabi saw., pernah mengatakan, orang yang bertakwa adalah orang yang
takut atau menjaga diri dari apa yang diharamkan dan menunaikan apa yang
diwajibkan kepadanya. Senada dengan itu, Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz
berkata, takwa kepada Allah itu bukan dengan terus atau seringnya shaum di siang
hari, seringnya shalat malam atau seringnya melakukan kedua-duanya, tetapi takwa
kepada Allah adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan menunaikan apa
saja yang Allah wajibkan. Siapa yang melakukan kebaikan setelah itu maka itu
adalah tambahan kebaikan di atas kebaikan. Para
Sahabat, yang diwakili oleh ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib kw., sering
menyatakan bahwa takwa itu adalah: al-khawf min al-Jalîl wa al-'amal bi
at-tanzîl wa al-isti'dâd li yawm ar-rahîl (yakni rasa takut kepada Zat Yang
Mahaagung, mengamalkan al-Quran, dan menyiapkan diri untuk menyambut datangnya
hari yang kekal (akhirat). Dengan kata lain, takwa adalah kesadaran akal dan
jiwa serta pengetahuan syar'i akan wajibnya mengambil halal-haram sebagai
standar bagi seluruh aktivitas dan merealisasikannya secara praktis
('amalî) di tengah-tengah kehidupan. Ketakwaan
Personal dan Ketakwaan Sosial Sifat
takwa itu tercermin dalam kesediaan seorang Muslim untuk tunduk dan patuh pada
hukum Allah. Setiap Muslim diperintahkan untuk menjalankan semua ketentuan hukum
Allah dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Kesediaan kita untuk tunduk dan
patuh terhadap seluruh hukum syariah Islam inilah realisasi dari ketakwaan dan
kesalihan personal kita. Secara
personal, syariah yang pelaksanaannya bisa dilakukan oleh individu dan
kelompok-seperti shalat, puasa, zakat, memakai jilbab, berakhlak mulia,
berkeluarga secara islami; atau bermuamalah seperti jual-beli, sewa-menyewa
secara syar'i dan sebagainya bisa dilaksanakan saat ini juga. Begitu ada
kemauan, semua itu bisa dilakukan. Selama
bulan Ramadhan ini, kita secara ruhiah memang dilatih untuk meningkatkan
ketundukan atau ketaatan pada syariah. Di bulan biasa kita boleh makan dan minum
atau berhubungan suami-istri di siang hari. Namun, di bulan Ramadhan semua itu
dilarang, dan ternyata kita bisa. Artinya, dengan kemauan yang besar,
sesungguhnya kita bisa melaksanakan hukum Allah atau syariah Islam itu. Jika
yang halal saja bisa kita tinggalkan, apalagi yang haram. Jika yang sunnah
seperti shalat tarawih, sedekah dan sebagainya saja bisa kita lakukan, apalagi
yang wajib. Karena itu, bulan Ramadhan ini jangan sampai berlalu tanpa makna.
Kita harus mengisinya dengan melaksanakan amal-amal salih yang berbuah pahala
dan menjauhkan amal-amal salah yang berbuah dosa dan siksa.
Di
samping berkaitan personal, banyak hukum syariah yang berkaitan dengan masalah
sosial kemasyarakatan. Hukum-hukum tersebut meliputi: 1.
Peradilan/persanksian:
seperti qishâsh, potong tangan bagi pencuri, cambuk seratus kali bagi pezina
ghayru muhshân, rajam bagi pezina muhshân, cambuk bagi peminum
khamr, dsb. 2.
Ekonomi:
seperti hukum tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan milik umum, penghapusan
riba dari semua transaksi, dsb. 3.
Politik
Luar Negeri:
seperti tentang dakwah ke luar negeri dan jihad. 4.
Kewarganegaraan:
seperti hukum tentang status kafir dzimmi, musta'min, dan mu'âhad.
Setiap
orang dari kita sesungguhnya diperintahkan untuk menjalankan semua hukum
tersebut. Kita juga diperintahkan untuk memutuskan semua perkara di
tengah-tengah masyarakat dengan hukum-hukum Allah, yaitu dengan syariah Islam.
Sebagaimana hukum-hukum yang bersifat personal-seperti shalat, shaum, zakat,
ibadah haji, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, dll-wajib dilaksanakan,
demikian pula hukum-hukum yang bersifat sosial (mengatur masyarakat). Hanya
saja, semua hukum yang terkait dengan pengaturan masyarakat di atas adalah
kewenangan penguasa/pemerintah, bukan kewengan individual/personal. Karena itu,
justru di sinilah pentingnya kaum Muslim memiliki penguasa dan sistem
pemerintahan yang sanggup menerapkan hukum-hukum Islam di atas. Kesediaan
kita untuk tunduk dan patuh pada semua hukum itu, itulah realisasi dari
ketakwaan dan kesalihan sosial kita. Ketakwaan dan kesalihan sosial ini dengan
sendirinya mendorong kita untuk gigih memperjuangkan penerapan semua hukum-hukum
terkait masalah sosial kemasyarakatan tersebut. Wahai
Kaum Muslim: Selama
bulan Ramadhan ini, ketakwaan kita tengah ditempa. Jika puasa Ramadhan kita
hayati benar, selepas bulan Ramadhan setiap kita niscaya akan menjadi lebih
bertakwa; lebih gigih melaksanakan syariah Islam; serta melakukan semua
kewajiban dan meninggalkan semua larangan. Semangat ketakwaan inilah yang akan
mendorong kita lebih gigih memperjuangkan penerapan syariah Islam dalam seluruh
aspek kehidupan. Penerapan
syariah Islam secara total-yang merupakan wujud nyata dari ketakwaan kita-itulah
sebenarnya yang akan menentukan kemuliaan kita; juga akan mendatangkan jalan
keluar bagi kita dari permasalahan-permasalahan yang kita hadapi. Inilah janji
Allah SWT: ] ...وَمَنْ
يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا[ Siapa
saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar.
(QS ath-Thalaq [65]: 2). Wamâ
tawfîqi illâ billâh. KOMENTAR: Sumber
masalah dunia kini adalah dominasi ideologi Kapitalisme-sekular. Solusinya:
Singkirkan ideologi Kapitalisme-sekular dan tampilkan ideologi
Islam! |
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
