Tadabbur 10 : Akrab Dengan
Al-Quran Kamis, 28 September 06 -
oleh : Redaksi
Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah
swt. Isinya merupakan penyempurna dan pengoreksi semua isi kitab suci terdahulu.
Dengan diturunkannya ayat terakhir dari Al-Qur’an, berarti terhentilah wahyu
dari langit dan berakhirlah pengutusan para rusul ke dunia. Nabi Muhammad saw.
sebagai penerima wahyu terakhir tersebut adalah pemungkas para Rasul (Al-Ahzab:
40)
Al-Qur’an merupakan undang-undang langit terakhir yang berfungsi
mengubah undang-undang samawi sebelumnya. Apa yang masih dianggap relevan dengan
tuntutan zaman masih tersirat dan atau tersurat di dalamnya, karena Al- Qur’an
adalah puncak dari perundang-undangan Ilahi dan pemungkas wahyu samawi. Isi
kitab samawi sebelumnya yang telah diubah oleh tangan-tangan kotor manusia,
dikoreksi dan diluruskan. Undang-udang pokok yang dibutuhkan umat manusia sampai
akhir zaman untuk mengatur kehidupannya telah lengkap tercantum dalam
Al-Qur’an.(Al Maidah 3)
Al-Qur’an diturunkan berfungsi membenarkan dan
meluruskan apa yang ada pada kitab suci sebelumnya serta menyempurnakan risalah
para Nabi terdahulu, untuk dijadikan sebagai risalah universal yang mencakup
semua kebutuhan manusia, kapan dan dimana saja mereka berada. (Al-Ma’idah: 48)
Kesempurnaan dan Kelengkapan Isi Al-Qur’an
Dalam surat
Al-Ma’idah ayat 3 Allah menyatakan, “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu
agamamu dan telah Aku lengkapkan nikmatKu kepadamu dan telah Aku ridlai Islam
sebagai agamamu.”
Ayat ini menyuratkan dua hal pokok. Pertama, Allah
telah menyempurnakan isi Al-Qur’an. Dalam artian dari aspek kualaitas, ajaran
Al-Qur’an amat sempurna dan tidak terdapat kontradiksi sama sekali. Kedua, Allah
telah mencukupkan atau melengkapkan nikmat-Nya kepada Muhammad saw. Diantara
nikmat yang paling agung adalah nikmat Islam. Berarti Allah telah melengkapkan
ajaran Islam.
Kelengkapan ajaran Al-Qur’an ini ditinjau dari segi
kuantitas ajarannya. Menuntut ayat tersebut, ajaran Al-Qur’an telah mencakup
semua aspek hukum dan aspek kehidupan manusia. Sebagaimana yang ditegaskan
Allah, “Tidak satu pun yang Kami abaikan dalam Al-Qur’an ini” (Al-An’am: 38).
Para ahli tafsir mengatakan maksud ayat ini, bahwa Allah tidak
menginggalkan sedikit pun masalah-masalah agama dalam Al Quran. Allah telah
menjelaskan semuanya, baik dengan terperinci maupun secara global yang
diterangkan oleh Rasulullah saw. atau ijma’ dan qiyas. (Al Jami’ Li ahkaamil
Quran, Al Qurthubi, juz VI hal 420)
Dalam ayat lain ditegaskan, ”Dan
telah Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an untuk menerangkan segala sesuatu”. (Al
Jami’ Li ahkaamil Quran,Al Qurthubi, juz X hal 164) Menurut ayat-ayat
tersebut, , segala sesuatu sudah ada dan diatur oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an.
Bagi orang yang mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ada dalam Al-Qur’an,
akan sempurna merasakan nikmat Allah dalam penghidupan dan kehidupan di atas
dunia ini.
Kalau kita bawa maksud Al-Qur’an ini kepada suatu konotasi
yang lebih sempit, yaitu pedoman hidup dan hukum, maka Al-Qur’an merupakan
pedoman hidup dan aturan hukum yang sempurna dan lengkap. Tidak ada lagi aturan
atau hukum pokok yang dibutuhkan manusia yang tertinggal. Apabila manusia
berpedoman pada Al-Qur’an, mengikuti dan menjalankan peraturan-peraturan hukum
yang ada di dalamnya, maka akan sempurnalah nikmat kehidupan umat manusi di
dunia ini. (Al Jami’ Li Ahkaamil Quran, Al Qurthubi, juz VI hal 420)
Manusia Membutuhkan Petunjuk Al-Qur’an
Totalitas dan
kesempurnaan ajaran yang dimiliki Al-Qur’an menuntut peganutnya agar komitmen
terhadap Islam secara total. Seorang muslim tidak boleh mengambil satu aspek
saja dari ajarannya, akan tetapi ia harus mengambil semua aspek dari
ajaran-ajaran Islam secara utuh. Al-Qur’an mencela Bani Israil yang menerima
sebagaian ayat dan menolak sebagian yang lainnya sesuai dengan kemauan dan hawa
nafsu mereka. (Al-Baqarah: 85).
Untuk menghadapi era globalisasi
sekarang ini, manusia amat membutuhkan petunjuk Al-Qur’an, karena kebutuhannya
melebihi kebutuhan umat manusia terdahulu. Ada beberapa alasan yang menyebabkan
kita amat membutuhkan petunjuk Al-Qur’an.
Al-Qur'an diturunkan kepada
Rasulullah saw. untuk membebaskan ummat manusia dari kegelapan menuju cahaya
hidup yang terang benderang (Ibrahim: 1). Dan sebagai pedoman hidup penuntun
ummat manusia ke jalan kehidupan yang lurus (Al-Baqarah: 183 dan Al-Isra’: 9).
Mengikuti petunjuk Al-Qur'an adalah jaminan kebahagiaan pribadi dan masyarakat,
kebahagiaan dunia dan akhirat, karena pembuat petunjuk itu adalah Pencipta dan
Yang Maha Tahu tentang ciptan-Nya.
Pedoman dan petunujuk hidup itu
berlaku bagi seluruh ummat manusia, baik bagi orang Arab manupun orang non Arab,
baik orang pandai ataupun orang biasa, baik kelas atas, menengah, atau pun kelas
bawah. Oleh karena itu, Allah swt. Yang Maha bijaksana menurunkan Al-Qur’an ini
dengan uslub yang mudah, yang dapat difahami oleh ummat manusia. Bahkan,
Al-Qur’an sendiri mengulang-ulang pernyataan ini empat kali dalam satu surat
Al-Qamar: 17, 22, 32 dan 40 sebagai berikut: " Dan sesungguhnya telah Kami
mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?
" (Al-Qamar : 17, 22, 32 dan 40)
Para sahabat Nabi dengan berbagai macam
jenis kemampuan penalaran mereka, dengan mudah memahami, mencerna, dan
mengamalkan Aquran, karena mereka siap mendengar, menerima, dan mentaatinya.
Namun, Rasulullah saw. pernah mengadu kepada Allah swt. tentang sikap kaumnya
terhadap Al-Qur'an ini, sebagaimana direkam oleh Al-Qur'an sendiri : " Dan Rasul
berkata (mengadu): Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini
sesuatu yang tidak diacuhkan " (Al-Furqaan: 30). Ibnu Katsir mengatakan
bahwa tidak beriman dan tidak membenarkan Al-Qur’an termasuk "mahjura". Tidak
mentadabburi (menelaah) dan tidak memahaminya adalah termasuk "mahjura". Tidak
mengamalkannya dan tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya adalah
termasuk "mahjuro".
Pengaduan itu terhadap kaumnya yang memusuhi Aquran
(orang-orang kafir), bagaimana kalau terjadi pada ummatnya sendiri !!!
Berinteraksi dengan Al-Quran dan Mentadabburinya
Ada
empat macam cara interaksi dengan Al-Qur'an : 1. Tilawah ( membacanya ).
2. Tadabbur ( menelaahnya ). 3. Hifzh ( menghafalnya ). 4. Al-amal
bihi ( mengamalkannya ).
Tadabbur (penelaahan) Al-Qur’an diperintahkan
oleh Allah swt. dan salah satu cara berinteraksi (ta'amul) dengan Al-Qur'an.
Allah swt. berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh
dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang
yang mempunyai fikiran mendapatkan pelajaran" (Shaad: 29)." Maka apakah mereka
tidak mentadabburi Al-Qur'an ataukah hati mereka terkuci? " (Muhammad: 24 ).
Tadabbur adalah salah satu cara untuk memahami Al-Qur’an. Kitab-kitab
Tafsir yang kita kenal dan kita baca sekarang adalah hasil usaha yang optimal
dari para ulama dalam mentadabburi dan memahami Aquran.
Tadabbur menurut
bahasa berasal dari kata دبــر yang berarti menghadap, kebalikan membelakangi.
Tadabbur menurut ahli bahasa Arab adalah الـتـفـكّـر memikirkan. Maka, tadabbur
bisa berarti memikirkan akibat dari sesuatu atau memikirkan maksud akhir dari
sesuatu. Sedangkan, tadabbur menurut istilah adalah "penelaahan universal yang
bisa mengantarkan kepada pemahaman optimal dari maksud suatu perkataan ".
Namun, tadabbur itu sendiri terikat dengan mengamalkannya, karena para
Salafushshalih mengartikan tadabbur dan tilawah yang sungguh-sungguh
(Al-Baqarah: 121) dengan mengamalkannya. Jadi, pengertian tadabbur adalah,
"Usaha memahami ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang dibaca atau didengar dengan
disertai kekhusyukan hati dan anggota badan serta dibuktikan dengan
mengamalkannya".
Untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an dan melakukan
tadabur yang optimal membutuhkan kiat-kiat sebagai berikut:
- Memperhatikan Adab atau Sopan-santun dalam Tilawah.
Supaya
tilawah Al-Qur'an memberikan manfaat dan buah serta menghasilkan dampak
positif dan istiqamah, perlu diperhatikan adab dan sopan santun ketika membaca
Al-Qur'an antara lain :
- حسـن النيـة (motivasi yang baik), keihklasan, totalitas hanya untuk
mendapatkan ridha Allah swt.
- الاستعاذة والبسـملة (dimulai dengan Isti"adzah dan Basmalah) karena hal
tersebut diperintahkan oleh Allah (An-Nahl: 98 ).
- الطهـارة (kesucian) hati dan jasad, suci lahir dan batin. Bahkan
dianjurkan membaca Al-qur'an itu dalam keadaan suci dari hadats besar dan
kecil.
- تـفـريغ النفـس عن شـواغلـها (tidak disibukan dengan selain Al-Qur'an).
- حصـر الفـكـر مع القـرءان (konsentrasi penuh dengan Al-Qur'an)
- اختـيار الأوقـات والأمـاكن المـنـاسبـة (memilih waktu dan tempat yang
cocok).
- Memperhatikan cara-cara Talaqqi ( menerima pelajaran ).
- التـلقي بالقلب الخاشـع (menerimanya dengan hati yang khusyuk).
- التـلقي بالـتـعظيـم (menerimanya dengan rasa takzim) seperti halnya
seorang prajurit mendapatkan perintah dari komandannya atau seorang hamba
sahaya mendapat perintah dari majikannya.
- التـلـقي للتـنـفيـذ (menerimanya untuk dilaksanakan).
- Memperhatikan Tujuan Pokok dari Al-Qur’an.
Ketika
mentadabburi Al-Qur'an, hendaknya terhujam dalam benak kita tujuan pokok dan
essensi diturunkannya Al-qur'an, yang antara lain:
- Petunjuk jalan menuju kepada Allah swt. bagi setiap individu ataupun
bagi seluruh ummat manusia.
- Merealisasikan pembentukan pribadi muslim yang sempurna dan yang
seimbang.
- Merealisasikan masyarakat Islam berwawasan Al-Qur’an.
- Membimbing ummat dalam pergumulannya dengan situasi jahili yang berada
disekelilingnya.
- Mengikuti Jejak Langkah Para Sahabat dalam Berinteraksi dengan
Al-Qur’an.
- Pandangan yang universal terhadap Al-Qur’an.
- Melepaskan segala bentuk prasangka sebelum masuk berinteraksi dengan
Al-Qur'an.
- Penuh keyakinan akan benarnya nash-nash Aquran.
- Merasakan bahwa ayat yang dibaca atau didengar adalah ditujukan
kepadanya.
- Beruasaha Hidup dalam Ruh Al-Qur'an.
- Tidak bertele-tele dalam memahaminya.
- Menjauhkan cerita-cerita Israiliyyat .
- Melepaskan nash-nash Al-Qur’an dari keterikatan dengan tempat dan
waktu.
- Dibantu dengan disiplin Ilmu-ilmu lain.
- Menguasai pokok-pokok ulumul Qur’an.
- Memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
- Melepaskan perbeadaan-perbedaan penafsiran para ulama tafsir dan kembali
kepada makna hakiki dari Al-Qur’an.
- Diperluas dengan penguasaan Sirah Nabawiyah dan Sejarah kehidupan para
Sahabat.
Sumber : 30 Tadabur Ramadhan - Menjadi Hamba
Rabbani - IKADI
|