APABILA berbicara tentang ummat, Sudrun selalu menangis. Sama dengan kalau ia bersujud selewat dua paruh malam: ia melukisi kesunyian malam dengan isakan-isakan tangis. Padahal untuk yang selain dua itu ia tak pernah menangis. Terhadap rasa derita dirinya sendiri Sudrun selalu tertawa. Semakin pribadinya bersedih, semakin ia tertawa. Tetapi setiap kali ia rasakan tangis ummat di sekitarnya, setiap kali pula ia menangiskannya bertipat-lipat.
"Pusatkanlah perhatian
dan enerji hidupmu kepada ummatmu, karena Allah lebih bersemayam di kandungan
hati mereka dibanding hati pemimpin-pemimpinnya", katanya, terbata-bata karena
isakan tangisnya, "Aku tahu itu dan aku bersaksi atas pengetahuanku!"
Ya, arnpun. Dia jongkok
meringkuk di sisi pintu bilikku.
"Aku sangat kecewa selama
ini", ia meneruskan, "karena kamu terlalu asyik memperhatikan dirimu sendiri.
Kamu terlalu tenggelam berkonsentrasi pada kebesaranmu, pada perusahaan
popularitasmu. Padahal ummatmu sangat lapar, amat sangat lapar, tanpa tahu apa
yang sesungguhnya ingin mereka makan – dan kamu tidak menunjukkan kepada mereka
hal itu. Ummatmu sangat merasa kehausan, amat sangat kehausan, tanpa mereka
mengerti apa yang sebaiknya mereka reguk – dan kamu tidak menyodorkan minuman
yang tepat bagi rasa haus mereka yang telah berkurun-kurun
lamanya..."
Sudrun bagai hendak
meraung. Dan aku sendiri lebih dari itu: aku ingin memekik-mekik
sekeras-kerasnya untuk menggulung habis seluruh gelombang perasaan yang membelit
dadaku. Aku ingin badanku meledak, pecah berantakan dan
sirna!
*****
"Siapakah
kamu?"
Aku menyebut namaku.
"Bukan!", bentaknya, "itu
hanya namamu. Itu belum tentu kamu!"
Kemudian ia memegani tanganku, lenganku, pundakku dan seterusnya sambil terus mencecar: "Ini tanganmu, bukan kamu. Ini lenganmu, bukan kamu. Ini pundakmu, bukan kamu. Ini otakmu, bukan kamu. Ini hatimu, bukan kamu. Ini semua bukan kamu, meskipun kamu dan semua orang menyangka ini adalah kamu. Ini semua bukan kamu. Kamu adalah yang memimpin ini semua!"
"Yang dikerumuni oleh
sejuta orang itu juga bukan kamu, bukan namamu, melainkan suara kerinduan di
kedalaman jiwa mereka sendiri. Kamu jangan salah sangka, jangan GR, jangan
mengambil alih dan memonopoli sesuatu yang kamu sangka kamu dan milikmu. Kamu
ini hanya kaca, bukan cahaya. Kamu hanya lempengan pemantul, bukan sumbernya!
Kalau orang membungkuk-bungkuk dan menciumi tanganmu karena mengagumi,
sesungguhnya bukan kamu yang dikagumi. Kamu hanya petugas yang mengantarkan
sesuatu yang dikagumi oleh nurani ummat manusia. Kalau karnu menyangka bahwa
sesuatu itu adalah kamu sendiri, kamu akan hangus
terbakar!"
Di hadapan Sudrun,
mulutku selalu kelu.
"Kamu ini Muslim. Siapa
Muslim? Muslim adalah manusia yang merelakan dirinya dipekerjakan oleh Allah.
Dipekerjakan bagaimana? Siap menjalankan amanatNya. Amanat apa?
Serangga-serangga kecilpun diselenggarakan eksistensinya oleh Tuhan dengan
mengamban amanat. Ayam diamanati untuk memasok gizi kepada manusia dengan daging
dan telornya. Laba-laba diamanati untuk melindungi Rasul Allah dan Sayyid Abu
Bakar ketika mereka dikejar saat berhijrah oleh pasukan Abu Lahab. Dan apa
amanat untuk kamu?"
Kenduri Cinta bukan SBY, bukan Yusuf Kalla, bukan parpol-parpol yang merupakan perabot yang butuh ruang.Kita bukan perabot. Kita adalah ruang dan para perabot silakan masuk, aku ciptakan ruang seluas-luasnya kepadamu, karena aku ini hambanya Allah, aku ini khalifahnya Allah, maka ilmu yang nomer satu bukanlah ilmu bumi, ilmu planet, bukan ilmu matahari, tapi ilmu ruang alam semesta yang tidak terbatas, al arsy -- al adhiimi, "subhanaa robbiyal adhiiimi wabihamdi"
Cuplikan dari Kenduri Cinta "Emha Ainun Nadjib"
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
