PARUH KEDUA RAMADHAN
Oleh : M.Nursani - Majalah Tarbawi

[ usahamulia.net ] Saudaraku, apakah kita termasuk yang merindukan kehadiran bulan Ramadhan? Inilah detik demi detik waktu kita lalui bersamanya. Inilah masa-masa bahagia, masa-masa semakin dekatnya jiwa bersama Allah, masa-masa kedamaian hati yang belum tentu kita temui tahun depan. Kalaupun dipertemukan, belum tentu kita memiliki kesehatan, kemampuan, kesadaran dan keimanan seperti sekarang... 

Saudaraku, hiruplah dalam-dalam udara malamnya, udara sahurnya. Kita kini sedang berada pada paruh kedua Ramadhan... mendekati perpisahan yang sangat memilukan. Mungkin kita merasa bahwa Ramadhan masih panjang... Tapi, bercerminlah pada pengalaman tahun lalu. Kesibukan kita mengikuti buka puasa bersama yang dipaksakan waktunya karena Ramadhan sudah mulai habis, kesibukan kita mengurus rumah tangga setelah ditinggal pembantu, kesibukan berbelanja makanan dan pakaian, serta persiapan mudik, seringkali melalaikan kita akan datangnya masa perpisahan dengan bulan mulia ini.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa melakukan satu ibadah sunnah dalam bulan Ramadhan, maka ia seperti orang yang melakukan ibadah wajib di bulan lain. Dan barangsiapa yang melakukan ibadah wajib di bulan Ramadhan maka ia seperti orang yang melaksanakan 70 ibadah wajib di bulan lainnya" (HR. Ibnu Khuzaimah). Maka, berpisah dengan bulan ini berarti kita meninggalkan kesempatan meraih pahala kebaikan yang berlipat-lipat.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang berpuasa karena keimanan dan semata-mata mengharap pahala, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, perpisahan dengan bulan ini berarti hilangnya kesempatan kita untuk memperoleh ampunan Allah SWT terhadap dosa-dosa kita yang menggunung.

Saudarakau, selama bulan ini para safus shalih  berlomba memperbanyak membaca Al-Quran. Mereka mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat tarawih setiap tiga malam sekali. Bahkan Utsman bin Affan mengkhatamkan Al-Quran setiap hari. Imam Syafi'i mengkhatamkan Al-Quran sebanyak enam puluh kali di luar shalat, di bulan ini. Jika mereka demikian tinggi semangat dan kesungguhannya membaca Al-Quran, bagaimana dengan kita? Apakah kita membacanya tiap selesai shalat ataukah tiap hari? Ataukah tidak menyentuhnya sama sekali? Bila Ramadhan berlalu, berarti kita pun kehilangan kesempatan agung untuk memperoleh barakah istimewa dari membaca Al-Quran di bulan ini...

Rasulullah SAW senantiasa mencari malam Lailatul Qadr dan memerintahkan sahabat untuk mencarinya. Beliau membangunkan keluarganya pada malam sepuluh terakhir dengan harapan mendapat malam kemuliaan tersebut. Kaum salaf mandi dan memakai wewangian pada sepuluh malam terakhir untuk menyambut malam Lailatul Qadr, malam yang telah dimuliakan dan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Maka perginya bulan ini dari sisi kita, berarti terlewatnya kesempatan yang tak pernah terbayar dalam seluruh hidup kita sekalipun. Berati, lenyapnya kesempatan kita memeperoleh keberuntungan 1000 bulan... yang sangat jauh lebih lama ketimbang usia kita sendiri.

Saudaraku, jangan kau siakan detik-detik paruh kedua Ramadhan ini. Rasakan benar-benar kehadiran kita di sini, di bulan ini. Lantunkan dzikir, tilawah Quran, munajat memohon ampunan Allah SWT ... Buanglah kepenatan, hilangkan rasa lelah, raihlah kesempatan.. hanya untuk hari-hari terakhir menjelang perpisahan dengan bulan penuh kemuliaan ini. Kelonggaran jam kerja kantor, mudahnya mendapatkan cuti, liburnya perkuliahan bagi mahasiswa... sangat membantumu menggapai pahala dan meraih malam kemuliaan. Jangan tunda lagi...
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke