MERAIH KEMENANGAN HAKIKI

Buletin al-Islam Edisi 326

Hari ini kita memasuki fase 'sepuluh hari' ketiga bulan Ramadhan, yaitu fase 'pembebasan dari api neraka'. Kurang lebih sepuluh hari ke depan, atas izin Allah, kita akan mengakhiri rangkaian amalan Ramadhan. Pada saat hari raya Idul Fitri nanti, kita biasa saling mengucapkan, "Min al-‘â'idîn wa al-fâ'izîn (mudah-mudahan kita termasuk orang-orang kembali [suci] dan mendapat kemenangan)." Kemenangan seperti apa dan dari apa yang akan kita gapai saat kita menyelesaikan Ramadhan nanti?

Kemenangan Individual

Kemenangan individual akan diraih orang yang berpuasa ketika ia mendapatkan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Ia mendapatkan rahmat karena senantiasa berada dalam keridhaan Allah. Ia juga mendapatkan ampunan karena tawbat[an] nashûhâ yang ia lakukan, di samping mendapatkan maaf dari saudara-saudaranya. Lebih dari itu, karena puasa dan ibadah yang ia lakukan semata-mata karena iman dan mengharap ridha dan pahala dari Allah SWT menjadi penghapus dosa-dosanya.

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Siapa saja yang berpuasa karena iman dan ikhlas semata-mata karena mengharap ridha dan pahala Allah, ia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhari, Muslim dan Ashhab as-Sunan).

Orang yang berpuasa juga mendapatkan 'pembebasan dari api neraka' karena ia telah mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan karena ia telah memperbanyak amal-amal salih yang berbuah pahala. Dengan itu niscaya ia akan dijauhkan dari azab neraka. Sebaliknya, ia akan dekat dengan pahala surga yang penuh dengan kenikmatan nan kekal.

Ketiga bentuk kemenangan ini akan bisa diperoleh seseorang karena ketakwaannya. Ketakwaan inilah yang dipupuk dan dikembangkan pada dalam Ramadhan.

Siapa saja yang menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya, menjaga ketentuan-ketentuannya, menjauhi segala hal yang seharusnya ia jauhi, memperbanyak amal salih dan menjauhi segala bentuk amal salah, niscaya akan mewujud menjadi insan yang bertakwa dan semakin meningkat ketakwaannya. Dengan ketakwaannya itu ia akan memperoleh kemenangan dalam tiga bentuk di atas secara terus-menerus dan kontinu. Inilah kemenangan inidvidual yang hakiki bagi siapapun. Mereka itulah yang secara hakiki layak merayakan Id (hari raya). Dalam hal ini, orang-orang bijak berkata, "Laysa al-‘Id li man labisa al-jadîd wa lâkinna al-‘Id li man thâ‘atuhu tazîd (Hari Raya itu bukanlah bagi orang yang mengenakan segala hal yang serba baru. Namun, hari raya itu adalah bagi orang yang ketaatannya meningkat)."

Al-Quran menyatakan kata takwa dan yang seakar kata dengannya di dalam ratusan ayat. Ratusan ayat itu memberikan gambaran yang jelas tentang potret orang yang bertakwa. Dalam masalah akidah (keimanan), orang yang bertakwa adalah orang yang beriman kepada Allah, para malaikat, al-Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Ia beriman kepada Rasulullah Muhammad serta kepada para nabi dan rasul sebelum Beliau. Ia beriman pada Hari Kiamat, Hari Kebangkitan dan kehidupan akhirat beserta surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan segala kepedihan dan kedahsyatan azabnya. Ia juga beriman pada hal-hal yang gaib. Ia yakin bahwa hanya Allah yang memberi rezeki dan hanya Allah yang mendatangkan ajal. Ia bertawakal hanya kepada-Nya. Ia juga senantiasa yakin bahwa Allah selalu mengawasinya dan bahwa Malaikat Raqib dan Atidyang mencatat segala amal perbutaan dan perkataannya tanpa terlewat sedikit pun—selalu mendampinginya.

Berkaitan dengan masalah ibadah, yakni segala aktivitas yang disyariatkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, orang yang bertakwa itu menyembah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Ia mendirikan shalat dan melakukannya tidak dengan malas-malasan. Ia melaksanakan puasa Ramadhan serta menunaikan zakat dan infak sunnah (sedekah). Ia berinfak dalam kondisi rezekinya sempit maupun lapang. Ia melaksanakan haji jika mampu sesuai dengan tuntutan syariah. Ia berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan atau harta; tidak meminta izin untuk tidak berjihad. Ia senantiasa menjauhi sihir. Ia pun berdoa hanya kepada Allah.

Seorang yang bertakwa berinteraksi dengan diri sendiri dalam masalah makanan, pakaian, minuman dan akhlak dengan sangat memperhatikan kehalalan rezeki yang ia makan dan ia minum. Ia mengenakan pakaian takwa, yaitu berpakaian sesuai yang dituntut oleh syariah. Ia mampu menahan amarah dan suka memaafkan kesalahan orang lain. Ketika melakukan dosa, besar atau kecil, ia segera ingat kepada Allah, bertobat dan memohon ampunan-Nya, serta tidak mengulanginya lagi. Ia senantiasa men-tadabbur-i tanda-tanda kekuasaan Allah dan mengagungkan syiar-syiar-Nya. Perkataannya benar, mengandung kebenaran dan memerintahkan ketakwaan. Ia senantiasa menepati janji jika berjanji. Ia selalu bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan.

Dalam hal muamalah di tengah-tengah keluarganya, orang yang bertakwa itu mempergauli istrinya dan memberikan hak kepadanya secara makruf. Ia menafkahi istri dan anak-anaknya dari rezeki yang halal. Ia mendidik mereka agar menjadi salih. Ia juga memberikan nafkah kepada mereka yang menjadi tanggung jawabnya serta membagi harta waris menurut ketentuan syariah.

Dalam bermualamah dengan sesama, orang yang bertakwa akan memasuki rumah orang lain setelah mendapat izin dan melalui pintunya, bukan dengan menyelinap atau dari belakang. Ia seorang yang muhsin sekaligus mushlih. Ia menjauhi prasangka, tajassus (memata-matai orang lain), mencari-cari kesalahan orang lain, dan membicarakan kejelekkan orang lain. Ia melakukan pembicaraan dalam rangka ketakwaan.

Orang-orang yang bertakwa tidak mengangkat pemimpin dari kalangan orang kafir serta orang yang menjadikan agama sebagai bahan ejekan dan permainan. Mereka menyelesaikan perselisihan menurut hukum-hukum Allah SWT serta melaksanakan qishâsh dan hudûd. Mereka menjauhi riba dan tidak memakannya, baik sedikit maupun banyak apalagi berlipat ganda. Mereka menjadikan harta terdistribusi di tengah-tengah masyarakat dan tidak membiarkan harta hanya terkumpul di segelintir atau sekelompok orang saja.

Orang yang bertakwa senantiasa mengemban dakwah Islam, memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Ia berkawan dengan—dan berlindung kepada—kaum Mukmin dan tidak kepada orang-orang kafir. Orang-orang yang bertakwa juga melaksanakan jihad di jalan Allah. Jihad ini dilakukan untuk menghilangkan penghalang fisik yang menghadang dakwah Islam dan menghalangi umat manusia untuk dapat memandang, mengetahui serta merasakan kebenaran dan keadilan Islam. Orang yang bertakwa akan berlaku adil kepada manusia, termasuk di dalam jihad dan peperangan.

Kemenangan Kolektif

Kemenangan kolektif terwujud dengan adanya individu-idividu bertakwa di tengah masyarakat. Masyarakat yang bertakwa adalah masyarakat yang senantiasa merasakan kehadiran Allah yang Mahatahu, yang akan meminta pertanggungjawaban dari setiap tindakan, perilaku, aktivitas dan ucapan mereka. Dengan adanya orang-orang bertakwa ini, akan tersedia banyak SDM yang kafâ'ah (profesional), yang juga akan menjelma menjadi sosok yang memiliki himmah (etos kerja tinggi), karena mereka senantiasa menginginkan keridhaan Allah pada tingkat yang tertinggi.

Insan-insan bertakwa akan senantiasa memperhatikan kepentingan dan urusan umat. Mereka selalu menginginkan kebaikan bagi umat. Mereka akan senantisa melakukan amar makruf dan nahi mungkar; mengemban dakwah, membina, mendidik, mendorong dan membimbing umat untuk mewujudkan ketakwaan secara kolektif. Mereka akan berjuang gigih mengubah kondisi buruk umat menjadi masyarakat yang bertakwa; yaitu masyarakat yang dipenuhi oleh pemikiran dan perasaan yang mencerminkan ketakwaan, yang menerapkan sistem dan hukum-hukum yang bersumber dari wahyu Allah yang Mahatahu dan Mahabijaksana, yaitu syariah Islam.

Ciri utama masyarakat bertakwa adalah menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam segenap kehidupan mereka. Ciri inilah yang membedakan masyarakat bertakwa dari masyarakat yang tidak bertakwa, baik masyarakat sekular-kapitalis-liberal maupun masyarakat sosialis ataupun komunis.

Wahai Kaum Muslim:

Hanya di dalam penerapan syariah (sistem) Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah sajalah insan-insan bertakwa akan menemukan habitat yang sesuai, persis seperti ikan yang menemukan air yang menjadi habitatnya. Hanya sistem Islam dalam bingkai Daulah Khilafah yang akan memberikan penghargaan tertinggi kepada insan-insan bertakwa. Hanya sistem Islamlah yang akan mampu memanfaatkan potensi insan-insan bertakwa secara maksimal sehingga terwujud masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.

Sebaliknya, di dalam masyarakat dan sistem sekuler-kapitalis, insan-insan bertakwa bagaikan ikan yang tercampak di daratan. Sistem sekular kapitalis tidak akan bisa menghargai ketakwaan mereka dan tidak bisa memanfaatkan potensi mereka. Lebih dari itu, sistem sekular kapitalis justru akan mengikis ketakwaan mereka, menyeret mereka ke dalam alam sekular dan menjauhkan mereka dari ketakwaan. Akhirnya, masyarakat idaman yang adil, makmur dan sejahtera pun semakin jauh dari harapan.

Wahai kaum Muslim:

Jika kita ingin segera keluar dari keburukan sistem sekular, dari penindasan dan eksploitasi sistem dan kaum kapitalis, maka terwujudnya masyarakat bertakwa dan penerapan syariah Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah harus disegerakan. Hanya dengan jalan itulah kemenangan hakiki secara menyeluruh akan dapat kita raih dan kita wujudkan. Cukuplah menjadi peringatan bagi kita firman Allah SWT:

]وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ[

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatannya itu.(QS al-A‘raf [7]: 96).

 Wallâh al-Muwaffiq ilâ aqwâm ath-tharîq. []

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke