|
KELOMPOK RADIKAL MENYUSUPI PARTAI ISLAM? Harian Republika (5/10/2006) memuat pernyataan Menteri Pertahanan
(Menhan), Juwono Sudarsono, yang menuding kelompok Islam radikal saat ini
melakukan penyusupan ke partai-partai Islam. Pernyataan ini menarik dan penting
untuk ditanggapi. Menarik, karena sekalipun mengaku dalam kapasitas pribadi,
Juwono adalah Menteri Pertahanan. Tidak dapat dipisahkan antara kedudukan
seseorang apakah sebagai dirinya ataukah sebagai jabatan yang didudukinya.
Disebut penting, sebab didalamnya terdapat ungkapan yang berbau
provokasi. Setidaknya ada empat pokok pikiran yang diungkapkan Menhan terkait perkembangan politik Islam di Indonesia kini. Pertama, tudingan bahwa kelompok Islam radikal saat ini melakukan penyusupan terhadap partai-partai Islam. Kedua, kelompok Islam radikal memusuhi partai Islam, terutama yang ikut pemerintahan, karena dianggap terkontaminasi sistem Barat. Ketiga, penyusupan yang dilakukan mirip dengan cara PKI yang memasukkan anggotanya ke berbagai partai pada tahun 1960-an. Keempat, Menhan memastikan kelompok radikal yang bercita-cita mendirikan khilafah ini akan gagal. Alasannya, ideologi yang diusung kelompok ini tidak bermuatan lokal. Khilafah adalah solusi Bagaimana pun juga, pernyataan pejabat negara seperti itu mengandung
stigmatisasi. Padahal, istilah radikal sering dituduhkan pada kelompok yang
ingin berpegang teguh pada Islam berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah serta
menerapkan Syariat Islam. Bukankah ini merupakan upaya untuk melanggengkan umat
jauh dari sumber ajaran agama yang dianutnya? Dengan terus menerus digunakan
istilah 'Islam radikal' berarti hendak ditegaskan bahwa Islam tetap berada dalam
ketidakutuhan. Ini merupakan stigmatisasi pada ranah ajaran. Stigmatisasi menjadi sempurna ketika dikaitkan dengan stigmatisasi politis.
Islam 'radikal' disamakan dengan PKI. Pada jaman orde baru segala gerakan yang
dipandang bertentangan dengan pemerintah dicap sebagai PKI. Melalui
penganalogian Islam 'radikal' dengan PKI ini terlihat kepentingan untuk
menjauhkan umat Islam dari kelompok Islam. Muaranya adalah langgengnya kekuasaan
sekuleristik yang saat ini tengah dijalankan. Padahal, sudah menjadi rahasia
umum, kekuasaan sekuleristik kapitalistik selama Indonesia merdeka lebih
berpihak pada asing dan pemiliki modal daripada kepentingan rakyat. Nampak kental nuansa islamfobia dan khilafahfobia dalam pernyataan Menhan.
Daripada main stigmatisasi, akan lebih arif bila kita melihat realitas lebih
jernih. Indonesia kini tengah menangis. Indonesia kembali menjadi negara miskin
Beban utang Indonesia masih menumpuk, kemiskinan belum terentaskan, pengangguran
terus meningkat, anak putus sekolah bukannya berkurang. Padahal, areal hutan
paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah bagi pariwisata, potensi
kekayaan laut luar biasa (6,2 juta ton ikan, mutiara, minyak dan mineral lain),
kandungan barang tambang emas, nikel, timah, tembaga, dan batubara karunia Allah
SWT luar biasa. Bahkan, di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup
besar. Tapi, mengapa rakyat tetap menderita? Intervensi asing pun kian kentara?
Mengapa? Ada kesalahan dalam dua hal, yakni orang dan sistemnya. Hanya orang
amanah dan berkepribadian Islam yang akan dapat mengatur masyarakatnya dengan
sejujurnya. Dan, setelah sosialisme/komunisme hancur, sementara kapitalisme
makin menunjukkan kegagalannya, kemana lagi kalau bukan kembali kepada sistem
syariat Islam? Secara historis, Islam berkuasa selama 12 abad. Secara realitas,
dunia membutuhkan sistem pengganti kapitalisme yang kini berkuasa. Sementara,
dari segi imani hanya syariat Islam yang akan menebarkan rahmat ke seluruh alam.
Ditengah aset negara makin dikuasai asing, Islam ingin mengembalikannya kepada
rakyat. Pada saat pornografi pornoaksi dijajakan, kerusakan akhlak anak bangsa
karenanya semakin rusak, kelompok Islam hendak menyelamatkan generasi dari
kehancuran. Asing ingin memecah belah Indonesia, sebaliknya kelompok Islam yang
distigmatisasi radikal berteriak lantang antiseparatisme. Jadi, Islam adalah
solusi. Bagi orang yang menginginkan Indonesia menjadi lebih baik, patutkah
upaya menerapkan syariat Islam dikhawatirkan, atau bahkan ditakuti? Dalam konteks global, kini tengah terjadi hegemoni dan penjajahan negara besar pimpinan AS atas kaum Muslim. Siapa yang dapat menghentikan kebiadaban AS di Guantanamo, Abu Ghraib, Irak, Afghanistan? Siapa yang melindungi akidah umat dari penghinaan terhadap Rasulullah, pelecehan al-Quran dan Islam? Siapa yang akan dapat melindungi Palestina dari konspirasi Israel, AS, dan Uni Eropa? Perlu ada kekuatan global baru yang menyatukan umat Islam. Itulah khilafah. Dalam pendekatan fiqih, seluruh ulama Ahlus Sunnah dan Syiah sepakat tentang wajibnya mengangkat khalifah (Imam Ibn Hazm, Maratibul Ijma', hal. 124; An Nawawi, Syarah Muslim VIII, hal. 10). Secara amaliy, Institusi khilafah inilah yang dapat menghentikan penjajahan negara besar. Khilafah adalah solusi bagi persoalan global dunia. " . Kemudian akan muncul lagi khilafah diatas metode kenabian," begitu Imam Ahmad meriwayatkan kabar gembira dari Rasulullah SAW tentang kembali tegaknya khilafah. Demokrasi Semu Berbeda dengan tahun 80-an, saat ini memang muncul ghirah saling
mendekatnya berbagai pihak dalam Islam. Apalagi arogansi AS di dalam negeri kian
tampak, rasa senasib saat Rasul dihina dalam kartun, hingga perasaan ingroup
menyikapi pernyataan Paus yang menyatakan apa yang dibawa Muhammad sebagai jahat
dan tidak berperikemanusiaan. Soliditas umat Islam kian meningkat. Kasus aksi
sejuta umat melawan pornografi pornoaksi adalah fenomena menarik. Delapan puluh
organisi Islam, termasuk partai politik Islam dan berbasis massa Islam tumpah
ruah bersama. Tidak ada pembedaan antara radikal dengan nonradikal, kelompok
Islam dengan partai Islam. Umat dengan dinaungi Majelis Ulama Indonesia saat itu
terlihat harmonis. Realitas ini tidak boleh dinafikan begitu saja apalagi sampai
pada sikap bahwa kelompok radikal memusuhi partai Islam. Bahwa terkadang ada
perbedaan pendapat adalah wajar belaka. Namun, tudingan permusuhan Islam
'radikal' terhadap partai Islam tidak menemukan realitasnya. Bahkan, menurut
syariat muslim dengan muslim yang lain adalah bersaudara. Tidak logis suatu
kelompok yang hendak menerapkan syariat Islam tapi melanggar syariat yang
menjadi prinsip perjuangannya tersebut. Dalam kondisi seperti itu adalah bahaya ketika muncul tudingan bahwa kelompok
yang disebutnya Islam radikal memusuhi partai Islam. Kenyataan demikian dapat
ditangkap sebagai upaya untuk memisahkan antara partai Islam dengan
kelompok/organisasi Islam. Adu domba. Selama ini masyarakat tidak memilih atas
dasar kepahaman ideologi. Indonesia ini mayoritas Islam, tapi bukan partai Islam
yang meraih suara terbanyak dalam Pemilu. Bila kondisi berbalik, katakan saja
organisasi Islam 'berpihak' pada partai yang secara terang-terangan akan
menerapkan Islam, pihak yang jauh-jauh hari gerah adalah kalangan yang tidak
menghendaki Islam mengatur kehidupan. Sikap seperti ini semakin mengokohkan bukti bahwa demokrasi tidak
diperuntukkan bagi Islam. Di Aljazair, FIS yang memenangkan 86% Pemilu putaran
pertama harus mengalami nasib tragis. Kemenangan dibatalkan, lalu menjadi partai
terlarang, banyak aktivisnya mendekam di penjara. Alasannya hanya satu, FIS
secara terbuka hendak memperbaiki Aljazair dengan menegakkan Daulah Islamiyah.
"Aljazair sakit, obatnya Islam, dokternya adalah FIS," itulah credo yang
mereka teriakkan. Baru-baru ini Hammas mengalami hal serupa. Sekalipun menang secara
demokratis, segeralah embargo bantuan ekonomi diberlakukan. Tuntutan pembatalan
bila Hammas tetap dalam garis perjuangan selama ini pun menyeruak. Di Indonesia, ketika partai Islam dilihat mulai menyuarakan Islam, segeralah dituding 'tersusupi'. Suatu kata yang mengandung makna negatif. Arti penting dari pelabelan tersebut adalah partai Islam yang 'tersusupi' Islam 'radikal' harus diwaspadai. Lebih jauh, demokrasi tidak boleh bagi kelompok yang secara lantang menyuarakan Islam. Kalaupun suatu waktu partai yang mengusung Islam menang, bukan mustahil akan di-FIS-kan. Nampaklah, demokrasi memang semu. Wallahu a'lam.[] |
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
