Semoga bermanfaat dan bisa mengguggah hati kita.

MARSUDI DIBUNUH !

Marsudi, sopir taksi. Pendapatannya tidak seberapa. Ketika anaknya
meminta
uang keperluan sekolah, Marsudi yang baru saja hendak istirahat,
memutuskan menarik lagi taksinya, Senin (7/8) malam. Biasanya Marsudi
menarik taksi siang, namun karena tanggung jawab sebagai orang tua, malam
itu juga dia pergi. Inilah kepergiannya terakhir dan selamanya.

Dua penumpang mencegat taksinya di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta
Selatan. Mereka minta diantar ke Kemang, namun di perjalanan, penumpang
meminta Marsudi melewati Jalan Haji Saidi, Cipete. Di tempat agak sunyi,
penumpang itu menjerat leher Marsudi dengan kawat, kemudian -- Ya Allah,
mereka menggoroknya. Marsudi bersimbah darah. Mereka merogoh kantong
Marsudi, namun hanya menemukan beberapa batang rokok.

Darah terus mengucur dari leher Marsudi. Dua perampok itu, setelah tak
mendapatkan apa pun, meninggalkan Marsudi sendiri dalam taksi yang
sengaja
mereka kunci. Ya Allah, Marsudi --yang sedang ditunggu dua anaknya dengan
penuh harapan ayahnya tercinta membawa uang untuk sekolah besok pagi--
tewas di tempat. Dan, dua perampok jahat yang dibekuk warga itu, mengaku
salah sasaran dan merampok untuk menyambung hidup.

Kemiskinan telah memisahkan Marsudi dengan tiga anaknya. Ayah yang
bertanggung jawab itu --bagian dari 62 juta penduduk miskin Indonesia,
menurut data Badan Pusat Statistik-- tak berdaya. Dia tak punya apa-apa,
kecuali hasrat dan tanggung jawab menyekolahkan anak-anaknya, yang suatu
saat nanti dapat mengangkatnya dari kemiskinan, membebaskannya dari
belitan hidup yang semakin berat.

Marsudi yang dhuafa adalah bagian dari kita, yang belakangan ini semakin
mudah kita temui, tidak saja di perkampungan kumuh, tapi juga di jalan
raya, dan di sebelah mal-mal yang semakin banyak dibangun. Marsudi tidak
mudah mendapatkan puluhan ribu rupiah, di saat sebagian kita berniat
membeli mobil Jaguar. Dia hanya mampu memacu taksinya dan menanti
datangnya penumpang, yang kemudian penumpang --yang juga miskin-- itu
membunuhnya dengan seutas kawat dan pisau pemotong kertas.

Kemiskinan menjadi pradoks di negara sangat kaya ini. Di negara ini di
satu sisi, jumlah orang miskin semakin banyak, namun di sisi lain jumlah
uang yang dirampok dan dilarikan koruptor ke luar negeri mencapai
triliunan rupiah. Di negara, yang tanahnya menyemburkan minyak dan gas,
menyimpan emas, dan pohon-pohon dapat tumbuh tanpa dijaga, namun jumlah
orang miskin semakin banyak, tanpa dapat dicegah.

Negeri rakyat dhuafa ini, orang-orang pintar berlomba mencari posisi
politik agar mendapatkan martabat dan sekaligus kekayaan. Mereka
berbicara
lantang tentang kemiskinan, namun saat bersamaan mereka mendapat
keuntungan.

Di mimbar-mimbar, sebagian tokoh-tokoh agama mengkhotbahkan
kebaikan-kebaikan dan menganjurkan bersedekah, namun saat bersamaan
menolak honor rendah dan lupa bersedekah. Di negeri inilah, Marsudi
--yang
berharap mendapatkan ongkos dari penumpang taksinya, untuk membayar uang
sekolah anaknya-- mendapatkan ajalnya. Lehernya dijerat kawat dan
kemudian
digorok dua perampok, yang mengaku berbuat demikian untuk menyambung
hidupnya.

Marsudi, yang hidup di negeri tanpa tafsir ini, seperti batu kerikil di
atas truk yang sedang melaju. Menggelinding, jatuh, dan dilupakan. Entah
di mana kita di saat-saat seperti ini?


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke