Belum Nikah??? Tidak Mampu Nikah???
"Pernikahan" menjadi sesuatu yang kita sangat kita sakralkan.
Namun karena terlalu sangat, membuat kita menjadi berhati-hati sekali untuk
mengambil keputusan untuk menikah.
Pernikahan itu sendiri sesungguhnya sangat dianjurkan dalam Islam,
sebagaimana perintah Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya :
"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak
akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang
kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."
(QS. An-Nisaa' [4]: 3)
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir." (QS. Ar-Ruum [30]: 21)
Terkadang kita sering membuat pernikahan itu menjadi hal yang sulit bagi kita
untuk dilaksanakan, karena apa?
Seringkali kita berdalih; belum ada yang cocok, hidup belum mapan nanti anak
istri mau dikasih makan apa?, belum punya rumah tinggal sendiri, dsb.
Alasan-alasan yang sebenarnya "terkesan" dibuat-buat.
Ingatlah! sepandai apapun kita tetap saat kita berhitung semisal dalam urusan
pernikahan, tetap saja matematika Allah Azza wa Jalla lah yang akan berjalan.
Wallahua'lam bish-shawab
SUAMI YANG MENCINTAI ISTRI
Suami kepada istri di awal pernikahan demikian mesra bergaul. Kata-katanya
pun diatur sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang primadona.
Setiap benda atau simbol maknawi dikomunikasikan dengan BAHASA LUBUK HATI. Rasa
kasih namanya.
Begitu pula sang istri menanggapi tutur dan sikap kasih suami dengan penuh
sentimentil. Yang berbicara bukan lagi logika tapi LUBUK KALBU. Oh, betapa
indahnya hidup ini. Inilah gambaran hidup sang pengantin baru. Mungkinkah KASIH
SAYANG TERTAMBAT ABADI DALAM LUBUK HATI YANG DALAM?
Bagi pasangan muslim, GAMBARAN CINTA MESRA ADALAH SUATU YANG SAKRAL. Ia perlu
dipertahankan, menutupi ketidaksukaan suami kepada kelemahan istri menjadi
suatu kewajiban nilai. Bukan sekedar ungkapan di bibir. "Dia tidak pernah
mencela suatu makanan, jika dia suka ia makan, dan jika dia benci dia
meninggalkannya" (HR Bukhari Muslim)
Kisah Aisyah dengan Rasulullah menjadi buah ibroh (pelajaran) teladan. Betapa
Rasulullah menjaga cinta kasih dengan Aisyah selama mata belum berkatup. Ketika
kaum Habsyi bermain tombak di masjid, Rasulullah bersikap aduhai mesra. Beliau
mendedahkan kain sebagai hijab berlobang, agar Aisyah bisa menonton pertunjukan
heroik tersebut. Aisyah melihat pertunjukan dari balik leher/tengkuk, agar
sesekali bisa bersentuhan dengan dada Rasulullah.
Kisah lain, betapa Rasulullah bermain mesra. Lomba berlari. Sesekali
Rasulullah berlari dengan lambat tapi pasti mengalahkan Aisyah. Sesekali
beliaupun mengalah demi suka ria Aisyah, demi membahagiakan istri.
Inilah gambaran HIDUP IDEAL DAN NYATA. Rasulullah melaksanakannya dengan
istri-istrinya. Kadang Aisyah pun iri pada sikap Rasul yang membanggakan
Khadijah. Istri pertama beliau ini memberi kehangatan hidup, membela lahir dan
batin, dikala rumah tangga jihad bergelombang. Khadijah lebih banyak mendapat
duka dalam liku-liku pembentukan Qo'idah Ash-Sholbah.
SUAMI QONA'AH (SEDERHANA)
"Tidak ada pada kami kecuali cuka, lalu Rasul minta cuka itu sebagai lauk.
Lalu makanlah beliau berlaukkan cuka", demikian tutur salah seorang istri
Rasul. (HR Muslim)
Rasul selalu qona'ah (tidak neko-neko). Barangkali inilah salah satu
kebanggaan para istri Rasul akan kepribadian beliau. Selain, beliau tampan,
hangat, juga menyejukkan. Tidak ada hati para istri yang gundah gulana
disebabkan tindakan Rasul. Paling-paling sikap cemburu para istri terutama
Aisyah bila ada wanita yang datang kepada beliau. "Jangan-jangan wanita ini
menyerahkan diri untuk diperistri," inilah ungkapan kekhawatiran Aisyah.
"Tidakkah aku menarik perhatian beliau ?", Aisyah berkontemplasi.
Bukan bersoalan itu yang berlaku pada Rasul. Beliau MENIKAHI BANYAK WANITA
BUKAN DEMI NAFSU DUNIAWI, AKAN TETAPI DEMI DAKWAH, JIHAD DAN KELANJUTAN ISLAM.
Memang Aisyah pencemburu berat. Sulit diukur dengan neraca berapa berat
tingkat cemburunya. Tetapi lebih cemburu lagi Rasulullah. Inilah ciri cinta
yang masih melekat dalam dua pribadi sejarah. CEMBURU BUKAN HAL NEGATIF, TAPI
SEBAGAI SUATU YANG INHEREN DALAM CINTA YANG FURQONI. Suami yang mempunyai rasa
cinta kepada istrinya, tidak akan rela melihat istrinya diboyong atau digandeng
oleh laki-laki lain. Jika sang istri ternyata dengan ?suka rela" mau
diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain, maka sang suami akan berkata,
"Saya harus menceraikannya". Inilah cemburu yang hak (yang benar). Kadang suami
harus pergi jauh, lama tidak kembali, baik untuk mencari nafkah, menuntut ilmu
atau menyeru kepada Islam. Dalam kisah kasih suami istri Islami, istri akan
mentsiqahi (percaya) pada amal suaminya. "Suamiku tidak akan menyeleweng dari
Islam", hati kecil istri bicara. Istri pun di rumah menjaga kesucian dirinya.
Ia tak akan menerima tamu di luar muhrim selama kepergian suami. Ia senantiasa
menjaga anak-anak dan mendidiknya dengan pendidikan Islam serta menjaga segala
harta dan wasiat suami. "Suamiku pasti kembali", suara hati sang istri penuh
yakin. "Kalau pun ia tidak kembali ke pangkuan, pasti dia kembali kepada-Nya".
Sang istri yakin betul akan takdir Allah. Ia selalu berprasangka baik kepada
Allah dalam setiap keputusan-Nya yang hadir.
BERLAPANG DADA
Sebagai manusia, kadang-kadang seorang istri hanyut dalam arus kemarahan. Ia
membuat sesuatu yang ganjil. Dengan sebab tertentu ia merubah sikap terhadap
suaminya. Suami merasakan kemarahan tersebut. Lalu, suami menerima dengan
lapang dada. Ia bersabar dan bersikap mulia. PANDANGAN YANG DALAM AKAN HAKEKAT
KEJADIAN WANITA MEMBUAT SUAMI BERTOLERANSI TERHADAP ISTRI, bahwa wanita itu
dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika sang suami memaksa untuk
meluruskannya, maka ia akan patah. Namun jika dibiarkan, maka ia juga akan
tetap bengkok.
Sebagaimana Rasulullah pernah menunjukkan sikap beliau ketika Hafsah istri
beliu berpaling semalaman dari beliau. Umar memarahi Hafsah dengan keras,
karena menganggap anaknya (Hafsah) berani berpaling dari Rasulullah. Umpatan
Umar tersebut disampaikan kepada Rasulullah. Tapi, Rasulullah menanggapinya
dengan senyum simpul. SUAMI TIDAK LAYAK MENAMPILKAN SOSOK DOMINASI, tidak mau
kalah dalam segala hal, kecuali hal-hal yang prinsip. Untuk hal-hal tertentu
suami mau menerima keluhan rasa kesal istri. Suami menanggapinya dengan hati
yang sejuk menantramkan, bukannya malah ikut-ikutan marah.
Suatu ketika, para istri shahabat mengelilingi Rasulullah, mengadukan
persoalan pribadi. Pasalnya suami-suami mereka terlalu kasar (HR Abu Daud,
Nasa'i dan Ibnu Majah) padahal dalam firman Allah :
"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai
mereka (maka bersabarlah). Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (QS 4:19)
Dalil ayat ini menyuruh PARA SUAMI UNTUK MAMPU BERLAPANG DADA, MENERIMA
FITRAH MANUSIAWI WANITA. Rasulullah pernah bersabda :
"Berwasiatlah kamu dengan cara yang baik kepada wanita sebab mereka dijadikan
dari ulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok di
dalam tulang rusuk itu ialah bagian paling atas. Jika anda hendak meluruskannya
secara keras dan paksa niscaya engkau akan patahkan dia dan jika anda
membiarkan dia demikan ia akan senantiasa bengkok. Maka berwasiatlah kamu
dengan baik kepada wanita". (HR Bukhari Muslim)
Suami yang berlapang dada, sabar atau menerima beberapa kelemahan sifat
manusiawi wanita akan menjadi simbol kejayaan. Ia bisa adaptif dengan berbagai
kronik kehidupan keluarga. Ia tahu bagaimana mengatasi dan mengelola konflik
internal dan friksi hubungan sosial dengan istrinya. Ia tahu pula bagaimana
cara menyelami lubuk jiwa istrinya dengan bijak, lembut, cerdik. Kebahagiaan
istri secara psikologi dalam keluarga adalah mendapatkan "rewards" positif
untuk hal-hal yang positif, dan bila SUAMI BERSIKAP KONSISTEN ANTARA UCAPAN DAN
TINDAKANNYA.
PEMIMPIN YANG BAIK
"Kaum lelaki adalah pemimpin (qowwam) bagi wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka". (QS 4:34)
KECERDIKAN DAN SIKAP MENERIMA KEKURANGAN ISTRI, AKAN MENINGKATKAN PAMOR SUAMI
DI HADAPAN ISTRI. Dalam memperbaiki kekurangan itu ia berusalah dengan cara
LEMAH LEMBUT. Kebencian atau yang menyakitkan istri akan timbul, bila istri
dimarahi di khalayak ramai.
Pemimpin yang baik (suami) dalam keluarga adalah KETELADANAN DAN TANGGUNG
JAWAB YANG PENUH AKAN AMANAH YANG DIBERIKAN KEPADANYA.
"Kamu semua adalah pemimpin dan semua pemimpin bertanggung jawab atas semua
kepemimpinannya. Dan setiap penanggung jawah adalah pemimpin, dan lelaki adalah
pemimpin atas kapasitas keahliannya, dan wanita adalah penjaga suami dan
anak-anaknya, maka semua kamu adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas
rakyatnya". (HR Bukhari Muslim)
Jadi ISLAM MENUNTUT KAUM LAKI-LAKI, AGAR BERGAUL IHSAN (BAIK) DENGAN ISTRI,
SEBALIKNYA ISLAM JUGA MENYURUH ISTRI AGAR PATUH DAN TAAT SETIA KEPADA SUAMINYA
DALAM BATAS-BATAS HALAL. Dengan demikian kisah kasih cinta suami istri
senantiasa dalam batas rahmat. Insya Allah akan tetap langgeng. Amin.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Atas permintaan rekan2 semua. kali ini kita bahas tentang fiqih, suatu hari
seorang teman secara iseng bertanya, Onani itu haram apa enggak menurut islam
??,.. hehe.. Saya agak kaget juga gimana ya jawabannya???.Onani? Hmmm...?
Biar gak tambah bingung kita bahas dulu ya onani itu apaan? Oke..?
Onani adalah mengeluarkan mani (sperma) dengan tangan atau dengan alat
lainnya. aktifitas ini biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi ya gak??.
Kita ngerujuk ke pendapat ulama aja ya, supaya jelas dan aman..Kebanyakan ulama
mengharamkannya, misalnya Imam Malik yang mendasarkan pendapatnya pada firman
Allah Swt., "Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap
istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka
dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari di balik itu, mereka
itulah orang-orang yang melampuai batas" (QS Al-Mukminun: 5-7).
Nah, berarti khan, kalau kita melakukan onani, termasuk yang mencari
penyaluran nafsu syahwatnya dengan "mencari yang di balik itu". Jadi hukumnya
haram.
Ada juga yang ngebolehin (ulama Mazhab Hanafi), tapi pake batesan, yaitu
kalau kekhawatiran terjerumus ke dalam zina. Kedua, tidak mampu menikah.
Imam Ahmad punya pendapat hampir sama dengan para ahli fiqih Madzhab
Hambali. Ia mengatakan, dalam kondisi ketika nafsu bergejolak kuat dan ada
kekhawatiran terjerumus ke dalam yang haram, maka onani dibolehkan. Beliau
memberi contoh, anak muda yang belajar atau bekerja jauh di negeri rantau,
sedangkan faktor-faktor pembangkit gairah seksual di hadapannya amat banyak. Ia
sangat khawatir berbuat dosa tapi tidak menjadikan onani sebagai kebiasaan.
Sekarang gimana solusinya? Kita ngikut aja ajarannya Rosul kepada anak muda
yang belum mampu menikah, yaitu agar ia banyak berpuasa. Dengan berpuasa, ia
mendidik kemauan, mengajarkan kesabaran, memperkuat ketaqwaan, dan merasakan
adanya muraqabah (adanya pengawasan) dari Allah dalam dirinya. Beliau
bersabda, "Wahai anak muda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah,
menikahlah. Karena nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat
memelihara kehormatan. Dan siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa.
Karena sesungguhnya puasa adalah perisai baginya" (HR Imam Bukhari).
Nah selanjut nya terserah anda??, khususnya buat yg masih sendirian tapi
buat yg udah merid juga gak apa2?
Wallahu a'lam bissowab....
> >
> >
> > Kita Memang Berbeda, Cinta
> > Pena Kecil Helvy Tiana Rosa
> >
> >
> > "Ayah bunda lucu deh," kata anak kami Faiz, pada suatu hari yang
> > gerimis.
> >
> > Saya mengerutkan kening sambil tersenyum. "Lucu? Lucu apanya sayang?"
> >
> > "Orangnya bertolak belakang! He he he...."
> >
> > Saya tersentak sesaat. Faiz, anak kami yang belum berusia 10 tahun dan
> > suka menulis puisi, "membaca" kami sedalam itu.
> >
> > Saya manggut-manggut. "Hmmm, lalu apanya yang salah?"
> >
> > Dia mengerling menggoda. "Tidak ada. Ayah Bunda pasangan yang unik!"
> >
> > Saya dekatkan wajah saya pada Faiz dan menyentuh lembut hidungnya.
> >
> > "Aku mencatat beberapa contoh. Bunda suka durian, ayah anti durian.
> > Bunda periang, ayah pendiam.
> > Bunda humoris, ayah sangat serius. Hmmm, apalagi ya? Ayah menganalisa,
> > bunda sensitif. Ayah itu detail, bunda tidak.
> > Ayah dan bunda memandang persoalan dengan cara berbeda. Menyelesaikan
> > persoalan dengan berbeda pula!"
> >
> > Saya bengong.
> >
> > "Bunda romantis tapi ayah tidak. Kalau aku romantis!" katanya setengah
> > berbisik, lalu tertawa.
> >
> > Saya tambah bengong! Tahu apa anak itu tentang romantisme?
> >
> > Faiz terus nyerocos. Ia pun bercerita, tentang percakapan disekolah
> > dengan teman-temannya.
> > Anak-anak SD Kelas IV ituternyata sudah berpikir, kelak kalau menikah
> > harus mencari pasangan yang sifatnya sama!
> > "Kalau tidak nanti bisa cerai!"
> >
> > What? Saya garuk-garuk kepala.
> >
> > "Aku saja yang tidak begitu setuju, Bunda. Aku bilang pada teman-teman,
> > justru karena ayah bunda berbeda,
> > jadinya malah asyik lho!"
> >
> > Saya geleng-geleng kepala lagi, sambil mengulum senyum. Ah, tahukah para
> > orangtua mereka bahwa anak-anak mereka kadang tahu lebih banyak dari
> > yang kita pikir?
> >
> > Tak lama Faiz sudah asyik dengan bacaannya di kamar. Di ruang kerja
> > saya, tiba-tiba wajah beberapa teman lama melintas.
> >
> > A memilih bercerai karena setelah menikah 10 tahun dan punya 2 anak
> > kemudian merasa ia dan suami sama sekali tak cocok!
> >
> > B menjalani kehidupan rumah tangganya dengan perasaan hampa karena tak
> > kunjung merasa cocok dengan suaminya,
> > setelah menikah belasan tahun.
> >
> > C selalu berkomunikasi dengan suaminya tentang berbagai hal, tapi
> > terpaksa cekcok hampir setiap
> > hari karena tak kunjung sampai pada sesuatu bernama kesamaan.
> >
> > D tak lagi peduli pada indahnya jalan pernikahan dan sekadar menjaga
> > keutuhan rumah tangga sampai akhir hayat.
> >
> > Di antara mereka ada yang seperti saya, menikah karena dijodohkan
> > sahabat atau ustadz. Ada pula yang menikah setelah melalui pacaran lebih
> > dahulu bertahun-tahun. Dan atas nama "ketidakcocokan" itulah yang
> > terjadi.
> >
> > Saya akui, pengamatan Faiz jeli. Saya dan Mas Tomi memang sangat
> > berbeda. Sebelas tahun kami bersama dan berupaya mencari titik temu. Tak
> > selalu berhasil. "We are the odd couple!" kelakar kami.
> >
> > Tapi alhamdulillah, di tengah-tengah segala perbedaan itu, kami berusaha
> > untuk tak berhenti berkomunikasi.
> > Saya mencoba memilih waktu yang tepat, yang menyenangkan untuk bicara
> > berdua. Begitu juga Mas.
> > Kami membicarakan perbedaan kami di saat dan di tempat yang nyaman dan
> > menyenangkan.
> >
> > Kadang tak semua perlu dibicarakan. Mas menunjukkan dengan sikap apa
> > yang ia inginkan dari saya.
> > Kadang saat saya lelah, tanpa harus terucap kata "saya capek," Mas
> > memijat pundak dan punggung saya. Saya tahu, saya menangkap, Mas akan
> > senang kalau saya perlakukan demikian pula. Saya selalu memberi kejutan
> > di saat milad, ulang tahun pernikahan, di saat ia meraih kesuksesan atau
> > kapan saja saya mau. Mas menyadari, itu artinya saya pun ingin
> > diperhatikan demikian. Ia mencoba, meski sebelumnya tak ada tradisi itu
> > di keluarga Mas. Saya membuatkannya puisi saat Mas kerap memberi saya
> > data statistik keuangan kami. Mas tahu, saya ingin sesekali diberi puisi
> > sederhana tentang cinta.
> > Saya pun menyadari, Mas ingin saya bisa mencatat semua pemasukan dan
> > pengeluaran rumah tangga dengan rapi.
> > Mas suka makanan tertentu. Dan meski tak suka, saya coba memasaknya.
> > Saya membelikan Mas pakaian yang sedikit modis.
> > Mas nyengir, tapi ia coba memakainya.
> >
> > Berupaya untuk memahami dan mengecilkan perbedaan menjadi indah, ketika
> > itu dilakukan dengan senyum dan ketulusan,
> > bukan karena tuntutan atau paksaan terhadap pasangan. Dan kalau dengan
> > berubah kita lantas menjadi lebih baik,
> > kalau berubah itu dalam rangka ibadah, dalam rangka membuat pasangan
> > kita bahagia, mengapa tidak?
> > Kalaupun pasangan kita tidak juga berubah dari karakter semula setelah
> > bertahun-tahun,
> > mengapa kita tak melihat hal itu sebagai keunikan yang makin membuat
> > kita "kaya"?
> >
> > Di atas itu semua, sebenarnya semua perbedaan bisa saja seolah lebur
> > saat suami istri menyadari persamaan utama mereka, yaitu keinginan
> > menjadi abdi illahi sejati! Cinta karena dan untukNya, menjadikan sifat
> > dan karakter yang paling berbeda sekalipun, bersimpuh atas namaNya.
> > Perbedaan justru menjadi masalah serius ketika masing-masing pribadi
> > memang tidak menempatkan ridho Allah sebagai tujuan utama dalam biduk
> > rumah tangga mereka.
> >
> > Di luar, hujan mulai reda. Sayup-sayup saya dengar suara Faiz di telpon.
> >
> > Rupanya ia sedang bercakap dengan salah satu temannya. "Apa? Ayah
> > bundamu bertengkar?
> > Sudah, jangan menangis. Cinta yang besar kepada Allah,
> > akan selalu menyatukan mereka!"
> >
> > Saya nyengir. Sejak kapan anak itu menjadi konsultan ya?
>
> >
> >
> >
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************