Kamis, 14 Desember 2006

Kenapa Doa tak Terkabul? 

Oleh : Waluyo Basuki 



Suatu ketika negeri Basrah mengalami semacam krisis multidimensi yang
berkepanjangan, sehingga membuat keresahan di kalangan masyarakat. Mereka
telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki keadaan, termasuk melalui
pendekatan spiritual dengan melakukan doa istighotsah. Namun, segala upaya
tidak mencapai hasil sesuai yang diharapkan. 

Kemudian, mereka menyampaikan keluhannya kepada seorang ulama besar (setara
kiai di tempat kita) yang bernama Ibrahim Ibn 'Adham, ''Wahai Pak Kiai,
mengapa kondisi kita tak juga berubah. Bukankah Allah telah berjanji akan
mengabulkan doa orang yang memohonnya?'' 

Menurut Ibn 'Adham ada 10 hal yang dapat menyebabkan doa tidak terkabul,
salah satu di antaranya adalah banyak memakan nikmat Tuhanmu, akan tetapi
tidak mensyukurinya. Pernyataan ini sejalan dengan peringatan Allah dalam
surat Ibrahim (14) ayat 7, ''... sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'' 

Masalah yang dihadapi masyarakat Basra di atas, secara kebetulan mirip
dengan yang sedang kita alami dewasa ini. Pertanyaannya adalah, apakah kita
tergolong dalam 10 kategori orang-orang yang tidak dikabulkan doanya seperti
yang disebutkan oleh Ibn 'Adham? Atau lebih spesifik lagi, apakah kita
tergolong orang yang tidak menyukuri nikmat Allah?

Rasa syukur tentu tidak cukup diungkapkan dengan ucapan 'alhamdulillah'
saja, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari. 

Salah satu bentuk ungkapan rasa syukur yang paling utama dan mendasar adalah
selalu mengingat kebesaran Allah, melaksanakan segala perintah-Nya, dan
meninggalkan segala larangan-Nya. Itu yang dalam bentuk perbuatan. 

Sedangkan yang dalam bentuk sikap adalah ikhlas ketika menerima segala
cobaan namun tidak kikir dan sombong ketika mendapatkan kebaikan. Ikhlas
ketika berada di bawah, tidak sombong ketika berada di atas karena hanya
Allah saja yang berhak sombong.

Jangan bersikap seperti yang disebutkan Allah dalam QS Al Ma'arij (70) ayat
19-21, ''Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Dan apabila dia
mendapat kebaikan di amat kikir.'' 

Barangkali ada baiknya kita merenung sejenak. Apakah selama ini kita sudah
menunjukkan rasa syukur baik dalam konteks sebagai orang per orang maupun
sebagai bangsa yang telah dilimpahi karunia dan nikmat yang demikian
berlimpah? Wallahu a'lam bish-shawab

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke