From: Bayu Gautama
Sent: Friday, December 15, 2006 1:16 PM
Subject: Menemani Malam Demi Sepuluh Ribu

Motor yang saya tumpangi merambat pelan di tepi jalan Pasar Ciputat,
Tangerang, Banten. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam ketika
sorot lampu motor saya menembak seraut wajah mematung berdiri hanya
beberapa
meter di depan. Matanya terpejam, padahal ia dalam keadaan berdiri,
sementara di pundaknya menyangkut sehelai tali yang tersambung ke sebuah
kotak seukuran kardus air mineral.
Yanto nama pemuda itu, ia salah satu dari belasan penjual rokok ketengan di
Pasar Ciputat. Beberapa detik kemudian, tak sengaja jari tangan kiri ini
menekan klakson motor, dan... Yanto pun terkaget. Saya merasa bersalah
telah
membangunkannya dari 'mimpi'. Boleh jadi, saat tertidur dalam keadaan
berdiri itu ia tengah bermimpi melayani serbuan pembeli rokok hingga barang
dagangannya malam itu habis terjual. Atau bahkan, ia sedang menikmati
indahnya menjadi juragan rokok di kampungnya. Tetapi bunyi klakson saya
barusan membuyarkan mimpi indahnya.
"Maaf mas,…" Saya jadi kikuk sendirian merasa bersalah telah
mengagetkannya.
Akhirnya saya menghampirinya untuk membeli beberapa butir permen. "Rokoknya
nggak mas?" tanya Yanto berharap. Saya harus meminta maaf untuk kedua kali
lantaran memupuskan harapannya, lantaran saya tidak merokok. "Kalau permen
untungnya kecil pak, lagi pula permen ya cuma pelengkap saja. Siapa tahu
ketemu pelanggan seperti bapak yang tidak merokok," jelasnya.
Saya tertarik dengan keterangannya tentang 'untung yang kecil' dari jualan
permen. Tapi bukan untung permen yang saya tanya, melainkan untung dari
jualan rokoknya. "Seribu, paling besar seribu lima ratus untuk sebungkus
rokok," terangnya. Padahal, sering terlihat para pedagang rokok ketengan
itu
menjual rokoknya tidak bungkusan, melainkan ketengan lantaran pembeli rokok
mereka pun bukan dari kalangan menengah ke atas. Pelanggannya biasanya
membeli rokok satu atau dua batang saja, dan tak jarang untuk meladeni
pembeli dua batang rokok itu harus sambil berlari mengejar angkot atau bis
yang melaju.
Pernah satu kali saya melihat seorang pedagang rokok terjatuh saat mengejar
angkutan umum, padahal ia hanya melayani seorang pelanggan yang hanya
membeli sebatang rokok. Berapa sih untungnya? Kalau sebungkus rokok isi 24
hanya seribu rupiah, berapa untung dari sebatang rokok? Itu harus dibayar
mahal tatkala ia tersungkur di jalan raya, hingga semua rokok dagangannya
berantakan. Sebagian masih diselamatkan, tapi jauh lebih banyak yang patah
dan tak bisa terjual lagi.
Yanto, seorang pedagang rokok ketengan di pinggir jalan kecewa karena saya
hanya membeli permen lantaran untung yang didapat dari menjual permen itu
kecil. Jika demikian asumsinya menjual rokok itu untungnya besar. Tetapi
nyatanya, 'besar' yang dimaksud hanyalah seribu atau seribu lima ratus
rupiah untuk sebungkus rokok?
"Berapa bungkus rokok terjual setiap malam?"
Yanto sumringah, senyumnya tak menampakkan satu pun masalah dengan jumlah
rokok yang berhasil dijualnya setiap malam. "Alhamdulillah pak, sekitar
sepuluh sampai lima belas bungkus", kembali ia menutup kalimatnya dengan
senyum.
Seketika hati ini berteriak keras, "Hey, dia begitu bahagia!", padahal
hanya
sekitar sepuluh ribu atau dua puluh ribu yang dibawanya pulang untuk makan
anak dan isterinya. Tetapi aura kesyukuran atas rezeki yang didapatkan hari
itu yang membuatnya tetap tersenyum. Bandingkan dengan kita, kadang masih
terkecut setiap kali menerima transferan gaji di rekening dan berujar,
"Gaji
segini, mana cukup?"
Yanto dan belasan pedagang rokok ketengan lainnya, setia menemani malam
hingga pagi menjelang, hanya untuk mendapatkan sepuluh ribu rupiah. Namun
wajah dan senyumnya menyiratkan rasa syukur yang tak bertepi atas nikmat
dan
rezeki yang masih bisa didapatnya. Ternyata benar, kebahagiaan tak mengenal
status. Sebab kebahagiaan bukan terletak pada apa yang dimiliki seseorang,
melainkan tertanam jauh di dalam hati orang-orang yang senantiasa bersyukur
atas yang diperolehnya.
Gaw

__,_._,___
--
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke