Kamis, 04 Januari 2007

Perjanjian Primordial 





Dalam bahasa Arab, perkataan aqidah berasal dari kata 'aqd yang secara
harfiah berarti sesuatu yang mengikat. Janji, sumpah setia, dan berbagai
bentuk transaksi lainnya dinamai 'aqd (akad), karena ia mengikat setiap
pihak yang terlibat di dalamnya. Iman yang kuat kepada Allah SWT, tanpa ada
sedikit pun keraguan di dalamnya dinamai aqidah, karena ia mengikat hati
orang yang beriman dan harus ditepati sepanjang hayatnya.

Dalam Alquran disebutkan setiap manusia menyatakan janji dan komitmen untuk
senantiasa menuhankan Allah SWT dan menyembah hanya kepada-Nya. Tatkala
Allah SWT bertanya kepada, ''Bukankan Aku ini Tuhanmu?'' Mereka menjawab,
''Betul (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan ini)
agar di hari kiamat nanti kami tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).'' (QS
Al-A'raf [7]: 172).

Menurut mahaguru tafsir, Ibnu Katsir, iman dan syahadah seperti disebut
dalam ayat di atas, adalah iman dalam bentuk fitrah yang merupakan
kecenderungan atau watak dasar manusia. (QS Ar-Rum [30]: 30). Itu sebabnya
sebagian pakar menyebut iman dan syahadah semacam ini sebagai 'perjanjian
primordial' yang intrinsik dan inheren menyertai setiap kelahiran anak
manusia.

Namun, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih, setelah manusia mendapat
pengaruh dari keluarga dan lingkungan sosialnya, ia bisa berubah dari
fitrahnya dan tumbuh menjadi orang kafir sebagai Yahudi, Nasrani, atau
Majusi. Kepada orang-orang yang menyimpang dari fitrahnya ini, Allah SWT
menegur dan mengingatkan kembali janji primordialnya yang dahulu pernah
dideklarasikan. ''Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam
supaya kamu tidak menyembah setan.'' (QS Yasin [36]: 60).

Teguran Allah SWT dalam ayat di atas sungguh penting, agar kita tidak lalai
dan lupa kepada-Nya. Manusia modern, tulis Profesor Sayyid Husain Nashr,
berada di pinggiran, jauh dari 'centrum' pusat kehidupan, yaitu Allah SWT.
Dikatakan, hubungan mereka dengan Allah SWT begitu jauh, bahkan hampir
terputus sama sekali. Tak heran bila mereka banyak mengidap penyakit
'kehampaan spiritual' akibat terputus dari asalnya dan lupa terhadap janji
primordialnya.

Diakui, di satu sisi Allah SWT sebagai asal dan sumber kehidupan bersifat
transendent, yaitu Mahatinggi (ta'ala), sehingga tak ada sesuatu pun serupa
atau menyerupai-Nya. Namun, di sisi lain, Allah SWT bersifat sangat inmanen,
yaitu Mahadekat (qarib) dan Mahahadir (omni-present). (QS Al-Baqarah [2]:
186).

(A Ilyas Ismail ) 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke