"Hati-Hati dengan Dosa Syirik!" 
Senin, 08 Januari 2007 
Umat Islam diperintahkan bermuamalah, termasuk agama lain. Tetapi,
diperintahkan menjauhi dosa syirik. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian
Husaini ke-177 

Oleh: Adian Husaini 



Beberapa hari lalu, melalui dua orang menteri kabinetnya, saya mengirim
pesan singkat kepada Presiden SBY: “Ada dua dosa yang cepat mendatangkan
azab Allah SWT, yaitu dosa syirik dan meninggalkan amar makruf nahi
munkar.” 

Semoga pesan itu sampai kepada Presiden SBY. Masalah tauhid dan dosa
syirik, seperti kita sebutkan pada catatan yang lalu, merupakan masalah
yang paling serius dalam kehidupan manusia. Syirik adalah kezaliman yang
sangat besar, karena manusia yang diciptakan Allah, diberi rizki oleh
Allah, diberi kehidupan oleh Allah, kemudian justru tidak tahu
berterimakasih dan membuat sekutu yang lain bagi Allah. 

Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan sebuah doa untuk terhindar dari
dosa syirik: “Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari
perbuatan menyekutukan Engkau dengan sesuatu, sedangkan aku mengetahui
hal itu. Dan aku meminta perlindungan kepada Engkau dari tindakan
menyekutukan-Mu dengan sesuatu dan aku tidak tahu.” (Allahumma inni
a’udzubika min an usyrika bika syaian wa ana a’lamu; wa a’udzubika min
an usyrika bika syaian wa ana laa a’lamu). 

Dalam buku berjudul Kemusyrikan Menurut Madzhab Syafii karya Dr.
Muhammad Abdurrahman al-Khumais (diterjemahkan oleh Prof. Ali Musthafa
Ya’qub) disebutkan sejumlah definisi syirik menurut sejumlah ulama
mazhab Syafii. 

Menurut al-Raghib al-Asfahani, “Syirik yang dilakukan manusia dalam
agama itu ada dua macam. Pertama, syirik besar, yaitu menetapkan adanya
sekutu bagi Allah, dan ini merupakan kekafiran yang terbesar. Kedua,
adalah syirik yang samar (tidak jelas) dan kemunafikan.” 

Al-allamah Ali as-Suwaidi al-Syafii berkata: “Ketahuilah, bahwa syirik
itu adalah terjadi di Rububiyah, dan adakalanya terjadi di Uluhiyyah.
Yang kedua ini dapat terjadi di dalam I’tiqad (keyakinan), dan juga
dapat terjadi di dalam mu’amalat khusus dengan Allah.” 

Imam Ahmad bin Hajar Ali Buthami al-Syafii mengingatkan bahwa iman itu
bercabang-cabang, demikian juga dengan kekafiran dan kemusyrikan.
Apabila orang menjalankan cabang-cabang iman tetapi juga menjalankan
cabang-cabang kemusyrikan, maka ia disebut musyrik. Iman seseorang tidak
akan diterima oleh Allah apabila hanya separuh-separuh; separuh iman,
separuh kafir. Ia wajib tunduk seraya meyakini terhadap apa yang
disebutkan oleh Al-Quran dan dibawa oleh Rasulullah saw, serta
mengamalkannya. Orang yang beriman kepada sebagian ajaran Al-Quran dan
tidak beriman kepadasebagian yang lain, maka dia termasuk kafir. Allah
memperingatkan tentang orang-orang seperti ini: 

“Orang-orang kafir itu mengatakan: “Kami beriman kepada sebagian dan
kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan
perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman
dan kafir). (QS An-Nisa : 150). 
Menurut Imam Ahmad bin Hajar, mengucapkan dua kalimat syahadat saja
tidak akan ada gunanya bagi mereka, sampai mereka mau mengamalkan isi
maksud dari dua kalimah syahadat, yaitu melepaskan diri dari menyembah
selain Allah dan hanya beribadah kepada Allah saja. Namun, beliau
mengingatkan, agar tidak terburu-buru menuduh seseorang yang melakukan
tindakan syirik sebagai kafir atau musyrik, sebelum menjelaskan kepada
mereka tentang kekeliruan mereka tersebut. Barangkali mereka tidak
memahami masalah tersebut karena kebodohannya. Apabila sudah dijelaskan
tentang masalah syirik, tetapi tetap menjalankannya, maka barulah
diperbolehkan menyebut mereka sebagai musyrik. 

Peringatan Rasulullah saw dan para ulama tentang kemusyrikan ini sangat
perlu kita camkan benar-benar, demi keselamatan keimanan kita
masing-masing. Jangan sampai kita terjebak ke dalam dosa syirik, baik
yang kita ketahui atau yang tidak ketahui, sebagaimana doa yang
diajarkan Rasulullah saw. Sebab, syirik adalah dosa yang tidak diampuni
oleh Allah, kecuali orang itu benar-benar meninggalkan dosa syirik
tersebut. Allah memperingatkan kita semua: “Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka pasti Allah akan
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidak ada
orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS al-Maidah: 72). 

QS al-Maidah ayat 72 ini diawali dengan penegasan Allah SWT: “Sungguh
telah kafirlah orang-orang yang menyatakan bahwa Allah ialah al-Masih
Ibnu Maryam, padahal al-Masih sendiri berkata: Hai Bani Israil,
sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” 

Pandangan Tauhid Islam ini sangat jelas, yakni tidak menjadikan manusia
mana pun – termasuk Adam atau Isa a.s.– sebagai Tuhan atau anak Tuhan.
Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah SWT untuk meluruskan pandangan dan
kepercayaan kaum Nasrani tersebut. Doktrin trinitas yang mengakui
Ketuhanan Yesus secara resmi diformulasikan dalam Konsili Nicea tahun
325 M. Bahkan, dalam konsili ini, pandangan Arius yang menyatakan bahwa
Tuhan anak tidak sehakekat dengan Tuhan Bapak, ditolak oleh mayoritas
peserta Konsili. Bahkan, dalam dekrit Nicea tersebut, Arius secara resmi
dikutuk oleh Gereja. Konsili menerima pandangan Athanasius yang
menyatakan bahwa Tuhan anak sehakekat (homoousios) dengan Tuhan Bapak. 

Posisi Al-Quran memang sangat berbeda dengan Bibel. Sebagai kitab yang
diturunkan Allah kepada Nabi terakhir, Al-Quran memberikan kritik-kritik
yang tegas dan jelas terhadap kepercayaan Yahudi dan Kristen. Posisi ini
tentu tidak bisa sebaliknya. Karena Bible ditulis dan dirumuskan sebelum
kedatangan Islam. Ibnu Taymiyah menyebut kaum Yahudi dan Kristen (Ahlul
Kitab) sebagai kaum musyrik bil-fi’li, tetapi bukan musyrik bil-ismi.
Dalam pandangan Islam, mereka disebut kafir ahlul kitab. 

Jadi, dalam masalah keimanan, memang terdapat pandangan dan keyakinan
yang sangat berbeda antara Islam dan Kristen. Sejak lahirnya Islam,
masalah ini sudah sering diperdebatkan. Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri
beberapa kali melakukan perdebatan dengan kaum Nasrani. Karena tidak
mencapai titik temu, maka Nabi Muhammad saw diperintahkan agar mengajak
kaum Nasrani untuk melakukan mubahalah (sumpah laknat), sebagaimana
diceritakan dalam Surat Ali Imran ayat 61: 

"Barangsiapa membantah engkau tentang (kisah Isa a.s.) itu, sesudah
datang kepada mereka ilmu (yang meyakinkan), maka katakanlah (kepada
mereka): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu,
istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian
marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat
Allah dijatuhkan kepada orang-orang yang dusta." 
Soal perbebadaan keyakinan antara Islam dan Kristen ini haruslah diakui.
Bahkan diantara kaum Nasrani sendiri terjadi perbedaan yang sangat tajam
sehingga mereka membentuk sejumlah agama, seperti Katolik, Protestan,
Anglikan, atau Ortodoks. Tiap-tiap agama ada keyakinan masing-masing,
yang tidak sama satu dengan lainnya, bahkan saling bertentangan. Seperti
keyakinan umat Islam dan umat Kristen tentang posisi Nabi Isa a.s. 

Dalam pernyataan Natal bersama antara Konferensi Wali-wali Gereja
Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), tahun
2006, dinyatakan: “Kelahiran Yesus mendatangkan sukacita besar. Sukacita
itu melekat dalam diri setiap orang beriman yang mampu menghayati
hakikat dan makna kelahiran Yesus. Ia lahir sebagai manusia, menjadi
senasib dengan manusia, dan terbuka menyambut semua orang yang datang
kepada-Nya. Ia hadir di dunia untuk mewujudkan kasih Allah kepada
manusia (1Yoh. 4:9). 

Kasih Allah itu berpuncak pada kayu salib ketika Yesus menyerahkan nyawa
untuk menanggung dosa seluruh umat manusia.” Selanjutnya dinyatakan:
“Dalam hubungan dengan sesama baiklah kita memandang setiap orang dalam
iman kepada Kristus. Dengan menyadari bahwa darah Kristus juga tercurah
untuk mereka, maka setiap orang yang mengaku diri sebagai pengikut dan
murid Kristus akan mengasihi orang itu, walaupun dalam kenyataannyaorang
itu bersikap seperti musuh.” 

Umat Islam tidak pernah menerima kepercayaan bahwa Nabi Isa a.s. mati di
tiang salib, karena Al-Quran sudah menegaskan, “Mereka tidak membunuh
Nabi Isa dan mereka tidak menyalibnya, melainkan seseorang yang
diserupakan kepada mereka.” (QS an-Nisa: 157). 

Perbedaan yang mendasar ini harus diakui. Dan Konsili Vatikan II
(1962-1965) juga menyatakan penghormatannya terhadap keyakinan umat
Islam terhadap Nabi Isa a.s. 

Dikatakan, meskipun umat Islam tidak mengakui ketuhanan Yesus, tetapi
menghormatinya sebagai Nabi. Umat Islam juga menghormati keyakinan kaum
Kristen tersebut, meskipun tentunya sangat berbeda secara mendasar
dengan keyakinan umat Islam sendiri. Karena itu, tidaklah masuk akal ada
yang menyatakan, bahwa semua agama adalah benar. 

Pernyataan semacam ini jelas-jelas membenarkan pandangan yang oleh
Al-Quran sudah dinyatakan sebagai pandangan kufur atau syirik. 

Banyak yang sekarang ini mencoba mengecilkan masalah iman dan
kemusyrikan. Ada yang menulis dalam bukunya, bahwa Thomas Alfa Edison
akan masuk sorga karena sudah berjasa bagi umat manusia dengan menemukan
lampu. Padahal, urusan sorga atau neraka adalah urusan Allah. Islam
tidak berbicara kepada perorangan Yahudi atau Kristen, tetapi memberikan
kritik-kritik dan koreksi terhadap kepercayaan mereka. Kita tidak tahu,
apakah Edison benar-benar orang baik. Kita tidak tahu persis perbuatan
dia yang lain sepanjang hidupnya, selain penemuan lampu. Kita juga tidak
tahu, apakah Edison pernah menerima risalah Nabi Muhammad saw secara
benar, atau tidak pernah. Jika kriteria masuk sorga adalah karena
menemukan lampu, maka kriteria itu adalah bikinan si penulis buku
tersebut. Mungkin maksudnya sorga milik kakeknya sendiri. 

Umat Islam diperintahkan untuk menghormati dan bermuamalah dengan baik
terhadap sesama manusia, termasuk dengan pemeluk agama lain, selama
mereka tidak menyerang umat Islam. Tetapi, umat Islam juga diperintahkan
agar menjauhi dosa-dosa syirik. Karena itulah, kita perlu pandai-pandai
meniti buih, agar selamat sampai ke seberang. Jangan sampai karena ingin
dipuji sebagai orang yang toleran, akhirnya justru mengorbankan
prinsip-prinsip keimanan. Mencampuradukkan keimanan atau ritual antar
agama adalah tindakan yang berbahaya dari segi keimanan. 

Tidak semestinya, hal ini dilakukan oleh umat Islam. Dalam perspektif
inilah, mestinya fatwa MUI tahun 1981 yang mengharamkan perayaan Natal
Bersama perlu diapresiasi. Fatwa ini bukan untuk merusak toleransi
beragama, tetapi merupakan satu upaya para ulama untuk melindungi aqidah
Islam dari kekufuran dan kemusyrikan, dalam pandangan Islam. 

Fatwa ini sama sekali tidak mengharamkan umat Islam untuk bergaul atau
bermasyarakat dengan kaum non-Muslim. Dan hal semacam itu tidak ada
dalam kamus Islam. Islam adalah agama yang sejak awal sudah mengakui dan
menghargai perbedaan. Seorang anak yang Muslim tetap diperintahkan
berbuat baik kepada orang tuanya, meskipun berbeda agama. Tetapi, jangan
sekali-kali bermain-main dalam masalah keimanan dan kemusyrikan. 

Sebab, pertaruhannya sangatlah mahal. Karena itu, sekali lagi, kita
patut berhati-hati jangan sampai terjatuh ke dalam kemusyrikan.
Peringatan Allah sangatlah jelas: bahwa Allah sangat murka jika
diserikatkan dengan yang lain. Dalam suasana bencana dan musibah yang
tiada henti sekarang ini, kaum Muslim, khususnya para pemimpin negara
ini, patut merenungkan dengan mendalam masalah kemusyrikan ini. Jangan
hanya sibuk mengandalkan ilmu geologi, meteorologi dan geofisika.
Semuanya tidak mungkin terjadi kecuali dengan izin dan kekuasaan Allah
SWT. Allah berkuasa menghentikan gempa, menghentikan lumpur panas,
menenangkan gelombang lautan, dan memindahkan turunnya hujan. 

Sekali lagi, kita mengimbau para pemimpin kita: Jangan bermain-main
dengan dosa syirik! Tugas dan kewajiban kita hanyalah menyampaikan
nasehat. Selanjutnya, terserah kepada mereka. [Depok, 5 Januari
2006/www.hidayatullah.com] 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke