SM/Hasan Hamid BERBAGI KISAH:Salah seorang korban tenggelamnya KM Senopati 
Nusantara, Muzayin (kanan), berbagi kisah kepada para tetangga di rumahnya.(30) 

Beribu kisah pilu dan haru terekam dalam tragedi tenggelamnya KM Senopati 
Nusantara. Kisah-kisah itu pun menjadi pembicaraan hangat di masyarakat, 
apalagi masing-masing memiliki gambaran tersendiri. Seperti adanya bantuan ikan 
lumba-lumba yang ikut menyelamatkan mereka. Berikut kisahnya.
DI dalam rumah berukuran 8 meter x 14 meter di Dukuh Mlaten, Desa Mlaten, 
Mijen, Demak masih terlihat warga yang bertamu. Rumah Muzayin (42), salah satu 
korban KM Senopati yang selamat, seakan tidak pernah sepi. 
Sebagian yang datang langsung memeluknya sebagai pertanda haru bercampur 
gembira melihat tetangganya selamat dari tragedi maut. 
Selain menyampaikan rasa haru, mereka dengan seksama mendengarkan kisah 
perjuangan korban selama lima hari terapung di laut bersama 14 korban lainnya. 
"Kalau diminta bercerita detail, mungkin tidak selesai dalam waktu sehari, 
karena saya terapung selama lima hari hingga terdampar di Madura," kata Muzayin 
mengawali pembicaraan. 
Pria berusia 42 tahun ini didampingi istrinya, Sri (35) dan anaknya. 
Berulang-ulang ia mengucapkan syukur, karena selamat dari bencana bertaruh 
nyawa yang dialami bersama ratusan penumpang kapal tersebut. 
Kaki kanannya terluka bekas benturan dan tampak hitam gosong. Kendati masih 
terasa sakit, dia mengaku harus mengacuhkan. Saat berjalan, tetap mencoba 
tegar. "Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan di tengah laut," 
ujarnya.
Dia menuturkan, sore hari sebelum kapal berpenumpang 600 jiwa lebih itu 
tenggelam, banyak yang berebut pelampung. Maklum, jumlah pelampung tidak 
sebanyak penumpang. 
Pada tengah malam, banyak penumpang yang tertidur. Mereka seakan tidak 
merasakan goyangan kapal yang terjadi akibat terhantam ombak besar.
Namun, tidak sedikit pula penumpang yang panik dan bersiap-siap menyelamatkan 
diri jika sewaktu-waktu kapal tenggelam. Ternyata benar. Dalam hitungan detik, 
setelah kapal besar itu miring, KM Senopati Nusantara tenggelam. 
Teriakan histeris bagai menyayat malam. Mereka yang berada di luar ruang induk 
secara beruntun terjun ke laut. Karena banyaknya orang yang terjun, beberapa di 
antara mereka saling berbenturan. "Kepala saya juga terkena tubuh korban yang 
terjun secara beruntun," ujarnya.
Malam yang masih gelap semakin membuat suasana tegang. Apalagi, ombak besar 
terus mengombang-ambingkan mereka di tengah laut. Pria yang sudah lima tahun 
bekerja di Kalimantan Tengah (Kalteng) ini tergolong beruntung. Ia bersama 14 
teman lainnya mendapatkan sekoci karet.
Tak berapa lama sekoci telah menjauh dari lokasi tenggelamnya kapal. Muzayin 
mengaku tidak tahu nasib teman lainnya. Yang ia tahu hanya mereka yang berada 
di sekoci.
Pagi harinya, sekoci sudah berada di tengah laut dan pandangan mata tidak 
melihat korban lainnya. Di perahu karet itu ia mengenali seorang korban lain 
yang masih tetangga desanya, yakni Basyir, warga Desa Bremi, Kecamatan Mijen. 
Saat sedang berpikir mencari jalan ke pantai, tiba-tiba berdatangan puluhan 
ikan lumba-lumba yang mendorong sekoci. 
"Dari bawah kami merasakan sundulan mereka yang mendorong sekoci. Mungkin 
disundul ke arah daratan, akan tetapi saat itu kami semua tidak menyadari," 
tuturnya.
Beberapa waktu kemudian sebagian ikan tersebut berada di air depan sekoci dan 
seakan memberi tahu bahwa sudah dekat dengan mercusuar. Mereka melompat-lompat 
di perairan dengan mengeluarkan suara yang khas. "Tetapi, sekali lagi kami 
tidak memahami maksud ikan-ikan itu dan tetap cuek," katanya.
Para korban lantas menyepakati menyobek atap sekoci untuk dijadikan layar agar 
dapat mengikuti arah angin hingga ke darat. Perahu darurat itu pun langsung 
bergerak cepat terdorong angin. Ikan lumba-lumba masih terus mengejar. Setiap 
malam ikan itu mendorong perahu mendekat ke pantai. Ketika pagi hari pandangan 
melihat kepulauan, mereka langsung mengayuh dengan tangan secara bersama-sama. 
Akan tetapi, saat mau mendekat pantai, gelombang besar datang mendorong hingga 
kembali ke tengah laut. 
Ikan lumba-lumba masih berusaha menolong sampai hari ketiga. Pada hari keempat, 
diperkirakan masuk perairan Surabaya, ikan penolong itu tak lagi terlihat. 
Tentang Burung
Yang ada burung tetenger yang bentuknya mirip lumba-lumba. Anehnya, burung itu 
selalu terbang pendek di atas sekoci. Bahkan, sempat beberapa kali mendarat di 
sekoci.
"Saya juga sempat memegang burung itu. Sama sekali tidak liar. Semula ada yang 
mengusulkan untuk dimakan, tetapi lebih banyak yang keberatan dengan alasan 
burung itu sebagai penolong."
Burung unik yang baru mereka lihat itu kemudian pergi ketika sekoci terbalik 
oleh ombak besar. Semua penumpang terjatuh. Saat itu mereka baru menyadari 
sudah sampai daratan setelah kaki mereka menyentuh batu karang. 
"Jarak sampai ke tepi pantai memang masih jauh. Kami berjalan kaki dengan alas 
batu karang sekitar 30 menit."
Sesampai di tepi pantai Pulau Kangian, Madura, mereka bersama-sama mencari 
kelapa dengan memanjat pohon, namun belum berhasil. Ada perahu nelayan yang 
mendekat. Setelah diberitahu, mereka langsung diajak ke perkampungan.
Hampir semua korban menangis, karena sambutan warga luar biasa, layaknya 
menyambut pahlawan usai bertempur. 
Warga yang memberikan uang, dalam waktu seketika terkumpul Rp 3,5 juta. Uang 
itu digunakan untuk membeli sabun, pasta gigi, dan lainnya. 
"Baju pantas pakai terkumpul sampai satu mobil pikap dan makanan tidak 
kekurangan," cerita Muzayin yang tak menyadari air matanya membasahi pipi.
Sebelum ke Surabaya, masing-masing korban diberi uang jalan Rp 100.000 oleh 
pengurus NU. Di Surabaya mereka dirawat di RSU setempat. 
Ketika beranjak pulang, mereka diberi uang transpor oleh Bupati Pangkalan Bun 
sebesar Rp 500.000/orang.
Ia kagum dengan respons Pemkab Pangkalan Bun yang memberi perhatian seperti 
itu. Bahkan, warganya yang jadi korban langsung dijemput dan dipulangkan dengan 
fasilitas tiket pesawat terbang. Ia menyayangkan kelambanan tim SAR hingga 
mereka sampai terdampar ke Pulau Madura. 
"Saya pulang sendiri bersama Basyir, warga Bremi yang dijemput keluarganya." 
(Hasan Hamid-37) 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke