KH Yusuf Hasyim Meninggal Dunia
Surabaya, CyberNews. Inna lillahi wainna ilaihi raaji'un. KH Yusuf Hasyim, anak
bungsu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari, Minggu (14/1) malam sekitar pukul 18.45
meninggal dunia di RSUD Dr Soetomo.Sejak 11 hari lalu, pimpinan Pondok Tebuireng Jombang ini menjalani perawatan di RS terbesar di Indonesia timur tersebut. Selama 4 hari pertama di RS itu, Pak Ud menjalani perawatan di kamar 628 Graha Amerta RSUD Dr Soetomo. Tapi, setelah itu almarhum dipindahkan ke ruang ICU di lantai II Gedung Bedah Pusat Terpadu RS Dr Soetomo. "Sejak dua hari terakhir kondisinya makin drop," ujar dokter Hendrian, Humas Graha Amerta RS Dr Soetomo kepada wartawan, Minggu malam. Selama 11 hari menjalani perawatan di RS Dr Soetomo, Prof Dr dr Rochmat Romdhoni yang menangani perawatan Pak Ud. Mantan politikus PPP dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU) itu mengalami penyakit paruy-paru. Prof Rochmat Romdhoni kepada wartawan, menyatakan, Pak Ud meninggal akibat penyakit paru-paru yang diidapnya. "Beliau mengalami radang paru-paru (accut respiratiry distres syndrom/gagal nafas akut akibat radang paru-paru) yang dideritanya," katanya. Prof Rochmat menambahkan, kondisi kesehatan Pak Ud makin memburuk sejak dua hari lalu. Radang paru-paru yang diidapnya telah menyebar ke sebagian anggota tubuhnya. Sejumlah tokoh penting di Jatim maupun nasional membesuk Pak Ud sebelum meninggal dunia. Misalnya, pada hari Sabtu (13/1) Wakil Presiden M Jusuf Kalla membesuk paman Gus Dur ini di ruang ICU lantai GBPT RS Dr Soetomo. Hari Minggu malam itu juga jenazah Pak Ud dibawa ke Jombang, di komplek Pondok Tebuireng Jombang. Beberapa kerabat Pak Ud berada di Graha Amerta sebelum jenazah dibawa dengan ambulans ke Jombang. Kematian Pak Ud adalah berita duka mendalam bagi keluarga besar NU secara nasional. Sebab, Pak Ud adalah anak bungsu pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari. Selain dikenal sebagai tokoh NU yang dihormati, Pak Ud adalah tokoh nasional yang lama berkiprah di kancah perpolitikan nasional. Beliau pernah aktif di PPP dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat saat partai ini berlaga di Pemilu 1999. Sayang, PKU yang dipandegani Pak Ud tak memperoleh suara signifikan pada Pemilu 1999, sehingga tak bisa berkiprah di Pemilu 2004. Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa menyatakan, keluarga besar NU merasa kehilangan kiai dan tokoh NU yang sangat dihormati. Pak Ud adalah satu-satunya anak pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari yang masih hidup ketika organisasi Islam terbesar ini menghadapi masa reformasi. "Beliau adalah kiai besar dan sangat dihormati di kalangan warga NU maupun di luar NU," katanya. Rencananya, kiai dan warga NU akan melayat ke kediaman Pak Ud di komplek Pondok Tebuireng Jombang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Sebelum meninggal dunia, Pak Ud telah menyerahkan tongkat kepemimpinan Pondok Tebuireng Jombang kepada keponakannya, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Adik kandung Gu Dur ini sejak beberapa waktu lalu memang sebagai pemangku Pondok Tebuireng Jombang. Sebelum bergelut di dunia pesantren sebagai orang pertama di Pondok Tebuireng Jombang, paman Gus Dur ini merupakan politikus kritis di parlemen. Pak Ud bersama sejumlah politikus lainnya di PPP dari sayap NU adalah kritikus terdepan saat dilakukan pembahasan RUU Perkawinan dan P4. Karena sikap kritisnya, pada Pemilu 1987 nama Pak Ud dan sejumlah politikus kritis dari sayap NU lainnya dimasukkan dalam daftar caleg nomor sepatu PPP. Pak Ud dan kelompoknya dipinggirkan rezim Orde Baru pimpinan Soeharto mengingat sikap politiknya yang dikenal tegas dan bernas. Sebelum mengakhiri karier politiknya di PPP, Pak Ud dan banyak politikus NU lainnya berbeda pandangan dengan HJ Naro, Ketua Umum PPP dari sayap MI. Ketika nama Pak Ud ditempatkan di nomor sepatu daftar caleg PPP pada Pemilu 1987, beliau lebih baik menjauh dari partai tersebut dibanding merapat ke PPP yang telah diintervensi rezim Soeharto. Selain itu, Pak Ud juga dikenal selalu mengembangkan sikap kritis KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dinilai nyeleneh. Haluan politik Pak Ud relatif berada di tengah-tengah warga NU ketika PKU yang dipimpinnya tak bisa berbicara banyak pada Pemilu 1999. Ketika elite dan warga NU dibingungkan dengan banyaknya tokoh ormas Islam ini terlibat pada pemilu 2004, Pak Ud bersedia menjadi shohibul bait pertemuan kiai sepuh NU di Pondok Tebuireng Jombang. Selain terhadap Gus Dur, Pak Ud juga bersikap kritis kepada KH Hasyim Muzadi ketika pimpinan Pondok Al Hikam bersedia diminta Megawati Soekarnoputri sebagai cawapresnya. Hari Minggu malam Pak Ud berpulang ke rahmatullah. Warga nadhliyyin dan komunitas bangsa lainnya kehilangan satu tokoh nasional besar, yang memiliki pandangan kebangsaan jauh ke depan dan dikenal tegas dalam pendirian sikapnya. Pak Ud, anak bungsu KH Hasyim Asy'ari adalah tokoh nasional yang melihat, merasakan, dan mengalami berbagai era. Di sosok Pak Ud melekat banyak simbol dan gelar. Beliau kiai, politikus, tentara, dan negarawan. Pak Ud pernah memanggul senjata bersama komponen bangsa lainnya ketika revolusi berkecamuk pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Selamat jalan Pak Ud. ( ainur rohim/cn05 )
<<attachment: nas17.4.jpg>>
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
