Rabu, 17 Januari 2007
 <http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=279217&kat_id=14> 
 <http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=279217&kat_id=14> Berhias
dengan Akhlak 
 <http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=279217&kat_id=14> 
Oleh : H Muhammad Irfan Helmy 



Setiap manusia mempunyai fitrah untuk menghiasi diri. Tapi sayangnya, banyak
manusia yang tidak mengetahui perhiasan yang terbaik bagi dirinya. Ada yang
menghiasi diri dengan logam mulia seperti emas dan berlian. Ada pula yang
menghiasi diri dengan kosmetik. Semua ditujukan guna menampilkan diri dalam
bentuk yang paling indah.

Bagi seorang Muslim, perhiasan terindah adalah akhlak mulia. Inilah
perhiasan yang dapat dikenang sepanjang masa. Inilah perhiasan yang
menjadikan pemiliknya mulia di hadapan manusia dan Allah SWT. Dengan akhlak
mulia, seorang Muslim akan terlihat anggun dan cantik. Setiap orang yang
melihatnya akan terkesima dan kagum oleh keindahan akhlaknya.

Dalam pandangan Rasulullah SAW, akhlak mulia menjadi bukti kemuliaan seorang
Muslim. Beliau bersabda, ''Sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya
adalah yang paling indah akhlaknya.'' (HR. Ahmad) Menghiasi diri dengan
akhlak mulia berarti mempertegas diri sebagai manusia, karena dengan akhlak
akan terlihat perbedaan manusia dengan hewan. Dengan akhlak pula akan
terlihat sisi keteraturan hidup manusia yang tidak dimiliki hewan.

Dengan demikian, manusia yang tidak peduli dengan akhlak sesungguhnya ia
sedang menuju derajatnya yang paling rendah. Tanpa akhlak, manusia akan
seenaknya melakukan apa saja tanpa peduli apakah tindakannya berbahaya bagi
orang lain atau tidak.

Allah SWT berfirman, ''Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang
paling sempurna. Kemudian Kami kembalikan manusia kepada derajat yang paling
rendah.'' (QS al-Tin [95]: 5-6).

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, akhlak mulia menjadi kunci
keberlangsungan suatu masyarakat. Artinya, keberadaan suatu masyarakat hanya
bernilai jika telah mempraktikkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Sebaliknya, jika akhlak mulia sudah ditinggalkan oleh suatu masyarakat, maka
lonceng kematian masyarakat itu hanya tinggal menunggu waktu. 

Masyarakat tanpa akhlak mulia seperti masyarakat rimba di mana pengaruh dan
wibawa diraih dari keberhasilan menindas yang lemah, bukan dari komitmen
terhadap integritas akhlak dalam diri.

Dalam Islam, akhlak bukanlah ajaran yang layak dipandang sebelah mata.
Perhatian Islam terhadap akhlak sama seperti perhatian terhadap masalah
akidah dan syariah. Ini menjadi bukti bahwa Islam bukanlah agama yang hanya
kaya dengan teori normatif tetapi juga agama yang menekankan kepada
pengamalan praktis.

Perjalanan dakwah Islam membuktikan bahwa keberhasilan Nabi Muhammad SAW
berdakwah bukanlah hanya karena keluhuran ajaran Islam tetapi juga karena
akhlak mulia yang langsung dipraktikkan oleh beliau dalam setiap langkah
kehidupannya.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke