Fadha'il Al-Quran
Kamis, 25 Januari 07 - oleh : Redaksi 

PKS-Kab.Bekasi OnLine : Fadha'il artinya kelebihan atau keutamaan. Ketertarikan 
kita terhadap sesuatu (atau tidak) bergantung pada ilmu kita tentang kelebihan 
atau kegunaan sesuatu itu. Agar manusia tertarik kepada Alquran, Rasulullah Saw 
pun memberi banyak fadha'il al Qur'an. Meski demikian, ketertarikan manusia 
kepada Alquran pun sangat bergantung pada iman dan keyakinannya kepada janji 
Allah Swt dan Rasul-Nya. Misalnya, Umar bin Khatthab Ra sangat tertarik kepada 
Alquran setelah membaca firman Allah Swt 

Artinya : " Thaha, Tidaklah Kami turunkan Alquran ini agar kamu sengsara." (QS 
Thaha: 1-2) 

Sebaliknya, Walid bin Mughirah - walaupun sangat tertarik kepada Alquran dengan 
memuji setinggi-tingginya pada akhirnya ia tidak beriman kepada Alquran dan 
berusaha mencari alasan untuk menjauhkan diri dengan mengatakan " Itu adalah 
sihir yang diajarkan kepada Muhammad ". Oleh karena itu, keimanan yang telah 
Allah Swt karuniakan kepada kita hendaknya kita tingkatkan sehingga menumbuhkan 
ketertarikannya kepada Alquran melalui penjelasan Rasul-Nya. Fadha'il al-Qur'an 
yang diberikan kepada manusia dibagi menjadi dua, fadha'il di dunia dan 
fadha'il di akhirat. 

FADHA'IL AL QUR' AN DI DUNIA 

1. Allah Swt mengangkat derajat Ahl al Qur'an (manusia yang senantiasa 
berinteraksi dengan Alquran) menjadi keluarga Allah Swt. Rasulullah Saw 
bersabda, 

" Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah Swt." Ditanyakan, " 
Siapakah mereka, ya Rasulullah ? " Rasul Saw menjawab, " Mereka adalah ahl 
al-Qur'an. Mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya." (HR Imam Ahmad) 

Kata ahlu (keluarga) menunjukkan hubungan yang dekat antara Allah Swt dan 
hamba-Nya. Kedekatan itu melambangkan kecintaan dan cinta akan dapat 
meringankan manusia dalam melaksanakan seluruh perintah Allah Swt. Sekalipun 
berat, perintah yang susah pun akan menjadi mudah. 

2. Alquran adalah kenikmatan yang harus didamba-dambakan. 

" Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan : Seseorang yang diberi Allah 
Alquran, lalu ia membacanya sepanjang malam dan siang. Seseorang yang diberi 
Allah harta, lalu ia belanjakan di jalan Allah sepanjang malam dan siang." 

Penetapan Alquran sebagai nikmat yang harus didamba-dambakan adalah suatu 
isyarat agar orang beriman dapat membedakan nikmat yang hakiki dan semu. 
Kemampuan merasakan Alquran sebagai nikmat yang hakiki merupakan indikasi iman 
yang sehat dan keyakinan terhadap hari akhirat serta janji Allah Swt yang ada 
di dalamnya. Sebaliknya, ketidakmampuan manusia merasakan nikmat Alquran 
merupakan indikasi penyakit hubbud dun-ya (cinta dunia yang berlebihan), 
lemahnya iman kepada hari akhir, dan tidak yakin terhadap janji Allah Swt yang 
ada di dalamnya. 

3. Allah Swt menyandingkan derajat Ahlul Qur'an dengan para malaikat atau nabi 
yang telah diberi wahyu. Adapun yang kemampuan membaca Al-qurannya masih 
terbata-bata, Allah Swt memberinya dua pahala. Rasulullah Saw bersabda, 

" Orang yang mahir berinteraksi dengan Alquran akan bersama para malaikat yang 
mulia dan taat, sedangkan yang membaca Alquran dengan terbata-bata dan ia 
merasa sulit, ia mendapatkan dua pahala." (HR Imam Muslim) 

Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muslim menjelaskan bahwa kata mahir berarti mampu 
membaca, menghafal, memahami, tadabbur, dan mengamalkan Alquran. Pribadi yang 
seperti itu sangat diperlukan masyarakat karena akan berfungsi sebagai cahaya 
pencerah hidup Islami di tengah masyarakatnya. Adapun dua pahala bagi muslim 
yang bacaannya terbata-bata merupakan himbauan agar ia terus rajin membaca 
walaupun masih terbata-bata karena Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan 
kesulitan upayanya dalam membaca. Dua pahala baginya bukan berarti legitimasi 
bagi yang tidak mampu membaca Alquran untuk tidak mengembangkan kemampuannya. 
Janji itu harus menjadi motivasi yang kuat untuk terus berinteraksi dengan 
Alquran. Interaksi yang teratur menjamin bacaan seorang muslim yang 
terbata-bata menjadi lancar. Ingat ungkapan, " alah bisa oleh biasa." Adapun 
yang sudah mahir, ia harus berusaha istiqamah bersama Alquran. 

4. Ahl al Qur'an adalah orang yang paling berhak menjadi imam dalam solat. 
Rasulullah Saw bersabda, 

" Orang yang berhak menjadi imam adalah orang yang paling banyak interaksinya 
dengan Alquran. " 

Rekomendasi Rasulullah Saw itu bukan semata-mata penghargaan terhadap Ahlul 
Qur'an, melainkan menunjukkan peran yang harus diutamakan di tengah masyarakat, 
yaitu peran tarbiyah (pembinaan keimanan) dalam kehidupan masyarakat. 
Pelaksanaan solat setiap hari di masjid sesungguhnya merupakan kegiatan 
tarbiyah yang sangat efektif bagi setiap mukmin jika didukung, misalnya, dengan 
imam yang berkualitas sesuai rekomendasi Rasulullah Saw. Namun, kondisi 
masyarakat kita saat ini masih jauh dari interaksi Alquran yang tinggi sehingga 
pelaksanaan solat berjamaah di masjid kehilangan ruh dan atsarnya (dampak). 
Dengan kondisi seperti itu, ada beberapa kerugian yang dialami umat Islam. 

Pertama, umat menjadi tidak terbiasa dengan ayat-ayat Alquran karena selama 
bertahun-tahun mereka hanya mendengar ayat atau surat yang sama. Hal itu 
berdampak pada kesulitan mereka membaca atau menghafal Alquran karena jarangnya 
mereka mendengar ayat-ayat Allah Swt di sekitar mereka. 

Kedua, umat kurang merasakan ruh ayat - ayat Alquran sehingga kandungan Alquran 
tidak sampai dengan baik. Kandungan itu berupa ancaman, himbauan, perintah, 
atau larangan. 

Terakhir, peran Alquran sebagai pedoman hidup kurang tersosialisasi secara 
intensif. Hal itu berdampak pada banyaknya mutiara Alquran (seperti ayat-ayat 
tentang mengatur rumah tangga, ekonomi, dan bernegara) yang tidak tersampaikan 
secara rutin. 

5. Ahl alQur'an adalah orang yang selalu mendapat ketenangan, rahmat, naungan 
malaikat, dan namanya disebut-sebut Allah Swt, 

" Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah lalu di antara mereka 
membaca kitab Allah dan mempelajarinya kecuali turun kepada mereka ketenangan 
yang diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah Swt menyebut nama-nama 
mereka di sisi makhluk yang ada di dekat-Nya," (HR Imam Muslim) 

Mungkin kita bertanya, mengapa sedemikian tinggi penghargaan Allah Swt kepada 
orang-orang yang mempelajari Alquran, apalagi kepada orang yang mengamalkannya 
? 

Sesungguhnya penghargaan Allah Swt itu merupakan rangsangan Rabbani agar 
manusia mau mengamalkan Alquran tanpa merasa berat, Ketika manusia mau 
mempelajari wahyu-Nya, itu merupakan indikasi keimanannya kepada kebenaran 
Allah Swt yang mutlak melalui firman-Nya. Sebaliknya, jika keimanannya kepada 
Allah Swt tipis dan lemah, manusia tidak akan siap melakukan amal apapun yang 
terkait dengan Alquran. Jangankan disuruh mengamalkan Alquran, sekadar membuka 
mushaf pun ia enggan melakukannya! Oleh karena itu, pantaslah jika penghargaan 
tadi diberikan Allah Swt hanya kepada Ahl al-Qur'an. Selanjutnya, kegiatan 
membaca dan mempelajari Alquran akan menguatkan keimanan sehingga Allah Swt 
menjadi Zat yang paling dicintai dalam hidupnya. Alquran pun akan menyirami 
hatinya yang gersang dan menjadikan hati itu lembut serta peka terhadap teguran 
Allah Swt. Keadaan itulah yang akan mengantarkan manusia kepada kesiapan 
mengamalkan Alquran di dalam hidupnya. 

6. Ahl alQur'an adalah orang yang mendapatkan kebaikan dari Allah Swt 

" Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkan." 
(HR Imam Bukhari) 

Kebaikan berarti keberkahan. Dan hidup yang penuh berkah menurut hadis tadi 
berarti hidup yang aktif bersama Alquran, bahkan dituntut untuk aktif belajar 
dan mengajarkannya karena diungkapkan dengan huruf waw dan bukan dengan fa' 
atau tsumma yang artinya kemudian. ( Menunjukkan belajar dan mengajarkan 
Alquran sekaligus, bukan belajar dulu hingga menguasai baru mengajarkannya, 
peny.) 

Bagaimana jika kemampuan kita masih terbatas? Ada dua hal yang harus kita 
perhatikan tentang mengajarkan Alquran. 

Pertama, mengajar berarti menyampaikan sehingga secara teknis tidak harus dalam 
bentuk formal dengan jumlah murid yang banyak. Kepada satu orang saja-anak atau 
istri-sudah dianggap mengajar Alquran. Untuk itu, jangan pernah berpikir bahwa 
mengajar berarti harus formal dengan jumlah murid yang banyak sehingga hal itu 
akan menghambat percepatan pengajaran Alquran di tubuh umat ini. 

Semangat mengajar seperti itulah yang dapat mengem ban misi dakwah ke dalam 
masyarakat. Ingat, sasaran pertama dakwah adalah dimulai dari satu orang. Sabda 
Rasulullah Saw, 

" Sesungguhnya,hidayah Allah yang berikan kepa- da seseorang karena usahamu 
adalah lebih baik bagimu daripada onta merah (**) " 

** Unta merah di zaman Rasulullah Saw adalah kendaraan termahal yang harganya 
ratusan dinar (mata uang dari emas) dan jauh lebih mahal dibandingkan mobil 
mewah yang ada di masa sekarang. 

Kedua, mengajar Alquran memang harus dengan kemampuan yang optimal. Namun, 
bagaimana jika di lingkungan kita tidak ada orang yang siap mengajarkan Alquran 
kecuali kita? Dalam hal itu, kita wajib segera menghapus buta huruf Alquran di 
lingkungan kita. Ibaratnya, jika tetangga kita kelaparan dan kita tidak 
memiliki apa-apa kecuali nasi, kita pasti akan memberikan nasi itu dan tidak 
akan menunggu sampai kita memiliki nasi dengan lauk empat sehat lima sempurna. 
Begitulah ketentuan bagi orang yang terbatas kemampuannya dalam mengajarkan 
Alquran kepada umat yang sedang lapar akan hidayah Allah Swt. jadi, kita harus 
segera turun tangan mengajarkan Alquran. Insya Allah, selama proses belajar dan 
mengajar itu, setiap kekurangan akan tertutupi dengan sendirinya. Kemampuan 
tidak akan berhenti, bahkan akan terus meningkat. 


FADHA'IL AL QUR'AN DI AKHIRAT 

Berikut ini beberapa fadha'il alQur'an di akhirat bagi manusia : 

1. Alquran Menjadi Syafaat bagi Manusia yang menjadi Sahabatnya 

" Bacalah Alquran karena sesungguhnya ia akan tatang pada Hari Kiamat sebagai 
syafaat bagi orang-orang yang menjadi sahabatnya (Alquran)." (HR Imam Bukhari) 

Membaca merupakan langkah pertama membangun persahabatan kita dengan Alquran. 
Membaca Alquran membangun cinta kalamullah dan kecintaan itu akan memotivasi 
kita untuk lebih memahami, merenungi, mengamalkan, dan memperjuangkan Alquran 
sehingga wahyu Allah Swt menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita. 

Saya-penulis-yakin kondisi persahabatan seperti itulah yang dimaksudkan nasehat 
Rasulullah Saw itu. Terbukti kondisi seperti itu yang dicontohkan Rasulullah 
Saw, para sahabat, dan semua salafush shalih. Untuk itu, janganlah meremehkan 
satu langkah awal dalam berinteraksi dengan Alquran seperti halnya tidak boleh 
kita merasa puas hanya dengan satu interaksi, misalnya hanya tertarik membaca 
Alquran tanpa tergugah untuk lebih menyelaminya. 

Hadis itu pun mengingatkan kita tentang manfaat Alquran yang tidak hanya di 
dunia, tetapi di akhirat juga karena Rasulullah Saw mengangkat isu tentang 
pentingnya pertolongan pada hari kiamat. Alquran sendiri dengan luas 
menjelaskan suasana kehidupan akhirat mulai dari Hari Kiamat, kebangkitan, 
sampai ganjaran di surga dan neraka. Hadis tadi pun memiliki korelasi yang kuat 
dengan ayat-ayat Alquran dengan menjanjikan pertolongan melalui syafaat Alquran 
bagi siapa saja yang bersahabat dengannya. 

2. Alquran Menjadi Pembela bagi Manusia saat Menghadapi Pengadilan Allah Swt 

Dari Nazvwas bin Sam' an Ra, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw 
bersabda, ' Pada hari Qiamat, didatangkan Alquran dan ahlinya, yaitu 
orang-orang yang dulu mengamalkannya di dunia. Sural al Baqarah dan Ali Imron 
pun maju mendampingi dan membelanya." (HR Imam Muslim) 

Hadits ini sangat banyak memuat pesan-pesan keimanan terhadap hari akhirat. 
Bagi seorang muslim, tidak ada pilihan lain kecuali yakin sepenuhnya terhadap 
penjelasan Rasulullah Saw bahwa Alquran akan menjadi makhluk yang berperan 
seperti manusia ia dan dapat diperintahkan untuk datang, maju ke depan, bahkan 
membela manusia dengan gigih bagaikan seorang pengacara profesional. Itu 
langkah awal yang harus ada dalam diri kita ketika membaca hadits Rasulullah 
Saw itu. Tanpa sikap itu, iman kita menjadi batal karena berarti menolak 
kerasulan Muhammad Saw yang pasti benar dalam ucapannya. Tanpa sikap itu pula, 
kita tidak akan termotivasi untuk berinteraksi dengan Alquran seperti kandungan 
hadis itu. 

Hadis itu secara tidak langsung memberitahu juga bahwa tidak semua manusia 
mendapat pembelaan dari Alquran. Hadits Rasulullah Saw itu hanya meliputi 
manusla yang di dunianya betul-betul mengamalkan Alquran. Itu berarti komitmen 
terhadap Alquran tidak cukup hanya dengan komitmen lisan seperti tilawah, 
menghafal, dan mengkajinya, tetapi butuh pula komitmen badan dan hati yang 
harus bergerak sesuai dengan tuntutan Alquran. Misalnya, berinfak jika Alquran 
menyuruhnya berinfak, berjihad jika Alquran menyuruhnya berjihad, dan melakukan 
perintah lainnya. Dua komitmen itulah yang akan menjadikan manusia dibela 
Alquran di pengadilan Allah Swt yang saat itu tidak ada pengacara, ternan 
dekat, atau siapa pun yang dapat membela manusia. 

3. Alquran Mengangkat Kedudukan Manusia di Surga 

Dari Abdullah bin' Amr bin' Ash Ra, dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda, " 
Dikatakan kepada Shahib Alquran, ' Bacalah dan naiklah dan nikmatilah seperti 
halnya kamu menikmati bacaan Alquranmu di dunia ! Sesungguhnya, kedudukanmu ada 
di akhir ayat yang kamu baca." (HR Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi) 

Sekali lagi Rasulullah Saw mengingatkan kita bahwa keutamaan Alquran di akhirat 
ada di balik persahabatan manusia dengannya sehingga mereka yang mendapatkan 
kemuliaan dari Alquran disebut dengan Shahib. Di hadis itu, Shahib Alquran akan 
tetap menikmati kembali lantunan ayat-ayat Alquran di saat tidak ada lagi 
mush-haf untuk membaca Alquran. 

Hal ini mengingatkan kita pada kisah-kisah orang-orang beriman saat sakaratu/ 
maut. Pada umumnya, orang-orang yang sangat dekat dengan Alquran pada saat-saat 
itu selalu melantunkan ayat-ayat Alquran dengan fashih dan indah seakan mereka 
masih sehat dan jauh dari kematian. 

Begitulah mukjizat Alquran yang selalu ingin bersama sahabatnya di saat yang 
pada umumnya manusia tidak mungkin lagi mengingat Alquran. jadi, hadis itu 
sangat logis jika terjadi pada manusia. Bahkan kejadian itu akan mengantarkan 
manusia pada tingkatan surga yang sesuai dengan banyaknya ayat Alquran yang ia 
hafal. 

4. Alquran Sumber Pahala bagi Orang yang Beriman 

Rasulullah Saw bersabda, " Siapa saja yang membaca satu huruf.Alquran, baginya 
satu kebaikan. Satu kebaikan akan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak 
mengatakan bahwa alif-lam-mim itu satu huuf, melainkan alif satu huruf, lam 
satu huruf, dan mim satu huruf " (HR Imam Turmudzi deiigan sanad hadis hasan 
sahih) 

Keimanan kita kepada akhirat mengharuskan kita meyakini janji pahala dan 
hukuman Allah Swt. jadi siapa pun yang yakin dengan hadis itu akan memiliki 
motivasi yang tinggi dalam hidup bersama Alquran dengan memperbanyak tilawah 
bahkan menghafalnya agar terjadi pengulangan tilawah yang sangat besar. Tanpa 
keyakinan itu manusia pun tidak akan kuat menyibukkan dirinya dengan Alquran, 
apalagi jika terus berlangsung sampai akhir hayatnya. Sungguh rugi orang yang 
hidupnya jauh dari Alquran karena tertutup baginya kesempatan mendapatkan 
limpahan pahala yang sangat besar dari Allah Swt melalui Alquran. Dari hadis 
itu pula kita dapat merasakan luasnya rahmat.Allah Swt kepada orarg mukmin. 
Bayangkan jika Allah tidak menurunkan Alquran atau mencabutnya seperti 
ancaman-Nya. (QS al-lsra'; 86-87) 

5. Alquran Mengangkat Derajat Orangtua di Akhirat bagi Orangtua yang Berhasil 
Mendidik Anaknya dengan Alquran. 

" Siapa saja yang belajar Alquran dan mengamalkannya, pada hari kiamat (Allah 
Swt) akan memberikan kepada kedua orangtuanya mahkota yang cahayanya lebih 
indah dari cahaya matahari. Kedua orangtua itu akan berkata, " Mengapa kami 
diberi (mahkota) ini ?" Dijawablah, ' Itu karena anakmu telah mempelajari 
Alquran. " (HR Imam Abu Dazuud, Imam Ahmad, dan Imam Ibnu Hakim) 

Hadits itu menunjukkan bahwa Alquran adalah sumber kemuliaan. Siapa saja yang 
berinteraksi dengannya akan dimuliakan Allah Swt. Bahkan orangtua yang 
mengajarkan Alquran kepada anaknya pun dimuliakan Allah Swt. Sebaliknya, siapa 
saja yang menjauhkan dirinya dari Alquran akan direndahkan Allah Swt secara 
pribadi maupun secara jama'i. Dalam kenyataan sejarahnya, umat Islam adalah 
Umat yang paling mulia di muka Bumi ini bersama Al-Quran. Sebaliknya, umat 
Islampun adalah umat yang sangat terhina karena meninggalkan Al-qur'an. 

Download sinopsis buku Tarbiyah Syakhsiyah Qur'aniyah 

Sumber : Tarbiyah Syakhsiyah Qur'aniyah - Abdul Aziz Abdur Rouf, Lc
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke