Syaikh al 'Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafizhahullah. 
Mufti Kerajaan Saudi Arabia saat ini, pemgganti Syaikh bin Baz. Syaikh ini 
mengkritik balik orang-orang yang mengkritik Sayyid Quthb. 

Beliau berkata, "Kitab tafsir Fi Zhilalil Qur'an adalah kitab yang bermanfaat. 
Penulisnya menuliskannya agar Al Qur'an ini dijadikan sebagai undang-undang 
kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi 
penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur'an yang dibutuhkan oleh seorang 
muslim dalam hidupnya. Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istilah yang 
terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap kesalahan 
ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Quthb dan tingginya gaya 
bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembaca. Inilah sebetulnya 
yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau saja mereka 
mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan jelas bagi 
mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb." (Ibid, hal. 326) 

Kesaksian Ulama Dunia Thd al Banna & Sayyid Qutb 

Mereka sering mengatakan 'Para ulama telah memperingatkan manusia agar 
hati-hati atas kesesatan tokoh tokoh Ikhwan.' Pertanyaannya, ulama mana yang 
dimaksud? Kita dapatkan justru Syaikh bin Bazz (mantan Mufti Kerajaan Saudi 
Arabia dan ketua Hai'ah Kibaril Ulama), Syaikh al Albany, Syaikh Abdullah bin 
al Jibrin, Syaikh Shalih al Luhaidan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Asy 
Syaikh (saat ini menjadi ketua Hai'ah Kibaril Ulama menggantikan Syaikh bin 
Bazz), Syaikh Abdullah bin Hasan al Qu'ud, mereka memberikan kesaksian positif 
terhadap tokoh-tokoh Ikhwan, sebagaimana yang akan kami beberkan. Mereka 
-kecuali Syaikh al Albany- adalah Para ulama besar yang berada dalam jajaran 
Hai'ah Kibaril Ulama (Organisasi Ulama Besar) Kerajaan Saudi Arabia, yang telah 
menjadi rujukan mapan kaum salafiyyin. 

Biasanya jika di luar kelompok mereka (salafy) mengutip pendapat ulama- ulama 
salafy masa kini, mereka akan mengatakan, "Ahli bid'ah biasanya mengutip 
perkataan ulama Ahlus Sunnah yang cocok dengan hawa nafsunya saja." Ini adalah 
ucapan sinis dan fanatis buta. Siapakah yang melarang-larang manusia mengutip 
perkataan ulama yang objektif dan jujur? Sayangnya mereka juga melakukan hal 
yang sama; yakni hanya mengambil ucapan ulama yang sejalan dengan pemikiran 
mereka saja. Jangan harap anda menemukan mereka mengutip ucapan ulama lain, 
seperti Al Maududi, Al Banna, Al Qaradhawy, keluarga Quthb, Salman al Audah, 
Aidh al Qarny, kecuali untuk dicari dan dikoleksi kesalahannya. Allahul 
musta'an! 

Perlu ditegaskan, kata 'mereka' yang kami maksud bukanlah para ulama salafy 
rabbany yang amat kita cintai dan muliakan, 'mereka' di sini adalah orang yang 
mengklaim dirinya paling Ahli Sunnah, paling salaf, paling benar, paling cerdas 
dalam istid/al (pengambilan dalil), dan paling .. paling .... Menurut 
pengakuannya, mereka adalah penuntut ilmu, bukan ulama. Mereka' pun tidak 
mewakili semua, sebab masih banyak di antara mereka yang moderat, rendah hati, 
dan mau berdialog. Seharusnya penuntut ilmu harus menjadi Thalibul Ilmi al 
Mu'addib (penuntut ilmu yang beradab). 

Kembali kepada permaslahan, siapakah ulama yang mereka maksud? 

Apakah mereka para mufti ternama yang diakui dunia? Apakah Syaikh Rabi' bin 
Hadi al Madkhaly hafizhahullah yang dimaksud? Darinya telah banyak karya untuk 
meyerang Ikhwan, khususnya Sayyid Quthb. Tentang Syaikh ini, berkatalah Syaikh 
Abu Bashir at Thurthusy, "Adapun Rabi' bin Nadi al Madkhaly, saya tidak 
melihatnya dalam barisan para ulama dikarenakan lisannya yang sering kasar 
terhadap saudaranya ..." ( Abduh Zulfidar Akaha, Siapa Teoris? Siapa Khawarij? 
, hal. 323. Catatan kaki no. 625, bantahan terhadap buku Mereka Adalah Teroris! 
) Syaikh al Qaradhawy sendiri menyebut Syaikh Rabi' sebagai Salafy Jamiyun 
(beringas).. 

Ataukah Syaikh Abdul Malik Ramadhan al Jazairi, yang dalam bukunya Madarikun 
Nazhar banyak menyerang Ikhwan, FIS, Muhammad Quthb, Salman al Audah, Safar al 
Hawaly, Aidh al Qrny, Abdurrahman Abdul Khaliq, dan lain-lain? Syaikh Abu 
Bashir at Thurthusy dalam salah satu fatwanya menyebutkan bahwa Syaikh Abdul 
Malik Ramadhan al Jazairy adalah orang yang tidak pernah terdengar namanya 
dalam jajaran ulama. (Ibid. hal. 62. catatan kaki. no. 99) 

Komentar para ulama yang sezaman dengan tokoh-tokoh Ikhwan tersebut tentu lebih 
layak diikuti dan dipercaya, dibanding komentar orang yang datang setelah 
zamannya dan tidak pernah berinteraksi dengan mereka. Komentar penulis buku 
Mereka Adalah Teroris! Yaitu Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah 
tentang sesatnya tokoh-tokoh Ikhwan dengan menyebut mereka takfiri, khawarij, 
teroris, anjing¬anjing neraka, ruwaibidhah (orang-orang dungu), mu'tazilah, 
bocah-bocah ingusan, pemikir linglung, dan lain-lain, adalah tidak bisa 
dibuktikan secara ilmiah. Ciri khas buku tersebut adalah mencaci maki dahulu 
membahas kemudian. Buku tersebut disusun untuk membantah buku Imam Samudera, 
Aku Melawan Teroris. Namun sayangnya, Imam Samudera hanyalah batu loncatan, 
sebagian besar muatan buku tersebut berisi serangan terhadap semua gerakan 
Islam yang tidak sejalan dengan Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh dan 
kelompoknya, lebih khusus serangan untuk Ikhwan dan tokoh-tokohnya. Padahal 
mereka amat moderat, dan jelas-jelas tidak sejalan dengan Imam Samudera yang 
radikal. Ajaib memang, di satu sisi Ikhwan dituduh terlalu moderat, di sisi 
lain dituduh sebagai biang terorisme dunia. Apakag ada orang moderat yang 
radikal? 

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini bukan barang baru, dan sudah kami bantah dalam 
buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi edisi lengkap, (2004, 
Pustaka Nauka- Depok) jauh sebelum terbitnya buku Mereka Adalah Teroris! Ustadz 
Luqman bin Muhammab Ba'abduh adalah seorang keturunan Arab (Yaman) yang lahir 
di Bondowoso, Jawa Timur, pada 13 Mei 1971 M (Ibid, hal. 31) Beliau tujuh tahun 
lebih tua dibanding kami. Dari sini bisa diketahui, ia dilahirkan jauh setelah 
syahidnya Sayyid Quthb (w.1966 M), dan syahidnya Hasan al Banna (w.1949 M), dan 
usianya baru 18 tahun ketika syahidnya Abdullah 'Azzam (w.1989 M), dan masih 16 
tahun ketika Syaikh Ahmad Yasin mendirikan HAMAS (berdiri 1987 M), baru dua 
tahun ketika Yusuf al Qaradhawy meraih gelar doktornya tahun 1973 M dengan 
disertasi Fikih Zakatnya, artinya Ustadz ini terlalu muda dan berani, bahkan 
sangat-sangat berani, untuk 'menghabisi' para tokoh-tokoh tersebut. Memang, 
hanya orang besar yang bisa menghormati orang besar. Adapun orang berlagak 
besar, biasanya melihat orang lain dengan kerendahan. 

Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam besabda: 

"Bukan dari umatku orang yang tidak menghormati orang besar kami dan tidak 
menyayangi orang kecil kami dan tidak mengetahui (hak) orang alim kami." (HR. 
Ahmad dengan sanad hasan, Thabarani dan Hakim, tatapi dalam riwayatnya 
tertulis: "bukan dari kami". Syaikh al Albany menshahihkannya dalam Shahih 
Targhib wa Tarhib, 1/116) 

Ada sebuah syair: Wahai orang yang ingin menanduk gunung tinggi untuk 
menundukannya Sayangilah kepala(mu), dan bukan gunung itu 

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata: Ingin terbang, tidak memiliki bulu 
burung, Ingin memanduk kambing hutan, tidak memiliki tanduk. 

Kali ini, kami akan paparkan kesaksian para ulama sunnah masa kini tentang 
tokoh-tokoh Ikhwan tertuduh tersebut. Anda akan menemukan perbedaan mencolok 
ulama sunnah tersebut dengan kalangan yang justru mengaku mengikuti mereka. 
Kesaksian ini kami ambil dari buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang 
Terzalimi edisi lengkap dan juga buku yang sangat bagus, karya Al Ustadz Abduh 
Zulfidar Akaha, Lc -hafizhahullah- yang berjudul Siapa Teroris? Siapa Khawarij? 
Penerbit Pustaka Al Kautsar, cetakan pertama, Juni 2006. Sebuah buku yang 
berhasil membuka banyak sekali kesalahan, kedustaan terhadap ulama, dan 
penyimpangan pemikiran (yang justru mudah mengkafirkan orang lain), dari Ustadz 
Luqman bin Muhammad Ba'abduh -hafizhahullah- yang tertera dalam buku Mereka 
Adalah Teroris! Maaf, istilah `kedustaan' bukanlah dari kami tetapi dari Ustadz 
Abduh Zulfidar sendiri terhadap Ustadz Luqman, sebagaimana tertera dalam 
Catatan Ketujuh (hal. 137 - 159). Kami sangat menganjurkan (tanpa berniat 
promosi) bagi pembaca setia Tatsqif untuk segera membaca dan menelaah baik buku 
tersebut. Selain dari dua buku tersebut kami juga memaparkannya dari 
sumber¬sumber lain. 

Untuk Lebih Detail Silahkan Baca : 

Kesaksian Ulama Terhadap Imam Hasan al Banna -rahimahullah 

1.Syaikh al Fadhil al 'Allamah Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin 
-hafizhahullah 

Ia adalah anggota Hai'ah Kibaril Ulama Arab Saudi yang tak diragukan 
kesalafiannya. Ada orang yang bertanya kepada Syaikh, "Saya memohon kepada 
Anda, wahai Syaikh, maaf, sesungguhnya ada sebagian pemuda yang membid'a 
bid'ahkan Sayyid Quthb dan mereka melarang membaca buku-buku karya beliau. Dan, 
mereka juga mengatakan hal yg sama tentang Hasan al Banna. Mereka pun 
mengatakan sebagian ulama sebagai khawarij. Hujjah mereka adalah penjelas 
kesalahan-kesalahan ulama tersebut kepada manusia. Padahal mereka sekarang 
masih menuntut ilmu. Saya memohon jawab dari Anda demi menghilangkan keraguan 
ini pada kami, sehingga hal ini tidak menimpa banyak orang." Syaikh berkata 
-setelah menyebut beberapa dalil-, "Saya katakan sesungguhnya Sayyid Quthb dan 
Hasar Banna adalah termasuk ulama kaum muslimin dan tokoh da'wah Islam. Melalui 
da'wah mereka berdua, Allah telah memberi hidayah dan manfaat kepada ribuan 
manusia. Partisipasi da'wah mereka berdua tidak mungkin diingkari. Itu sebabnya 
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengajukan permohonan dengan nada lemah lembut kepada 
Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdul Naser -semoga Allah membalas kejahatannya 
dengan balasan yang setimpal- agar menarik keputusan hukun gantung bagi Sayyid 
Quthb meski akhirnya permohonan itu ditolak. 

Setelah mereka berdua (Hasar Banna dan Sayyid Quthb) dibunuh keduanya selalu 
disandangkan dengan gelar Asy Syahid karena mereka dibunuh dalam keadaan 
terzalimi dan terania. Penyandangan gelar tersebut diakui seluruh lapisan 
masyarakat dan tersebar luas lewat media massa dan buku-buku tanpa protes dan 
penolakan. Buku mereka berdua diterima para ulama dan Allah Subhana. wa Ta'ala 
memberikan manfaat melalui da'wah mereka kepada hamba-hambaNya serta tidak ada 
seorang pun yang melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih dari 20 
tahun. Jika mereka berdua melakukan kesalahan, Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam 
Ibnul Jauzy, Imam Ibnu 'Athiyah, Imam al Khathaby, Imam al Qasthalany, dan Imam 
lainnya pernah melakukan kesalahan." Sampai di sini dari Syaikh bin al Jibrin. 
(Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi, hal. 218-219, edisi 
lengkap. Lihat pula, Siapa Teroris? Siapa Khawarij? Hal. 317- 319) 

2. Kesaksian Syaikh Manna' Khalil al Qaththan -rahimahullah (w. 1999 M/ 1420H). 

Ulama terkenal, pakar Tafsir dan Hadits. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh 
dan dosen paska sarjana di Universitas Muhammad bin Su'ud, Saudi Arabia. Ia 
berkata, "Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Asy Syahid Hasan al 
Banna dipandang sebagai gerakan keislaman terbesar masa kini tanpa diragukan. 
Tidak seorang pun dari lawan- lawannya dapat mengingkari jasa gerakan ini dalam 
membangkitkan kesadaran di seluruh dunia Islam. Maka dengan gerakan ini 
ditumpahkan segala potensi pemuda Islam untuk berkhidmat kepada Islam, 
menjunjung syariatnya, meninggikan kalimahnya, membangun kejayaannya, dan 
mengembalikan kekuasaannya. Apa pun yang dikatakan mengenai peristiwa¬peristiwa 
yang terjadi atas jamaah ini namun pengaruh intelektualitasnya tidak dapat 
diingkari oleh siapa pun juga." (Istilah Asy Syahid asli dari Syaikh Manna' 
sendiri. Lihat Studi Ilmu-Ilmu Al Qur'an, hal. 506. Litera AntarNusa. Lihat 
juga Siapa Teroris? Siapa Khwarij?, hal. 316-317) 

3. Kesaksian Mufti Besar Palestina Syaikh Hajj Muhammad Amin al Husaini 
-rahimahullah. 

Ia berkata, "Sesungguhnya, sifat yang sangat menonjol pada diri AI Banna adalah 
Ikhlas yang mendalam, otak yang cemerlang, dan kemauan yang keras. Semua itu 
diperindah dengan kemauan yang kuat." (Badr Abdurrazzaq al Mash, Manhaj Da'wah 
Hasan al Banna, hal. 89). Ia juga berkata, "Asy Syahid Hasan al Banna dan para 
pengikutnya telah memberi sumbangan besar bagi Palestina. Mereka 
mempertahankannya dengan berjuang keras dan cita-cita mulia. Semuanya merupakan 
karya nyata dan kebanggaan yang ditulis dalam sejarah jihad dengan huruf yang 
terbuat dari cahaya." (Istilah Asy Syahid adalah asli dari Syaikh Amin al 
Husaini. Ibid, hal. 141-142) 

4. Kesaksian mantan Mufti Mesir, Syaikh Hasanain Makhluf rahimahullah. 

Ia berkata, "Syaikh Hasan al Banna semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala 
menempatkannya bersama para shalihin- adalah salah seorang tokoh Islam abad 
ini. Bahkan ia merupakan pelopor jihad di jalan Allah dengan jihad yang 
sesungguhnya. Beliau berdakwah dengan menempuh manhaj yang benar, meniti jalan 
yang terang yang diterjemahkannya dari Al Qur'an, Sunnah Nabi, dan ruh tasyri' 
Islam. Beliau melaksanakan semua itu dengan penuh hikmah, hati-hati, dan sabar, 
dan 'azzam yang kuat sehingga da'wah islam menyebar ke seluruh penjuru Mesir 
dan negeri-negeri Islam serta banyak orang bergabung di bawah bendera 
da'wahnya." (Ibid, hal. 91) 

5. Kesaksian Da'i terkenal, alim rabbani, al 'Allamah Abul Hasan Ali al Hasani 
an Nadwi -rahimahullah. 

Ia berkata dalam pengantar buku Mudzakkirat Da'wah wa Da'iyah-nya Hasan al 
Banna , "Pengarang buku ini termasuk di antara pribadi-pribadi yang kami 
katakan memang sengaja dipersiapkan qudrah ilahiyah (kekuasaan Allah), dibentuk 
tarbiyah rabbaniyah, kemudian dimunculkan pada waktu dan tempat yang 
ditentukan. 

Setiap orang yang membaca buku ini dengan dada bersih, sikap obyektif, jauh 
dari sikap fanatik, dan keras kepala pasti yakin bahwa pengarangnya adalah 
seorang yang memang dipersiapkan untuk dihibahkan (bagi umat manusia) yang 
bukan hanya tiba dan muncul begitu saja. Ia bukan sekadar produk sebuah 
lingkungan atau sekolah; bukan sekadar produk sebuah upaya keras, dan bukan 
produk dari sebuah percobaan. Ia merupakan salah satu produk dari taufik dan 
hikmah ilahiyah yang menaruh perhatian besar terhadap agama dan umat ini." 
(Hasan al Banna, Memoar Hasan al Banna untuk Da'wah dan Para Da'inya, kata 
pengantar) 

Sebenarnya masih banyak pujian ulama dunia untuknya. Hal itu, merupakan 
kebiasaan para ulama sejak dahulu; seorang ulama memberikan pujian (sekaligus 
kritik) terhadap ulama lainnya. Selain nama-nama di atas masih banyak tokoh 
yang memberikan kesaksian positif seperti Sayyid Quthb, Muhammad al Ghazaly, 
Muhammad al Hamid, Abu Zahrah, Musthafa al Maraghi. Mahmud Syaltut, Muhibuddin 
al Khathib, Yusuf al Qaradhawy, Said Ramadhan al Buthy, Said Hawwa, Abdus Salam 
Yasin, Bahi al Khuli, KH. Agus Salim, Muhammad Natsir, dan lain-lain. Hanya 
satu yang kami minta dari Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah; 
tolong sodorkan satu nama saja dari jajaran ulama yang diakui dunia-(ingat! 
bukan diakui oleh kelompoknya saja)- pada masa Hasan al Banna masih hidup, baik 
yang berinteraksi dengannya atau tidak, yang memberikan tuduhan dan caracter 
asasination (pembunuhan karakter) terhadap dirinya; dengan menyebutnya sesat, 
khawarij, dan sejumlah istilah mengerikan yang biasa Anda gunakan itu. 
"Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: 
'Tunjukanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar." (QS. Al 
Baqarah: 111) 

Sayyid Quthb 

Sayyid Quthb -rahimahullah- dianggap tokoh kedua Ikhwan ' setelah Imam Al 
Banna, bahkan disebut sebagai ideolognya. Padahal beliau tidak pernah bertemu 
dengan Imam Al Banna secara langsung, hanya berinteraksi melalui risalah- 
risalahnya. Bahkan ia bergabung dengan Ikhwan termasuk 'belakangan' yaitu tahun 
50-an, berarti beberapa tahun setelah wafatnya Imam Al Banna. Namun demikian, 
pengaruhnya begitu besar bagi Ikhwan, bahkan bagi kebanyakan aktivis pergerakan 
Islam dunia. 

Di sini akan dipaparkan kesaksian positif para ulama dunia kepadanya, di tengah 
fitnah terorisme yang diarahkan ke Islam oleh barat, namun justru diaminkan 
oleh segelintir da'i Islam yang juga ikut menuduh aktifis Islam dan ulamanya 
,sebagai teroris, termasuk Sayyid Quthb -rahmatullah 'alaih. Bahkan begitu tega 
mereka katakan bahwa Sayyid Quthb merupakan investor dan kontributor terbesar 
secara fikrah, atas berbagai aksi kekerasan atas nama Islam pada hari ini. 

Berikut ini paparan para Ulama yang memberikan kesaksian positif tersebut, dan 
pembaca akan dapatkan betapa jauh berbeda antara para ulama ini dengan 
pandangan sinis dan skeptis dari kalangan bukan ulama. Sehingga layak kita 
bertanya, ulama mana yang diikutinya? 

1.Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin -rahimahullah. 

Anggota Hai'ah Kibar al Ulama di Saudi Arabia. Silahkan lihat kesaksian dan 
pembelaan beliau terhadap Sayyid Quthb dan Hasan al Banna dalam rubrik Tsaqafah 
edisi 17, atau lihat kitab Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah 
Syubhat wa,Rudud karya Al Ustadz Dr. Taufiq al Wa'iy,hal. 515-516. Cet.1, 
2001M/1421H. Maktabah Al Manar Al Islamiyah, Kuwait. 

2.Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah. 

Juga anggota Hai'ah Kibar al Ulama. Ia telah membela Sayyid Quthb 
-rahimahullah- dari serangan Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhaly. Ia mengirim 
surat kepada Syaikh Rabi' sebagai nasehat untuknya. Silakan lihat surat 
tersebut - sangat panjang- yang sebagiannya telah kami terjemahkan dari kitab 
berjudul Sayyid Quthb karya Shalah Abdul Fattah al Khalidi, hal. 593-600, 
penerbit Darul Qalam, Damaskus, yang kami lampirkan dalam buku Al Ikhwan Al 
Muslimun Anugerah Allah yang Terzalimi, hal. 411-418 (edisi lengkap). Lihat 
juga Al Ikhwan Al Muslimun Kubra Al Harakat Al Islamiyah Syubaht wa Rudud, hal. 
508- 514. 

3.Syaikh Abdullah bin Al Hasan al Qu'ud -rahimahullah. 

Seorang ulama Saudi Arabia yang juga menjadi rujukan kaum Salafiyyin. Syaikh 
Ibnu Qu'ud telah menasehati Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhali. 

Ia berkata, "Telah membawa berita kepadaku lebih dari seorang, tentang 
perkataanmu di suatu pertemuan baik-baik -semoga demikian adanya- bahwa engkau 
mengatakan buku Ma'alim fi Ath Thariq adalah buku terlaknat. Subhanallah!! 
Sebuah buku yang dibayar mahal oleh penulisnya (yakni Sayyiq Quthb) dengan mati 
di jalan Allah karena menentang penguasa komunis Jamal Abdul Nashir, 
sebagaimana diketahui oleh orang-orang pada masa itu. Padahal buku tersebut 
telah diedarkan oleh banyak pihak di Kerajaan Saudi ini selama bertahun¬tahun, 
di mana mereka adalah orang-orang berilmu dan berdakwah kepada Allah. Bahkan, 
banyak di antara mereka adalah para syaikh dari syaikh-syaikhmu. Dan, tidak ada 
seorang pun di antara mereka mengatakan seperti yang engkau katakan. 

Akan tetapi, engkau ini -wallahu a'lam- tidak mau memahami lebih mendalam apa 
yang engkau bicarakan sebelum marah, terutama untuk tema-tema semacam: Jail 
Qur'ani Farid (Satu-satunya Generasi Da'wah), Jihad, Laa Ilaaha Illallah manhaj 
kehidupan, Jinsiyyatu Al Muslim Aqidatuhu (Warga negara/Identitas seorang 
Muslim adalah Aqidahnya), Isti'la Al Iman (Kesombongan/ Ketinggian Iman), Hadza 
Huwa Ath Tharid (Inilah Dia Jalan -yang benar), .... Dan lain-lain dimana 
maknanya secara keseluruhan adalah keberagamaanmu kepada Allah? Bagaimana 
engkau nanti jika berdiri di hadapan Allah ketika orang ini (Sayyid Quthb) 
mendebatmu? Padahal, orang ini telah bertahun-tahun lamanya secara 
berturut¬turut disifati oleh media massa Saudi sebagai syahidul Islam?" (Abduh 
Zlfidar Akaha, Siapa Teroris? Siapa Khawarij?, hal. 325-326) 

4.Syaikh al 'Allamah Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh -hafizhahullah. 

Mufti Kerajaan Saudi Arabia saat ini, pemgganti Syaikh bin Baz. Syaikh ini 
mengkritik balik orang-orang yang mengkritik Sayyid Quthb. 

Beliau berkata, "Kitab tafsir Fi Zhilalil Qur'an adalah kitab yang bermanfaat. 
Penulisnya menuliskannya agar Al Qur'an ini dijadikan sebagai undang-undang 
kehidupan. Kitab ini bukanlah tafsir dalam arti kata harfiyah, tetapi 
penulisnya banyak menampilkan ayat-ayat Al Qur'an yang dibutuhkan oleh seorang 
muslim dalam hidupnya ... Di sana ada orang yang mengkritik sebagian istikah 
yang terdapat dalam kitab ini. Namun, sesungguhnya hal-hal yang dianggap 
kesalahan ini adalah dikarenakan indahnya perkataan Sayyid Quthb dan tingginya 
gaya bahasa yang beliau pergunakan di atas gaya bahasa pembaca. Inilah 
sebetulnya yang tidak dipahami oleh sebagian orang yang mengkritiknya. Kalau 
saja mereka mau menyelaminya lebih dalam dan mengulangi bacaannya, sungguh akan 
jelas bagi mereka kesalahan mereka, dan kebenaran Sayyid Quthb." (Ibid, hal. 
326) 

Ucapan Syaikh ini mengingatkan kami kepada Andi Abu Thalib al Atsary (nama 
aslinya Andi Bangkit), penulis Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwahul 
Muslimin, Penerbit Darul Qalam, pada hal. 73 catatan kaki no. 56 yang begitu 
tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengetahui seluk beluk bahasa Arab. 

Kami tidak tahu, kira-kira apa yang akan dikatakan Syaikh Abdul Aziz bin 
Abdullah Alu Syaikh kepada Andi Abu Thalib, kalau dia tahu ada omongan pemuda 
Indonesia -tentu tidak menjadikan bahasa Arab sebagai pengantar komunikasinya- 
yang tega menyebut Sayyid Quthb tidak mengerti bahasa Arab. Padahal kritikan 
Syaikh di atas diarahkan untuk para pengkritik Sayyid Quthb dari kalangan orang 
Arab (tentu berbahasa Arab) bahkan syaikh-syaikhnya. Sungguh, amat berbeda 
antara ucapan orang berilmu seperti syaikh yang mulia ini, dibanding ucapan 
penuntut ilmu itu. Bahkan Syaikh Bakr Abu Zaid ketika membela Sayyid Quthb dari 
celaan. Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan bahwa perbedaan bahasa yang digunakan 
Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi' seperti perbedaan bahasa antara mahasiswa dan 
anak I'dadi (persiapan bahasa), sehingga si anak I'dadi tidak begitu paham 
dengan bahasa si mahasiswa.(Ibid, hal. 322) 

Itu perbandingan dari Syaikh Bakr Abu Zaid tentang kemampuan berbahasa Arab 
antara Sayyid Quthb dan Syaikh Rabi' (yang seorang guru besar, Profesor di 
Universitas Islam Madinah), lalu bagaimana perbandingan antara Sayyid Quthb 
dengan Andi Abu Thalib yang orang Indonesia, mantan santri di pesantren Jawa 
Timur dan kuliah di Sastra Jepang UI angkatan 1999M. Jangan sampai pembaca 
Tatsqif mengumpamakannya seperti perbedaan Mahasiswa dengan balita! 

Maka, wahai pembaca, bukankah selayaknya ini disebut kesombongan penulis 
Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin, agar ia bisa berbangga- 
bangga dengan ilmunya di depan ulama. 

Dari Jabir radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah 'Alaihi Shalatu was Salam 
bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk membanggakannya kepada para 
ulama dan melecehkan orang-orang bodoh, dan janganlah kalian memilih-milih 
majlis dengan ilmu itu, barangsiapa melakukan hal tersebut maka api neraka, api 
neraka (baginya)." (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan al 
Baihaqi. Semuanya dari jalur Yahya bin Ayyub al Ghafiqi dari Ibnu Juraij, dari 
Abuz Zubair, dari jabir. Yahya initerpercaya. Asy Syaikhan dan lainnya 
berhujjah dengannya, dan tidak dianggap orang yang ganjil (syadz) dalam riwayat 
ini. Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Hudzaifah. Syaikh al Albany menshahihkan 
hadits ini dalam Shahih Targhib wa Tarhib 1/119) 

5.Syaikh Manna' Khalil al Qaththan -rahimahullah. 

Pakar Tafsir dan Hadits, dosen pasca sarjana di Universitas Imam Muhammad bin 
Su'ud Al Islamiyah, Riyadh. Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh. Dia juga 
seorang anggota Ikhwan, seangkatan dengan Yusuf al Qaradhawy. Posisinya di 
Saudi yang demikian tinggi menunjukkan penerimaan ulama Saudi terhadap 
tokoh-tokoh Ikhwan, begitu pula Yusuf al Qaradhawy pernah menjadi anggota 
Majelis Tinggi Universitas Islam Madinah yang direktori Syaikh bin Baz. 

Kami ringkas ucapan Syaikh Manna', dia berkata, "Di antara tokoh jamaah ini 
yang paling menoniol adalahseorang alim yang sulit dicari bandingannya dan 
pemikir cemerlang, Asy Syahid Sayyid Quthb, yang telah memfilsafatkan pemikiran 
Islam dan menyingkapkan ajaran¬ajarannya yang benar dengan jelas dan gamblang. 
Tokoh yang menemui Tuhannya, sebagai syahid dalam membela akidah ini telah 
meninggalkan warisan pemikiran sangat bermutu, terutama kitabnya dalam bidang 
tafsir yang diberi nama Fi Zhilalil Qur'an. 

Kitab tersebut merupakan sebuah tafsir sempurna tentang kehidupan di bawah 
sinar Qur'an dan petunjuk Islam. Pengarangnya hidup di bawah naungan Qur'an 
yang bijaksana sebagaimana dapat dipahami dari penamaan kitabnya. Ia meresapi 
keindahan Qur'an dan mampu mengungkapkan perasaannya dengan jujur ....dst. 

Kitab ini terdiri atas delapan jilid besar dan telah mengalami cetak ulang 
beberapa kali hanya dalam 

Sumber : 

·          18 September 2006, 09:29:36 pm 
http://myquran.org/forum/index.php/topic,7677.0.html 

·          (Farid Nu'man, SS. Dari majalah Tsaqif Edisi 17 dan 18 aug-sep 06) 

  




********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke