Tips Dakwah
Telinga al-Makmun memerah. Panas. Bagaimana tidak, cara orang itu
mengingatkannya sungguh kasar. Al-Makmun bukannya mengingkari apa yang
disampaikan oleh orang itu, yang disampaikannya benar semuanya. Akan tetapi,
kata-kata orang itu sungguh ketus, jauh dari lembut dan santun. Karenanya,
begitu orang itu menyelesaikan ‘nasihat’-nya, al-Makmun segera angkat bicara,
“Wahai Fulan, berlemahlembutlah! Sesungguhnya Allah telah mengutus orang yang
lebih baik daripada kamu kepada orang yang lebih buruk daripada aku, dan Allah
memerintahkannya agar bersikap lemah lembut!”
Yang dimaksud oleh al-Makmun dengan orang yang lebih baik daripada orang yang
memberinya ‘nasihat’ adalah Nabi Musa dan Harun. Yang dia maksud dengan orang
yang lebih buruk daripadanya adalah Fir’aun, dan yang dia maksud dengan
perintah Allah agar bersikap lembut adalah firman Allah, “Maka berbicaralah
kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia
ingat atau takut.” (QS. Thâhâ: 44)
Fulan yang memberi ‘nasihat’ kepada al-Makmun itu mendapatkan pelajaran
berharga. Bahwa menyampaikan kebenaran mestilah dengan cara yang benar. Bukan
dengan asal bicara dan asal hantam begitu saja. Ada cara yang diajarkan oleh
Allah dan Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam.
Cakupan Rifq
Saat menyebut beberapa sifat yang harus dimiliki oleh seorang juru dakwah,
dalam Muqawwimâtud Dâ’iyatin Nâjih, Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthâniy
menyebut salah satunya adalah rifq. Beliau mendefinisikan rifq bukan hanya
lemah lembut dalam menyampaikan materi dakwah. Rifq yang sangat dibutuhkan oleh
seorang juru dakwah mencakup sikap ramah dan lemah lembut dalam perkataan dan
perbuatan, mempermudah suatu urusan, berakhlak baik, mempertebal dan
memperbanyak kesabaran, tidak mudah marah dan bersikap keras.
Semua Butuh Rifq
Sebenarnyalah bukan hanya juru dakwah yang membutuhkan hadirnya rifq dalam
diri. Kita semua-apapun profesi kita-membutuhkannya. Sebab tidak ada seorang
pun di antara kita yang ingin urusan-urusannya jadi berantakan. Sebab tidak ada
seorang pun yang mau kehilangan banyak kebaikan. Sebab tidak ada seorang pun
yang berharap memanen cacian dan makian.
Ketika ada seorang laki-laki memakai pakaian yang menjulur melebihi batas yang
diperkenankan syara’ beberapa orang yang melihatnya segera mencela, menghina
dan berbuat kasar kepadanya. Melihat hal itu Shilah bin Asy-yam segera
bertindak memberi pelajaran kepada mereka tentang praktik yang menerapkan sikap
lemah lembut dalam beramar ma’ruf nahyi munkar. Kepada laki-laki itu Shilah
berkata, “Wahai putera saudaraku, aku membutuhkan sesuatu darimu.”
“Apa yang bisa kulakukan?” tanya orang itu.
“Alangkah senangnya hatiku seandainya kamu mau meninggikan pakaianmu.”
“Terima kasih, betapa sejuknya pandanganku jika aku mentaati perintahmu.”
Seketika itu juga orang itu meninggikan pakaiannya. Kemudian, kepada
kawan-kawannya Shilah berkata, “Mestilah begini cara kalian mengingkari
kemungkaran. Jika kalian memulainya dengan celaan dan cacian, ia pun akan
membalasnya.”
Itu baru satu contoh. Dan kalau kita perhatikan kehidupan kita, niscaya kita
akan mendapati ribuan fragmen kehidupan kita yang berakhir indah dengan
hadirnya rifq.
Kabar Gembira
Hal itu sudah disinyalir oleh Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam lebih
dari 14 abad yang lalu. Beliau bersabda,
ما كان الرفق في شيء إلا زانه ، ولا كان العنف في شيء إلا شانه.
“Sesungguhnya rifq tidak menempel kepada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan
tidak terlepas dari sesuatu kecuali akan menjadi cela baginya.” (HR. Imam
Muslim)
إن الله رفيق يحب الرفق ويعطي على الرفق مالا يعطيه على العنف، ومالا يعطي على
سواه.
“Sesungguhnya Allah itu Rafîq (Maha Lembut) dan mencintai rifq. Dan Dia memberi
dengan rifq itu sesuatu yang tidak diberikan dengan kekerasan, dan memberikan
sesuatu yang tidak diberikan dengan selainnya.” (HR. Imam Muslim)
Dunia Tanpa Rifq
Untuk memperjelas penggambaran, ada potret dunia tanpa rifq di sekitar kita.
Sering kita mendengar atau membaca kabar adanya pembantu rumah tangga (PRT)
yang dianiaya oleh majikannya. Mungkin saat menganiaya si majikan merasa puas
telah melampiaskan amarah dan kekesalan hatinya. Namun pada akhirnya ia pasti
menyesal. Jika tidak di dunia karena dia akan dimintai pertanggungjawaban,
pasti di akhirat adzab telah menunggunya jika dia tidak mendapatkan ampunan
dari Allah.
Kita juga sering menyaksikan orang tua yang mengasuh anak-anaknya dengan
kekerasan akhirnya anak-anaknya mempraktikkan pelajaran kekerasan itu kepada
mereka sendiri. Kini tidak jarang kita mendengar ada anak membunuh ayahnya atau
menyiksa ibunya. Na’ûdzu billâh min dzâlik.
Wal akhir, sudahkah kita mengontrol diri kita dari sikap kasar kepada orang
yang tidak kita kenal, tetangga kita, saudara kita, suami/ istri, dan anak-anak
kita? Sudahkah kita mencoba untuk menahan diri dari melampiaskan rasa kesal di
hati kepada mereka, meskipun mereka memang berbuat salah? Inilah resep dari
Nabi untuk kesuksesan semua urusan kita di dunia dan di akhirat. Mari kita
mencobanya.
Wallahu a’lam.
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************