Saatnya Kembali Kepada Allah SWT 

Rasanya Indonesia tidak lepas didera berbagai bencana, sampai hari ini, silih 
berganti. Belum selesai penanganan musibah yang satu, muncul baru musibah yang 
sebelumnya tidak pernah kita duga. 

Hakekat Musibah

Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia di muka bumi pasti diuji dengan 
berbagai hal. Diuji dengan sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya sesuatu 
yang tidak disukai. Sesuatu yang tidak disukai beragam macamnya. Rasa takut, 
kelaparan, berkurangnya harta dan jiwa, bahkan hal yang berharga lainnya.

Allah swt. telah menyatakan hal demikian dalam firman-Nya QS. Al Baqarah: 
155-157

??????????????????? ???????? ????? ???????? ?????????? ???????? ????? 
??????????? ?????????? ?????????????? ????????? ?????????????
????????? ????? ???????????? ?????????? ???????? ?????? ?????? ????????? 
???????? ?????????
?????????? ?????????? ????????? ???? ?????????? ?????????? ???????????? ???? 
??????????????

"Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, 
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita 
gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa 
musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka 
Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan 
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Rasa takut selalu menyertai kehidupan manusia. Misalnya, ketika ia masih duduk 
dibangku belajar, takut tidak lulus. Sudah lulus, takut tidak mendapatkan 
pekerjaan. Sudah bekerja takut tidak cukup gajinya. Sudah cukup, masih khawatir 
untuk menikah. Sudah menikah takut tidak punya anak. Sudah punya anak takut 
anaknya bandel, dan seterusnya... setiap kita memiliki rasa takut itu.

Yang lain, kelaparan. Hari-hari ini kita menyaksikan kemiskinan dipertontonkan 
oleh media massa. Banyak saudara-saudara kita yang antri ingin membeli beras 
dari operasi pasar pemerintah. Ada saudara kita yang makan nasi jagung, tidak 
sedikit makan nasi aking, bahkan dimasa paceklik banyak yang tidak makan.

Kekurangan harta dan jiwa. Ketika banjir melanda Jabodetabek, dan Jakarta 
kelep, selain rasa takut menggelayuti warga, juga kehilangan harta bahkan jiwa. 
Tidak terhitung jumlah kerugian, baik fisik maupun kegiatan ekonomi yang 
mandek. Banyak yang meninggal dunia, karena tersengat listrik, keseret air, 
atau kedinginan dan tidak mendapatkan makanan.

Rasanya Indonesia tidak lepas didera berbagai bencana, sampai hari ini, silih 
berganti. Belum selesai penanganan musibah yang satu, muncul baru musibah yang 
sebelumnya tidak pernah kita duga. 

Yang lebih penting, adalah sikap introspeksi masyarakat Indonesia, lebih lagi 
pemerintahnya. Ada apa ini?. Apakah ini semata-mata teguran Allah swt., karena 
kecintaan-Nya terhadap bangsa ini yang sudah terlalu lama melupakan-Nya?. Atau 
karena musibah itu ternyata akibat dari ulah tangan-tangan jahil manusia?.

Yah, Allah swt menegur manusia dengan adanya musibah itu, benar. Dan ternyata 
berbagai bencana itu akibat ulah tangan manusia juga benar. Bahkan Walhi sebuah 
LSM yang perhatian terhadap masalah lingkungan hidup mencatat ada sekitar 145 
musibah menimpa bangsa ini selama kurun tahun 2006, namun dari banyaknya 
peristiwa itu ternyata 135 musibah itu disebabkan karena ulah manusia. Sehingga 
benar informasi Allah swt dalam firman-Nya QS. Ar Rum: 41.

?????? ?????????? ??? ???????? ??????????? ????? ???????? ??????? ???????? 
???????????? ?????? ??????? ???????? ??????????? ???????????

 "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan 
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) 
perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Ketika sebagian besar musibah akibat dari ulah tangan manusia, semestinya 
pertama kali yang harus mereka sikapi adalah merasa bersalah, meminta ma'af dan 
memperbaikinya. Namun kalau kita dengar pernyataan dari pemimpin kita, mereka 
mengatakan ini hanya gejala alam saja, tidak ada kaitannya dengan kesalahan 
kepemimpinan mereka, juga tidak mengaitkan dengan kekuatan Allah swt.

Introspeksi Diri

Sejarah mengajarkan kepada kita, bahwa para sahabat radhiyallahu anhum ketika 
mengalami musibah, kekalahan dalam pertempuran, atau yang lainnya, seketika itu 
mereka sadar, boleh jadi ada saham kesalahan yang mereka lakukan. Ketika mereka 
mengalami kekalahan dalam perang Uhud misalkan, mereka langsung mengevaluasi, 
memperbaiki diri dan mempersiapkan kemenangan.

Sikap mereka ini direkam Allah swt. dalam QS. Ali Imran: 147

????? ????? ?????????? ?????? ??? ???????? ??????? ??????? ????? ?????????? 
?????????????? ??? ????????? ????????? ???????????? ?????????? ????? ????????? 
??????????????

 "Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami 
dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan 
tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir"."

Langkah strategis pertama mensikapi musibah adalah menyadari kesalahan diri. 
"Ighfirlanaa dzunubanaa".

Tidak terbayang sebelumnya, bahwa air banjir masuk sampai ke kamar tidur kita, 
menenggelamkan semua isi di dalamnya. Ketika itu kita berdo'a dengan sangat 
khusyu', namun kita belum mengakui, boleh jadi ada saham kesalahan yang kita 
perbuat, tidak juga mengucapkan istirja' dengan penuh keyakinan, innaa lillahi 
wa innaa ilaihi raa'jiuun.

Jika demikian, kita khawatir seperti kaum terdahulu yang Allah swt. gambarkan 
dalam Al Qur'an, yaitu kaum yang ketika dicekam bencana mereka serta merta 
berdo'a dengan sangat khusyu'. Ketika berbaring, lagi duduk, atau sambil 
berdiri, praktis dalam semua kondisi mereka berdo'a dan bergumam mengharap 
kepada Allah swt agar semua musibah segera berlalu. Tapi ketika Allah swt. 
menghilangkan bencana tersebut, mereka berlenggang, seakan-akan mereka 
sebelumnya tidak pernah berdo'a dan seakan-akan mereka tidak pernah dicekam 
bencana. Wal iyadzu billah.

??????? ????? ?????????? ???????? ???????? ????????? ???? ???????? ???? 
???????? ???????? ????????? ?????? ??????? ????? ????? ????? ????????? ????? 
????? ???????? ???????? ??????? ??????????????? ??? ???????? ???????????

 "Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan 
berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu dari 
padanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak 
pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. 
begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu 
mereka kerjakan." (QS. Yunus: 12)

Sikap kedua, adalah meneguhkan jati diri sebagai muslim "Tsabbit aqdamanaa".

Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk hidup bersih, pola hidup sehat, budaya 
tertib, membuang sampah pada tempatnya, menyingkirkan duri dari jalan, menanam 
pohon, tolong menolong dalam kebaikan, kerja bakti, larangan merusak tanaman 
dst. Seandainya ummat sadar akan identitas ini, meskipun kelihatannya 
sederhana, namun sangat berarti dampaknya.

Terutama pemerintah yang bertanggungjawab akan keselamatan rakyatnya, 
seharusnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ramah lingkungan dan berpihak 
kepada rakyat, bukan menguntungkan kelompok tertentu. Sehingga kalau hujan 
turun misalkan, bukannya sampah berserakan di jalan-jalan, bukan macet yang 
jadi pemandangan, dan bukan banjir yang menjadi langganan, juga bukan 
mengakibatkan kerusakan lainnya, apalagi memakan jiwa. Namun hujan akan membawa 
keberkahan dan keselamatan.

Langkah strategis ketiga, adalah mempersiapkan kemenangan "Unshurnaa".

Ummat mau tidak mau harus mempersiapkan pemimpin, memunculkan tokoh yang akan 
memperjuangkan kepentingan mereka. Yaitu pemimpin yang mendorong perbaikan dan 
perubahan. Pemimpin yang melepangkan jalan kesejahteraan. Pemimpin yang 
membantu rakyatnya dalam mewujudkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sudah saatnya ummat sadar, bahwa satu suara yang mereka salurkan adalah amanah 
dari Allah swt yang akan dimintai pertanggungjawabannya di yaumil hisab nanti. 
Sudah saatnya ummat sadar bahwa pilihan mereka menjadi taruhan, apakah kedepan 
akan ada perubahan atau malah sebaliknya. Ummat pun jangan sampai terprovokasi 
dengan kepentingan sesaat dan pragmatis, berupa iming-iming materi atau 
kedudukan. Namun sengsara berkepanjangan. Allahu A'lam. 

Oleh : Ulis Tofa, Lc - dakwatuna

 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

********************************************************

Kirim email ke