MENYOAL AKIDAH ATAU KHILAFAH?

Soal:

Manakah yang harus didahulukan, antara seruan untuk memperbaiki akidah ataukah 
menegakkan Khilafah?

Jawab:

Mendudukan Posisi Akidah dan Khilafah 

Harus diakui, bahwa sebagai pondasi, akidah menduduki posisi yang sangat 
penting dan strategis bagi kehidupan seseorang. Bagi umat Islam, akidah Islam 
merupakan landasan kehidupan; baik kehidupan individu, masyarakat maupun 
negara. Akidah Islam juga merupakan sumber kebangkitan umat Islam serta penentu 
maju dan mundurnya umat ini. Ini terlihat dengan jelas pada kebangkitan bangsa 
Arab. Bangsa yang sebelumnya tidak mempunyai sejarah, dan tidak pernah 
diperhitungkan oleh dunia, tiba-tiba muncul ke pentas sejarah sebagai adidaya 
di dunia, yang disegani oleh kawan dan lawan. Semua ini terjadi setelah bangsa 
ini memeluk Islam sebagai akidah dan syariat mereka. Demikian sebaliknya dengan 
saat ini, setelah akidah Islam itu tidak lagi dijadikan landasan kehidupan, 
baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, serta tidak lagi sebagai 
sumber kebangkitan mereka, maka bangsa ini akhirnya kembali hina dan dinistakan 
oleh musuh-musuh mereka, kaum kafir imperialis. 

Allah SWT. berfirman: 

]أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ 
أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي 
نَارِ جَهَنَّمَ[ 

Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)-nya di atas dasar 
ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang 
mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh 
bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? (QS at-Taubah [9]: 109).

Konteks ayat ini memang berkaitan dengan bangunan masjid, tetapi bangunan 
masjid di sini ada yang merupakan produk ketakwaan kepada Allah dan 
keridhaan-Nya, dan ada yang tidak. Allah menyatakan, bahwa produk yang 
dihasilkan dengan landasan takwa dan keridhaan-Nya adalah produk yang kokoh, 
demikian sebaliknya. Ini artinya, jika bangunan fisik saja dilandasi oleh 
akidah—yang dinyatakan sebagai faktor ketakwaan dan keridhaan-Nya—akan menjadi 
bangunan yang kokoh, lalu bagaimana dengan bangunan non-fisik yang jauh lebih 
kompleks ketimbang bangunan fisik? Karena itu, ayat ini juga membuktikan, bahwa 
akidah Islam ini merupakan pondasi kehidupan, baik kehidupan individu, 
masyarakat maupun negara, sekaligus merupakan sumber kebangkitan, yang akan 
menentukan kualitas umat ini.

Persoalannya, akidah seperti apa yang akan mampu mengembalikan kehidupan dan 
kebangkitan umat ini? 

Umat Islam adalah kumpulan manusia yang diikat oleh satu akidah, yakni akidah 
Islam. Akidah inilah yang telah berhasil menyatukan suku Aus dan Khazraj, yang 
sebelumnya dilanda perang saudara yang tak kunjung henti. (Lihat: QS Ali Imran 
[3]: 103).

Akan tetapi, sejarah juga membuktikan bahwa perkembangan mazhab akidah Islam 
justru menyebabkan Khilafah Abbasiyah berdarah-darah. Pemicunya adalah 
perbedaan mazhab; Muktazilah versus Ahlussunnah, atau Syiah versus Sunni.[1] 
Karena itu, akidah Islam yang mana? Dengan tegas bisa dikatakan, bahwa akidah 
Islam yang bisa menyatukan dan membangkitkan kembali umat ini adalah akidah 
al-Quran, bukan akidah mazhab, meskipun akidah mazhab ini—sepanjang dibangun 
berdasarkan dalil syar‘i—masih menjadi bagian dari akidah Islam. Akidah 
al-Quran ini juga bukan akidah kalam, atau kefilsafatan,[2] tetapi akidah yang 
unik, dengan metodenya yang khas.[3] 

Saat ini, umat Islam masih berakidah Islam, sekalipun akidahnya merupakan 
akidah mazhab, kalam, dan kefilsafatan. Sebab, setiap Muslim—yang menjadi 
bagian dari umat ini—siang dan malam masih menyatakan: Lâ Ilâha illâ Allâh 
Muhammad Rasûlullâh. Namun demikian, akidah umat Islam saat ini telah 
kehilangan tiga hal: 

1.        Kehilangan ikatan dengan pemikiran, kehidupan, dan sistem hukum yang 
mengatur kehidupannya.

2.        Kehilangan konsepsi tentang apa yang akan datang setelah kehidupan 
(Hari Kiamat dan Hisab).

3.        Kehilangan tali ikatan antarsesama Muslim sebagai sebuah komunitas, 
atau ukhuwah Islamiyah.[4]

Akibatnya, akidah Islam umat ini seperti mayat, karena telah dipisahkan dari 
pemikirannya. Akidah umat ini juga tidak lagi mampu menggentarkan mereka akan 
azab Allah di akhirat serta kerinduan untuk mendapatkan surga-Nya. Terakhir, 
umat ini telah terbelah dan bercerai-berai menjadi bangsa dan negara, lebih 
dari 50 entitas politik yang tak berdaya, akibat dari hilangnya tali ikatan, 
yang mengikat antarsesama Muslim.

Akidah Islam: Akidah Perjuangan, Akidah Khilafah 

Akidah Islam adalah akidah amal; akidah yang mendorong setiap pemeluknya untuk 
beramal salih. Karena itu, ayat al-Quran selalu menghubungan antara keimanan 
dengan amal salih, tidak kurang dari 50 ayat. Istilah îmân di dalam ayat-ayat 
tersebut, menurut Imam Akbar Mahmud Syaltut, adalah akidah, sedangkan amal 
shâlih adalah syariat (hukum). Dengan kata lain, akidah adalah persoalan hati, 
sedangkan syariat adalah persoalan fisik; keduanya tidak dapat dipisahkan. 
Akidah tanpa amal tidak pernah tampak; ibarat bangunan, ada pondasi, tetapi 
pondasi tersebut tertimbun tanah sehingga tidak tampak. Baru tampak, jika di 
atas pondasi tersebut ada bangunan. Bangunan di atas pondasi itu adalah 
syariatnya. Demikian sebaliknya, syariat tanpa pondasi, atau akidah, akan 
menyebabkan bangunan tersebut rapuh, dan akhirnya dengan mudah akan runtuh.  

Karena itu, Allah pun harus menguji setiap orang Mukmin dengan amalnya sehingga 
layak menyandang predikat Mukmin yang sejati:

]أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ 
يُفْتَنُونَ[

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami 
telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? (QS al-Ankabut [29]: 2).

Dengan konsepsi tersebut, akidah Islam telah berhasil menjadikan pemeluknya 
jauh lebih kuat dan tegar dalam mengarungi kehidupan sehingga mampu melahirkan 
para pejuang penakluk dunia, menyebarkan hidayah hampir di 2/3 belahan dunia, 
setelah mereka mewarisi negara adidaya yang ditinggalkan oleh Rasul, yaitu 
Khilafah 'alâ Minhâj an-Nubuwwah. Kini, setelah Khilafah yang diwariskan oleh 
Rasul itu dihancurkan oleh konspirasi kaum Yahudi Dunamah, Inggris dan Prancis, 
maka umat Islam tidak lagi mewarisi kemuliaan seperti generasi terdahulu. 

Karena itu, kewajiban menegakkan Khilafah yang merupakan perkara ma‘lûm[un] min 
ad-dîn bi ad-dharûrah—dalam rangka mengembalikan kemuliaan Islam dan kaum 
Muslim—merupakan manifestasi dari akidah Islam, akidah perjuangan itu. Dengan 
Khilafahlah, umat ini akan bisa menjalankan seluruh perintah dan larangan yang 
dituntut oleh akidah Islam dengan sempurna. Dengan Khilafahlah, akidah Islam 
ini bisa dijaga dan dipertahankan kemurniannya. 

Karena itu pula, siapa saja yang hendak menjaga kemurniaan akidah Islam, 
sebagaimana akidah al-Quran, tidak akan pernah berhasil meraih tujuannya tanpa 
berjuang menegakkan Khilafah. Jadi, mana yang lebih dulu, menegakkan Khilafah 
atau mengembalikan akidah? Jawabnya, tentu akidah. Akan tetapi, tidak berhenti 
di situ, karena akidah Islam ini harus disatukan dengan pemikiran, ikatan, dan 
konsepsi futuristik keakhiratan sehingga akan menghasilkan generasi pejuang. 
Perjuangan generasi tersebut saat ini yang paling urgen adalah menegakkan 
Khilafah Islam. Itulah yang menjadi problematika utama umat ini. 

Walhasil, mereka yang mengklaim akidahnya sahih, tetapi tidak terdorong untuk 
berjuang ke sana, sesungguhnya mengindikasikan akidahnya bak mayat, dan tentu 
harus dipertanyakan; sahihkan akidah Anda? Wallâhu a‘lam!  [HAR]



--------------------------------------------------------------------------------

[1]    Lebih jauh, lihat: Mohammad Maghfur W, MA., Koreksi atas Kesalahan 
Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, Penerbit al-Izzah, Bangil, cet. I, 2002. 

[2]    Pembahasan lebih jauh tentang kesalahan metode kalam dan filsafat dalam 
membangun akidah Islam, lihat: as-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni, as-Syakhshiyyah 
al-Islâmiyyah, Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr, cet. VI, 2003, I/57-65 dan 
125-129.  

[3]    Pembahasan lebih jauh tentang karakteristik akidah Islam, yang merupakan 
akidah al-Quran, serta bagaimana metode membangunnya, lihat: as-Syaikh 
Taqiyuddîn an-Nabhâni, Ibid, hlm. 29-48. 

[4]    Lihat: Seruan Hizbut Tahrir kepada Kaum Muslim, Pustaka Thariqul Izzah, 
Bogor, cet. I, 2003, hlm. 126-127.  
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke