> Akhi fillah, > > dari artikel tulsan ustadz abi abdilah (Nabiel Al Mustofa) kita menjadi > faham mengenai tafsir di QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32 > serta QS Al an'am, 6/159 yaitu bahwa perbedaan thd golongan/ organisasi/ > hizb yg tidak boleh adalah perbedan & kelompok yg berbeda dlm mslh > akidah. > > sehingga mnrt ana tidak pada tempatnya lagi kita mempersoalkan > absahnya/bolehnya organisasi/golongan/partai selama masih berakidah > islam, apalagi berpendapat bahwa perbedaan organisasi/partai identik dg > perpecahan. harus dipisahkan antara kasus dengan prinsip, antara oknum dg > institusi, shg tdk terjadi generalisai persoalan. maksudnya kalau ada 2 > atau lebih organisasi yg sama akidahnya kemudian terjadi perseteruan > diantara mereka maka tdk boleh mengambil kesimpulan bahwa kalau > organisasinya beda pasti terjadi perpecahan/perseteruan. tumbuhkan positif > thinking bahwa masing2 organisasi/partai selama akidahnya sama (islam) > saling melengkapi bangunan islam, karena memang tdk ada organisasi yg > sempurna tetapi tetap ditegakkan suasasan saling amar ma'ruf nahi munkar > shg bila melenceng bisa kembali ke jl yg benar > > adapun hadist shohih ttg periodisasi kepemimpinan yg juga trdpt pd buku yg > ana referensikan yaitu menuju jama'atul muslimin, dimana diisyaratkan > pada masanya akan datang khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah maka sbg seorang > muslim kita hrs meyakininya. Hanya persoalannya apakah kita akan menunggu > takdir tsb datang sedngkan kita diam saja tanpa berjuang, atau kita > berusaha semaksimal mungkin yg kita bisa untuk bersama mewujudkan khilafah > tsb? bukankah menegakkannya merupakan kewajiban setiap muslim?? dan > bukankah Alloh tidak melihat hasil tetapi usaha kita?? walau mememang dg > atau tanpa usaha kita ketetapan Alloh itu pasti datang > > Wassalam, > Musyafak > > > > Assalamualaikum wr.wb > > > " Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi > > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka > > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka sudah > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada > > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada jalan > > lain kecuali membentuk & mendirikannya.." ( potongan dari artikel ) > > Dari artikel ini di jelaskan bahwa dulu ada jam'ah dan dilarang membuat > jama'ah / kelompok baru yang berbeda dari jam'ah kaum muslimin ( sama > dengan hadits dibawah ini ) yaitu pada fase Khilafah 'Ala Minhajin > Nubuwwah > sesudah fase Nubuwwah, > > " Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, > berkata > : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Adalah masa > kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak > ALLAH. > Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk > mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian > ( > Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah ), adanya atas kehendak ALLAH, kemudian > Allah mengangkatnya apabila ia telahmenghendaki untuk mengangkatnya. > Kemudian adalah masa kerajaan yang menggigit ( Mulkan 'Adlan ), adanya > atas > kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah menghendaki > untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa kerajaan yang menyombong ( > Mulkan > Jabariyyah ), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya, > apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa > Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian ( Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah ) > " > kemudian beliau (Nabi) diam. (hadits riwayat Ahmad dan > Al-Baihaqi.Misykatul > Mashabih:Bab Al-Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi , India > halaman 461) > > kalau kita melihat hadits ini, kita akan melihat bahwa perjalan umat Islam > itu akan melewati fase-fase, dari fase Nubuwwah, sampai terakhir akan > kembali ke fase Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, yang berarti khilafah > yang > mengikuti jejak kenabian ( baik dari cara maupun metode kepemimpinanya pun > seperti masa kenabian ) > > Lalu salah satu bagian dari tulisan Akhi Daryono menuliskan > > Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hazim yang mengatakan : > > "Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun, pernah aku > mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yan bersabda, " > Dahulu, > Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. > Setiap > kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya > tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah." > > Para sahabat bertanya," Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ?". > Beliau menjawab,"Penuhilah bai'at yang pertama itu saja. Berikanlah kepada > mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka > terhadap rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka". > > Yang artinya kurang lebih pada suatu saat nanti akan banyak khalifah, dan > kita di perintahkan untk menunaikan bai'at kita pada yang pertama. Atau > dengan kata tidak boleh ada lebih dari satu khalifah > > Jadi kesimpulannya kalau (menurut Ana) sesuai dengan ( seperti ) yang > tertulis dari potongan artikel Akhi Musyafak " dimasa mereka sudah > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin " > sesuai dengan hadits yang diatas ( dari Nu'man bin Basyir ) > hanya kalau kita melihat dari hadits tersebut dikatakan bahwa nanti akan > ada > masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian tetapi menurut artikel dari > Akhi > Musyafak ( penafsiran Ana ), karena tidak ada khilafah maka kita boleh > membuat kelompok-kelompok / golongan-golongan( tidak perlu ada satu > kesatuan > / jam'ah yang mencakup seluruh umat ) > > Bagaimana pendapat ( penafsiran ) hadits diatas menurut Akhi Musyafak ) ? > > Mohon ma'af bila ada kesalahan karena kebenaran hanya milik Allah semata > > > Wassalam > > > Abu Aisyah > > > > > -----Original Message----- > From: Accounting - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, March 26, 2007 3:21 PM > To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' > Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN PARPO > L > ISLAM > > > > Akhi fillah mungkin artikel dr milling list yg lain ini ada hubungannya > > dengan pertanyaan abu aisyah meskipun mungkin tdk menjawab keseluruhan > > dari pertanyaan, tetapi substansinya insyaallah sangat relevan > > > > silakan baca, > > > > adapun ttg jama'ah, dan bagaimana tahapan menegakan khilafah mungkin > buku > > menuju jama'atul muslimiin bisa menjadi salah satu referensi > > > > Musyafak > > > > KAJIAN ILMIAH TENTANG HIZBIYYAH DAN BAGAIMANAKAH HIZBIYYAH YANG DILARANG > > OLEH SYARIAT[1]? > > > > Oleh : > > > > Abi AbduLLAAH > > > > Salah satu sifat yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad ShallaLLAHu > 'alaihi > > wa Sallam terjadi pada ummatnya adalah sifat ghuluw (ekstrem) dan > > tatharruf (menjauh dari kebenaran), yang merupakan sifat yang sangat > > dilarang oleh syari'ah, sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad > ShallaLLAHu > > 'alaihi wa Sallam berikut ini : > > > > "Takutlah kalian terhadap sikap ekstrem dalam beragama, karena > > sesungguhnya yang telah mencelakakan ummat sebelum kalian adalah sikap > > ekstrem dalam beragama.[2]" > > > > Salah satu bentuk dari sikap ghuluw tersebut adalah vonis baru (baca : > > bid'ah) yang tidak dikenal dalam referensi utama kaum muslimin, laa fil > > Qur'aan wa laa fis Sunnah, yaitu vonis hizbiyyah. Herannya lagi, bahwa > > vonis ini dilontarkan oleh sebagian orang yang mengaku2 sebagai pemegang > > panji2 Ahlus Sunnah dan pengikut Salafus Shalih, inna liLLAHi wa inna > > ilayhi raji'un.. > > > > Di berbagai forum dan tulisan --sebagian mereka-dengan getolnya > > melemparkan vonis tersebut kepada sesama saudara mereka muslim, para > > pejuang As-Sunnah dan penegak kalimat Tauhid, hanya karena mereka yang > > disebut terakhir ini membuat kelompok, atau partai ataupun jama'ah, yang > > tujuannya demi memudahkan kerja dakwah mereka. Kemudian mereka > sematkanlah > > berbagai label seperti hizbiyyun, ahlul-hawa' (para pengikut hawa > nafsu), > > ahlul bid'ah, Sufi yang Sesat, dsb. > > > > Mereka kemudian mencari2 dalil untuk membenarkan klaim mereka tersebut, > > dan memvonis berbagai kelompok kaum muslimin sesama Ahlus Sunnah wal > > Jama'ah, lalu mereka menemukan ayat yang "kelihatannya" bisa dipakai > untuk > > mendukung klaim mereka itu dan dengan itu mereka berusaha membodohi > orang2 > > yang bodoh, membingungkan orang yang bingung dan menakut2i orang yang > > penakut. > > > > Potongan ayat yang mereka dengung2kan dan mereka anggap melarang membuat > > kelompok, jama'ah atau partai itu menurut mereka yaitu ayat : Kullu > hizbin > > bima ladayhim farihun.. (Setiap partai/kelompok/jama'ah merasa bangga/ > > bergembira dengan apa yang ada pada kelompok masing2). Kemudian ayat : > > Innalladzina farraqu dinahum wa kanu syiya'an lasta minhum fi syai'in.. > > (Sesungguhnya orang yang memecah-belah agama mereka sehingga mereka > > menjadi berkelompok2 lepas tanggung jawabmu atas mereka wahai > Muhammad..) > > > > Ikhwan wa akhwat fiLLAH, marilah saya ajak antum semua untuk membuka > > berbagai rujukan kitab2 tafsir karangan Imam Salafus Shalih secara > inshaf > > (obyektif) dan wasith (adil), jauh dari sifat ghuluw wa tatharruf dan > jauh > > dari kepentingan apapun, kecuali ikhlas mencari keridhaan ALLAH SWT > > semata. Hanya kepada ALLAH-lah kita bertawakkal dan hanya kepada-NYA lah > > kita akan dikembalikan. > > > > Potongan ayat tersebut terdapat di 3 tempat, potongan yang pertama yaitu > > di QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32; lengkapnya adalah sbb; > > > > (#þqãè©Üs)tGsù OèdtøBr& öNæhuZ÷t/ #\ç/ã- ( '@ä. ¥>÷"Ïm $yJÎ/ > öNÍkö?y?s9 > > tbqãmÌsù ÇÎÌÈ > > > > 53. "Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama > mereka > > terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa > bangga > > dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)." > > > > z`ÏB súïÏ%©!$# (#qè%§sù öNßguZfÏS (#qçR%Y2ur $Yèu<Ï© ( '@ä. ¥>÷"Ïm > $yJÎ/ > > öNÍkö?y?s9 tbqãmÌsù ÇÌËÈ > > > > 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi > > beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada > > pada golongan mereka. > > > > Sementara potongan yang kedua pada QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya adalah > > sbb; > > > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB > 'Îû > > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3 (#qçR%x. > > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ > > > > 159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka > > menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada > mereka. > > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian > Allah > > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat. > > > > Makna ayat dalam QS Al-Mu'minun, 23/53 menurut kitab2 tafsir adalah sbb > : > > > > Berkata Imam At-Thabari[3] dalam tafsirnya[4], bahwa maknanya : "Maka > > berpecah-belahlah kaum yang diperintahkan oleh ALLAH SWT dari ummat Nabi > > Isa 'alayhis salam untuk bersatu atas agama yang satu... Dan setiap > firqah > > tersebut beragama dengan kitab yang berbeda satu dengan yang lain, > > sebagaimana orang Yahudi memegang kitab Taurat dan mendustakan hukum2 > > dalam kitab Injil dan Al-Qur'an, demikian pula orang2 Nasrani yang > > berpegang menurut sangkaan mereka pada kitab Injil dan mendustakan kitab > > Al-Qur'an." Dan ini diperkuat oleh makna "ummatan-wahidah" pada ayat > > sebelumnya, yaitu maknanya menurut Imam At-Thabari : "Innal ummah > alladzi > > fi hadzal maudhu' : Ad-Din wal Millah" (makna ummat dalam konteks ayat > ini > > adalah ummat dalam masalah agama)[5]. Jelas bahwa makna "HIZB" dalam > ayat > > tersebut menurut Imam At-Thabari adalah HIZB dalam Ad-Din wal Millah > > (perbedaan & kelompok2 yang berbeda dalam aqidah), lalu dimanakah letak > > larangannya jika HIZB tersebut tidak berbeda dalam Ad-Din wal Millah? > > > > Imam Ibnul Jauzy dalam tafsirnya[6] menyatakan bahwa ada 2 pendapat > > tentang tafsir ayat ini, yaitu pendapat pertama : Mereka adalah Ahli > Kitab > > (Yahudi & Nasrani) dari Mujahid; dan pendapat kedua : Mereka adalah Ahli > > Kitab & kaum Musyrikin Arab dari Ibnu Sa'ib. Demikian pula pendapat Imam > > Al-Mawardi[7] dalam tafsirnya[8], nampak bagi kita semua bahwa larangan > > tersebut amat jelas yaitu larangan berbeda2 dalam aqidah, atau berbeda > > dalam kitab suci persis sebagaimana perbedaan Yahudi dan Nasrani atau > > musyrikin, sama sekali tidak ada larangan yang berkaitan dengan larangan > > membentuk organisasi, atau jama'ah atau partai. > > > > Berkata Imam Al-Baghawi[9] dalam tafsirnya[10], bahwa makna "kullu > hizbin > > bima ladayhim farihun = bima 'indahum minad din" (dari apa2 yang ada > > disisi mereka dari agama), dalam hal ini beliau mengkaitkan dengan > tafsir > > ayat sebelumnya bahwa makna "fataqaththa'u amrahum = dinahum", lalu > makna > > "baynahum = berpecah-belah, maka mereka berpecah-belah menjadi Yahudi, > > Nasrani dan Majusi. Demikianlah pendapat para Imam Salafus Shalih > mengenai > > masalah ini, yaitu bahwa HIZB yang dilarang adalah HIZB yang berbeda > dalam > > aqidah dan agama (Ad-Din wal Millah) dan SAMA SEKALI BUKAN HIZB DALAM > > DAKWAH DAN PERJUANGAN. > > > > Berkata Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya[11] : Bahwa mereka ada yang > > mengikuti firqah Taurat, firqah Zabur, firqah Injil lalu mereka masing2 > > mengubah kitab2 tersebut dan menyimpangkan maknanya. Hal ini juga > pendapat > > Imam Al-Biqa'iy[12] dalam tafsirnya[13], Imam An-Nasafiy[14] dalam > > tafsirnya[15], Abu Sa'ud[16] dalam tafsirnya[17], Imam As-Suyuthi[18] > > dalam tafsirnya[19], Imam Al-Khazin[20] dalam tafsirnya[21], Imam > > Ats-Tsa'alabiy[22] dalam tafsirnya[23], dll. Lalu apakah hizb, jama'ah > dan > > partai Islam (baca : PKS) yang mereka tuduh tersebut mengubah Al-Qur'an? > > Menyimpangkan makna Al-Qur'an? Seperti firqah Taurat, firqah Zabur dan > > firqah Injil? Inna liLLAHi wa inna ilayhi ra'jiun.. Ana yakin mereka > tidak > > akan berani menuduh sejauh itu! Qul haatuu burhanakum in kuntum > > shadiqiin.. > > > > HUJJAH KEDUA : > > > > Ikhwan wal akhawat rahimakumuLLAH, setelah kita mengetahui tafsir yang > > dikemukakan oleh para Imam Salafus Shalih atas QS Al-Mu'minun, 23/53 > (yang > > juga sama dengan Ar-Rum, 30/32) tersebut pada kajian yang lalu, maka > > demikianlah pula tafsir atas QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya ayatnya > adalah > > sbb ; > > > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB > 'Îû > > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3 (#qçR%x. > > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ > > > > "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka > menjadi > > bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. > > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian > Allah > > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat." > > > > Makna ayat dalam QS Al-An'am, 6/159 menurut kitab2 tafsir adalah sbb : > > > > Berkata Imam At-Thabari dalam tafsirnya[24] bahwa makna > 'farraqu-dinahum' > > dalam ayat tersebut adalah bahwa agama ALLAH SWT ini adalah satu yaitu > > agama Ibrahim -semoga salam ALLAH baginya-, lalu berpecah-belahlah > Yahudi > > & Nasrani sehingga mereka menjadi agama yang berbeda2, adapula yang > > menjadi Majusi sehingga mereka menjauh dari agama yang haq[25]. > > > > Demikianlah tafsir yang benar mengenai masalah ini > > > > HUJJAH KETIGA : > > > > Demikian pula berbagai ayat yang ada dan bertaburan di dalam Al-Qur'an > > seperti PERINTAH UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK KECIL (dari sebuah kelompok > > besar) sepanjang kelompok kecil tersebut bertujuan untuk berdakwah, > > berjihad & melakukan amar ma'ruf nahi munkar, salah satunya adalah ayat > di > > bawah ini : > > > > ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô?tf 'n<Î) ÎZösfø:$# tbrããBù'tfur > > Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztfur Ç`tã Ìs3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd > > scqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ > > > > "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada > > kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang > munkar[217]; > > merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Aali Imraan, 3/104) > > > > Berkata Imam Abu Ja'far At-Thabari ketika mengawali tafsirnya atas ayat > > ini[26] : Berkata ALLAH Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji : WALTAKUN > > MINKUM wahai orang2 beriman; UMMATUN yaitu Jama'ah[27]; YAD'UNA yaitu > pada > > manusia; ILAL KHAYRI yaitu pada Islam & syariatnya yang telah > > ditetapkan-NYA bagi hamba2-NYA; WA YA'MURUNA BIL MA'RUFI, yaitu > > memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad -semoga shalawat dan > salam > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > > beliau- dan agama yang dibawanya; WA YANHAUNA 'ANIL MUNKARI, yaitu > > mencegah mereka dari kekafiran pada ALLAH -Yang Maha Suci lagi Maha > > Tinggi- dan penentangan pada Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > > beliau- dan dari agama yang dibawanya, yaitu melalui Jihad di jalan-NYA > > baik dengan tangan maupun anggota badan, sehingga mereka mengikuti > dengan > > ketaatan... (Perhatikanlah bahwa Imam At-Thabari menyebutkan agar ada & > > terbentuknya suatu jama'ah diantara ummat ini).. > > > > Imam Jalaluddin As-Suyuthi bahkan lebih maju lagi, beliau dalam > > tafsirnya[28] setelah menjelaskan berbagai hadits shahih berkaitan ayat > > ini, menyebutkan atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hayyan : > > "Bahwa hendaklah ada suatu kaum, baik 1 atau 2 atau 3 kelompok atau > lebih > > dari itu dan itulah baru disebut sebagai ummat." Kemudian ia berkata > lagi > > : "Lalu (hendaklah) ada imamnya yang memimpin untuk amar ma'ruf & nahi > > munkar." Lebih jauh beliau menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam > > Ahmad dari Abu Dzarr -semoga ALLAH Yang Maha Gagah lagi maha Tinggi- > > meridhoinya- : "Dua org lebih baik dari 1 orang, 3 orang lebih baik dari > 2 > > orang, dan 4 orang lebih baik dari 3 orang, maka hendaklah kalian > bersama > > Al-Jama'ah, karena ALLAH tidak akan mengumpulkan ummatku kecuali atas > > petunjuk[29]." > > > > Imam -Muhyis Sunnah- Abu Muhammad Al-Baghawi menyebutkan dalam > > tafsirnya[30] bahwa huruf "lam" pada kata "waltakun" bermakna > kewajiban.. > > sementara "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna "shilah" dan bukan > > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[31] sebagaimana dalam ayat : > > FAJTANIBUR RIJSA MINAL AWTSANI[32].. Yang maknanya : Hendaklah mereka > > menjauhi semua berhala & bukan hanya sebagian berhala saja.. Kemudian > Imam > > Al- Baghawi menyebutkan beberapa hadits, diantaranya dari Umar -semoga > > ALLAH Yang Maha Suci laga Maha Tinggi meridhoinya- Nabi Muhammad -semoga > > shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa > > tercurah pada diri beliau- bersabda : "Barangsiapa yang menginginkan > > puncaknya Jannah maka wajib atasnya menetapi Al-Jama'ah, karena > > sesungguhnya Syaithan itu bersama orang yang sendirian, dan terhadap 2 > > orang ia lebih menjauh[33]." > > > > Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya[34] bahwa makna "ummah" adalah jama'ah, > > kelompok, sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan : KULLAMAA > DAKHALAT > > UMMATUN LA'ANAT UKHTAHA[35].. Karena asal kata "ummat" dalam bahasa Arab > > adalah sekelompok orang yang memiliki 1 tujuan yang sama, bisa berupa > > keturunan, atau agama, atau lainnya, dan kejelasannya diketahui melalui > > keterkaitannya (idhafah) dengan kata setelahnya, semisal : Ummatul-'Arab > > atau Ummatun-Nashara, dll. > > > > Imam Abi AbduLLAH Syamsuddin Al-Qurthubi Al-Anshari Al-Khazraji dalam > > kitabnya[36] berpendapat bahwa "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna > > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[37], karena orang2 yang > memerintahkan > > yang ma'ruf itu haruslah berilmu, sementara tdk semua orang berilmu, mk > > kewajiban ini bersifat fardhu kifayah, jk sebagian kaum muslimin sudah > > melakukannya maka yang lain tidak berdosa[38]. > > > > Sayyid Quthb -semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan > > beliau Syahid- menyatakan dalam tafsirnya[39] : "Tidak bisa tidak ayat > ini > > memerintahkan agar terwujudnya sebuah Jama'ah Islamiyyah yang selalu > > berdakwah kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf & mencegah yang > > munkar. Dan hendaklah ada sebuah pemerintahan yang tegak berdiri di atas > > bumi ini melakukan hal tersebut, sehingga ayat ini tidak hanya berbunyi > > "yad'uuna " (berdakwah saja) melainkan juga "ya'muruuna" (memerintah) > dan > > "yanhauna" (melarang) yang keduanya itu tdk akan tegak kecuali adanya > > sebuah pemerintahan yang Islami.." Sampai kata beliau -semoga ALLAH Yang > > Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau Syahid- pada akhir > > penjelasannya atas ayat tersebut : "...Untuk demi tercapainya hal > tersebut > > di atas, maka tidak dapat tidak haruslah ada sebuah kelompok/jama'ah > yang > > memiliki 2 kekuatan di atas[40] yaitu "Iimaanu biLLLAAH" (QS > Aali-Imraan, > > 3/102) dan "Ukhuwwatu-fiLLAAH" (QS Aali-Imraan, 3/103) baru bisa > > mewujudkan ayat ini (QS Aali-Imraan, 3/104)... > > > > Demikianlah maka berdasarkan dalil2 di atas bahwa tegaknya Al-Jama'ah > > merupakan dharurah-syar'iyyah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak > > dengan kerja infiradiyyah (sendiri2) dan hanya mengharapkan dari > tarbiyyah > > & tashfiyyah saja, melainkan memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi > > untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca > generasi > > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka > > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka sudah > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok baru > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada > > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada jalan > > lain kecuali membentuk & mendirikannya.. Dan persoalan ini jauh lebih > > mendesak & lebih penting dari mendalami & bertele2 dalam masalah > > ibadah-mahdhah, cukuplah sunnah para sahabat -semoga ALLAH Yang Maha > Mulia > > lagi maha Tinggi meridhoi mereka semua- yang sampai meninggalkan > > pengurusan & pemakaman jenazah Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri > > beliau- untuk memilih Khalifah menjadi dalil atas hal tersebut. > > > > HUJJAH KEEMPAT : > > > > Oleh sebab itu maka seorang yang alim hendaklah berhati-hati dalam > berucap > > dan berfatwa, karena tidak semua orang bisa dibodohi oleh berbagai fatwa > > yang kelihatan seolah-olah benar dan memvonis tetapi sesungguhnya rapuh > > dan sangat menyesatkan. Sebagai contoh istilah "madzhabiyyah" adalah > buruk > > & tercela, tapi bermadzhab tidaklah buruk, tidak bid'ah & tdk pula > > dilarang. Maka demikian pula "hizbiyyah" adalah tercela & buruk, namun > > demikian membuat hizb seperti HIZBUL 'ADALAH WAR-RAFAHIYYAH (PKS), hal > > tersebut sama sekali tidak ada larangannya, bahkan jika umat sangat > > membutuhkannya maka ia bisa menjadi berkedudukan mustahabbah bahkan > wajib > > berdasarkan kaidah ushul : Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa > wajib. > > > > HUJJAH KELIMA : > > > > Maka mencap orang yang berpartai & berorganisasi sebagai hizbiyyun > > berdasarkan paparan di atas oleh karenanya adalah sesat & menyesatkan, > dan > > perbuatan ini dalam istilah para Ahli Ilmu dinamakan sebagai tingkat > > kejahilan ketiga yaitu Al-Jahlu Al-Murakkab (diantara 6 tingkat > kejahilan > > seseorang Tholabul 'Ilmi). Dan orang-orang seperti ini perlu membaca & > > mempelajari secara mendalam tentang siyasatus-syar'iyyah, karena > > serampangan memfatwakan masalah ini akan sangat berbahaya bagi > masyarakat, > > karena semua hal yang berkaitan dengan realitas di masa sekarang akan > > menjadi bid'ah semua, seperti Presiden juga bid'ah, negara Indonesia ini > > adalah bid'ah, parlemennya, menterinya, departemennya, dsb semuanya > > menjadi bid'ah. Dan semua ini dibuktikan dengan fatwa mereka tentang > > haramnya PEMILU, beberapa waktu yang lalu. Dan jika mereka konsisten, > maka > > kedudukan Raja secara turun-temurun juga adalah bid'ah, krn tdk > ditemukan > > dalam khairal qurun, diamnya sebagian shahabat tidak bisa dijadikan > hujah > > untuk masalah ini, karena mereka diam bukan berarti ridha tetapi > > berdasarkan fiqh muwazanah pada saat itu. Maka sebagian mereka yang > > membrontak dan membuat tanzhimpun tidak dihukumi ahli bid'ah, maka > > siapakah yang berani menyatakan para sahabat sekualitas Al-Husein bin > Ali, > > Muawiyah bin Abi Sufyan, AbduLLAH Ibnu Zubair, dll sebagai ahli bid'ah > > karena mereka membuat tanzhim, membuat hizb, membuat pasukan perang & > > kemudian memberontak? Qul haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqiin! > > > > KESIMPULAN : > > > > Oleh sebab itu, kesimpulannya hizbiyyah adalah semangat fanatisme > mazhab, > > golongan, syaikh, ustaz, ulama, dsb. Dan hizbiyyah bukanlah pada sikap > > bermazhab pada 1 mazhab, bergolongan atau meminta fatwa pada seorang > > ulama, syaikh, dsb. Seorang yang membatasi hanya mau menerima fatwa dari > > Syaikh Fulan dari negara Fulan, misalnya, dan tidak mau menerima fatwa > > dari selainnya itu adalah sikap hizbiyyah dan orang-orangnya dinamakan > > hizbiyyun. Demikian pula sikap orang yang memfatwakan bahwa > ulama-mujtahid > > di dunia ini hanya ada 3 orang saja, itu adalah sikap para hizbiyyun. > > Sikap mencaci para ulama besar yang diakui dunia, kemudian > > menyebar-nyebarkan isu baik dalam ceramah-ceramah maupun tulisan-tulisan > & > > buku-buku (yang belum dikonfirmasikan dan ditegakkan hujjah kepada sang > > ulama yang dicurigai tsb), adalah sikap para hizbiyyun. Semoga ALLAH SWT > > melindungi kita dari sikap hizbiyyah yang amat tercela (qabihah) ini, > > aaamiin ya RABB... > > > > ---------------------------------------------------------- > > > > [1] Sebenarnya tulisan ini sudah pernah ana muat di millist ini beberapa > > waktu yang lalu, namun ana melihat tulisan tsb mendapat respon yang > > luarbiasa di sebuah website milik saudara-saudara kita fiLLAAH yang ana > > kritik tsb, maka ana kemudian mempelajari bantahannya dan kemudian > > menjawabnya pada setengah bagian dari tulisan ini, Liyahlika man Halaka > > 'an Bayyinah wa Yahya man Hayya 'an Bayyinah, faliLLAAHil hamdu wal > minah. > > > > [2] HR An-Nasa'i, X/83; Ibnu Majah, IX/134; Al-Baihaqi, V/127; Al-Hakim, > > IV/256; At-Thabrani, X/301; Ibnu Habban, XVI/243. > > > > [3] Beliau adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin > > Ghalib Al-Amali At-Thabari, digelari Imam Abu Ja'far At-Thabari atau > juga > > Imam Ibnu Jarir At-Thabari, beliau wafat th 310-H. > > > > [4] Jami'ul Bayan fi Tafsiril Qur'an, XIX/41. > > > > [5] Ibid. Imam Thabari menyandarkan tafsirnya ini dari atsar yang shahih > > sbb : "Telah menceritakan pada kami Al-Qasim, telah menceritakan pada > kami > > Al-Husain, telah menceritakan pada saya Hajjaj dari Ibnu Juraij makna > ayat > > tersebut seperti di atas." > > > > [6] Zadul Masir, IV/415 > > > > [7] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri > > Al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan Imam Al-Mawardi, beliau wafat th > > 450-H. > > > > [8] An-Naktu wal 'Uyun, III/141 > > > > [9] Beliau adalah Imam Abu Muhammad Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawi, > > digelari oleh para ulama sebagai "Muhyis Sunnah" (Yang Menghidupkan > > As-Sunnah), beliau wafat pada th 516-H. > > > > [10] Ma'alimut Tanzil, V/420 > > > > [11] Fathul Qadir, V/161. > > > > [12] Beliau adalah Imam Ibrahim bin Umar bin Hasan Ar-Ribath bin 'Ali > bin > > Abi Bakr Al-Biqa'iy, beliau wafat th 885-H. > > > > [13] Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayati was Suwar, V/416. > > > > [14] Beliau adalah AbduLLAH bin Ahmad bin Mahmud Hafizhuddin Abul > Barakat > > An-Nasafiy, beliau wafat th 710-H. > > > > [15] Madrak At-Tanzil wa Haqa'iqut Ta'wil, II/385. > > > > [16] Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Musthafa Al-'Amadiy, Mufti > > dan Mufassir, beliau wafat th 982-H. > > > > [17] Irsyad Al-'Aqlis Salim Ila Mazaya Al-Kitab Al-Karim, V/5. > > > > [18] Beliau adalah AbduRRAHMAN bin Abi Bakr, diberi gelar Jalaluddin, > > beliau wafat th 911-H. > > > > [19] Ad-Durr Al-Mantsur, VII/210. > > > > [20] Beliau adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar > > Asy-Syihi, beliau wafat th 741-H. > > > > [21] Lubab At-Ta'wil fil Ma'ani At-Tanzil, IV/469 > > > > [22] Beliau adalah Abu Zaid AbduRRAHMAN bin Muhammad bin Makhluf > > Ats-Tsa'alabiy, beliau wafat th 876-H. > > > > [23] Al-Jawahirul Hasan fi Tafsiril Qur'an, III/54. > > > > [24] Jami'ul Bayan, XX/100 > > > > [25] Ibid, XII/268 > > > > [26] Jaami'ul Bayaan fi Ta'wiilil Qur'aan, VII/91 > > > > [27] Ini juga pendapat Imam Al-Biqa'iy, lih. Tafsirnya Nuzhmud Durar fii > > Tanaasubil Aayaati was Suwar, II/94 > > > > [28] Ad-Durrul Mantsur fit Ta'wili bil Ma'tsur, II/405 > > > > [29] Saya berusaha men-takhrij hadits ini, dan saya menemukannya bukan > > hanya dalam Musnad Ahmad (43/297); melainkan jg oleh Ibnu Asakir > (38/206); > > berkata Al-Albani dalam Fii Zhilalil Jannah (80-84) bahwa hadits ini > > maudhu' namun akhir kalimat dalam hadits ini terdapat syawahid dari > hadits > > shahih. > > > > [30] Ma'alimut Tanzil, II/84 > > > > [31] Ini juga pendapat Imam Ibnul Jauzy, lih. Zaadul Masiir, I/391. Tapi > > beliau juga menerima pendapat yang menyatakan kewajiban membentuk > jama'ah > > ini fardhu kifayah, dan beliau menyamakan kedudukannya seperti jihad fi > > sabiliLLAAH. > > > > [32] Al-Hajj, 22/30 > > > > [33] HR Tirmidzi, VI/383-386; Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah, I/42 (dan > > di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam ta'liq-nya atas kitab tersebut); > > Al-Lalika'i dalam Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jama'ah, > > I/106-107; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, I/114; Ahmad dalam Al-Musnad, > > I/18. > > > > [34] At-Tahriru wat Tanwiru, III/178 > > > > [35] QS Al-A'raaf, 7/38 > > > > [36] Al-Jami' li-Ahkamil Qur'an, I/1081 > > > > [37] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Madrak at-Tanzil wa > Haqa'iqu > > at-Ta'wil, I/174; demikian juga Al-Khazin, lih. Lubab at-Ta'wil fil > Ma'ani > > at-Tanzil, I/434. > > > > [38] Ini juga pendapat Imam Asy-Syaukani, lih. Fathul Qadir, II/8. Ada > > baiknya bagi yang berminat untuk merujuknya, ada ulasan beliau yang amat > > berharga tentang masyru'iyyah-nya ikhtilaf dalam masalah2 furu' > dikalangan > > para ulama salafus-shalih, dan mereka menamakan ikhtilaf tersebut > sebagai > > bentuk ijtihad (demikian pula paparan Imam Abu Sa'ud dalam kitabnya > > Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur'anil Kariem, I/432). > > > > [39] Fii Zhilaalil Qur'an, I/413 > > > > [40] Maksud beliau -rahimahuLLAAH- adalah penjelasan beliau atas tafsir > > ayat sebelumnya (QS Aali-Imraan, III/102-103) > > > > -----Original Message----- > > From: Sawing - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] > > Sent: 26 Maret 2007 12:58 > > To: 'gunawan'; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' > > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN > PARPO > > L ISLAM > > > > > > > > Assalamu'alaikum wr.wb. > > > > > > > > Jazakumullah atas nasehat dan koreksinya, mudah-mudahan nanti ana bisa > > lebih baik dari sekarang. > > > > > > > > Mungkin pendapat ana dulu kurang disertai dalil sehingga mungkin akhi > > Gunawan berpikir ana menggunakan logika. > > > > > > > > Hukum mendirikan jama'ah itu sudah jelas wajibnya karena jelas dalilnya > > baik di Qur'an maupun di hadits, hanya mungkin ada beberapa penafsiran > > yang berbeda ( seperti mungkin pendapat/penafsiran ana berbeda dengan > > pendapat Akhi ) > > > > Karena itu Ana mau tanya sedikit ( sehingga mungkin nanti bisa mencari > > kesamaan pendapat ) ? > > > > > > > > 1. Kalau menurut pendapat antum arti jam'ah itu apa ? dan apa syarat di > > sebut jama'ah ? > > 2. Apa arti ' JAMI'AN WALAA TAFARRAQU ' dalam surat Ali-Imran ayat 103 > > menurut antum ? > > 3. Kalau menurut antum berjama'ah (dalam kehidupan ) itu sama dengan > > bepolitik sehingga ada beberapa golongan, lalu ' Imammul muslimin / > > khalifah ' untuk umat Islam ini ada berapa setiap masanya ? > > 4. Arti politik ( ilmu politik ) itu menurut antum apa ? ( kalau yang > > ana tahu , menurut Deliar Noer dalam pengantar ke Pemikiran Politik, > > menyebutkan ' Ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan > > dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat sama seperti pendapat W.A > > Robson dalam ' The University Teaching of Social Science menyebutkan > > 'ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat...'' ( Meriam > > Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta 1983 hal 10 ) yang > > artinya politik itu tidak akan jauh dari kekuasaan ) > > > > > > > > Wassalam > > > > > > > > Abu Aisyah > > > > > > > > - > > ******************************************************** > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP > ******************************************************** > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : > http://www.usahamulia.net > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > > Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > ******************************************************** > > ******************************************************** > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP > ******************************************************** > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : > http://www.usahamulia.net > > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > > Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : > [EMAIL PROTECTED] > ********************************************************
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
