> Wa'alaikum salam warohmatullahi,
> 
> ( mnrt ana ) scr tdk langsung antum tdk setuju dg penafsiran  
>  QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32serta QS Al an'am, 6/159 
> ttg pengertian firqoh/kelompok /hizb yg dimaksud, 
> sedangkan Hadist yg shohih tdk mungkin kontradiksi dg ayat-ayat Al Qur'an,
> 
> apakah antum punya penafsiran lain ttg ayat2 tsb?
> ana kira persoalan utamanya ada pada pemahaman ayat tsb. 
> 
> wassalam,
> Musyafak
> 
> 
> 
> ana kira persoalan 
> jadi 
> Assalamu'alaikum wr.wb
> 
> Jazakumullah Khairon katsiro atas penjelasannya
> 
> Hanya mungkin ana mau tanya sedikit, mungkin akhi Musyafak pernah
> mendengar/membaca hadits ini ( ana tidak tahu apakah di buku yang
> direperensikan oleh Akhi musyafak ada Hadits ini atau tidak )
> 
> Dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, ia berkata: " Adalah
> orang-orang
> bertanya kepada Rasulullahu 'alaihi wasallam tentang kebaikan, tetapi aku
> bertanya kepada beliau dari hal keburukan, karena aku khawatir keburukan
> itu
> akan menimpa diriku, maka aku bertanya : " Ya Rasulullah, sesungguhnya
> kami
> (dahulu berada ) dalam kejahiliyyahan dan keburukan, lalu Allah
> mendatangkan
> kebaikan ini ( Islam ) kepada kami. Apakah sesudah kebaikan ini akan ada
> lagi keburukan, Rasul menjawab " Ya ", Aku bertanya  " Dan apakah sesudah
> keburukan itu nanti ada lagi kebaikan ?", Rasul menjawab " Ya, dan
> didalamnya ada kekeruha ( dakhan ).", Aku bertanya " Apakah kekeruhannya
> itu
> ? ", Rasul menjawab " Yaitu orang-orang yang mengambil petunjuk bukan
> dengan
> petunjuku. ( Dalam riwaayat Muslim : "kaum yang menjalani cara-cara lain
> bukan dari sunahku, dan dan Orang-orang yang mengambil petunjuk bukan
> dengn
> petunjukku.) "Engkau ketahui dari meerka itu dan engkau ingkari. Aku
> bertanya: " apakah sesudah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?" Rasul
> menjawab: " Ya, yaitu adanya penyeru-penyeru yang mengajak ke pintu-pintu
> Jahanam. Barang siapa mengikuti ajakan mereka, maka mereka melemparkannya
> ke
> dalam Jahanam itu." Aku berkata : " Ya Rasulullah, tunjukkanlah sifat
> mereka
> itu kepada kami." Rasul menjawab: " Mereka itu dari kulit-kulit kita dan
> berbicara menurut lidah-lidah kita.". Aku bertanya Apakah yang engkau
> perintahkan kepadaku, jika aku menjumpai keadaan yang demikian itu ? ".
> Rasul bersabda: " Tetaplah engkau pada Jama'ah Muslimin dan Imam mereka
> !".
> aku bertanya : jika tidak ada bagi mereka Jama'ah dan Imam ? " Rasul
> bersabda: " Hendaklah engkau keluar dari Firqah-Firqah itu semuanya,
> walaupun engkau menggigit akar kayu hingga kematian mengejarmu, engkau
> tetap
> demikian"
> Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, bab
> Kaifa
> Amru Idza lam takun Jama'atun, juz 4 hal 225. Shahih Muslim Kitabul
> Imarah,
> bab Amr bilizumil Jama'ah Inda Zhuhuril Fitan, juZ 2 halaman 134-135.
> Sunan
> Ibnu Majah, kitabul Fitan, juz 2 halaman 1317, nomor hadits 3979
> 
> Kalau menurut Akhi Musyafak penafsiran dari hadits ini kira-kira apa ya ?,
> karena kalau ana baca kiriman dari akhi Musyafak, kita sudah sama-sama
> meyakini bahwa khilafah 'Ala Minhajin Nubiwwah itu akan kembali ditetapi
> pada akhir jaman, dan kalau menurut Hadits ini kita harus keluar dari
> firqah-firqah itu sebelum kita mendapati adanya Khilafah 'Ala Minhajin
> Nubuwah.
> 
> Mohon ma'af bila ada kesalahan, karena kebenaran hanya milik Allah semata
> 
> Wassalam
> 
> Abu Aisyah
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: Accounting - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Wednesday, March 28, 2007 10:19 AM
> To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
> Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] FW: Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN P
> ARPO L ISLAM
> 
> 
> 
> > Akhi fillah,
> > 
> > dari artikel tulsan ustadz abi abdilah (Nabiel Al Mustofa) kita menjadi
> > faham  mengenai tafsir di QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32
> > serta QS Al an'am, 6/159 yaitu bahwa perbedaan thd golongan/ organisasi/
> > hizb yg  tidak boleh  adalah perbedan & kelompok yg berbeda dlm mslh
> > akidah.
> > 
> > sehingga mnrt ana tidak pada tempatnya lagi kita mempersoalkan
> > absahnya/bolehnya  organisasi/golongan/partai selama  masih berakidah
> > islam, apalagi berpendapat bahwa perbedaan organisasi/partai identik dg
> > perpecahan.  harus dipisahkan antara kasus dengan prinsip, antara oknum
> dg
> > institusi, shg tdk terjadi generalisai persoalan. maksudnya kalau ada 2
> > atau lebih organisasi yg sama akidahnya kemudian terjadi perseteruan
> > diantara mereka maka tdk boleh mengambil kesimpulan bahwa kalau
> > organisasinya beda pasti terjadi perpecahan/perseteruan. tumbuhkan
> positif
> > thinking bahwa masing2 organisasi/partai selama akidahnya sama (islam)
> > saling melengkapi bangunan islam, karena memang tdk ada organisasi yg
> > sempurna tetapi tetap ditegakkan suasasan saling amar ma'ruf nahi munkar
> > shg bila melenceng bisa kembali ke jl yg benar
> > 
> > adapun hadist shohih ttg periodisasi kepemimpinan yg juga trdpt pd buku
> yg
> > ana referensikan yaitu menuju jama'atul muslimin, dimana diisyaratkan
> > pada masanya akan datang khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah  maka sbg
> seorang
> > muslim kita hrs meyakininya.  Hanya persoalannya apakah kita akan
> menunggu
> > takdir tsb datang sedngkan kita diam saja tanpa berjuang, atau kita
> > berusaha semaksimal mungkin yg kita bisa untuk bersama mewujudkan
> khilafah
> > tsb?  bukankah menegakkannya merupakan kewajiban setiap muslim??  dan
> > bukankah Alloh tidak melihat hasil tetapi usaha kita??  walau mememang
> dg
> > atau tanpa usaha kita ketetapan Alloh itu pasti datang
> > 
> > Wassalam,
> > Musyafak
> > > 
> > 
> > Assalamualaikum wr.wb
> > 
> > 
> > "  Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi
> > > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka
> > > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka
> sudah
> > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok
> baru
> > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada
> > > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada
> jalan
> > > lain kecuali membentuk & mendirikannya.." ( potongan dari artikel )
> > 
> > Dari artikel ini di jelaskan bahwa dulu ada jam'ah dan dilarang membuat
> > jama'ah / kelompok  baru yang berbeda dari jam'ah kaum muslimin ( sama
> > dengan hadits dibawah ini ) yaitu pada fase Khilafah 'Ala Minhajin
> > Nubuwwah
> > sesudah fase Nubuwwah,
> > 
> > " Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu,
> > berkata
> > : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : " Adalah masa
> > kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak
> > ALLAH.
> > Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk
> > mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak
> Kenabian
> > (
> > Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah ), adanya atas kehendak ALLAH, kemudian
> > Allah mengangkatnya apabila ia telahmenghendaki untuk mengangkatnya.
> > Kemudian adalah masa kerajaan yang menggigit ( Mulkan 'Adlan ), adanya
> > atas
> > kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah
> menghendaki
> > untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa kerajaan yang menyombong (
> > Mulkan
> > Jabariyyah ), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya,
> > apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa
> > Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian ( Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah
> )
> > "
> > kemudian beliau (Nabi) diam. (hadits riwayat Ahmad dan
> > Al-Baihaqi.Misykatul
> > Mashabih:Bab Al-Indzar wa Tahdzir, Al-Maktabah Ar-Rahimiah, Delhi ,
> India
> > halaman 461)
> > 
> > kalau kita melihat hadits ini, kita akan melihat bahwa perjalan umat
> Islam
> > itu akan melewati fase-fase, dari fase Nubuwwah, sampai terakhir akan
> > kembali ke fase Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwwah, yang berarti khilafah
> > yang
> > mengikuti jejak kenabian ( baik dari cara maupun metode kepemimpinanya
> pun
> > seperti masa kenabian )
> > 
> > Lalu salah satu bagian dari tulisan Akhi Daryono menuliskan 
> > 
> > Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hazim yang mengatakan :
> > 
> >  "Aku telah mengikuti majelis Abu Hurairah selama lima tahun, pernah aku
> > mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yan bersabda, "
> > Dahulu,
> > Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi.
> > Setiap
> > kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain.
> Sesungguhnya
> > tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak Khalifah."
> > 
> > Para sahabat bertanya," Apakah yang engkau perintahkan kepada kami ?".
> > Beliau menjawab,"Penuhilah bai'at yang pertama itu saja. Berikanlah
> kepada
> > mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban
> mereka
> > terhadap rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka".
> > 
> > Yang artinya kurang lebih pada suatu saat nanti akan banyak khalifah,
> dan
> > kita di perintahkan untk menunaikan bai'at kita pada yang pertama. Atau
> > dengan kata tidak boleh ada lebih dari satu khalifah
> > 
> > Jadi kesimpulannya kalau (menurut Ana) sesuai dengan ( seperti ) yang
> > tertulis dari potongan artikel Akhi Musyafak " dimasa mereka sudah
> > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok
> baru
> > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin "
> > sesuai dengan hadits yang diatas ( dari Nu'man bin Basyir ) 
> > hanya kalau kita melihat dari hadits tersebut dikatakan bahwa nanti akan
> > ada
> > masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian tetapi menurut artikel dari
> > Akhi
> > Musyafak ( penafsiran Ana ), karena tidak ada khilafah maka kita boleh
> > membuat kelompok-kelompok / golongan-golongan( tidak perlu ada satu
> > kesatuan
> > / jam'ah yang mencakup seluruh umat )
> > 
> > Bagaimana pendapat ( penafsiran ) hadits diatas menurut Akhi Musyafak )
> ?
> > 
> > Mohon ma'af bila ada kesalahan karena kebenaran hanya milik Allah semata
> > 
> > 
> > Wassalam
> > 
> > 
> > Abu Aisyah
> > 
> > 
> > 
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: Accounting - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> > Sent: Monday, March 26, 2007 3:21 PM
> > To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
> > Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN
> PARPO
> > L
> > ISLAM
> > 
> > 
> > > Akhi fillah mungkin artikel  dr milling list yg lain ini ada
> hubungannya
> > > dengan pertanyaan abu aisyah meskipun mungkin tdk menjawab keseluruhan
> > > dari pertanyaan, tetapi substansinya insyaallah sangat relevan
> > >  
> > > silakan baca,
> > >  
> > > adapun  ttg jama'ah, dan bagaimana tahapan menegakan khilafah mungkin
> > buku
> > > menuju jama'atul muslimiin bisa menjadi salah satu referensi
> > >  
> > > Musyafak
> > >  
> > > KAJIAN ILMIAH TENTANG HIZBIYYAH DAN BAGAIMANAKAH HIZBIYYAH YANG
> DILARANG
> > > OLEH SYARIAT[1]?
> > > 
> > > Oleh : 
> > > 
> > > Abi AbduLLAAH
> > > 
> > > Salah satu sifat yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad ShallaLLAHu
> > 'alaihi
> > > wa Sallam terjadi pada ummatnya adalah sifat ghuluw (ekstrem) dan
> > > tatharruf (menjauh dari kebenaran), yang merupakan sifat yang sangat
> > > dilarang oleh syari'ah, sebagaimana dalam hadits Nabi Muhammad
> > ShallaLLAHu
> > > 'alaihi wa Sallam berikut ini : 
> > > 
> > > "Takutlah kalian terhadap sikap ekstrem dalam beragama, karena
> > > sesungguhnya yang telah mencelakakan ummat sebelum kalian adalah sikap
> > > ekstrem dalam beragama.[2]"
> > > 
> > > Salah satu bentuk dari sikap ghuluw tersebut adalah vonis baru (baca :
> > > bid'ah) yang tidak dikenal dalam referensi utama kaum muslimin, laa
> fil
> > > Qur'aan wa laa fis Sunnah, yaitu vonis hizbiyyah. Herannya lagi, bahwa
> > > vonis ini dilontarkan oleh sebagian orang yang mengaku2 sebagai
> pemegang
> > > panji2 Ahlus Sunnah dan pengikut Salafus Shalih, inna liLLAHi wa inna
> > > ilayhi raji'un.. 
> > > 
> > > Di berbagai forum dan tulisan --sebagian mereka-dengan getolnya
> > > melemparkan vonis tersebut kepada sesama saudara mereka muslim, para
> > > pejuang As-Sunnah dan penegak kalimat Tauhid, hanya karena mereka yang
> > > disebut terakhir ini membuat kelompok, atau partai ataupun jama'ah,
> yang
> > > tujuannya demi memudahkan kerja dakwah mereka. Kemudian mereka
> > sematkanlah
> > > berbagai label seperti hizbiyyun, ahlul-hawa' (para pengikut hawa
> > nafsu),
> > > ahlul bid'ah, Sufi yang Sesat, dsb. 
> > > 
> > > Mereka kemudian mencari2 dalil untuk membenarkan klaim mereka
> tersebut,
> > > dan memvonis berbagai kelompok kaum muslimin sesama Ahlus Sunnah wal
> > > Jama'ah, lalu mereka menemukan ayat yang "kelihatannya" bisa dipakai
> > untuk
> > > mendukung klaim mereka itu dan dengan itu mereka berusaha membodohi
> > orang2
> > > yang bodoh, membingungkan orang yang bingung dan menakut2i orang yang
> > > penakut. 
> > > 
> > > Potongan ayat yang mereka dengung2kan dan mereka anggap melarang
> membuat
> > > kelompok, jama'ah atau partai itu menurut mereka yaitu ayat : Kullu
> > hizbin
> > > bima ladayhim farihun.. (Setiap partai/kelompok/jama'ah merasa bangga/
> > > bergembira dengan apa yang ada pada kelompok masing2). Kemudian ayat :
> > > Innalladzina farraqu dinahum wa kanu syiya'an lasta minhum fi
> syai'in..
> > > (Sesungguhnya orang yang memecah-belah agama mereka sehingga mereka
> > > menjadi berkelompok2 lepas tanggung jawabmu atas mereka wahai
> > Muhammad..)
> > > 
> > > Ikhwan wa akhwat fiLLAH, marilah saya ajak antum semua untuk membuka
> > > berbagai rujukan kitab2 tafsir karangan Imam Salafus Shalih secara
> > inshaf
> > > (obyektif) dan wasith (adil), jauh dari sifat ghuluw wa tatharruf dan
> > jauh
> > > dari kepentingan apapun, kecuali ikhlas mencari keridhaan ALLAH SWT
> > > semata. Hanya kepada ALLAH-lah kita bertawakkal dan hanya kepada-NYA
> lah
> > > kita akan dikembalikan. 
> > > 
> > > Potongan ayat tersebut terdapat di 3 tempat, potongan yang pertama
> yaitu
> > > di QS Al-Mu'minun, 23/53 dan di QS Ar-Rum, 30/32; lengkapnya adalah
> sbb;
> > > 
> > > (#þqãè©Üs)tGsù OèdtøBr& öNæhuZ÷t/ #\ç/ã- ( '@ä. ¥>÷"Ïm $yJÎ/
> > öNÍkö?y?s9
> > > tbqãm̍sù ÇÎÌÈ 
> > > 
> > > 53. "Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama
> > mereka
> > > terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa
> > bangga
> > > dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)."
> > > 
> > > z`ÏB súïÏ%©!$# (#qè%§sù öNßguZfÏS (#qçR%Y2ur $Yèu<Ï© ( '@ä. ¥>÷"Ïm
> > $yJÎ/
> > > öNÍkö?y?s9 tbqãm̍sù ÇÌËÈ 
> > > 
> > > 32. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka
> menjadi
> > > beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang
> ada
> > > pada golongan mereka.
> > > 
> > > Sementara potongan yang kedua pada QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya
> adalah
> > > sbb;
> > > 
> > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB
> > 'Îû
> > > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3
> (#qçR%x.
> > > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ 
> > > 
> > > 159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka
> > > menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada
> > mereka.
> > > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian
> > Allah
> > > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat.
> > > 
> > > Makna ayat dalam QS Al-Mu'minun, 23/53 menurut kitab2 tafsir adalah
> sbb
> > : 
> > > 
> > > Berkata Imam At-Thabari[3] dalam tafsirnya[4], bahwa maknanya : "Maka
> > > berpecah-belahlah kaum yang diperintahkan oleh ALLAH SWT dari ummat
> Nabi
> > > Isa 'alayhis salam untuk bersatu atas agama yang satu... Dan setiap
> > firqah
> > > tersebut beragama dengan kitab yang berbeda satu dengan yang lain,
> > > sebagaimana orang Yahudi memegang kitab Taurat dan mendustakan hukum2
> > > dalam kitab Injil dan Al-Qur'an, demikian pula orang2 Nasrani yang
> > > berpegang menurut sangkaan mereka pada kitab Injil dan mendustakan
> kitab
> > > Al-Qur'an." Dan ini diperkuat oleh makna "ummatan-wahidah" pada ayat
> > > sebelumnya, yaitu maknanya menurut Imam At-Thabari : "Innal ummah
> > alladzi
> > > fi hadzal maudhu' : Ad-Din wal Millah" (makna ummat dalam konteks ayat
> > ini
> > > adalah ummat dalam masalah agama)[5]. Jelas bahwa makna "HIZB" dalam
> > ayat
> > > tersebut menurut Imam At-Thabari adalah HIZB dalam Ad-Din wal Millah
> > > (perbedaan & kelompok2 yang berbeda dalam aqidah), lalu dimanakah
> letak
> > > larangannya jika HIZB tersebut tidak berbeda dalam Ad-Din wal Millah?
> > > 
> > > Imam Ibnul Jauzy dalam tafsirnya[6] menyatakan bahwa ada 2 pendapat
> > > tentang tafsir ayat ini, yaitu pendapat pertama : Mereka adalah Ahli
> > Kitab
> > > (Yahudi & Nasrani) dari Mujahid; dan pendapat kedua : Mereka adalah
> Ahli
> > > Kitab & kaum Musyrikin Arab dari Ibnu Sa'ib. Demikian pula pendapat
> Imam
> > > Al-Mawardi[7] dalam tafsirnya[8], nampak bagi kita semua bahwa
> larangan
> > > tersebut amat jelas yaitu larangan berbeda2 dalam aqidah, atau berbeda
> > > dalam kitab suci persis sebagaimana perbedaan Yahudi dan Nasrani atau
> > > musyrikin, sama sekali tidak ada larangan yang berkaitan dengan
> larangan
> > > membentuk organisasi, atau jama'ah atau partai.
> > > 
> > > Berkata Imam Al-Baghawi[9] dalam tafsirnya[10], bahwa makna "kullu
> > hizbin
> > > bima ladayhim farihun = bima 'indahum minad din" (dari apa2 yang ada
> > > disisi mereka dari agama), dalam hal ini beliau mengkaitkan dengan
> > tafsir
> > > ayat sebelumnya bahwa makna "fataqaththa'u amrahum = dinahum", lalu
> > makna
> > > "baynahum = berpecah-belah, maka mereka berpecah-belah menjadi Yahudi,
> > > Nasrani dan Majusi. Demikianlah pendapat para Imam Salafus Shalih
> > mengenai
> > > masalah ini, yaitu bahwa HIZB yang dilarang adalah HIZB yang berbeda
> > dalam
> > > aqidah dan agama (Ad-Din wal Millah) dan SAMA SEKALI BUKAN HIZB DALAM
> > > DAKWAH DAN PERJUANGAN. 
> > > 
> > > Berkata Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya[11] : Bahwa mereka ada yang
> > > mengikuti firqah Taurat, firqah Zabur, firqah Injil lalu mereka
> masing2
> > > mengubah kitab2 tersebut dan menyimpangkan maknanya. Hal ini juga
> > pendapat
> > > Imam Al-Biqa'iy[12] dalam tafsirnya[13], Imam An-Nasafiy[14] dalam
> > > tafsirnya[15], Abu Sa'ud[16] dalam tafsirnya[17], Imam As-Suyuthi[18]
> > > dalam tafsirnya[19], Imam Al-Khazin[20] dalam tafsirnya[21], Imam
> > > Ats-Tsa'alabiy[22] dalam tafsirnya[23], dll. Lalu apakah hizb, jama'ah
> > dan
> > > partai Islam (baca : PKS) yang mereka tuduh tersebut mengubah
> Al-Qur'an?
> > > Menyimpangkan makna Al-Qur'an? Seperti firqah Taurat, firqah Zabur dan
> > > firqah Injil? Inna liLLAHi wa inna ilayhi ra'jiun.. Ana yakin mereka
> > tidak
> > > akan berani menuduh sejauh itu! Qul haatuu burhanakum in kuntum
> > > shadiqiin..
> > > 
> > > HUJJAH KEDUA :
> > > 
> > > Ikhwan wal akhawat rahimakumuLLAH, setelah kita mengetahui tafsir yang
> > > dikemukakan oleh para Imam Salafus Shalih atas QS Al-Mu'minun, 23/53
> > (yang
> > > juga sama dengan Ar-Rum, 30/32) tersebut pada kajian yang lalu, maka
> > > demikianlah pula tafsir atas QS Al-An'am, 6/159. Lengkapnya ayatnya
> > adalah
> > > sbb ;
> > > 
> > > ¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qè%§sù öNåks]fÏS (#qçR%x.ur $Yèu<Ï© |Mó¡©9 öNåk÷]ÏB
> > 'Îû
> > > >äóÓx« 4 !$yJ¯RÎ) öNèdáøBr& 'n<Î) «!$# §NèO Nåkã¨Îm6t^ãf $oÿÏ3
> (#qçR%x.
> > > tbqè=yèøÿtf ÇÊÎÒÈ 
> > > 
> > > "Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka
> > menjadi
> > > bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.
> > > Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian
> > Allah
> > > akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat."
> > > 
> > > Makna ayat dalam QS Al-An'am, 6/159 menurut kitab2 tafsir adalah sbb :
> 
> > > 
> > > Berkata Imam At-Thabari dalam tafsirnya[24] bahwa makna
> > 'farraqu-dinahum'
> > > dalam ayat tersebut adalah bahwa agama ALLAH SWT ini adalah satu yaitu
> > > agama Ibrahim -semoga salam ALLAH baginya-, lalu berpecah-belahlah
> > Yahudi
> > > & Nasrani sehingga mereka menjadi agama yang berbeda2, adapula yang
> > > menjadi Majusi sehingga mereka menjauh dari agama yang haq[25].
> > > 
> > > Demikianlah tafsir yang benar mengenai masalah ini
> > > 
> > > HUJJAH KETIGA :
> > > 
> > > Demikian pula berbagai ayat yang ada dan bertaburan di dalam Al-Qur'an
> > > seperti PERINTAH UNTUK MEMBENTUK KELOMPOK KECIL (dari sebuah kelompok
> > > besar) sepanjang kelompok kecil tersebut bertujuan untuk berdakwah,
> > > berjihad & melakukan amar ma'ruf nahi munkar, salah satunya adalah
> ayat
> > di
> > > bawah ini : 
> > > 
> > > ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô?tf 'n<Î) ÎZösfø:$# tbrããBù'tfur
> > > Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztfur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd
> > > scqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ 
> > > 
> > > "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
> > > kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
> > munkar[217];
> > > merekalah orang-orang yang beruntung." (QS Aali Imraan, 3/104)
> > > 
> > > Berkata Imam Abu Ja'far At-Thabari ketika mengawali tafsirnya atas
> ayat
> > > ini[26] : Berkata ALLAH Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji : WALTAKUN
> > > MINKUM wahai orang2 beriman; UMMATUN yaitu Jama'ah[27]; YAD'UNA yaitu
> > pada
> > > manusia; ILAL KHAYRI yaitu pada Islam & syariatnya yang telah
> > > ditetapkan-NYA bagi hamba2-NYA; WA YA'MURUNA BIL MA'RUFI, yaitu
> > > memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad -semoga shalawat dan
> > salam
> > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri
> > > beliau- dan agama yang dibawanya; WA YANHAUNA 'ANIL MUNKARI, yaitu
> > > mencegah mereka dari kekafiran pada ALLAH -Yang Maha Suci lagi Maha
> > > Tinggi- dan penentangan pada Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam
> > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri
> > > beliau- dan dari agama yang dibawanya, yaitu melalui Jihad di
> jalan-NYA
> > > baik dengan tangan maupun anggota badan, sehingga mereka mengikuti
> > dengan
> > > ketaatan... (Perhatikanlah bahwa Imam At-Thabari menyebutkan agar ada
> &
> > > terbentuknya suatu jama'ah diantara ummat ini)..
> > > 
> > > Imam Jalaluddin As-Suyuthi bahkan lebih maju lagi, beliau dalam
> > > tafsirnya[28] setelah menjelaskan berbagai hadits shahih berkaitan
> ayat
> > > ini, menyebutkan atsar dari Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hayyan :
> > > "Bahwa hendaklah ada suatu kaum, baik 1 atau 2 atau 3 kelompok atau
> > lebih
> > > dari itu dan itulah baru disebut sebagai ummat." Kemudian ia berkata
> > lagi
> > > : "Lalu (hendaklah) ada imamnya yang memimpin untuk amar ma'ruf & nahi
> > > munkar." Lebih jauh beliau menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam
> > > Ahmad dari Abu Dzarr -semoga ALLAH Yang Maha Gagah lagi maha Tinggi-
> > > meridhoinya- : "Dua org lebih baik dari 1 orang, 3 orang lebih baik
> dari
> > 2
> > > orang, dan 4 orang lebih baik dari 3 orang, maka hendaklah kalian
> > bersama
> > > Al-Jama'ah, karena ALLAH tidak akan mengumpulkan ummatku kecuali atas
> > > petunjuk[29]."
> > > 
> > > Imam -Muhyis Sunnah- Abu Muhammad Al-Baghawi menyebutkan dalam
> > > tafsirnya[30] bahwa huruf "lam" pada kata "waltakun" bermakna
> > kewajiban..
> > > sementara "min" dalam kata "minkum ummah" bermakna "shilah" dan bukan
> > > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[31] sebagaimana dalam ayat :
> > > FAJTANIBUR RIJSA MINAL AWTSANI[32].. Yang maknanya : Hendaklah mereka
> > > menjauhi semua berhala & bukan hanya sebagian berhala saja.. Kemudian
> > Imam
> > > Al- Baghawi menyebutkan beberapa hadits, diantaranya dari Umar -semoga
> > > ALLAH Yang Maha Suci laga Maha Tinggi meridhoinya- Nabi Muhammad
> -semoga
> > > shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa
> > > tercurah pada diri beliau- bersabda : "Barangsiapa yang menginginkan
> > > puncaknya Jannah maka wajib atasnya menetapi Al-Jama'ah, karena
> > > sesungguhnya Syaithan itu bersama orang yang sendirian, dan terhadap 2
> > > orang ia lebih menjauh[33]."
> > > 
> > > Imam Ibnu 'Asyur dalam tafsirnya[34] bahwa makna "ummah" adalah
> jama'ah,
> > > kelompok, sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan : KULLAMAA
> > DAKHALAT
> > > UMMATUN LA'ANAT UKHTAHA[35].. Karena asal kata "ummat" dalam bahasa
> Arab
> > > adalah sekelompok orang yang memiliki 1 tujuan yang sama, bisa berupa
> > > keturunan, atau agama, atau lainnya, dan kejelasannya diketahui
> melalui
> > > keterkaitannya (idhafah) dengan kata setelahnya, semisal :
> Ummatul-'Arab
> > > atau Ummatun-Nashara, dll.
> > > 
> > > Imam Abi AbduLLAH Syamsuddin Al-Qurthubi Al-Anshari Al-Khazraji dalam
> > > kitabnya[36] berpendapat bahwa "min" dalam kata "minkum ummah"
> bermakna
> > > "lit-tab'idh" (menunjukkan sebagian)[37], karena orang2 yang
> > memerintahkan
> > > yang ma'ruf itu haruslah berilmu, sementara tdk semua orang berilmu,
> mk
> > > kewajiban ini bersifat fardhu kifayah, jk sebagian kaum muslimin sudah
> > > melakukannya maka yang lain tidak berdosa[38]. 
> > > 
> > > Sayyid Quthb -semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan
> > > beliau Syahid- menyatakan dalam tafsirnya[39] : "Tidak bisa tidak ayat
> > ini
> > > memerintahkan agar terwujudnya sebuah Jama'ah Islamiyyah yang selalu
> > > berdakwah kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf & mencegah yang
> > > munkar. Dan hendaklah ada sebuah pemerintahan yang tegak berdiri di
> atas
> > > bumi ini melakukan hal tersebut, sehingga ayat ini tidak hanya
> berbunyi
> > > "yad'uuna " (berdakwah saja) melainkan juga "ya'muruuna" (memerintah)
> > dan
> > > "yanhauna" (melarang) yang keduanya itu tdk akan tegak kecuali adanya
> > > sebuah pemerintahan yang Islami.." Sampai kata beliau -semoga ALLAH
> Yang
> > > Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau Syahid- pada akhir
> > > penjelasannya atas ayat tersebut : "...Untuk demi tercapainya hal
> > tersebut
> > > di atas, maka tidak dapat tidak haruslah ada sebuah kelompok/jama'ah
> > yang
> > > memiliki 2 kekuatan di atas[40] yaitu "Iimaanu biLLLAAH" (QS
> > Aali-Imraan,
> > > 3/102) dan "Ukhuwwatu-fiLLAAH" (QS Aali-Imraan, 3/103) baru bisa
> > > mewujudkan ayat ini (QS Aali-Imraan, 3/104)... 
> > > 
> > > Demikianlah maka berdasarkan dalil2 di atas bahwa tegaknya Al-Jama'ah
> > > merupakan dharurah-syar'iyyah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak
> > > dengan kerja infiradiyyah (sendiri2) dan hanya mengharapkan dari
> > tarbiyyah
> > > & tashfiyyah saja, melainkan memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi
> > > untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca
> > generasi
> > > sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka
> > > semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa mereka
> sudah
> > > ada Al-Jama'ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat kelompok
> baru
> > > yang berbeda dr Jama'ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada
> > > Khilafah, tidak ada Al-Jama'ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada
> jalan
> > > lain kecuali membentuk & mendirikannya.. Dan persoalan ini jauh lebih
> > > mendesak & lebih penting dari mendalami & bertele2 dalam masalah
> > > ibadah-mahdhah, cukuplah sunnah para sahabat -semoga ALLAH Yang Maha
> > Mulia
> > > lagi maha Tinggi meridhoi mereka semua- yang sampai meninggalkan
> > > pengurusan & pemakaman jenazah Nabi Muhammad -semoga shalawat dan
> salam
> > > ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri
> > > beliau- untuk memilih Khalifah menjadi dalil atas hal tersebut.
> > > 
> > > HUJJAH KEEMPAT :
> > > 
> > > Oleh sebab itu maka seorang yang alim hendaklah berhati-hati dalam
> > berucap
> > > dan berfatwa, karena tidak semua orang bisa dibodohi oleh berbagai
> fatwa
> > > yang kelihatan seolah-olah benar dan memvonis tetapi sesungguhnya
> rapuh
> > > dan sangat menyesatkan. Sebagai contoh istilah "madzhabiyyah" adalah
> > buruk
> > > & tercela, tapi bermadzhab tidaklah buruk, tidak bid'ah & tdk pula
> > > dilarang. Maka demikian pula "hizbiyyah" adalah tercela & buruk, namun
> > > demikian membuat hizb seperti HIZBUL 'ADALAH WAR-RAFAHIYYAH (PKS), hal
> > > tersebut sama sekali tidak ada larangannya, bahkan jika umat sangat
> > > membutuhkannya maka ia bisa menjadi berkedudukan mustahabbah bahkan
> > wajib
> > > berdasarkan kaidah ushul : Maa laa yatimmul wajib illa bihi fahuwa
> > wajib. 
> > > 
> > > HUJJAH KELIMA :
> > > 
> > > Maka mencap orang yang berpartai & berorganisasi sebagai hizbiyyun
> > > berdasarkan paparan di atas oleh karenanya adalah sesat & menyesatkan,
> > dan
> > > perbuatan ini dalam istilah para Ahli Ilmu dinamakan sebagai tingkat
> > > kejahilan ketiga yaitu Al-Jahlu Al-Murakkab (diantara 6 tingkat
> > kejahilan
> > > seseorang Tholabul 'Ilmi). Dan orang-orang seperti ini perlu membaca &
> > > mempelajari secara mendalam tentang siyasatus-syar'iyyah, karena
> > > serampangan memfatwakan masalah ini akan sangat berbahaya bagi
> > masyarakat,
> > > karena semua hal yang berkaitan dengan realitas di masa sekarang akan
> > > menjadi bid'ah semua, seperti Presiden juga bid'ah, negara Indonesia
> ini
> > > adalah bid'ah, parlemennya, menterinya, departemennya, dsb semuanya
> > > menjadi bid'ah. Dan semua ini dibuktikan dengan fatwa mereka tentang
> > > haramnya PEMILU, beberapa waktu yang lalu. Dan jika mereka konsisten,
> > maka
> > > kedudukan Raja secara turun-temurun juga adalah bid'ah, krn tdk
> > ditemukan
> > > dalam khairal qurun, diamnya sebagian shahabat tidak bisa dijadikan
> > hujah
> > > untuk masalah ini, karena mereka diam bukan berarti ridha tetapi
> > > berdasarkan fiqh muwazanah pada saat itu. Maka sebagian mereka yang
> > > membrontak dan membuat tanzhimpun tidak dihukumi ahli bid'ah, maka
> > > siapakah yang berani menyatakan para sahabat sekualitas Al-Husein bin
> > Ali,
> > > Muawiyah bin Abi Sufyan, AbduLLAH Ibnu Zubair, dll sebagai ahli bid'ah
> > > karena mereka membuat tanzhim, membuat hizb, membuat pasukan perang &
> > > kemudian memberontak? Qul haatuu burhaanakum in kuntum shaadiqiin!
> > > 
> > > KESIMPULAN :
> > > 
> > > Oleh sebab itu, kesimpulannya hizbiyyah adalah semangat fanatisme
> > mazhab,
> > > golongan, syaikh, ustaz, ulama, dsb. Dan hizbiyyah bukanlah pada sikap
> > > bermazhab pada 1 mazhab, bergolongan atau meminta fatwa pada seorang
> > > ulama, syaikh, dsb. Seorang yang membatasi hanya mau menerima fatwa
> dari
> > > Syaikh Fulan dari negara Fulan, misalnya, dan tidak mau menerima fatwa
> > > dari selainnya itu adalah sikap hizbiyyah dan orang-orangnya dinamakan
> > > hizbiyyun. Demikian pula sikap orang yang memfatwakan bahwa
> > ulama-mujtahid
> > > di dunia ini hanya ada 3 orang saja, itu adalah sikap para hizbiyyun.
> > > Sikap mencaci para ulama besar yang diakui dunia, kemudian
> > > menyebar-nyebarkan isu baik dalam ceramah-ceramah maupun
> tulisan-tulisan
> > &
> > > buku-buku (yang belum dikonfirmasikan dan ditegakkan hujjah kepada
> sang
> > > ulama yang dicurigai tsb), adalah sikap para hizbiyyun. Semoga ALLAH
> SWT
> > > melindungi kita dari sikap hizbiyyah yang amat tercela (qabihah) ini,
> > > aaamiin ya RABB...
> > > 
> > > ----------------------------------------------------------
> > > 
> > > [1] Sebenarnya tulisan ini sudah pernah ana muat di millist ini
> beberapa
> > > waktu yang lalu, namun ana melihat tulisan tsb mendapat respon yang
> > > luarbiasa di sebuah website milik saudara-saudara kita fiLLAAH yang
> ana
> > > kritik tsb, maka ana kemudian mempelajari bantahannya dan kemudian
> > > menjawabnya pada setengah bagian dari tulisan ini, Liyahlika man
> Halaka
> > > 'an Bayyinah wa Yahya man Hayya 'an Bayyinah, faliLLAAHil hamdu wal
> > minah.
> > > 
> > > [2] HR An-Nasa'i, X/83; Ibnu Majah, IX/134; Al-Baihaqi, V/127;
> Al-Hakim,
> > > IV/256; At-Thabrani, X/301; Ibnu Habban, XVI/243.
> > > 
> > > [3] Beliau adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir
> bin
> > > Ghalib Al-Amali At-Thabari, digelari Imam Abu Ja'far At-Thabari atau
> > juga
> > > Imam Ibnu Jarir At-Thabari, beliau wafat th 310-H.
> > > 
> > > [4] Jami'ul Bayan fi Tafsiril Qur'an, XIX/41.
> > > 
> > > [5] Ibid. Imam Thabari menyandarkan tafsirnya ini dari atsar yang
> shahih
> > > sbb : "Telah menceritakan pada kami Al-Qasim, telah menceritakan pada
> > kami
> > > Al-Husain, telah menceritakan pada saya Hajjaj dari Ibnu Juraij makna
> > ayat
> > > tersebut seperti di atas." 
> > > 
> > > [6] Zadul Masir, IV/415
> > > 
> > > [7] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib Al-Bashri
> > > Al-Baghdadi yang lebih dikenal dengan Imam Al-Mawardi, beliau wafat th
> > > 450-H.
> > > 
> > > [8] An-Naktu wal 'Uyun, III/141
> > > 
> > > [9] Beliau adalah Imam Abu Muhammad Al-Husein bin Mas'ud Al-Baghawi,
> > > digelari oleh para ulama sebagai "Muhyis Sunnah" (Yang Menghidupkan
> > > As-Sunnah), beliau wafat pada th 516-H.
> > > 
> > > [10] Ma'alimut Tanzil, V/420
> > > 
> > > [11] Fathul Qadir, V/161.
> > > 
> > > [12] Beliau adalah Imam Ibrahim bin Umar bin Hasan Ar-Ribath bin 'Ali
> > bin
> > > Abi Bakr Al-Biqa'iy, beliau wafat th 885-H.
> > > 
> > > [13] Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayati was Suwar, V/416.
> > > 
> > > [14] Beliau adalah AbduLLAH bin Ahmad bin Mahmud Hafizhuddin Abul
> > Barakat
> > > An-Nasafiy, beliau wafat th 710-H.
> > > 
> > > [15] Madrak At-Tanzil wa Haqa'iqut Ta'wil, II/385.
> > > 
> > > [16] Beliau adalah Muhammad bin Muhammad bin Musthafa Al-'Amadiy,
> Mufti
> > > dan Mufassir, beliau wafat th 982-H.
> > > 
> > > [17] Irsyad Al-'Aqlis Salim Ila Mazaya Al-Kitab Al-Karim, V/5.
> > > 
> > > [18] Beliau adalah AbduRRAHMAN bin Abi Bakr, diberi gelar Jalaluddin,
> > > beliau wafat th 911-H.
> > > 
> > > [19] Ad-Durr Al-Mantsur, VII/210.
> > > 
> > > [20] Beliau adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim bin Umar
> > > Asy-Syihi, beliau wafat th 741-H.
> > > 
> > > [21] Lubab At-Ta'wil fil Ma'ani At-Tanzil, IV/469
> > > 
> > > [22] Beliau adalah Abu Zaid AbduRRAHMAN bin Muhammad bin Makhluf
> > > Ats-Tsa'alabiy, beliau wafat th 876-H. 
> > > 
> > > [23] Al-Jawahirul Hasan fi Tafsiril Qur'an, III/54.
> > > 
> > > [24] Jami'ul Bayan, XX/100
> > > 
> > > [25] Ibid, XII/268
> > > 
> > > [26] Jaami'ul Bayaan fi Ta'wiilil Qur'aan, VII/91
> > > 
> > > [27] Ini juga pendapat Imam Al-Biqa'iy, lih. Tafsirnya Nuzhmud Durar
> fii
> > > Tanaasubil Aayaati was Suwar, II/94
> > > 
> > > [28] Ad-Durrul Mantsur fit Ta'wili bil Ma'tsur, II/405
> > > 
> > > [29] Saya berusaha men-takhrij hadits ini, dan saya menemukannya bukan
> > > hanya dalam Musnad Ahmad (43/297); melainkan jg oleh Ibnu Asakir
> > (38/206);
> > > berkata Al-Albani dalam Fii Zhilalil Jannah (80-84) bahwa hadits ini
> > > maudhu' namun akhir kalimat dalam hadits ini terdapat syawahid dari
> > hadits
> > > shahih.
> > > 
> > > [30] Ma'alimut Tanzil, II/84
> > > 
> > > [31] Ini juga pendapat Imam Ibnul Jauzy, lih. Zaadul Masiir, I/391.
> Tapi
> > > beliau juga menerima pendapat yang menyatakan kewajiban membentuk
> > jama'ah
> > > ini fardhu kifayah, dan beliau menyamakan kedudukannya seperti jihad
> fi
> > > sabiliLLAAH.
> > > 
> > > [32] Al-Hajj, 22/30
> > > 
> > > [33] HR Tirmidzi, VI/383-386; Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah, I/42
> (dan
> > > di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam ta'liq-nya atas kitab tersebut);
> > > Al-Lalika'i dalam Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah wal Jama'ah,
> > > I/106-107; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, I/114; Ahmad dalam Al-Musnad,
> > > I/18.
> > > 
> > > [34] At-Tahriru wat Tanwiru, III/178
> > > 
> > > [35] QS Al-A'raaf, 7/38
> > > 
> > > [36] Al-Jami' li-Ahkamil Qur'an, I/1081
> > > 
> > > [37] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Madrak at-Tanzil wa
> > Haqa'iqu
> > > at-Ta'wil, I/174; demikian juga Al-Khazin, lih. Lubab at-Ta'wil fil
> > Ma'ani
> > > at-Tanzil, I/434.
> > > 
> > > [38] Ini juga pendapat Imam Asy-Syaukani, lih. Fathul Qadir, II/8. Ada
> > > baiknya bagi yang berminat untuk merujuknya, ada ulasan beliau yang
> amat
> > > berharga tentang masyru'iyyah-nya ikhtilaf dalam masalah2 furu'
> > dikalangan
> > > para ulama salafus-shalih, dan mereka menamakan ikhtilaf tersebut
> > sebagai
> > > bentuk ijtihad (demikian pula paparan Imam Abu Sa'ud dalam kitabnya
> > > Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur'anil Kariem, I/432).
> > > 
> > > [39] Fii Zhilaalil Qur'an, I/413 
> > > 
> > > [40] Maksud beliau -rahimahuLLAAH- adalah penjelasan beliau atas
> tafsir
> > > ayat sebelumnya (QS Aali-Imraan, III/102-103)
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > From: Sawing - IND [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > > Sent: 26 Maret 2007 12:58
> > > To: 'gunawan'; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
> > > Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Fw: Balasan: Fw: Fw: KEWAJIBAN MENDIRIKAN
> > PARPO
> > > L ISLAM
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Assalamu'alaikum wr.wb.
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Jazakumullah atas nasehat dan koreksinya, mudah-mudahan nanti ana
> bisa
> > > lebih baik dari sekarang.
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Mungkin pendapat ana dulu kurang disertai dalil sehingga mungkin akhi
> > > Gunawan berpikir ana menggunakan logika. 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Hukum mendirikan jama'ah itu sudah jelas wajibnya karena jelas
> dalilnya
> > > baik di Qur'an  maupun di hadits, hanya mungkin ada beberapa
> penafsiran
> > > yang berbeda ( seperti mungkin pendapat/penafsiran ana berbeda dengan
> > > pendapat Akhi )
> > > 
> > > Karena itu Ana mau tanya sedikit ( sehingga mungkin nanti bisa mencari
> > > kesamaan pendapat ) ?
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 1.        Kalau menurut pendapat antum arti jam'ah itu apa ? dan apa
> syarat di
> > > sebut jama'ah ? 
> > > 2.        Apa arti ' JAMI'AN WALAA TAFARRAQU ' dalam surat Ali-Imran
> ayat 103
> > > menurut antum ? 
> > > 3.        Kalau menurut antum berjama'ah (dalam kehidupan ) itu sama
> dengan
> > > bepolitik sehingga ada beberapa golongan, lalu ' Imammul muslimin /
> > > khalifah ' untuk umat Islam ini ada berapa setiap masanya ? 
> > > 4.        Arti  politik ( ilmu politik ) itu menurut antum apa ? (
> kalau yang
> > > ana tahu , menurut Deliar Noer dalam pengantar ke Pemikiran Politik,
> > > menyebutkan ' Ilmu politik memusatkan perhatian pada masalah kekuasaan
> > > dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat sama seperti pendapat W.A
> > > Robson dalam ' The University Teaching of Social Science menyebutkan
> > > 'ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat...'' ( Meriam
> > > Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Jakarta 1983 hal 10 )
> yang
> > > artinya politik itu tidak akan jauh dari kekuasaan ) 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Wassalam
> > > 
> > >  
> > > 
> > > Abu Aisyah 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > -
> > 
> > ********************************************************
> > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan
> EJIP
> > ********************************************************
> > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
> > http://www.usahamulia.net
> > 
> > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
> > [EMAIL PROTECTED]
> > ********************************************************
> > 
> > ********************************************************
> > Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan
> EJIP
> > ********************************************************
> > Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
> > http://www.usahamulia.net
> > 
> > Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
> > [EMAIL PROTECTED]
> > ********************************************************
> 
> ********************************************************
> Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
> ********************************************************
> Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
> http://www.usahamulia.net
> 
> Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
> ********************************************************
> 
> ********************************************************
> Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
> ********************************************************
> Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
> http://www.usahamulia.net
> 
> Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
> [EMAIL PROTECTED]
> ********************************************************

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke