Rasulullah SAW bersama para sahabat sampai di sebuah gurun pasir yang tandus. 
Mereka beristirahat di gurun itu sebelum melanjutkan perjalanannya. Ketika 
mereka membutuhkan kayu bakar, Rasulullah memerintahkan, "Kumpulkanlah kayu 
bakar!"

Beberapa orang sahabat terperanjat, "Wahai Rasulullah, lihatlah! Tanah ini 
tandus. Kita tidak dapat menemukan sebatang kayupun di sini."

Beliau SAW berkata, "Bagaimanapun keadaannya, kalian harus mengumpulkan kayu 
sebanyak-banyaknya."

Para sahabatpun menyebar ke gurun. Dengan seksama mereka mencari-cari kayu di 
tanah. Ranting sekecil apapun, akan mereka pungut jika mereka temukan. Tiap 
orang berusaha mencari kayu sebanyak-banyak dan mengumpulkannya dalam satu 
tempat. Setelah semuanya selesai, jadilah sebuah tumpukan besar kayu bakar.


Rasulullah SAW bersabda, "Dosa kecil itu tak berbeda dengan sebatang kayu yang 
kecil ini. Pada awalnya terlihat remeh. Namun masing-masing diikuti dengan 
"keremehan" yang lainnya. Demikian seterusnya sehingga menjadi banyak. Dosa 
kalian juga akan dicatat dan dikumpulkan hingga suatu hari dimana kalian 
menyadari, bahwa dosa-dosa kecil yang kalian anggap remeh itu telah menjadi 
tumpukan dosa yang besar."

Itulah sedikit kisah yang mengandung banyak hikmah. Sebuah kisah yang ketika 
pertama kali membaca judulnya, kunilai sangat sepele. Dan ketika kubaca 
ceritanya juga sepele, tentang ranting doang. Namun makna yang ada begitu 
menebarkan getaran di dada. Perumpamaan yang Rasulullah SAW sampaikan tentang 
sebatang ranting cukup membuat hati terperangah, terkejut, tersadar, dan malu. 
Betapa banyak dosa-dosa kecil yang aku lakukan. Mungkin saat melakukannya 
bahkan aku tak menganggapnya sebagai dosa karena menganggapnya remeh atau 
sepele. Padahal seorang Pele itu bukanlah orang yang sepele. Dia adalah seorang 
legendaris sepakbola yang kiprahnya bukan hanya membanggakan Brazil, tapi juga 
menyenangkan dunia. Maaf, agak nyasar!

Banyak contoh keremehan yang bisa kita lakukan. Misalnya, pelit senyum, malas 
mengucapkan atau menjawab salam, menghalangi orang lain untuk menggunakan 
haknya, ngentit uang setoran, menaikkan harga berlebihan, membuat iklan yang 
tak sesuai dengan kenyataan, menjitak anak kecil yang tak berdaya, menebar 
kentut diam-diam, ghibah, merasa paling benar, merasa paling suci, merasa hanya 
kelompoknyalah yang benar dan yang lainnya sesat, melarang yang tak dilarang, 
tak mengembalikan barang pinjaman, sengaja tak mau bayar hutang, menyunat gaji 
karyawan, pungli di jalan, menyogok dan menerima sogokan, besukaan dengan 
non-muhrim, merasa jadi pahlawan, mencicipi narkoba, menebar virus, mematikan 
password orang, dan segala hal-hal yang kita anggap sepele padahal menghambat 
kemaslahatan.

Kalau kita renungi, dalam sehari, berapa banyak dosa-dosa sepele yang kita 
lakukan. Berapa banyak jika seminggu, bertumpukkah jika sebulan, menggunungkah 
jika setahun, dan seterusnya hingga kita mendapat jatah ajal. 

Benar juga apa kata Nabi SAW., ternyata hal-hal sepele itu memang selalu 
dianggap bukan masalah. Kita tak merasa berdosa ketika menyindir teman, padahal 
teman kita itu sakit hati. 

Lalu bagaimana agar kita tak menyepelekan dosa? Aku tak bisa menasehati kita. 
Kupikir kita sendiri bisa menasehati diri sendiri. Sebab sesungguhnya di dalam 
hati kita telah Allah sertakan ruh kebenaran yang senantiasa mengingatkan kita 
ketika kita akan melakukan dosa. Tinggal kita sendiri, kita menurut atau cuek 
terhadap bisikan ruh kebenaran itu. 

Kalau tulisan ini dibuka dengan cerita sepele, maka saya memaksakan diri untuk 
menutupnya juga dengan kisah sepele. Sebuah pesan singkat namun kaya manfaat. 
Sebuah pesan Nabi SAW yang disampaikan kepada Ali bin Abi Thalib r.a. 

"wahai Ali, ada 3 derajat, 3 penghapus dosa, 3 bencana, dan 3 penyelamat. 
Adapun ketiga derajat itu adalah ; melakukan wudhu yang sempurna tatkala udara 
dingin menggigit, menunggu datangnya waktu shalat berikutnya setelah shalat, 
dan melalui malam dan siang dengan shalat jamaah. Sedangkan ketiga penghapus 
dosa adalah ; menyebarkan salam, memberikan makanan, melakukan tahajud di malam 
hari ketika kebanyak orang sedang tidur. Ketiga bencana yang dapat membinasakan 
adalah ; bersifat kikir, mengikuti hawa nafsu, dan merasa kagum atas diri 
sendiri. Adapun yang terakhir, 3 hal yang akan menyelamatkan adalah ; takut 
kepada Allah baik saat sendiri maupun saat ramai, bersikap wajar ketika kaya 
atau miskin, dan selalu berkata benar saat suka maupun duka."
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke