Bulan April, apa sih yang ada di benak Antum semua? Hari Kartini,
pastinya. Hari yang diyakini sebagai tonggak emansipasi kaum wanita. Nggak
bosan-bosannya topik ini dibicarakan terutama di kalangan aktivis feminisme
dengan judul baru bernama pemberdayaan perempuan. Seakan-akan tanpa program
mereka, kaum perempuan tak berdaya.
Diperparah dengan beberapa lagu yang sengaja memanas-manasi para
perempuan untuk mau 'berjuang'. Nah, salah satunya lagu di bawah ini neh.
Di era tahun 80-an, ada lagu yang berlirik seperti ini :
Semenjak Kartini itu lahir di hari itu
Contoh dan teladan diberi pada kaumku
Wanita bukan budak yang hina
Anggapan lama semua kaum pria
Gunung kan kudaki laut kuseberangi
Mencari Bahagia
Aku disakiti aku diingkari
Dan aku dihina
Apa pria tega menghina wanita
Sayang sayang sayang
Adam tanpa hawa
Tak ada artinya
Sayang sayang sayang
Waduh, hapal banget yah? Hehe, kebetulan aja kakak-kakak saya yang cewek
adalah penggemar lagu melow, salah satunya adalah lagu ini. Dan kebetulan aja
saya yang saat itu masih pake seragam putih merah alias SD teringat dengan
lirik ini. Coba deh Antum tanya ke ortu yang barangkali aja ingat dengan lagu
ini.
Kita bukan mau berlatih olah vokal. Saya juga tak akan mengajari Antum
bagaimana cara menyanyikan lagu ini. Tapi saya akan ajak Antum semua untuk
berpikir kritis dalam menyikapi hari Kartini dan juga lagu-lagu sejenis ini.
Supaya apa? Supaya kita nggak terjebak dan terjerumus dengan ide feminisme yang
kedengarannya aja manis di mulut dengan tajuk perjuangan hak perempuan. Padahal
mah ide ini jauh panggang daripada api, alias nggak ada bagusnya bagi perbaikan
nasib dan harga diri kaum perempuan sendiri. Nggak percaya? Baca aja lanjut,
okay?
Perjuangan Kartini
Tak ada yang salah dengan perjuangan Kartini. Toh beliau memang hidup di
alam penjajahan dan jaman feodalisme Jawa masih mengungkung erat. Jaman ketika
perempuan masih dianggap rendah sekedar 'konco wingking' alias teman di
belakang bagi para pria. Maksudnya perempuan itu tempatnya cuma dapur, sumur
dan kasur. Walah! Perempuan nggak boleh ikut mengurusi selain ketiga hal itu.
Karena urusannya cuma itu, maka nggak perlu perempuan sekolah tinggi-tinggi.
Nggak ada gunanya. Toh, nanti kembalinya juga bakal ke dapur lagi.
Kartini, sebagai seorang perempuan cerdas, nggak terima dengan kondisi
ini. Apalagi lingkungan bangsawan Jawa membuatnya sering bergaul dengan
noni-noni Belanda yang dianggapnya mempunyai derajat lebih tinggi. Kartini pun
ingin seperti mereka. Ia ingin derajat kaumnya meningkat melalui dunia
pendidikan. Nah, seringkali perjuangan Kartini dipelintir, berhenti cukup
sampai di sini. Jadilah mereka menjadikan sosok Kartini sebagai sosok pejuang
emansipasi yang berusaha memperjuangkan hak perempuan.
Mereka lupa (atau pura-pura lupa?) bahwa ada lanjutan dari kisah hidup
perjalanan Kartini. Selain berkorespondensi dengan noni-noni Belanda, Kartini
juga belajar membaca al-Quran dengan salah satu Kyai di jaman itu. Sayangnya,
guru yang menjadi guru ngaji Kartini adalah orang yang berpikiran kolot dengan
menyatakan bahwa kitab ini terlalu suci untuk diterjemahkan. Kartini sedih,
bagaimana mungkin ia bisa memahami isi kitab suci bila ia tak mengerti makna
apa yang dibacanya.
Dari sinilah diskusi-diskusi kecil Kartini muda tentang Islam dimulai.
Hingga salah satu buku fenomenal yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang
adalah terinspirasi dari salah satu ayat al-Quran (minadzulumaati ila nuur-dari
gelap menuju cahaya). Tidak berhenti sampai di sini, Kartini pun akhirnya
menyadari bahwa apa yang diperjuangkannya, bukan karena ingin bersaing dengan
para pria. Sebaliknya, pendidikan bagi perempuan yang ia maksudkan adalah
sebagai upaya agar perempuan bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena
anak-anak yang baik dan berkualitas hanya bisa terlahir dari ibu-ibu yang
terdidik, bukan yang bodoh. Jadi pendidikan yang perjuangkan adalah dalam
rangka mempersiapkan perempuan untuk menjadi sosok ibu yang berkualitas demi
terciptanya generasi yang berkualitas pula. Inilah yang nggak pernah disinggung
oleh mereka yang mengaku sebagai pejuang hak perempuan.
Lirik lagu di atas dan mungkin lagu lain yang sejenis, seringkali
menyesatkan maknanya. Kartini nggak perlu mendaki gunung dan menyeberangi
sungai untuk meraih cita-citanya. Dengan tegas, ia tolak tawaran beasiswa ke
Belanda untuk sekolah. Bahkan dengan penuh harga diri, ia tulis surat untuk
sahabatnya di Belanda itu bahwa ia tak hendak lagi menjadikan mereka sebagai
panutan. Perjuangannya adalah di sini, di tanah Jawa Indonesia untuk mendidik
perempuan-perempuan di sekitarnya.
Kartini menerima pinangan seorang laki-laki bijak yang memberinya ijin
dan kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya. Ia pun menikah.
Andai Kartini tahu
Betapa Islam yang menjadi agamanya itu sudah mempunyai konsep tentang
perempuan secara ideal. Betapa semua yang ia perjuangkan sudah tercantum dengan
gamblang dalam kitab suci al-Quran. Betapa yang ia rindukan tentang perempuan
yang berpendidikan untuk mencipta generasi terdidik sudah pernah terterapkan.
Yah.andai Kartini tahu itu.
Generasi selevel Imam Ibnu Taimiyah, Ibnu Sina, Imam Bukhari, Muslim, Abu
Hanifah dan masih banyak jutaan lain ilmuwan yang mengguncang dunia dengan
karya-karyanya, adalah hasil didikan dari sosok ibu yang berkualitas dan
terdidik. Sosok laki-laki yang sebagian tersebut di atas adalah sosok yang
sangat memuliakan perempuan. Jadi lagu era 80-an itu sangat menyesatkan ketika
menyatakan bahwa anggapan lama semua kaum pria bahwa wanita itu hina.
Bila yang dimaksud anggapan lama itu adalah sebelum Islam datang, itu
memang iya. Tapi bila anggapan lama itu adalah masa sebelum tahun 80-an ketika
lagu itu digubah, maka itu juga tak sepenuhnya salah. Kok bisa? Perempuan jadi
terperosok lagi ke lumpur kehinaan, secara resmi yaitu sejak tahun 1924. Ada
apa di tahun 1924, tepatnya 3 Maret?
Runtuhnya Khilafah Islam yang menjadi satu-satunya payung dan benteng
terakhir untuk menjaga kewibawaan dan harga diri kaum muslimin termasuk
perempuan. Sejak saat itulah harga diri perempuan dengan sah diinjak-injak
dengan dalih kesetaraan. Perempuan ditarik ke sektor publik dengan jargon
emansipasi. Pabrik dan jalanan penuh sesak oleh perempuan. Padahal, rumah
adalah tempat ternyaman bagi perempuan untuk beraktivitas dibandingkan dengan
pabrik yang penuh dengan kebisingan itu.
Sejalan dengan cita-cita perjuangan Kartini, pendidikan bagi perempuan
bukanlah untuk bersaing dan menyamai laki-laki. Tapi semata-mata sebagai fungsi
awal yang sesuai dengan fitrah yaitu sebagai pendidik utama bagi anak-anaknya.
Kartono menuntut hak
Ketika ide emansipasi tak lagi murni, para Kartono eh.maksudnya laki-laki
pun berusaha menuntut haknya pula. Sebagai ayah, ia menuntut haknya untuk
dihormati oleh istri dan anak-anaknya. Bagaimana pun ia adalah wali bagi anak
perempuannya. Ijinnya mutlak diperlukan oleh istri bila akan keluar rumah. Tapi
ketika hak ini semakin memudar, istri dan anak tak lagi mau mengakuinya sebagai
pemimpin rumah tangga, maka wajar bila kaum pria ini juga berhak menuntut.
Sebagai suami, keberadaannya semakin tak dihargai. Posisinya sebagai
qowwam alias kepala rumah tangga dihujat. Istrinya menuntut posisi sama, tak
mau kalah hanya karena perbedaan jenis kelamin. Maka, muncullah fenomena
paguyuban STI alias Suami Takut Istri.
Anak-anak perempuannya tak lagi mengindahkan kata-katanya. Dengan dalih
demokrasi dan kebebasan perempuan, anak-anaknya menolak menutup aurat. Bahkan
sang ayah bisa diajukan ke komisi perlindungan anak dengan tuduhan pemaksaan
dan pemerkosaan hak berekspresi. Hingga taraf pindah agama alias murtad,
wewenang sang ayah tak lagi berguna. UU perlindungan anak akan sigap melindungi
siapa pun yang berstatus anak untuk menjadi murtad. Nah, lho? Ciloko!
Belum lagi para pria yang jomblo yang semakin merana. Mereka harus mulai
mencari solusi karena ternyata gerakan feminisme radikal telah sebegitu dalam
menanamkan kebencian terhadap makhluk berjenis laki-laki. Dampaknya adalah
perempuan ini tak mau lagi menikah dengan laki-laki dan memilih sesama
perempuan sebagai gantinya alias mempraktikkan lesbian. Naudzhubillah min
dzalik.
Selain penyakit AIDS, menurunnya tingkat kelahiran menjadi satu masalah
tersendiri bagi dunia. Hingga tak heran bila di negara seperti Italia, ada
insentif menggiurkan untuk mereka yang mau punya anak. Jadilah, bank sperma
laris manis tanpa perlu menikah dengan laki-laki. Nasab sang anak jadi kacau
beliau eh, balau. Laki-laki pun harus merana karena defisitnya perempuan untuk
dinikahi. Seperti pernyataan seorang penulis perempuan yang karyanya melulu
pada tema esek-esek bahwa 'pernikahan adalah ibarat hukum permintaan dan
penawaran. Dan saya tidak menikah untuk mengurangi penawaran di pasar.' Duile,
sebegitunya si Mbak ini cinta pada Kapitalisme (atau justru tertipu?).
Sampe-sampe penikahan pun ia ibaratkan dan perlakukan ibarat orang jual beli di
pasar.
Bukan masalah emansipasi
Dari gambaran di atas, masalah sesungguhnya bukanlah pada emansipasi.
Bukan pula pada kesetaraan hak. Dan nggak juga pada perjuangan pemberdayaan
perempuan atau pun Kartono yang menuntut karena terdzalimi oleh para Kartini.
Masalah utama terletak pada pemahaman dan kesadaran perempuan yang masih
terjajah oleh ide Kapitalisme dengan anak turunnya bernama feminisme. Feminisme
inilah yang nantinya punya istilah emansipasi bagi perempuan. Karena bila ini
yang kita perjuangkan maka akan ada kutub lain yang bereaksi. Merekalah kaum
pria itu. Meskipun tidak sedikit kaum pria ini juga menjadi antek dan aktivis
feminisme sendiri. Tujuannya jelas yaitu untuk semakin melanggengkan dominasi
Kapitalisme dan Sekularisme dalam kehidupan di tengah merebaknya kampanye
dakwah penerapan Islam sebagai ideologi negara dalam bingkai Khilafah Islamiyah.
Inilah sebetulnya yang menjadi pangkal masalah perempuan. Ketika sudut
pandang keperempuanan yang ditonjolkan maka solusi yang dihasilkan pastilah
timpang. Mengapa tak coba kita lihat masalah ini sebagai masalah kemanusiaan
yang utuh? Karena laki-laki pun banyak kok yang terdzalimi, banyak yang tidak
mendapat haknya, tidak memperoleh apa yang seharusnya. Jadi harus ada bentuk
penyelesaian masalah yang tidak memihak salah satu pihak saja.
Islam adalah jawabnya. Tak lagi ada sudut Kartini (perempuan) menuntut
hak. Atau Kartono (laki-laki) yang terdepak karena si Kartini yang berulah.
Islam adalah solusinya ketika kedua jenis ini didudukkan pada masing-masing
fungsi yang saling melengkapi. Bukan saling mengiri hati. Perempuan dengan
fitrahnya bukan berarti lemah. Itu adalah sebuah kelebihan untuk mendidik
generasi yang berkualitas. Laki-laki dengan fitrahnya bukan berarti kuat dan
sewenang-wenang terhadap perempuan. Itu maknanya ia berfungsi untuk melindungi,
menyayangi dan menghormati perempuan.
Tak ada lagi perjuangan emansipasi. Tak ada lagi penuntutan hak perempuan
atas laki-laki dan sebaliknya. Yang ada tinggal perjuangan yang hakiki ketika
Islam butuh untuk diterapkan lagi sebagai ideologi negara. Yang tertinggal
adalah penuntutan hak kaum muslimin yang selama ini dirampas dan dirampok. Hak
untuk mengembalikan Islam dalam semua aspek kehidupan. Kartini (perempuan) dan
Kartono (laki-laki) tak lagi saling iri hati. Tak lagi bersaing hak yang
semuanya itu terjamin utuh dalam Islam ketika sistemnya sudah diterapkan.
Mereka boleh bersaing hanya dalam satu hal, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ayo.ayo, para Kartini dan Kartono, mari berlomba tiket ke surgaNya.
Yuuukkk!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************