Kamis, 19 April 2007
Bahaya Di Balik Teknologi Laser


Semarang - Penggunaan sinar laser atau cahaya intensitas tinggi di berbagai 
bidang termasuk pada peralatan kantor hingga mainan anak di Indonesia, belum 
diimbangi dengan pamahaman yang memadai atas teknologi penyinaran ini.

Guru Besar Fisika Universitas Diponegoro Semarang, Prof. Dr. Ir. Wahyu Setia 
Budi, M.S., di Semarang, Kamis, menjelaskan, di balik fungsi laser yang amat 
canggih di berbagai bidang termasuk kedokteran, militer, proses komunikasi 
optik, dan lainnya, ada risiko yang tidak disadari di belakangnya.

Ia memberi contoh, mainan anak yang dilengkapi laser dengan daya lima miliwatt 
saja bisa mendatangkan masalah bila tembakan sinar ini mengenai mata. Begitu 
pula "pointer" laser yang digunakan presentasi juga bisa merusak retina bila 
difokuskan ke mata, karena alat mungil ini juga menggunakan laser berdaya 
rendah.

"Bila mengenai mata terus-menerus, laser berdaya rendah tersebut tetap bisa 
merusak retina. Sebenarnya sudah ada petunjuknya, namun jarang yang mau baca," 
katanya.

Ia mengakui sampai sekarang belum ada kasus serius yang disulut terkena paparan 
laser, namun untuk menghindari insiden, tidak perlu harus menunggu ada korban.

Karena itu, ia mengingatkan, jangan sekali-sekali memancarkan arah laser ke 
mata meskipun daya laser itu sangat rendah. Laser memiliki sifat istemewa, 
yaitu cahayanya amat cerah, fokus, koheren, dan monokromatis. "Untuk aplikasi 
laser berdaya lebih besar, selalu gunakan kacamata khusus sesuai dengan warna 
sinar laser," kata sarana Wahyu.

Karena sifatnya seperti itu, katanya, maka meski laser hanya berdaya lima 
miliwatt, cahayanya tetap fokus dan benderang di tengah paparan lampu berdaya 
ratusan watt.

Teknologi laser juga sering digunakan untuk pencahayaan (lighting) panggung 
pertunjukan. "Operator laser harus tahu bahwa sinar itu tidak boleh mengenai 
langsung badan manusia, apalagi mata," kata Dekan MIPA Undip mengingatkan.

Doktor di bidang opto elektroteknika dan aplikasi laser lulusan UI Jakarta itu 
menyebutkan, ada empat kelas laser, yaitu dari yang terkecil dengan daya 
sekitar lima miliwatt hingga laser kelas empat berdaya gigawatt yang bisa 
digunakan untuk memotong pelat baja. 

Ia mengemukan, beberapa negara sudah membentuk badan pengawas penggunaan laser, 
namun sampai sekarang Indonesia memandang pengawas seperti ini belum perlu 
meski penggunaan teknologi laser kian meluas.

Mahal

Wahyu yang Sabtu pekan ini (21/4) dikukuhkan jadi guru besar ke-94 Undip itu 
mengatakan, sampai kini sangat jarang pengusaha Indonesia yang berani terjun ke 
bisnis laser, karena pasarnya masih terlalu kecil.

Karena itu peralatan dengan teknologi laser masih harus didatangkan dari luar 
dan harganya sangat mahal. Ia memberi contoh, teknologi laser kosmetik di RSUP 
Kariadi Semarang harganya mencapai satu miliar lebih.

"Ketika saya membuat sendiri laser hidrogen pada tahun 1990-an, menghabiskan 
biaya Rp40 juta lebih, padahal alatnya sangat kecil," kata Wahyu.

Pembantu Rektor I Undip, Prof. Dr. dr. Ign. Riewanto di tempat sama mengatakan, 
masyarakat sering menjadi korban penipuan dari orang yang mengklaim peralatan 
yang digunakan menggunakan laser, sehingga konsumen harus membayar mahal untuk 
itu.

"Untuk sewa saja bisa mencapai dua juta rupiah sekali pakai belum termasuk 
biaya lain-lain. Jadi, apa betul sunat menggunakan laser, seperti banyak 
ditawarkan belakangan ini," kata Riewanto yang juga dokter bedah itu.

http://www.cybermq.com/index.php?risalahmq/detail/4/6751/risalahmq-6751.html



Kamis, 19 April 2007
Popularitas Warta Sains Kalah Oleh Gosip



Melbourne - Ajang berkumpulnya para jurnalis sains di Melbourne, Australia, 
Rabu, memperlihatkan bahwa ternyata berita tentang sains, lingkungan hidup, 
teknologi, dan kesehatan kerap kali terpaksa dikalahkan demi berita politik, 
perang, dan skandal.

Gejala popularitas warta sains yang tidak stabil ini tidak hanya terjadi di 
negara-negara berkembang, yang kebanyakan terlalu mendahulukan berita-berita 
ekonomi dan politik, tapi juga terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat 
dan Australia, demikian laporan ANTARA News yang mengikuti acara ini .

Chris Mooney dari Majalah Seed, Amerika Serikat, mencontohkan berita-berita di 
media negeri itu soal perubahan iklim sangat fluktuatif dalam hal jumlah dan 
frekuensinya .

Sebelum tahun 1990-an, isu perubahan iklim masih sangat jarang diulas di media 
massa, dan kemudian baru ada sedikit lonjakan perhatian dari para jurnalis 
ketika Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden George W Bush menolak 
meratifikasi Protokol Kyoto - yang sedianya telah ditandatangani oleh Presiden 
Bill Clinton.

Isu perubahan iklim sempat mengalami kenaikan kala itu, lalu jatuh menjadi 
berita yang dikalahkan oleh pantauan invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003.

Setelah mengalami penurunan, volume dan frekuensi berita perubahan iklim 
kembali mengemuka pada saat Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim/IPCC 
melaporkan hasil-hasil penelitiannya.

Uniknya, masih kata Chris, berita tentang perubahan iklim akhir-akhir ini 
kembali kurang populer dan kalah oleh gosip seputar kematian mantan model 
kenamaan, Anna Nicole Smith.

Berbeda dengan kondisi yang dihadapi oleh para jurnalis di negara maju, 
pekerjaan jurnalis sains di negara-negara berkembang justru sangat terhalang 
ketersediaan dana dan apresiasi pembaca tentang warta-warta sains serta 
lingkungan hidup.

Jurnalis di Afrika, misalnya, harus mengeluarkan kocek yang lebih banyak agar 
bisa mendapat data, informasi, dan wawancara soal lingkungan hidup karena 
mereka harus mendatangi kawasan di mana penduduk paling dirugikan oleh dampak 
perubahan iklim.

Perubahan iklim, bila pada tahun 1990-an masih merupakan perdebatan di tingkat 
kesahihan peningkatan suhu muka Bumi, kini cakupan topik sudah sangat kompleks, 
yaitu tentang bagaimana penduduk dunia hidup dengan kondisi yang berubah 
tersebut.

Laporan IPCC yang terbaru sudah memastikan bahwa perubahan iklim 90 persen 
disebabkan oleh tingkah laku manusia, terutama yang berkaitan dengan pembakaran 
bahan bakar fosil, transportasi, dan kegiatan pertambangan.

Walaupun data ilmiah telah kian meyakinkan, pemberitaan tentang perubahan iklim 
tidak banyak terpicu, terlebih bagi negara-negara berkembang dan bila ada 
berita skandal atau perang - untuk negara maju.

http://www.cybermq.com/index.php?risalahmq/detail/4/6750/risalahmq-6750.html
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke