> Pencari Nafkah
> 
> Namanya Saiful, Saya biasa memanggilnya Mas Pul. Dia adalah seorang senior
> saya di department Engineering sebuah PT di kawasan muka kuning Batam.
> Orangnya rajin luar biasa, semangatnya menyala-nyala, suaranya tegas dan
> lugas, ibadahnya pun khusyuk. Walaupun lulusan STM, tapi dia sudah bisa
> mencapai posisi Engineer, sebuah posisi yang hanya segelintir lulusan STM
> di pabrik itu, bisa mencapainya.
> 
> Pernah suatu ketika kami harus dimarahin habis-habisan oleh General
> manager QA karena menurut dia ada salah "decision" yang kami lakukan
> selaku engineer yang bisa merugikan perusahaan. Dalam hati yang menciut
> gemetaran, ternyata bukan manager engineering ataupun section head kami
> yang membela kami. Tapi mas Pul, dengan ketenangan dan ketegasannya, dia
> mengatakan bahwa kami tidak menyalahi prosedur. Walaupun akhirnya, kami
> tetap "divonis" bersalah, tapi kami kagum atas pembelaannya pada kami,
> para junior-nya.
> 
> Tetapi suatu hari, saya sempat melihatnya menangis di line assembly,
> walaupun dia tidak mengakuinya, tetapi jelas terlihat dari matanya yang
> merah dan bekas air mata di kelopak matanya. Tentu saja saya heran, hal
> apakah yang bisa membuat si tegar ini menangis sesenggukan.
> 
> "Lihat itu di, aku nggak tega melihat istriku bekerja seperti itu, apalagi
> sudah hamil tua." Pandangan mataku segera menuju ke seorang wanita yang
> duduk sambil menggosok produk yang harus di "rework". Wajah wanita itu
> biasa saja, tidak nampak ada kesusahan di sana, malah tampak menikmati
> pekerjaannya. "Apa artinya aku jadi kepala rumah tangga, kalau istriku
> masih harus bersusah payah bekerja, sudah kewajibanku untuk
> mensejahterakan keluargaku. Kalau mereka senang, akulah orang yang senang
> paling akhir. Kalau mereka susah, akulah orang yang pertama susah."
> 
> 6 Tahun kemudian, di daerah bekasi, aku melihat betapa banyak wanita
> berkeluarga harus berangkat malam dan pulang pagi karena bekerja. Mungkin
> itu biasa, tapi yang mengusik hatiku adalah ketika banyak laki-laki yang
> menjadi suami mereka, hanya diam menganggur di rumah. Pekerjaan
> suami-suami itu hanya mengantar istrinya berangkat kerja dan menjemputnya.
> setelah itu mereka ngobrol, sambil menghabiskan berbatang-batang rokok,
> yang dibeli dari uang hasil jerih payah istrinya. 
> 
> memang mencari pekerjaan di zaman seperti ini tidak mudah, tapi bukan
> berarti tidak ada. Banyak yang menjadikan itu sebagai dalih atas kemalasan
> untuk berusaha. Padahal laki-laki-lah yang seharusnya menjadi pencari
> nafkah. Saya yakin hukum mencari nafkah bagi laki-laki bukan Fardhu
> Kifayah...yang gugur kewajibannya, karena sang istri sudah bekerja.
> 
> Cikarang, 18 april 2007
> 
> Note : untuk sementara damar-kurung kembali ke format lama, Insya Allah
> minggu depan akan kembali ke format E-zine.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke