Kartini dan Kartini

"Kenapa kita peringati hari lahir Kartini ? kenapa kita menjadikannya
pahlawan emansipasi wanita ? "Pertanyaan Farah, teman saya, itu begitu tajam
menuju ke saya. Tentu saja jawaban saya "standar" sebagaimana yang diajarkan
oleh sekolah, dimana Kartini adalah pendobrak kebekuan wanita pada jamannya,
berani menerobos pemikiran masyarakat saat itu yang mendudukkan wanita hanya
sebagai "konco wingking".

"Apa yang telah diperbuat oleh Kartini untuk mencapai tujuannya ?" Kembali
Farah mendesak saya. Dia mendirikan sekolah keputrian, mengajari wanita di
sekitarnya membaca dan menulis, jawab saya pelan. "kenapa Kartini menerima
ketika dinikahkan dan menjadi istri ke-sekian dari seorang priyayi Jawa,
kenapa dia tidak menolak, kenapa dia tidak melawan."
"Karena keterbatasannya sebagai wanita saat itu." Jawaban saya semakin
pelan.
"Apa bedanya sang "pahlawan" kita ini dengan banyak wanita lainnya? kalau
akhirnya hanya pasrah menghadapi kenyataan hidup!!" Saya tahu Farah punya
"peluru" yang hendak ditujukan pada saya, oleh karena itu saya diam menunggu
perkataan selanjutnya.

"Satu-satunya alasan Kartini jadi pahlawan wanita adalah karena dia wanita
Jawa ! dan di Jawa tidak ada tokoh yang lebih menonjol daripada
Kartini."suara Farah si putri keturunan Minang itu datar tanpa emosi."Ada
seorang wanita yang berperang melawan penjajahan Belanda. Memimpin ribuan
laki-laki, dan bahkan mengorganisir para Janda menjadi pasukan berani mati.
Dia berjuang keluar masuk hutan, sampai akhirnya mati dalam pengasingan
penjajah Belanda. Namanya Tjut Nya' Dien. Selain itu, kita juga mengenal
Christina Martha Tiahahu, yang juga mati dalam pengasingan Penjajah Belanda.
Kenapa bukan mereka yang dijadikan simbol emansipasi wanita Indonesia ?,
apakah pelajaran menjahit dan memasak lebih mulia daripada berjuang bertaruh
nyawa demi kemerdekaan bangsa ?"

Saya tersenyum, "Bukankah kedua nama yang kamu sebutkan itu juga dikenal
sebagai Pahlawan Indonesia. Perjuangan tidak harus di medan perang. Oleh
karena itu selain punya pahlawan bernama Jenderal Sudirman, kita juga punya
Sutan Syahrir. Selain punya Pangeran Diponegoro, kita juga punya Ki Hajar
Dewantara. Jadi selain punya Tjut Nya' Dien, kita juga harus punya Kartini.
Agar para wanita Indonesia tidak berpikir bahwa emansipasi selalu "menentang
arus", bahwa mendidik dan mengasuh anak dan keluarga, juga termasuk sebuah
perjuangan. Bahwa menjadi seorang Ibu, sama mulianya dengan menjadi panglima
perang."

Terang saja Farah meradang mendengar jawaban saya,"Ya itulah emansipasi
menurut kalian, para laki-laki. Bagaimana pun susah mengubah paradigma yang
tertanam selama ribuan tahun. Kalian akan melarikannya ke masalah kodrat
wanita...bahwa laki-laki dan perempuan berbeda." Semakin saya tersenyum
melihat teman mungil saya itu berapi-api. "Kalau mau mengubahnya, silahkan
untuk diperjuangkan. Kamu bisa mencontoh Tjut Nya' dien atau Kartini. Siapa
tahu, di kemudian hari, kita mempunyai pahlawan bernama Farah."

Diskusi kami belum berakhir, lalu lalang kendaraan di Sei Baloi sudah sepi.
Tapi secara kenyataan, sudah banyak wanita-wanita hebat di sekitar kita,
yang jauh lebih hebat dari kebanyakan laki-laki, karena selain sebagai ibu
rumah tangga, juga sebagai pencari nafkah. Sedangkan sungguh sulit untuk
mendapati (bahkan mustahil) seorang ayah pencari nafkah, yang juga berfungsi
sebagai ibu rumah tangga. Masihkah kita menyepelekan mereka ??


Cikarang, 26 April 2007
Based on discuss with Farah at Sei Baloi Batam 0n April 2000. I Hope you
still remember this moment.




********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke