untuk masalah isbal, belum cukupkah penjelasan seperti ini ?
 


 <http://www.eramuslim.com/> http://www.eramuslim.com

Celana atau Sarung Menutup Sampai Mata Kaki

Yth Bapak Ustad

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Saya mau bertanya apakah orang yang sedang sholat dengan sarung atau celana
panjang yang sampai menutup mata kaki termasuk orang yang sholat dengan
sombong. Katanya sarung atau celana panjang harus di atas mata kaki ketika
sholat.

Tapi bagaimana kalau sama sekali tidak ada rasa sombong dalam hati ketika
sholat meskipun celana panjangnya sampai menutup mata kaki, Apakah sholat
bisa diterima oleh Allah SWT.

Demikian pertanyaan saya, sebelumnya saya haturkan terima kasih

Wassalam

Wong Meduro

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Apa yang anda tanyakan itu sebenarnya sebuah polemik berkepanjangan yang
tidak pernah ada habisnya. Dan melibatkan begitu banyak pihaksepanjang
zaman. Serta telah menghabiskan begitu banyak resources, energi, waktu,
kesempatan serta potensi terpendam umat ini. Sungguh begitu banyak maksiat
dan keretakan persaudaraan di dalam tubuh umat lantaran meributkan urusan
ujung celana.

Setiap hari kami menerima pertanyaan seperti ini, dengan masing-masing
motivasinya. Dan ternyata pertanyaan seperti ini kami terima tanpa pernah
ada habisnya juga. Padahal semua itu dikeluarkan untuk sekedar
memperdebatkan masalah ini, yang dari zaman kuda gigit besi sudah ramai
diributkan, dan sampai hari ini tetap tidak ada penyelesaiannya.

Di satu sisi, kita melihat pemandangan unik. Di sana nampak saudara-saudara
kita sibuk mencari dalil, hujjah dan argumentasi untuk ditusukkan ke lambung
saudara kita yang lain, sekedar untuk mengatakan bahwa ujung celana yang
melewati mata kaki itu adalah api neraka. Sebagian dari mereka bahkan sampai
tidak mau bertegur sapa dengan orang yang celananya melewati mata kaki.
Bahkan ada juga yang sampai mencaci makinya di depan umum karena urusan ini.

Anehnya, ke mana pun pergi, urusan ujung celana ini selalu menjadi primadona
pembicaraannya, yang intinya ingin mencap pelakunya sebagai para pendosa,
ahli bid'ah sampai jadi calon penghuni neraka. Pelakunya harus diperangi,
dibokot, dikucilkan, bahkan diintimidasi kalau perlu.

Kita hanya bisa mengurut dada melihat pemandangan seperti ini. Kok sampai
segitunya, ya?

Disisi lain, kita juga melihat sebagian saudara kita yang lain merasa
'terganggu' dengan sikap demikian. Lantas mereka pun tidak mau kalah dan
balas menyerang, sambil menyebutkan semua kejelekan-kejelekannya. Bahkan
sampai mencap lawan mereka sebagai keturunan suku-suku penyamun di gurun
pasir Arabia, dan seterusnya dan seterusnya...nauzdu billahi min zalik.

Lalu apakah umat yang seperti ini yang diharapkan oleh Rasulullah SAW?
Akankah beliau berbahagia, bila melihat umatnya saling cakar, saling ceker
dan saling cokor terhadap sesama? Sudikah beliau memberikan syafaat udzma di
yaumil hisab nanti, kalau pemandangan umatnya macam ini? Hanya beliau SAW
yang bisa menjawabnya.

Sungguh masalah ujung celana ini sudah sedemikian merampas kenikmatan yang
Allah berikan. Berkah berukhuwah dan persaudaraan telah sirna karenanya.
Indahnya kemesraan antara sesama umat Rasullah SAW entah hilang ke mana.
Maka alangkah indahnya bila kita sejenak merenung atas beberapa hal.
Misalnya, apakah amar makruf nahi mungkar yang telah kita lakukan ini sudah
bisa terlaksana dengan indah dan nyaman? Ataukah malah melahirkan
kemungkaran baru?

Haruskah kita selalu saling menjelekkan? Haruskah kita selalu menguntit dan
mencari-cari kesalahan saudara kita? Masih tegakah kita melihat pemandangan
kurang menyenangkan sepertiini?

Mengapa kita tidak duduk bersama dengan baik-baik, saling membuka referensi,
saling bertukar informasi, saling menyampaikan ilmu dengan penuh kemesraan?
Mengapa kritik dan sanggahan itu harus hujatan dan cemoooah, yang kemudian
disebarkan dalam berbagai berbentuk seperti buku, kaset, rekaman video,
situs internet dan media lainnya, yang kemudian hanya membongkar dan
menyebar-luaskan aib sesama kita? Dan mengapa kita harus selalu berbantahan
dalam perkara agama? Tidakkah ada cara yang lebih elegan, sopan, santun dan
indah untuk mencari jalan tengah?

Apakah dengan berbantahan seperti ini, urusan umat ini akan selesai? Atau
malah tambah ruwet lagi?

Di sisi lainnya lagi, kita lihat bagaimana yahudi dan nasrani serta
musuh-musuh Allah yang lain sibuk merapatkan barisan. Mereka bahu membahu,
bekerjasama, saling berkorban, saling menopang dan saling menguatkan antara
sesama mereka. Semuanya untuk satu alasan bersama, yaitu menghancurkan Islam
dan umatnya.

Mereka bangun pabrik senjata, bank, industri dari hulu sampai hilir,
sekolah, kampus, lab, perpustakaan, rumah sakit, yayasan sosial, kekuatan
militer, semua untuk tujuan bersama, yaitu menumbangkan agama Allah. Padahal
perbedaan di antara mereka sangat besar, namun untuk satu tujuan bersama,
mereka rela untuk menepis perbedaan.

Mereka susah makan dan susah tidur untuk menghimpun kekuatan bersama
mengganyang umat Islam. Bagaimana dengan kita, umat Islam? Yang kita lakukan
justru banyak makan banyaktidur sambil saling menikam dan membongkar aib
sesama. Mohon ampun ya Allah.

Sudahkah kita menjalin persaudaraan antara keping-keping elemen umat?
Sudahkah tokoh salafi berangkulan mesra dengan petinggi Ikhwanul muslimin?
Sudahkah petinggi Hizbuttahrir, NU, Muhammadiyah, Persis, Syiah dan lainnya,
ikut melebur diri dalam kerja sama pertahanan umat Islam? Sudahkah
partai-partai berbasis umat Islam saling peluk dan cium demi umatnya?
Sudahkah mereka menenangkan para kader di level akar rumput untuk tidak
selalu 'cari perkara' dengan sesama kelompok Islam lainnya? Sudahkah kita
menghidupkan sunnah Rasululah SAW untuk selalu saling berziarah dan
menyambung tali kasih (silaturrahim) antara berbagai faksi yang
bertentangan?

Jawaban dari semua itu ada di hati kita masing-masing. Jawabannya sebanding
dengan keluasan hati, kepekaan atas realitas, kesabaran dalam berdakwah,
ketulusan dalam bersikap serta kesantunan dalam berkata.

Selama kita belum bisa belajar mengimplementasikan hal-hal di atas, mungkin
Allah SWT belum akan mengubah wajah dunia kita yang carut marut ini.

Khilaf tentang Isbal

Dalam pandangan kami, wallahu a'lam, masalah ujung celana di bawah mata kaki
ini adalah masalah khilaf. Sebagian ulama mengharamkannya secara mutlak,
tanpa memperhatikan niat dan motivasi. Kami tetap menghormati pendapat ini.

Sementara sebagian lainnya mengharamkannya selama niat dan motivasi riya'
ikut mengiringinya. Dan tidak mengharamkannya bila tanpa disertai rasa
sombong.

Itu saja jawabannya, karena memang begitu kenyataannya.

Wallahu 'alm bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of ADE FIRMANSYAH
Sent: 30 April 2007 15:31
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [ FUPM-EJIP ] Celana Membawa Sengsara



 

Celana Membawa  <http://muslim.or.id/2007/01/05/celana-membawa-sengsara/>
Sengsara

Tingkat pembahasan: Dasar

Penulis: Abu Yazid Nurdin

 

Saudaraku!& semoga Alloh merahmatimu. Tidak ada yang diinginkan oleh Alloh
dan Rosul-Nya kecuali kemaslahatan dan kebaikan umat ini. Semua perintah
dalam agama pasti di dalamnya mengandung kebaikan untuk diri kita. Begitu
pula segala macam larangan, tidak diragukan lagi di dalamnya banyak
mengandung kemudhorotan bagi umat ini, baik disadari hikmahnya ataupun
tidak. Oleh sebab itu Islam adalah agama yang sempurna. Karena segala
sesuatu yang dapat menghantarkan makhluk kepada kebahagiaan dan segala hal
yang dapat menjerumuskan makhluk ke dalam jurang kesengsaraan sudah
dijelaskan dalam syari!/at kita yang mulia ini dengan sejelas-jelasnya.

Ketahuilah wahai saudaraku!& sesungguhnya ada celana yang dapat
menjatuhkanmu ke lembah kesengsaraan (baca: neraka). Rosululloh shollallohu
!.alaihi wa sallam bersabda, !0Apa saja yang di bawah mata kaki maka di
neraka.!1 (HR. Bukhori). Maksudnya bagian kaki yang terkena sarung/celana
yang berada di bawah mata kaki, akan diazab di neraka, bukan
sarung/celananya. Jadi, perbuatan menurunkan pakaian hingga menutupi mata
kaki (baca: isbal) baik dilakukan dengan kesombongan ataupun tidak, maka
pelakunya (musbil) akan diazab di neraka. Hanya saja bedanya jika dilakukan
dengan kesombongan maka ini lebih parah dan lebih dahsyat lagi siksanya.
Sebagaimana Rosululloh shollallohu !.alaihi wa sallam bersabda, !0Ada tiga
golongan yang Alloh tidak berbicara dengan mereka pada hari kiamat, tidak
memperhatikan mereka dan tidak mensucikan mereka (dari dosa) serta
mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku isbal (musbil), pengungkit
pemberian (mannan) dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah
palsu.!1 (HR. Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, An Nasa!/i)

 

Pakaian Rosululloh Sampai Setengah Betis

 

Alloh berfirman, !0 Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh
dan (kedatangan) hari kiamat.!1 (Al Ahzab: 21). Saudaraku!& apa yang
menghalangimu untuk mengikuti dan mencontoh Rosululloh shollallohu !.alaihi
wa sallam. Lihatlah pakaian beliau! Beliau orang yang paling bertaqwa,
paling takut kepada Alloh, paling tidak mungkin untuk sombong, paling rajin
beribadah, paling mulia di sisi Alloh, tetapi pakaian yang beliau kenakan
tidak menutup mata kaki beliau. Bahkan celana beliau hanya sampai setengah
betis. Rosululloh shollallohu !.alaihi wa sallam bersabda, !0Sarung seorang
muslim hingga tengah betis dan tidak mengapa jika di antara tengah betis
hingga mata kaki. Maka apa yang di bawah mata kaki, tempatnya di neraka.
Barangsiapa yang menyeret sarungnya (sampai menyapu tanah-pen) karena
sombong maka Alloh tidak akan melihatnya.!1 (HR. Abu Dawud, Malik, dan Ibnu
Majah) Bukankah Rosululloh adalah qudwah/teladan kita di segala aspek
kehidupan?! Lalu mau dikemanakan hadits beliau, !0Barangsiapa yang
meniru-niru gaya suatu golongan, maka ia termasuk bagian dari golongan
tersebut.!1 ?! Apakah kita tidak ingin bergabung dengan golongan beliau?

 

Masalah Isbal Bukan Perkara !.kulit!/

 

Lihatlah !.Umar bin Khoththob ketika dalam kondisi yang sangat kritis
(setelah ditikam perutnya hingga robek ususnya), masih menyempatkan diri
untuk melarang kemungkaran yang satu ini (baca: isbal). Ini menunjukkan
bahwa isbal bukan masalah sepele. Kalau benar isbal adalah masalah sepele,
lalu apakah kita akan mengatakan masuk neraka adalah masalah sepele?

Wahai saudaraku!& semoga Alloh memberikan petunjuk kepada kita. Marilah kita
mengenakan pakaian dengan menggunakan tuntunan agama. Jangan sampai pakaian
yang kita pakai, celana yang kita kenakan justru menjadi bumerang bagi kita
yang ujung-ujungnya menghantarkan kita sampai ke dalam neraka. Wal !.iyaadzu
billah. Wallohu a!/lam.

 

 

Sumber : www.muslim.or.id

 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke