|
Ku Tulis ini Dengan Cinta
Bismillahirrahmaniirrahiim
“Dia mencintai merteka, dan mereka pun mencintaiNya”
(Q.S. al-Maidah: 54)
Tidak ada kata
yang indah dalam kehidupan kita, kecuali kata cinta. Kata ini menghinggapi
setiap insan, siapakah dari insan yang tidak pernah merasakan cinta?
Berdebar saat nama orang yang dicintai disebut, selalu ingin dekat
dengan orang yang dicintai dan berbagai sugesti lainnya akan muncul
saat seorang insan sedang jatuh cinta. Cinta pada hakikatnya harus kita
kembalikan pada wujud aslinya, yaitu pada kemurnian dan keindahannya,
karena cinta adalah salah satu keindahan yang dicipta. Yaitu saat cinta
itu kita kembalikan kepada Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya, bukan
kepada makhluk atau kepada dunia yang fana, karena cinta seperti ini
hanya akan bersifat sementara. Saat semesta bertasbih memuji kegungan
Allah, maka apa yang telah kita lakukan? sudahkah kita kembalikan cinta
kepadaNya? hingga dalam setiap detik dari perjalanan kita, kita tidak
akan pernah lepas dari tasbih memujiNya seperti yang dilakukan oleh
alam raya.
Kekuatan
cinta merupakan kekuatan yang membawa orang yang sedang dicinta
melakukan apa saja untuk yang dicintainya. Contoh sederhana dari cinta
ini berasal dari orang yang paling dekat dengan kita, orang tua kita.
Cinta yang mereka berikan kepada kita sungguh besar, tidak ada anak
yang dapat membayar semua jasa orang tuanya. Saat bayi, orang tua kita
tidak pernah enggan untuk membersihkan kotoran kita, menyiapkan popok
untuk kita, dan segala sesuatu yang kita butuhkan. Ya, semua ini
dilandasi karena cintanya kepada kita.
Tapi
dari itu semua ada kisah cinta yang indah yang diajarkan kepada kita
dari kisah para nabi, para sahabat, dan orang-orang saleh lainnya.
Cinta yang murni dan jelas seperti sinar mentari yang tidak pernah
pudar untuk menyinari bumi, memberikan kehidupan bagi seisi bumi, atau
seperti udara pagi yang menyegarkan yang kita hirup dengan gratis tanpa
harus bayar. Adakah cinta telah kita berikan kepada yang telah
memberikan semua ni’mat ini kepada kita?
Kenikmatan
ini hanya dirasakan oleh orang-orang yang mampu merasakannya. Kendati,
misalnya seseorang yang dipenuhi kenikmatan ini mampu menjelaskan
sifat kenikmatan cinta yang menuntun kepada jalan kebenaran, sudah
pasti mereka akan menjelaskan sepenuhnya. Namun tidak ada dapat
menjelaskannya secara penuh, karena ini berkaitan dengan perasaan yang
hanya dijelaskan dengan rasa, bukan dengan kata.
Kenikmatan
ini dilukiskan oleh Khalid bin Walid yang lebih menyukai malam yang
sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan
menyerang musuh pada pagi hari, daripada malam yang ia dapati dengan
pengantin yang cantik yang ia cintai atau ia diberi kabar kelahiran
anak laki-laki.
Kenikmatan
ini pula yang menjadikan Shalahudin Al-Ayubi meninggalkan segala
kemegahan dunia, ia tidak menyukai kehidupan model istana dan segala
kemewahannya, ia lebih suka hidup di dalam kemah dan padang pasir.
Setiap pembicaraan Shalahudin selalu berkisar tentang jihad dan
mujahidin.
Ingatlah
sirah Umair bin Al-Hammam. Ketika
dalam suatu pertempuran dia berdiri dan bertanya kepada Rasulullah SAW,
“Wahai Rasulullah, apakah surga luasnya seluas langit dan bumi?”.
Rasulullah pun menjawab,”Benar”. Kemudian dia berkata, “Hebat! Hebat!”,
dan saat Rasulullah bertanya kenapa Umair bin Hammam berkata seperti
itu, beliau menjawab dengan sebuah kalimat yang seharusnya membuat kita
berpikir tentang hidup ini, “Aku berkata seperti itu dengan harapan
dapat menjadi penghuni surga”. Setelah menjawab petanyaan Rasulullah,
ia mengeluarkan beberapa kurma dari tasnya, memakannya, dan berkata,
”Jika aku hidup untuk makan kurma-kurma ini, maka itu terlalu lama”.
Dengan sigap ia membuang buah kurma yang ada ditangannya dan maju ke
medan pertempuran hingga ia syahid di jalan Allah.
Umair bin Al-Hammam, menikmati cinta yang membimbingnya kepada jalan kebenaran dan merasakan manisnya cinta tersebut. Karena itu, ia menganggap lama waktu ia memakan beberapa kurma, dan kemudian membuangnya hanya untuk menjemput cinta sejati. Ingat lah pula kisah Abdullah bin Jahsy ketika sebelum perang Uhud. Ia pergi bersama Sa’ad bin Abu Waqqash, kemudian keduanya melakukan shalat dan menyepakati jika salah satu diantara mereka berdoa maka yang lain mengaminkan. Diantara doa Abdullah bin Jahsy ialah, ”Ya Allah, pertemukan aku dengan lawan yang kuat dan cepat emosi. Aku perangi dia di jalan-Mu dan dia memerangiku, lalu dia menangkapku dan memotong hidung dan telingaku. Jika aku bertemu dengan Mu kelak, Engkau berkata, ’Hai Abdullah, hidung dan telingamu terpotong di jalan apa?’. Lalu aku menjawab, ‘Di jalan-Mu dan Rasul-Mu. Kemudian Engkau berfirman,’ Engkau berkata benar’”. Dan doanya menjadi terkabul saat ia syahid di perang Uhud dan orang-orang musyrik memotong hidungnya. Begitu agungnya doa di atas! Jiwa
seperti adalah jiwa-jiwa yang menjual apa saja yang dimilikinya kepada
pemilik sejati sehingga sesuatu yang pahit menjadi manis baginya. Doa
seperti ini hanya keluar dari orang yang menikmati jalan kebenaran dan
rasa manisnya. Tidak
ada sesuatu pun yang didambakan kecuali mendapatkan keridhaan dari
Allah ta’ala dan bertemu dengan Rabbnya dalam keadaan taat dan gugur di
jalan-Nya.
Dan
untuk terakhir dari tulisan ini, ana hanya ingin agar kita semua
mengenang jasad Hamzah.
Tinggalkanlah
masa lalu dan berhala
Ikuti
jejak Hamzah yang bergelimang dengan pahala
Penunggang
kuda di medan laga
Bagaikan
singa di hutan belantara
Seorang warga Hasyim yang cemerlang Tampil ke medan laga dengan kebenaran
Gugur sebagai syahid di medan pertempuran
Di tangan Washyi si pembunuh bayaran.
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min
diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka
berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. janji
yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan
siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka
bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar (At-Taubah: 111)
Ingatlah!
akan perkataan Rasulullah kepada salah seorang sahabat saat ia menangis
ketika melihat di tubuh Rasulullah terukir bekas tikar yang ia pakai
tidur, dan kemudian berkata, “Ya Rasulullah, kenapa Engkau seperti ini,
Engkau adalah Rasul Allah, tidur di atas tikar sehingga berbekas di
tubuhmu, sedangkan para raja Romawi dan Persia hidup dalam kemegahan?”.
Rasulullah menjawab, “Biarkan saja dunia milik mereka, karena bagi kita
adalah kebahagiaan yang abadi di akhirat”.
Inilah
hakikat dari cinta sejati, bahwa seorang pecnita akan mampu untuk
meninggalkan dunia dan keindahannya, tidak seperti cinta lainnya. Cinta
sejati akan melahirkan kerinduan tanpa henti. Setiap hari sang pecinta
akan merasakan kedekatan dengan Sang Pemilik Cinta yang makin
bertambah. Rindu kepadaNya tidak mengenal tapal batas, karena
ketakterbatasan Dzat dan sifatNya. Oleh
karena itu, sang pecinta akan berlari menuju kepada Sang Pemilik cinta,
bersimpuh dalam sajadah cinta untuk sujud kepadaNya menjadi hamba yang
paripurna di keheningan malam. Saat dunia mati untuk sesaat, ia bangun
untuk memurnikan cintanya, karena noda yang melekat dalam diri pada
pagi hingga malam hari. Cinta ini akan menjadikan sang pecinta menjadi
hamba yang tenang dan kelak akan dipanggil dengan sebutan yang
istimewa, kemudian Sang Pemilik Cinta akan mengajak sang pecinta untuk
masuk ke dalam surga-Nya, Insya ALLAH.
”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr: 27-30). Sat
ini, masihkah kita mengeluh dengan beban yang di dapat saat kita
memurnikan cinta sejati ini dengan da’wah, menjadikan kita enggan
bergerak kembali dalam da’wah, sedangkan balasan yang diberikan sudah
pasti, perjumpaan dengan Sang Pemilik Jannah, Allah swt. Begitupun
dengan tulisan ini, aku buat diantara kebisingan polusi suara di pagi
yang cerah ini hanya untuk memurnikan cinta, cinta sejati yang
semestinya selalu kita berikan kepada yang membulak-balikkan hati, dan
aku berikan kepada kalian sebagai Sebuah ”Cinderamata Untuk Hati Yang
Tak Buta”.
Allah'alam
bishashawab...
Jatinangor, 26 Dzulhijah 1427 H
16 Januari 2007
Suadara kalian yang mencintai kalian karena ALLAH ---irwan
setiawan---
|
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
