Demokrasi Amerika di Titik Nadir


Oleh M. Amien Rais
Guru Besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta


PARA presiden Amerika sejak usai PD II, yakni Harry Truman, Dwight
Eisenhower, John Kennedy, Lyndon Johnson, Richard Nixon, Gerald Ford, Jimmy
Carter, George Bush Sr., Bill Clinton, dan George Bush Jr. merasa bahwa
negara mereka adalah kampiun demokrasi. Para presiden itu menganggap, karena
Amerika adalah kampiun, bulwark atau bastion atau benteng demokrasi, mereka
mengangkat diri mereka sebagai pemimpin dunia. Tugas pokok mereka adalah
membangun dunia agar nyaman buat penegakan demokrasi.

Ketika Bush Sr. berkuasa (1989 -1993) ia memperkenalkan gagasan Tata Dunia
Baru (TDB). Sudah tentu dimaksudkan pemimpin dari TDB itu adalah Amerika
Serikat. Sebagai sebuah istilah generik, TDB merujuk pada komplotan yang
diprakarsai oleh elite politik dunia dan elite korporasi internasional yang
bermaksud menguasai negara-negara di muka bumi demi mencapai kepentingan
sempit para elite tersebut.

Sejak Bush Sr. menjajakan TDB itu, Amerika mulai memerankan diri sebagai
polisi dunia. TDB itu meredup selama kepemimpinan Clinton ( 1993-2001),
namun menjadi hangat kembali dan dibarengi dengan politik luar negeri yang
lebih asertif bahkan agresif, setelah Bush Jr. menjadi presiden sejak 2001
sampai sekarang.

George W. Bush sejak 11 September 2001 melakukan "terobosan-terobosan" nekat
yang justru meruntuhkan sendi-sendi demokrasi Amerika yang selalu
dibanggakan rakyat Amerika selama ini. Setelah 11 September 2001 itu George
Bush menggelar perang global melawan terorisme (global war on terrorism-
GWOT) dan membagi dunia menjadi dua kelompok : ikut Amerika atau jadi musuh
Amerika. Kata Bush: they who are not with us are against us. Hal ini
mengingatkan pada doktrin Menlu AS di zaman Eisenhower, John Foster Dulles,
bahwa hanya ada dua pilihan bagi semua negara: ikut Amerika atau ikut
Soviet. Mengambil posisi netral berarti immoral.

Meminjam istilah seorang pengamat, Bush telah mengalami tiga kegagalan
katastropik dalam menegakkan demokrasi. Pertama adalah petualangan
politiknya di Afganistan dan pendudukan militernya di Irak. Invasi Amerika
ke Irak pada 2003 tidak pernah dapat dibenarkan. Invasi itu adalah agresi
telanjang terhadap negara yang tidak pernah menjadi bahaya buat Amerika
sendiri. Bush tidak dapat membuktikan bahwa ada kaitan antara Iraq dengan
Al-Qaeda. Juga tidak pernah dapat ditemukan WMD atau senjata pemusnah massal
sebagai alasan utama invasi.

Alasan yang dicari Bush kemudian adalah mengganti rezim Saddam dengan
pemerintahan baru yang demokratis. Seluruh dosa politik Saddam diungkap
kembali untuk mencari pembenaran agresi Amerika ke Iraq dan supaya bisa
tinggal lebih lama di negara seribu satu malam itu.

Sampai Oktober 2004 saja lebih dari 100.000 warga sipil Irak tidak berdosa
telah terbunuh karena pemboman gegabah Amerika. Belum lagi puluhan masjid,
kompleks perkampungan, bangunan kantor, rumah sakit, dan Museum Baghdad
telah rusak berat atau rata dengan tanah. Tidak kalah pentingnya adalah
trauma yang meluas di kalangan masyarakat Iuas yang kini makin berputus asa.
Rangkaian bom bunuh diri sebagai bentuk keputusasaan sekarang menjadi berita
semakin biasa di Irak.

Rakyat Amerika juga menderita gara-gara agresi Bush ke Irak. Sampai Februari
2005 ongkos perang Irak sudah menelan 243 milyar dolar dan terus akan
meningkat secara fantastis. Sementara serdadu Amerika yang mati dalam Perang
Irak sampai Februari 2005 telah mencapai 2.400 orang, sedangkan yang
luka-luka 17.000 orang. Banyak kalangan beranggapan bahwa petualangan Bush
di Timur Tengah adalah ancaman sesungguhnya terhadap stabilitas dan
perdamaian internasional. Jadi bukan Irak, Iran, atau Korea Utara yang
dikatakan Bush sebagai poros kejahatan atau axis of evils.

Setelah menghancurkan Afghanistan dengan alasan melantakkan sarang
Al-Qaedah, penghancuran Irak dengan alasan menegakkan demokrasi kini
berlangsung lebih gawat lagi. Para penginjil Amerika merasa ngeri ketika
melihat Bush meningkatkan petualangan militernya di Irak dan mengatakan
sebagai kehendak Tuhan. New York Times pernah mengutip kata-kata Bush bahwa
Tuhan menghendaki Bush menjadi presiden. Haaretz malah memuat pernyataan
aneh Bush: " Tuhan memberitahu saya untuk menyerang Al-Qaeda dan saya telah
menyerangnya, dan kemudian Ia menyuruhku untuk menggebuk Saddam, dan sudah
saya kerjakan, dan kini saya berketetapan untuk memecahkan masalah Timur
Tengah ". Topeng keagamaan yang dikenakan Bush dalam berbagai kesempatan
barangkali untuk menutupi ambisi sebenarnya, yakni, menguasai ladang minyak
Irak ( terbesar kedua setelah Saudi ), atau untuk membuat dunia lupa bahwa
yang dilakukan sejatinya adalah untuk mencapai hegemoni Amerika dalam rangka
membangun imperium Amerika.

Oposisi internasional terhadap Perang Iraq lebih luas daripada oposisi
terhadap Perang Vietnam. Negara-negara besar seperti Rusia, Cina, Jerman,
dan Perancis serta puluhan negara lain secara resmi memprotes Amerika,
berhubung invasinya ke Irak tidak pernah mendapat persetujuan PBB dan karena
itu ilegal.

Dalam kenyataan, 150.000 tentara Amerika berperan sebagai tentara pendudukan
di Irak, bukan tentara pembebasan. Perang itu bukan untuk menegakkan
demokrasi, tetapi untuk membuka lahan keuntungan bagi berbagai korporasi
Amerika, terutama yang bergerak di perminyakan. Vatikan juga menentang
Perang Irak. Adalah uskup tinggi Renato Martino yang menyatakan bahwa perang
terhadap Irak itu perang agresi dan harus dihentikan. Dewan Gereja Dunia
yang membawahi sekitar 450 juta umat kristiani dari lebih 100 negara
menyatakan bahwa perang terhadap Iraq itu immoral, gegabah, dan melanggar
prinsip-prinsip Piagam PBB.

Akan tetapi George W. Bush seakan tidak menggubris protes yang demikian luas
itu. Dalam pidato kenegaraannya (State of the Union Address) 31 Januari lalu
Bush antara lain mencoba meyakinkan rakyat Amerika bahwa yang dia lakukan di
Irak sudah benar, karena sedang menegakkan demokrasi di sana. Selain itu
katanya Amerika sedang memperoleh kemenangan. Bagaimana mungkin Bush
menganggap Amerika memetik kemenangan, sementara hampir seluruh analisa
independen berkesimpulan bahwa Amerika tidak mungkin memenangkan perangnya
terhadap Irak, kecuali hanya menghancurkan infrastruktur Irak, menghancurkan
berbagai bangunan, sekolah, perkantoran, pemukiman, dan membunuh ribuan
manusia tidak berdosa?

Masalah kedua yang menambah kegagalan Bush dalam menegakkan demokrasi adalah
praktik Amerika mengelola dua penjara besar di Abu Gharieb dan Guantanamo
yang melanggar Perjanjian PBB dan Konvensi Jenewa Keempat. Dunia menyaksikan
bagaimana tentara Amerika telah menyiksa, menghina dan memperlakukan tawanan
perangnya persis seperti kaum Nazi menyiksa musuh-musuhnya. Kebiadaban
serdadu Amerika di Abu Ghraib, Irak, dan Guantanamo, Kuba, tidak mungkin
dibantah lagi.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa sekitar 60% dari tahanan di Abu
Ghraib itu ternyata orang-orang tidak bersalah yang dicomot secara
asal-asalan karena dicurigai sebagai musuh Amerika. Tidak kurang dari Al
Gore, mantan Wapres Amerika meminta supaya Menhan Donald Rumsfeld, Penasehat
Keamanan Nasional Condoleezza Rice, Direktur CIA George Tenet, Deputi
Menhan, kini Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz, dua Asisten Menhan Douglas
Feith dan Stephen Cambone, segera mengundurkan diri. Mengapa? Karena mereka
membiarkan kebiadaban ditimpakan pada tawanan Iraq sehingga memperluas
kebencian dunia pada Amerika.

Apa yang terjadi di Guantanamo tidak lebih baik dari Abu Ghraib. Sekitar
520-an tawanan disana berasal dari Saudi, Pakistan, Yaman, Afganistan, dan
Suriah. Selain disiksa, mereka tidak ada yang memperoleh perlindungan hukum.
Belum lama ini 28 orang di antara mereka mogok makan dan memilih mati
daripada disiksa, terhina, dan tanpa masa depan. Mereka kemudian dipaksa
makan lewat selang dan tidak jelas bagaimana akhir nasib mereka.

Tokoh-tokoh Eropa Barat, termasuk Kanselir Jerman Angelo Merkel dan juga
Sekjen PBB sendiri, Kofi Annan sudah meminta Amerika agar segera menutup
Guantanamo dan segera memproses hukum para tawanan yang sudah menderita
selama empat tahun terakhir. Namun lagi-lagi Bush tidak berminat
mendengarkan berbagai kritik dan tuntutan itu.

Masalah ketiga yang memperparah citra buruk demokrasi Amerika adalah
penanganan pemerintah Bush terhadap para korban Taufan Katrina. Taufan
Katrina yang berkecepatan sekitar 280 km per jam itu menghantam New Orleans,
Mississippi, dan Alabama. "Tsunami Amerika" yang terjadi akhir Agustus 2005
itu menggenangi 80% Lousiana dan sekitarnya lebih dari dua minggu dan
menyebabkan 1.213 orang mati, 2.500 hilang dengan kerugian materiil ditaksir
sekitar 75 milyar dolar. Sementara itu jumlah yang dievakuasi mencapai 1,5
juta orang dan sekarang masih puluhan ribu keluarga yang belum dapat pulang
kembali ke rumah mereka dan menjadi beban Pemerintah Federal. Penanganan
yang begitu lambat dan jauh memadai dari Pemerintah Federal di Washington,
D.C. , menyebabkan tokoh-tokoh Amerika Hitam meloncat pada kesimpulan bahwa
bau rasialisme cukup menyengat dalam tragedi Katrina. Mereka menyebutkan
bahwa Bush tidak peduli pada Katrinagate.

Ketiga kegagalan katastropik di atas itulah yang menyebabkan demokrasi di
Amerika kini berada di titik nadir. Citra demokrasi Amerika menjadi carut
marut dan tidak mudah untuk diperbaiki kembali. Serangan internasional pada
Bush secara pribadi juga makin gencar. Herta Daeubler Gmelin, menteri
kehakiman Jerman di masa Kanselir Schroeder menyatakan Bush menggunakan
metode Hitler. Harian Pravda bahkan menyamakan Bush dengan Hitler. Demikian
juga Presiden Hugo Chavez dari Venezuela. Saya tidak setuju dengan penyamaan
Hitler-Bush yang terlalu jauh. Namun penyamaan itu cukup meluas dikalangan
media massa internasional.

Hitler mengangkat para pembantu yang bisa memperkuat impiannya untuk
menguasai dunia, terutama kwintet, lima-sekawan, Goering, Goebbels, Himler,
Mengele, dan Eichmann. Sedangkan kwintet yang mengelilingi Bush adalah
tokoh-tokoh minyak, yakni Dick Cheney (Halliburton Oil), Donald Rumsfeld
(Occidental, perusahaan minyak), Condoleezza Rice (anggota direksi Chevron,
juga perusahaan minyak ), Gale Norton, menteri dalam negeri, juga dari
Chevron, dan Bush Sr. sang bapak, dari perusahaan minyak Carlyle. Gaya
bahasa Bush dan para asistennya, mirip dengan bahasa Hitler yang bercirikan
simplifikasi, reduksionisme, dan intimidasi. Seperti Hitler pula, Bush pada
dasarnya tidak percaya pada rule of law, pada hukum dan moralitas
internasional.

Masalah buat dunia sekarang adalah bahwa Bush dalam pidato kenegaraan
terakhirnya tetap menyatakan bahwa Amerika harus tetap menjadi pemimpin
dunia. Kata Bush, dunia tetap memerlukan kepemimpinan Amerika jika ingin
tetap aman dan stabil. Pertanyaannya adalah apakah yang masih dapat
ditawarkan ke masyarakat internasional bila Amerika sendiri sedang berada di
titik nadir demokrasinya? Dan George W. Bush sekarang ditengarai mengidap
penyakit politik sedikit berbau Hitlerian? Pertanyaan yang saya yakin memang
tak mudah dijawab. Wallahu a'lam.


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke