Ngawula Di zaman dahulu, di Jawa ada sebuah aktivitas bernama "ngawula". Ngawula adalah ketika seseorang memutuskan untuk menjadi hamba bagi manusia yang disebutnya "gusti", dimana sang "gusti" dipandangnya lebih superior ( secara kekuasaan, ekonomi, derajat, kehormatan, dll ), .
Si kawula akan mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk melayani kepentingan gusti. Adalah suatu hal yang diharamkan untuk menolak apalagi menentang perintah gusti. Sebagai imbalannya, si gusti akan memberikan kehidupan kepada kawulanya. Segala kebutuhan dia dan keluarganya, akan ditanggung oleh gusti-nya sampai si kawula meninggal. Bahkan seringkali anak-anak si kawula, akan dijadikan kawula juga oleh si gusti. Tingkat kesejahteraan seorang kawula, tergantung pada kemampuan ekonomi si gusti, dan tingkat loyalitas yang diberikan. Semakin loyal, semakin banyak imbalan yang diterima. Semakin banyak "cing-cong", maka semakin rendahlah derajatnya di mata si gusti, bahkan bisa sampai diusir secara hina oleh si gusti. Di zaman modern ini, aktivitas "ngawula" telah bertransformasi menjadi "pekerjaan". Pekerja berpikir, bahwa dia telah menyerahkan hidupnya pada si gusti yang bernama "perusahaan". Pekerja telah memberikan totalitas dan loyalitas-nya kepada gusti perusahaan. Harapannya, perusahaan akan menjamin segala kehidupannya sampai dia meninggal ( artinya setelah tidak bekerja lagi, tetap mendapat uang pensiun ), sebagaimana seorang gusti kepada kawulanya di zaman dahulu. Beruntunglah bila si pekerja bekerja pada perusahaan yang berpikir sebagai gusti. Sayangnya, sebagian besar perusahaan memandang dirinya adalah pembeli, bukan gusti. Pembeli akan membeli bila dirasakan sesuai dengan kebutuhannya, baik secara produk/jasa, maupun harga-nya. Bahkan kalau perlu, pembeli akan menawar dengan harga serendah-rendahnya, untuk kualitas produk/jasa setinggi-tingginya. Perusahaan berpikir bahwa dia adalah pembeli, yang dibeli adalah tenaga, pikiran, dan waktu pekerjanya. apabila hal itu masih dibutuhkan, tentu dia akan bayar. Akan tetapi bila sudah tidak butuh, maka akan dihentikan, untuk mencari hal lain yang masih dibutuhkan. Jadi wajarlah antara pekerja dan perusahaan selalu terjadi tarik-menarik yang tidak berkesudahan, tentu saja itu karena pola pikir antara mereka yang saling bertentangan. Jadi bila anda pekerja, sadari-lah bahwa posisi anda di mata perusahaan, hanyalah sebatas penjual tenaga. Semakin banyak penjual tenaga seperti anda, maka daya tawar anda pada perusahaan akan semakin rendah. Maka bersiaplah bila pembeli anda sudah tidak ingin membeli tenaga anda lagi. Dan jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa perusahaan anda adalah gusti anda. Bila anda masih ingin menjadi kawula, hanya satu pilihan yang masih tersisa, sebagai abdi negara, karena negara masih berpikir bahwa dia adalah pengayom bagi abdinya walaupun kita semua ingin, negara adalah pengayom bagi rakyatnya, bukan abdinya saja !! Cikarang, 12 Mei 2007
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
